Kedua tangan Yus menyumbat telinga, mencoba menghalau bisikan yang mengajaknya terus menelusuri lorong masa lalu. Usaha Yus tak berhasil, bisikan demi bisikan semakin membuatnya tak berdaya. Matanya terpejam, buliran air mata tak lagi tertahankan, satu persatu berjatuhan menelusuri wajah Yus yang tengah tertunduk. ''Stop!'' berontak Yusril, lagi.
Kini ia tak tahan lagi dengan bisikan itu, bergegas ia bangkit, wajahnya memerah, air matanya semakin deras mengucur. Kedua tangannya tergenggam, gigi-gigi Yus beradu. ''Yus, mau ke mana?'' tanya mandala cemas. Mandala tahu, jika Yus dalam keadaan seperti ini, emosinya tak terkendali, apa saja dapat ia lakukan. Bahkan suatu hari, Yus ingin mencoba bunuh diri, akibat tekanan yang belum mampu ia redam. Dendam yang telah lama menyelimuti hati Yus, kerap menjadikannya bertingkah tak wajar. Yusril tak menghiraukan Mandala, ia kini berlari menerobos lorong gelap yang hanya bertemankan temaram cahaya rembulan. Mandala terpaku, langkahnya tertahan, ia ingin sekali mengejar Yus, namun ia urungkan. ''Percuma saja aku mengejarnya sekarang. Bila aku mengejarnya, Yus hanya akan semakin larut dalam bayangan masa lalunya.'' Mandala pun bergegas pergi, meninggalkan Yus yang telah jauh pergi. Hatinya berbisik, ''Ya Robbi, lindungilah Yusril. Jernihkanlah hati dan pikirannya.'' Mandala menyeka air mata yang tak terasa berguguran. ''Mandala......'' tiba-tiba sebuah suara mengusik telinga Mandala. Lambai angin semakin sepoi, menusuk hingga ke rusuk. Mandala bergeming, tak sedetikpun ia hiraukan suara yang memanggilnya. ''Mandala....'' suara itu kembali menggema. Amin Nur Kholis Penajam, 19 Maret 2016 || 17.00 WITA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar