Minggu, 20 Desember 2015

Anak Mamak!

Anak Mamak!

Oleh : OWOP#3

#CanberraEuy!
#NewEra

“Hei, sudah dengar kabar terbaru?” tanya Rasyid tiba-tiba sambil meninju ringan lenganku.
“Ada apa? Baru saja aku masuk kelas, mana tahu ada berita.”
“Elli anak PMR. Dia tewas!”
“Eh, kau serius? Kapan kejadiannya? Bagaimana ceritanya?” cecarku.
“Tidak ada yang tahu. Jasadnya ditemukan di tengah lapangan basket oleh penjaga sekolah pagi ini. Perutnya ditikam belati,” balas Rasyid.
“Memangnya tidak ada yang melihat kejadiannya atau apa gitu?” tanyaku lagi.
“Kata temen sekelasnya sih, malam sebelumnya Elli ada rapat malam. Sampai pukul delapan malam pun dia masih ngobrol di grup WA satu kelasnya.”
“Rapat apa memang?”
“Katanya sih rapat PMR. Tapi pas ketua PMR-nya ditanyain, dianya malah gak tau kalau ada rapat. Aneh, kan?”
Aku hanya menghela napas dalam.
“Eh, berarti ini jadi korban keempat, ya?” bisik Rasyid.
Sekali lagi, aku hanya menghela napas.
***

Biarlah Berlalu!

Biarlah Berlalu!
Oleh : Amin Nur Kholis

Kini aku mengerti, bahkan memasuki tingkat paham, mungkin. Tak perlu lagi mencari makna atas semua yang terjadi. Tak perlu lagi bertanya mengapa, bagaimana dan sejak kapan tali simpul ini merenggang, bahkan terlepas.

Tak perlu!

Mengharapkan pelangi kembali menampakkan keindahannya. Karena hujan tak lagi membasahi. Mungkin hujanpun lelah melukis guratan wajah. Bilapun hujan datang, hanya rintik gerimis yang menaburi.

Tentangmu

Tentangmu Oleh : Amin Nur Kholis Hati semakin yakin, kaulah bintang di hati. Sinarmu menerangi setiap jiwa yang bertandang di hidupmu. Tak ada pilih kasih apalagi menjatuhkan. Setiap penggal kisah yang kuutarakan, selalu kau dengarkan. Hatimu selalu menerima. Akupun nyaman berbagi kisah denganmu. Kau hadir disaat bintang yang lain lelah bersinar. Bahkan tak menutup kemungkinan bintang itu akan pergi. Benar-benar meredup. Tapi, kau hadir menggantikan mereka. Kau hanya satu, tapi sinarmu bertaburan ke setiap penjuru. Menembus lorong-lorong yang sulit terjamah.

Episode Hari Ini!

Episode Hari Ini! Oleh : Amin Nur Kholis Ada apa dengan hari ini? Hari yang seharusnya bertebaran keberkahan, justru malah menuai beberapa problematika. Dalam dunia nyata, juga dalam dunia maya. Akupun akhirnya bertanya, ''Ada apa dengan hari ini? Adakah yang salah dengan hari ini, atau suasana hati yang sedang menuai konflik?'' Entahlah!

Lintasan Hati

Lintasan Hati Oleh : Amin Nur Kholis Sempat terlintas pikiran tuk pergi. Jauh meninggalkan hingar bingar kehidupan ini. Tepatnya di sini. Di mana kaki kini berpijak, mengadu nasib, menjemput rizki-Nya. Meninggalkan segenap kenangan yang pernah terlukis. Cerita tentang pelangi, tentang senja, hujan dan setiap detik yang telah dilalui.

Terima Kasih


Terima Kasih
Oleh : Amin Nur Kholis
Aku ingin ungkapkan terima kasih. Ungkap segala isi hati. Kepadamu yang kini telah merubah gulita menjadi memesona. Gulita yang tak lagi menakutkan. Dengan pancaran sinarmu yang hanya setitik. Namun cukup menerangi segala ruang di hati. Rongga hati yang selama ini menutup, kini mulai melepaskan jerat belenggu. Mencoba menepis segala deru yang menyapa. Ombak yang menghadang.


Kelu!

Sudahlah!


Sudahlah!
Oleh : Amin Nur Kholis
Mendung menghias senja. Rintik hujan sedikit membasahi. Tarikan gas semakin melaju. Menyusuri jalan yang biasa dilalui. Jalan yang menyisa ribuan kenangan. Tentang mereka. Hah, Mereka? Siapa mereka? Kucoba menerka siapa mereka? tak dapat ku raba bayangnya. Buram. Semakin laju putaran roda. Rintik mulai lelah. Tiba ku di satu titik. Pusat kenangan yang kini tinggal cerita. Kulihat kerumunan mereka. Tokoh dalam kenangan yang pernah merajut kisah. Denganku! Hah, denganku? Pernahkah? Ya, mereka yang sedari tadi kuraba, akan kelabunya. Kini nampak jelas di mataku. Deru canda juga gelak tawa, menghias kerumunan. Kehangatanpun nampak terlukis. ''Hei, kenapa kamu tak mengindahkan panggilannya? Kenapa kau hanya sunggingkan senyum pada mereka? Ikhlaskah kau taburkan senyum untuk mereka?'' bisikan yang entah dari mana datangnya, mengiang di telinga. Tanpa kabar ia menyapa. Hanya diam yang dapat kuberi. Tak kuhiraukan kerumunan itu, kutancap gas lebih laju. Senyum masih tersungging. Sekedar untuk menghibur. Bisikan itu terus menghantui. Sepanjang lorong senja, ia tak bosan membisik kata, ''Sudahlah!'' Aku tak mengerti, apa maksudnya. Berkali-kali bisikan itu mampir di telinga. Aku tak pernah menghiraukannya. Kali ini aku geram, apa sebenarnya maksudnya ia membisikan kata itu. ''Hei, kamu, apa maksudmu mengatakan sudahlah! Semudah itukah melupakan memori? Tentang kisah pelangi yang kadang kelabu menyapa.'' entah kepada siapa pertanyaan itu ku ajukan. Tak ada siapa-siapa di sini. Hanya aku dan gerimis berhias senja. ''Kamu bertanya apa maksudku?'' bisikan itu menjawab. ''Iya,'' jawabku. Masih tak ada siapapun. Hanya aku dan suara itu. ''Tak perlu kujelaskan padamu, sesungguhnya kau sudah paham apa maksudku!'' jawabnya pelan. Tertunduk wajah, menatap bumi yang ku pijak. Satu persatu butiran bening gugur. ''Sudahlah, bukankah kau bilang sudah mengikhlaskan semuanya? Bukankah kau selalu bilang, Tak kan lagi kau mengusik mereka.'' dekapnya hangat. Seolah dia tahu, dekapan hangat yang kuperlukan saat ini. Semakin tertunduk wajah ini, semakin banyak guguran air mata di pipi. Memaksaku tuk menjenguk Kisah lalu. Dia tetap mendekap, membisik. ''Sudahlah!'' Kucoba cari makna, dan kuraba, kapan aku mengucap kata itu. Ah, Kini aku ingat, kapan aku melafalkan kata itu. Sepanjang hari, sepanjang nafas menghela. Melafalkan tuk mendamaikan sekeping jiwa. Menepis segala rasa yang hinggap. Ketika berjumpa dengan mereka. Kerumunan yang kini tak lagi dapat ku menyusup. Menyelinap tuk sekedar memasang telinga. Mendengar setiap kisah yang mereka ceritakan. ''Sudahlah! Ikhlaskan cerita itu berlalu. Tak usah sesak menghantuimu, bila kembali kau jumpai kerumunan mereka. Tak hanya mereka manusia di dunia ini. Cintailah mereka tulus, tak usah harap balasan. Sayangilah mereka ikhlas, tak usah harap balasan. Dekap mereka dalam diam. Biarkan cerita melukis kisah baru.'' bisikan terakhir darinya. Ia lenyap bersama perginya senja. Damai menyapa bersama gelap malam yang menyapa. ~Penajam, 16 Desember 2015

Ada Apa Denganmu?


Ada Apa Denganmu?
Oleh : Amin Nur Kholis

''Hei, kenapa kamu?'' tanyaku pada dia yang sedang duduk termangu. Di tepi pantai, memandang senja. Kini senja berhias kelabu. Mendung menggelayut. Ia tetap saja membisu. Tak kunjung menjawab tanyaku. Ia tak peduli deru ombak yang mendebur. ''Hei, apa kamu tuli?'' tanyaku kembali. Namun kini dia makin menjengkelkan. Wajahnya murung, matanya terpejam. Menunduk. Seolah aku ini menjijikan. Tik tik tik....

Kupikir Tak Ada Lagi

Kupikir Tak Ada Lagi

Oleh : Amin Nur Kholis

Kupikir tak ada lagi bintang di langit. Berkerlip membias cahaya. Hingga gulita tak lagi pekat. Indahnya malam yang dulu pernah hadir, tak seindah malam-malam yang kini sedang mampir. Sesak, sumpeg, rasanya dunia ini. Cahaya bintang yang dulu sempat mengisi malam-malamku, tak lagi memancarkan cahayanya. Mereka sepertinya lelah, dengan sikapku yang tak lagi mampu mengerti mereka. Aku selalu memaksa ia tuk terus bercahaya, meski aku tahu, ia butuh istirahat. Aku tak pernah memikirkan hal itu. Aku tak pernah mau bila kerlip bintang benar-benar menghilang.

Biarlah

Biarlah Oleh : Amin Nur Kholis ''Hei kamu, sedang apa kamu di sana?'' kutanyakan pada dia yang entah sejak kapan dia singgah di sana, mengisi rongga di hati. Dia tetap tak bergeming. Asyik dengan dunianya. Menggerogoti setiap rongga di hati. Sampai-sampai pikiranku pun ia renggut.

Minggu, 13 Desember 2015

Untaian Sederhana

                                   Untaian Sederhana
Oleh : Amin Nur Kholis

Selama ini aku tak merasakan kerlip cahaya darimu. Cahaya yang selama ini kurindui. Cahaya yang selama ini tak lagi mencipta terang dalam hati. Selama ini aku terfokus pada semua problematika yang tak terlalu penting dan tak sepantasnya aku menyimpan ini dalam rongga hati. Bias cahayamu tak dapat kurasakan, padahal sinarnya selalu memancar.

Salah paham!

Ya, sebuah kesalahpahaman yang entah darimana mulainya. Semua berjalan seiring guliran waktu. Awalnya aku tak menganggap ini sebuah masalah yang besar. Aku anggap ia hanyalah batu kerikil yang menghiasi perjalanan, jalinan persahabatan kita. Kini kesalahpahaman itu sudah menjadi problematika yang akut. Mungkin jika disamakan dengan kanker, ia sudah memasuki stadium akhir. Hingga tak ada lagi butiran kepercayaan yang menggelayut di hati.