Biarlah
Oleh : Amin Nur Kholis
''Hei kamu, sedang apa kamu di sana?'' kutanyakan pada dia yang entah sejak kapan dia singgah di sana, mengisi rongga di hati. Dia tetap tak bergeming. Asyik dengan dunianya. Menggerogoti setiap rongga di hati. Sampai-sampai pikiranku pun ia renggut.
Ia tak rela jika pikiranku sedetik saja tak menyapanya. Tapi setiap kali aku menyapanya dan ingin mengusirnya, ia tak peduli. Tetap saja membisu.
Pernah kucoba biarkan ia sendiri. Tak kusisakan waktu sedetikpun untuk menyapanya. Aku menyibukan diriku dengan apapun yang kupikir dapat mengalihkan perhatianku padanya. Cukup berhasil, tapi keesokan harinya, ia marah. Ia semakin gencar menggerogoti dinding hati. Seolah dia dendam. Aku pun tak kuasa menghentikan tingkahnya.
Aku hanya bisa menyeka buliran bening yang jatuh, menahan sakit.
Aku hanya mampu menatap alunan debur ombak di pantai hati.
Dan aku hanya mampu menatapnya, betapa bahagianya dia. Ya dia yang selama ini singgah di relung hati. Ia yang enggan beranjak. Ia menertawakanku.
Kini, aku tak mampu berbuat apapun. Mengusirnya tak pernah berhasil. Menghapusnya tak pernah jua berhasil. Lalu, aku pasrah akan dirinya. Kubiarkan ia tetap singgah di hati.
Kini yang kupinta hanyalah keteduhan, walau ada dia yang selalu membuatku naik pitam.
Kini hanya selaksa do'a yang mampu menentramkan jiwa.
Walau ada dia yang selalu menertawakanku.
Dia yang entah kapan berkenan meninggalkan singgasananya.
~Penajam, 13 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar