Minggu, 20 Desember 2015

Biarlah Berlalu!

Biarlah Berlalu!
Oleh : Amin Nur Kholis

Kini aku mengerti, bahkan memasuki tingkat paham, mungkin. Tak perlu lagi mencari makna atas semua yang terjadi. Tak perlu lagi bertanya mengapa, bagaimana dan sejak kapan tali simpul ini merenggang, bahkan terlepas.

Tak perlu!

Mengharapkan pelangi kembali menampakkan keindahannya. Karena hujan tak lagi membasahi. Mungkin hujanpun lelah melukis guratan wajah. Bilapun hujan datang, hanya rintik gerimis yang menaburi.

Hati tak lagi terpikat, menyatu dalam simpul kehangatan. Wajah berpaling, hanya sepasang telinga yang terpajang. Siap mendengarkan setiap gelak canda, juga tawa yang menghiasi setiap pertemuan. Raga bersatu, namun jiwa berlarian entah ke mana. Pikiran melayang entah ke belahan bumi angan yang mana.

Waktu terus berputar hingga mengantarkan hati ini kepada tingkatan ini, kedamaian tanpa gemuruh. Walau debur hati kadang masih menderu. Sesekali ia mengusik kedamaian. Tetapi dengan sigap, kepingan hati tak menghiraukan. Mengusir segala yang mengusik, hingga kedamaian kembali bersemayam.

Meski tak ada lagi cerita tentang pelangi, hanya warna kelabu yang menggelayut. Tak lagi kelabu itu gelap. Bahkan menutup hati.

Tidak!

Kelabu memberi warna baru yang lebih indah dari segerombolan warna pelangi. Meski pekatnya menutupi pandangan mata, bahkan hati. Tetapi ia tak mebutakan.

Kini, biarkan pelangi itu pergi. Mencari hujan yang lain. Ia tak lagi menemukan hujan di sini. Tak ada alasan untuk menahannya tetap di sini. Jagalah kedamaian hati. Bukankah masih ada satu bintang yang selalu menawarkan terang? Tengoklah ia, jangan biarkan ia pergi. Jagalah segenap kepercayaan yang ia sematkan. Jangan hianati.

Selamat jalan pelangi, satu do'a untukmu, semoga kau temukan hujan yang kan membawa keindahan lebih memesona. Tak lagi kau temui hujan seperti kemarin. Yang hanya mencipta guratan luka. Dan untukmu bintang, tetaplah di sini dengan sinarmu.


~Penajam, 19 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar