Oleh : Amin Nur Kholis
Kini aku mengerti, bahkan memasuki tingkat paham, mungkin. Tak
perlu lagi mencari makna atas semua yang terjadi. Tak perlu lagi bertanya
mengapa, bagaimana dan sejak kapan tali simpul ini merenggang, bahkan terlepas.
Tak perlu!
Mengharapkan pelangi kembali menampakkan keindahannya. Karena
hujan tak lagi membasahi. Mungkin hujanpun lelah melukis guratan wajah. Bilapun
hujan datang, hanya rintik gerimis yang menaburi.
Hati tak lagi terpikat, menyatu dalam simpul kehangatan. Wajah
berpaling, hanya sepasang telinga yang terpajang. Siap mendengarkan setiap
gelak canda, juga tawa yang menghiasi setiap pertemuan. Raga bersatu, namun
jiwa berlarian entah ke mana. Pikiran melayang entah ke belahan bumi angan yang
mana.
Waktu terus berputar hingga mengantarkan hati ini kepada
tingkatan ini, kedamaian tanpa gemuruh. Walau debur hati kadang masih menderu.
Sesekali ia mengusik kedamaian. Tetapi dengan sigap, kepingan hati tak
menghiraukan. Mengusir segala yang mengusik, hingga kedamaian kembali
bersemayam.
Meski tak ada lagi cerita tentang pelangi, hanya warna kelabu
yang menggelayut. Tak lagi kelabu itu gelap. Bahkan menutup hati.
Tidak!
Kelabu memberi warna baru yang lebih indah dari segerombolan
warna pelangi. Meski pekatnya menutupi pandangan mata, bahkan hati. Tetapi ia
tak mebutakan.
Kini, biarkan pelangi itu pergi. Mencari hujan yang lain. Ia tak
lagi menemukan hujan di sini. Tak ada alasan untuk menahannya tetap di sini.
Jagalah kedamaian hati. Bukankah masih ada satu bintang yang selalu menawarkan
terang? Tengoklah ia, jangan biarkan ia pergi. Jagalah segenap kepercayaan yang
ia sematkan. Jangan hianati.
Selamat jalan pelangi, satu do'a untukmu, semoga kau temukan
hujan yang kan membawa keindahan lebih memesona. Tak lagi kau temui hujan
seperti kemarin. Yang hanya mencipta guratan luka. Dan untukmu bintang,
tetaplah di sini dengan sinarmu.
~Penajam, 19 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar