Untaian
Sederhana
Selama
ini aku tak merasakan kerlip cahaya darimu. Cahaya yang selama ini kurindui.
Cahaya yang selama ini tak lagi mencipta terang dalam hati. Selama ini aku
terfokus pada semua problematika yang tak terlalu penting dan tak sepantasnya
aku menyimpan ini dalam rongga hati. Bias cahayamu tak dapat kurasakan, padahal
sinarnya selalu memancar.
Salah paham!
Ya,
sebuah kesalahpahaman yang entah darimana mulainya. Semua berjalan seiring
guliran waktu. Awalnya aku tak menganggap ini sebuah masalah yang besar. Aku
anggap ia hanyalah batu kerikil yang menghiasi perjalanan, jalinan persahabatan
kita. Kini kesalahpahaman itu sudah menjadi problematika yang akut. Mungkin
jika disamakan dengan kanker, ia sudah memasuki stadium akhir. Hingga tak ada
lagi butiran kepercayaan yang menggelayut di hati.
Lelah!
Kadang
aku merasakan lelah yang amat mengganggu segenap hati dan pikiran. Aku ingin
istirahat, barang sejenak saja. Untuk sekadar mendinginkan otak. Sedikit
memberikan kesejukan dalam hati. Tetapi tubuh, hati dan fikiran tak kunjung
berubah dingin. Bara kekecewaan semakin menghujam. Segala prasangka semakin
menderu. Tak ada lagi celah positif yang mewarnai pikiran. Otakku buntu, fikiranku
kalut, hatiku membeku.
Walau
do’a senantiasa kupanjatkan. Tangis sesal selalu kucucurkan. Dalam munajat
pada-Nya. Namun hati tak mampu merasakan siraman sejuk dari butiran bening yang
meleleh melukiskan guratan di wajah. Mungkin hati ini sudah mengeras, lebih
keras dari seonggok batu. Kelembutan tak lagi ingin mampir di dalamnya.
Kini,
di saat hatiku mulai membaik, walau hanya sedikit. Perlahan cahaya itu
berkerlip, melambai menyapa hatiku. Hati yang selama ini merindui hadirnya.
Sesungguhnya kerlip cahaya itu selama ini hadir dalam hatiku, tapi cahayanya
terkalahkan oleh kebekuan hati. Mataku selalu enggan memandangnya, hatiku
selalu enggan merasainya.
Egois!
Ya,
keegoisan hati yang selama ini mengabaikan hadirnya. Cahaya yang hanya setitik
itu. Diantara ribuan cahaya, ia yang selama ini paling terang. Kerlipnya tak
pernah memudar. Selama ini hati inilah yang memudarkan cahaya itu. Hati hanya
terfokus pada banyaknya cahaya yang memudar. Pergi perlahan. Padahal, masih ada
satu cahaya yang tak pernah padam. Ah, betapa bodohnya diri ini!
Rabbi,
bukakanlah pintu hati ini, lepaskanlah segala belenggu yang menggelayut.
Terangilah hati ini dengan satu cahaya itu. Kau, iya kau yang selama ini
terabaikan. Maafkan atas ketidak pekaan diri ini atas hadirmu. Allah Maha baik
terhadapku, dengan mengirimkanmu dalam perjalanan kisah hidupku, tapi aku
selalu menutup mata akan dirimu. Kini, kupintakan pada Rabbku, semoga hatiku
segera terbuka. “Sepenuhnya!”
Deru
prasangka tak lagi mendebur. Biarkan cahaya yang memudar itu tetap memudar,
paling tidak untuk saat ini. Perlahan mereka akan kembali bercahaya. “Semoga!”
Dan kumohon padamu, jangan pernah memudar walau hanya sekejap. Tak banyak yang
dapat kupintal untukmu, hanya ini yang mampu kupersembahkan. Untaian kata yang
tak seberapa indahnya. Jazakallahu khoiron katsir untuk kerlip cahaya yang kau
biaskan. Hingga hatiku kina tak merasa sendiri. Dan aku yakin, Allah tak kan
meninggalkan hamba-Nya. Aku memohon pada-Nya. Semoga bahagia selalu
menyertaimu. Bahagiamu adalah bias kehangatan dalam diriku.
~Penajam, 12 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar