Minggu, 13 Desember 2015

Untaian Sederhana

                                   Untaian Sederhana
Oleh : Amin Nur Kholis

Selama ini aku tak merasakan kerlip cahaya darimu. Cahaya yang selama ini kurindui. Cahaya yang selama ini tak lagi mencipta terang dalam hati. Selama ini aku terfokus pada semua problematika yang tak terlalu penting dan tak sepantasnya aku menyimpan ini dalam rongga hati. Bias cahayamu tak dapat kurasakan, padahal sinarnya selalu memancar.

Salah paham!

Ya, sebuah kesalahpahaman yang entah darimana mulainya. Semua berjalan seiring guliran waktu. Awalnya aku tak menganggap ini sebuah masalah yang besar. Aku anggap ia hanyalah batu kerikil yang menghiasi perjalanan, jalinan persahabatan kita. Kini kesalahpahaman itu sudah menjadi problematika yang akut. Mungkin jika disamakan dengan kanker, ia sudah memasuki stadium akhir. Hingga tak ada lagi butiran kepercayaan yang menggelayut di hati.

Lelah!

Kadang aku merasakan lelah yang amat mengganggu segenap hati dan pikiran. Aku ingin istirahat, barang sejenak saja. Untuk sekadar mendinginkan otak. Sedikit memberikan kesejukan dalam hati. Tetapi tubuh, hati dan fikiran tak kunjung berubah dingin. Bara kekecewaan semakin menghujam. Segala prasangka semakin menderu. Tak ada lagi celah positif yang mewarnai pikiran. Otakku buntu, fikiranku kalut, hatiku membeku.

Walau do’a senantiasa kupanjatkan. Tangis sesal selalu kucucurkan. Dalam munajat pada-Nya. Namun hati tak mampu merasakan siraman sejuk dari butiran bening yang meleleh melukiskan guratan di wajah. Mungkin hati ini sudah mengeras, lebih keras dari seonggok batu. Kelembutan tak lagi ingin mampir di dalamnya.

Kini, di saat hatiku mulai membaik, walau hanya sedikit. Perlahan cahaya itu berkerlip, melambai menyapa hatiku. Hati yang selama ini merindui hadirnya. Sesungguhnya kerlip cahaya itu selama ini hadir dalam hatiku, tapi cahayanya terkalahkan oleh kebekuan hati. Mataku selalu enggan memandangnya, hatiku selalu enggan merasainya.

Egois!

Ya, keegoisan hati yang selama ini mengabaikan hadirnya. Cahaya yang hanya setitik itu. Diantara ribuan cahaya, ia yang selama ini paling terang. Kerlipnya tak pernah memudar. Selama ini hati inilah yang memudarkan cahaya itu. Hati hanya terfokus pada banyaknya cahaya yang memudar. Pergi perlahan. Padahal, masih ada satu cahaya yang tak pernah padam. Ah, betapa bodohnya diri ini!

Rabbi, bukakanlah pintu hati ini, lepaskanlah segala belenggu yang menggelayut. Terangilah hati ini dengan satu cahaya itu. Kau, iya kau yang selama ini terabaikan. Maafkan atas ketidak pekaan diri ini atas hadirmu. Allah Maha baik terhadapku, dengan mengirimkanmu dalam perjalanan kisah hidupku, tapi aku selalu menutup mata akan dirimu. Kini, kupintakan pada Rabbku, semoga hatiku segera terbuka. “Sepenuhnya!”

Deru prasangka tak lagi mendebur. Biarkan cahaya yang memudar itu tetap memudar, paling tidak untuk saat ini. Perlahan mereka akan kembali bercahaya. “Semoga!” Dan kumohon padamu, jangan pernah memudar walau hanya sekejap. Tak banyak yang dapat kupintal untukmu, hanya ini yang mampu kupersembahkan. Untaian kata yang tak seberapa indahnya. Jazakallahu khoiron katsir untuk kerlip cahaya yang kau biaskan. Hingga hatiku kina tak merasa sendiri. Dan aku yakin, Allah tak kan meninggalkan hamba-Nya. Aku memohon pada-Nya. Semoga bahagia selalu menyertaimu. Bahagiamu adalah bias kehangatan dalam diriku.

~Penajam, 12 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar