Kamis, 29 Oktober 2015

Jodoh Pasti Bertemu


Jodoh adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh Allah yang maha Esa. Tetapi bagaimana kita mengetahui dia memang ditakdirkan untuk kita? 
Kata orang, jodoh itu harus dicari. tapi, kamunya siapa?

Mu tahu ceritanya, ayo klik link di bawah ini ;

https://www.youtube.com/watch?v=MRW4NB-qf70

Pacaran itu?


Arti Pacaran yang sebenarnya. Apakah kamu tau apa arti pacaran yang sebenarnya bro ? :) Banyak lho saat ini orang yang berpacaran tapi tidak tahu atau tidak mengerti sebenarnya apa sih tujuan mereka berpacaran atau membina hubugan.

Jika ditanya apa sih tujuan dan arti pacaran kalian, kebanyakan akan menjawab karena sayang lah, karena cinta lah, karena pengen memilikinya lah, dll. apakah benar seperti itu?

mau tahu pacaran itu seperti apa? ayo Klik Link di bawah ini :

https://www.youtube.com/watch?v=F0aBCWzLsBM

Selasa, 27 Oktober 2015

Asap dan Senja

Asap dan Senja
Oleh : Amin Nur Kholis

'' Ayah, ayah! kenapa sih asapnya nggak hilang - hilang? nggak seperti kalau ibu masak, selesai ibu masak ya asapnya ikut pergi juga.'' celetuk anakku kepadaku.
Kami, aku dan anakku Angga, sedang duduk di teras rumah, memandangi keindahan sore hari. Namun, Kini keindahannya tak seperti biasanya. Dulu ketika warna senja kemerahan, dan matahari mulai tenggelam tuk pulang ke peraduannya begitu elok tuk di pandang. Namun, kini yang nampak di depan mata kami, segerombolan Asap pekat yang menutupi pancaran sinar mentari. Warna merah senja, kini berubah menjadi gelap. Keelokan Matahari tenggelampun tak nampak. Tak ada lagi senja seindah kemarin.
" Ayah! Kemari yah, cepat yah."

Minggu, 25 Oktober 2015

Aku yang Terlupakan

Aku yang Terlupakan
Oleh : Amin Nur Kholis
Kawan!
Aku rindu padamu,
Kapan kau kembali menyentuhku?
Kapan kau kembali melantunkanku?

Ingatkah kau, kapan terakhir membuka setiap lembaranku?
Ingatkah kau, ayat terakhir yang kau baca dariku?
Mungkin kau tak mengingatnya
Sudah terlalu lama kau tinggalkan aku sendiri di sini
Hingga sampulku kini penuh dengan debu
Dan lembaran – lembarnaku kini lusuh berwarna kecokelatan

Kawan!
Aku ini lembaran yang di wariskan untukmu
Juga Untuk seluruh ummat
Buakn harta dan tahta yang di wariskan kepadamu
Karena aku lebih berharaga dari semua itu
Akulah penuntun jalanmu
Akulah peta kehidupanmu

Kawan!
Kumohon, kembalilah kepadaku
Barang sejenak saja, tak perlu kau duduk berjam – jam
Untuk menyelesaikan membuka lembaran
Dan melantunkan setiap ayat dariku
Cukuplah kau istiqomah menyapaku
Agar kau tak tersesat di lembah belantara dunia Fana ini


#Penajam, 24 Okktober 2015

Ramadhan

Ramadhan
Oleh : Amin Nur Kholis

Kau bulan yang kami rindui
Hadirmu selalu din anti
Hanya satu kali kau menampakkan diri
Namun, berkah sepanjang hari
Hingga ketika kau pergi

Hadirmu mengubah seluruh isi dunia
Yang dulu tak gemar mengaji
Kini Al-qur’an selalu di hati
Kemanapun kaki terayun
Al-Qur’an selalu membersamai

Kau istimewa untuk kami
Yang selalu menanti kehadiranmu di sini
Di dunia yang penuh uji
Semoga kelak kita kan bersua kembali
Untuk mendapat rahmat Illahi Rabbi


#Penajam, 22 Oktober 2015

Sabtu, 17 Oktober 2015

Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!

Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Jangan ayah! aku sangat mencintai kak Alan.”
Ayah sangat marah ketika mengetahui aku menjalin hubungan dengan kak Alan, selama ini aku sembunyi – sembunyi menjalin hubungan ini. Ayah melarang kami anak – anaknya untuk Pacaran, ayah menyuruh kami untuk fokus belajar. Aku memang bandel, tidak seperti kakakku Danang, dia nggak pernah Pacaran, dia selalu mendapat prestasi di sekolahnya, sehingga kak Danang mendapat beasiswa kuliah di Jogja, dan sekarang dia sudah menikah dengan orang Jogja, teman kuliahnya

Hanya Seuntai Do'a

Hanya Seuntai Do'a Oleh : Amin Nur Kholis 45 tahun sudah kau arungi kehidupan Di dunia yang penuh kepalsuan ini Kebahagiaan yang setitik Bak setetes air dari luasnya samudera Maaf, Aku tak memberimu sebungkus hadiah Tak mengucapkan selamat ulang tahun Juga tak memberimu seloyang kue tart Aku tak tahu, Bagaimana mengungkapkan cintaku padamu Meluapkan kasih sayangku untukmu Aku tak seperti mereka Yang mampu memeluk ayah dan bunda Mendekap hangat dalam kasihnya Mengungkap dengan lantang " Ayah, Bunda, aku sayang kalian " Aku tak terbiasa seperti itu Aku hanya mampu mematuhi setiap petuahmu Mengungkap kasih dalam Do'a Di sisa usiamu, Aku ingin berbakti padamu Bukan dengan materi Bukan juga dengan kemewahan Hanya dengan kepatuhanku Dan seuntai do'a untukmu Bukankah waladun sholih Yang akan menjadi temanmu di sisi-Nya kelak? Bukan harta dan kemewahan? Ibu, Terimakasihku untukmu Kau telah memberikanku segudang pelajaran Tentang kesabaran, ketabahan, dan pengokohan hati Tentang arti kasih sayang yang sesungguhnya Tentang arti cinta yang sebenarnya Terimakasihku untukmu Kau telah merawat kami anak-anakmu Dengan penuh kasih sayang Dengan ketulusan cinta tanpa pamrih Ibu, Hanya do'a yang dapat kami lantunkan untukmu Seuntai do'a, agar Allah memberikanmu kebahagiaan Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya untukmu Allah senantiasa membimbingku Untuk terus berbakti kepadamu Hingga kelak kau bertemu dengan-Nya Allah yang memiliki setiap jiwa Penajam, 12 Oktober 2015 Barakallahu fi umrik Ummi, I Love U

Sabtu, 10 Oktober 2015

Sang Putri dan Kantung Ajaib

‪#‎CANBERAeuy‬!
By : OWP-ers 3 [ Sang Putri dan Kantung Ajaib ] Embusan angin bersuhu rendah membuat Putri Citra merapatkan jaketnya. Ia lalu memicingkan matanya, sesaat setelah mendengar gemuruh langit. Meski begitu, matanya masih terpaku pada refleksi seseorang pada air kolam di bawahnya. Ia pun mengembuskan napasnya dengan keras. Kesal.

Jumat, 09 Oktober 2015

Aku Enggan Menyapa Malam

Aku Enggan Menyapa Malam Oleh : Amin Nur Kholis Suasana semakin hening, hanya suara jangkrik yang terdengar '' Krik... Krik... Krik... '' dinginnya malam pun semakin menusuk, hembusannya yg lembut, sentuhannya yang hangat, oh angin, kau menambah kesyahduan malam ini.

Kita tak Pernah Tahu

Kita tak pernah tahu
Oleh : Amin Nur Kholis
Hari ini kita masih dapat berbicara
Kita masih mampu menghirup udara
Kita masih bisa bersua dengan orang terkasih
Ayah, ibu, karib kerabat
Hari ini, kita masih mampu berjalan
Melangkah menuju mimpi - mimpi yang belum menjadi nyata
Mengejar cita - cita yang masih menggantung di gunung kesuksesan
Namun, sering kita tak pernah tahu
Kita tak pernah menyadari
Apakah esok kita masih mampu melakukan semua itu?
Masihkah kita menghirup udara segar?
menghela nafas sebagai anugerah ILLAHI?
Masihkah esok kaki kita mampu melangkah menuju masa depan yang kita impikan?
Entahlah, kita tak pernah tahu
Kapan kaki kita berhenti melangkah
Nafas kita terhenti
Mata tak lagi mampu menatap dunia
Lisan tak lagi mampu berdzikir
Kita tak pernah tahu
Kapan kita menutup usia
Kau yang lebih dahulu menemui Rabb-Mu
Semoga amalmu berhadiahkan syurga
Semoga terang benderang jalan meniti dunia sesungguhnya
Kelak, kami akan menyusulmu
Entah esok, hari ini, atau mungkin setelah rangkaian kata ini tersusun
Kita tak pernah tahu
Kapan malaikat izro'il memanggil
Penajam, 08 Oktober 2015

Kusimpan Sajadah Darimu

Kusimpan Sajadah darimu
Olah : Amin Nur Kholis
Tak selayaknya ikatan kita terlepas
Kau dan aku bukan sekedar teman
Bukan pula sahabat
Hubungan kita lebih dari itu
Kau saudaraku begitupun aku saudaramu
Namun,
tangan ini tak mampu lagi menggenggam tanganmu
tak mampu lagi menjabat tanganmu
Hati ini tak mampu lagi mendekapmu
Entah mengapa semua ini terjadi
Aku tak mampu mengerti
Bisikan orang tentang diriku
Yang cemburu dan iri terhadapmu
Membuatku semakin tak mengerti
Iri? Ya, mungkin aku iri kepadamu
Mereka lebih memilih dirimu daripada aku
Mereka lebih bahagia saat bersamamu
Daripada saat duduk berdampingan denganku
Kau pernah berkata
" Aku menyayangimu, aku tak ingin kita seperti ini
Kita semua sama, mereka temanku juga temanmu"
Dan aku mencelamu
" Ah omong kosong, kau hanya ingin menghibur hatiku"
Tak dapat kurasai ketulusan dalam berteman
Aku selalu di bandingkan denganmu Tentang segala hal
Dan mereka selalu berkata
" Kalian adalah teman kami, kami tak pernah membeda - bedakan antara kamu dan dia "
Benarkah demikian?
Jika iya, mengapa aku tak merasakannya?
Apakah hatiku yang sudah membeku
Entahlah, akupun tak mengerti tentang siapa diriku
" Aku mahu pulang, karena aku harus pulang"
Apa kau tahu apa yang kurasa saat itu
Saat mendengar kata " Pulang " darimu
Sedih, sakit, bukan tentang kepulanganmu
Namun tentang hubungan kita
Tali yang belum sempat terhubung kembali
Akan tetap putus sampai nanti
Namun,
Kau menghadiahkan sajadah ini untukku
Sebelum kau pergi tuk keluargamu
Dan satu permintaanmu atas sajadah ini
" Tolong pakai sajadah ini saat kamu shalat,
Saat kamu bermunajat kepada Allah "
Tak hanya itu
" Aku harap sajadah ini mampu mengikat kembali
Tali yang terputus itu, dan semakin erat ikatannya"
Aku terharu bila mengingat semua itu
Air mataku tak mampu kubendung
Aku tak mampu memenuhi amanatmu
Untuk memakai sajadah darimu
Aku malah menyimpannya di sudut lemari
Maafkan aku teman, aku telah menghianatimu
Aku tak memenuhi amanatmu
Biarlah tali ini berceceran
Ikatan ikatan ini berkeliaran
Tak usah lagi kita coba tuk mengikatnya kembali
Karena itu akan sia - sia
Selama hatiku masih membeku.
Penajam, 29 Spetember 2015

Minggu, 04 Oktober 2015

[Malam Narasi OWOP3]

[Malam Narasi OWOP3] " Mas Alan, di panggil bapak, mas alan diminta ke ruangannya sekarang," sekretaris pak hasan memberitahukanku kalau aku dipanggil pak hasan dan aku ditunggu pak hasan di ruangannya. " Ada apa yah pak hasan memanggilku?" Tanyaku pada diri sendiri. Lalu aku berjalan menuju ruangan pak hasan, ketika aku di depan ruangannya, perasaanku tiba - tiba tidak enak. Setelah dipersilahkan masuk, aku duduk di kursi di depan pak hasan. " Alan, mana laporan keuangan bulan ini? Kenapa belum ada di Meja saya"

Menyapamu dalam Do'a

Menyapamu dalam Do'a Oleh : Amin Nur Kholis Tak lagi kupinta, apa yang tak lagi kumiliki Tak lagi berharap kembali, apa yang telah berlari Biarlah hati ini belajar tentang sebuah keikhlasan Melepas apa yang harus dilepas Biarlah semua menjadi cerita menjadi kenangan dalam bingkai kehidupan kita Mungkin kita tak berjodoh di dunia Dalam sebuah lingkaran cinta Bernama teman atau saudara Ini bukan salah siapa - siapa Hanya hatiku yang sudah membeku Tak lagi ku mampu memandang kebaikan walau itu hanya setitik Hatiku dipenuhi rasa benci, cemburu juga iri hati Hingga hati inipun penuh dengan kerak juga mengeras seperti batu Maaf, Jika aku tak pernah menyapa Tak seperti mereka Tak usah ditanya mengapa Ini yang terbaik untuk kita Aku hanya meminta Tuk menyapa dalam Do'a Hanya itu yang ku bisa Karena lidah ini kelu saat bersua Hingga tak dapat ku ungkap sebuah kata Biarlah hanya dalam Do'a Diri ini menyapa semua Dan Biarlah, Semua itu menjadi cerita Pelajaran untuk kita semua Semoga tak ada lagi manusia yang lain sepertiku di dunia Cukup hanya satu, ialah Aku Yang hatinya membeku Semoga Tuhan selalu membahagiakan mereka, juga hatimu Penajam, 02 Oktober 2015

Beranjaknya Usia

Beranjaknya Usia Oleh : Amin Nur Kholis 23 tahun sudah kau arungi hidup ini di bumi Allah yang kau dan kami cintai genap 23 tahun usiamu hari ini sebanyak itu pulalah quota usiamu telah berlari Tinggal menanti sampai kapan sisa usiamu berhenti Tak terasa sudah banyak cerita yang di jalani Dari saat kau belajar berjalan hingga kau dapat berlari dari kau kesana kemari selalu ditemani Hingga kau kini menjadi mandiri tak kan habis cerita 23 tahun silam tuk di goreskan dengan pena butuh berlembar lembar kertas tuk dapat menulis semua cerita Tak cukup hanya satu lembar kertas saja Kini kau sudah dewasa sudah mampu membanggakan orang tua Yang dulu hanya sebuah mimpi belaka kini kau dapat mebuat senyum di hati mereka Dengan baktimu kepda kedua orang tua Akhi, maaf tak dapat ku berikan apa - apa buatmu Hanya untaian do'a untuk kebahagiaanmu Semoga di sisa usiamu Menjadi barokah dalam hidupmu Seiring beranjaknya usiamu Kerberkahan hidup selaluu mendampingimu Menambah kedewasaanmu Juga baktimu kepada orangtuamu Barakallahu fi 'umrik ya Akhi Setangkai do'a untukmu hari ini Semoga kelak dapat bersua di syurga ILLAHI Semoga tali simpul persaudaraan ini Dapat menjulur hingga ke akhirat Mengantarkan kita ke syurga-Nya nanti Penajam, 01 Oktober 2015
Untuk Akhina,

Tak Kan Ku Ulangi

Tak Kan Ku Ulangi
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Tidurlah nak, hari sudah larut malam,”
Aku mendengar suara lirih seorang ibu dari balik rumah
Yang berdindingkan kardus bekas
Beralaskan Koran bekas
Sang anak bertanya kepada ibunya
“ Ibu, kenapa nasib kita seperti ini? Allah nggak sayang sama kita ya Bu?”
Sang ibu terisak, terdengar suaranya tercekat ketika menjelaskan kepada anaknya
“ Nak, tidak boleh berbicara seperti itu,  Allah sayang kepada kita, dan ini bentuk kasih sayang Allah kepada kita,
Allah tidak mengizinkan kita menjadi orang yang kaya Harta,
Karena Allah ingin menjadikan kita hamba yang selalu bersyukur,”
Aku terdiam dan berhenti setelah mendengar perkataan sang ibu
Dalam kondisi seperti itu, hidup jauh dari kata cukup, namun mereka tetap tegar
Sabar dan menerima ketentuan dari Allah
Sedangkan aku?
“ Ya Allah, kenapa pangkatku tidak naik – naik? Gajiku hanya segini?
Dengan uang segini bagaimana aku bisa hidup kedepan?”
Aku selalu mengeluhkan akan Rizki Allah,
Aku selalu merasa kurang dengan rizki yang Allah beikan
Aku melanjutkan langkahku menuju rumah
Aku lelah, setelah seharian bekerja dan ingin segera merebahkan badan ini
Aku mempercepat langkahku
“ Ayah, kita istirahat dulu yuk, aku lelah yah, aku ingin tidur barang sejenak,”
Kembali ku melihat seorang anak merengek kepada ayahnya
Ia meminta untuk beristirahat setelah seharian bekerja
Namun ayahnya enggan memenuhi keinginan anaknya
Dengan keranjang di pundaknya dan sepotong besi kecil untuk mengais sampah plastik
Tangannya terus ia kayuhkan di tumpukan sampah di depan toko tepat di depanku
“ Nak, dari tadi pagi kita belum menemukan apa – apa yang dapat kita jual
Untuk membeli makanan, “
Seraya melanjutkan kayuhan tangannya, sang ayah menengok ke kanan dan kiri
Sepertinya ia melihat sesuatu, dan ia ingin mengambilnya
“ Wah, ada dompet jatuh nih, lumayan uangnya bisa buat beli makan,”
Tapi setelah ia mengambil dompet tersebut
Ia mendongak ke atas, seolah ia melihat sesuatu
Tak jadi ia mengambil uang sepeserpun dari dompet itu
Ia kembali meletakkan dompet itu di tempat semula
“ Astaghfirullah, itu bukan hak saya, kalau saya mengambilnya, sama saja saya mencuri,”
Aku tersentak melihat kejujuran sang ayah,
Namun hatiku belum juga tersentuh
Aku kembali melanjutkan perjalanan, karena malam semakin larut
“ Om, semir Om, dijamin sepatu om mengkilat,”
Tiba – tiba muncul seorang anak kecil menawarkan jasa semir sepatu kepadaku
Karena saat itu sepatuku masih bersih, aku menolaknya, namun dengan cara kasar
“ Hei kamu, nggak level sepatu saya di semir oleh penyemir jalanan sepertimu, pergi sana,”
Namun anak itu enggan untuk pergi
“ Om, dari tadi pagi saya belum menemukan pelanggan satupun, tolong saya om, untuk membeli makan saja om, tapi saya nggak mahu minta – minta,”
Huuuuhhhhhhh….. dasar anak bandel, anak jalanan nggak tahu malu
Gerutuku melihat tingkah anak itu, aku tetap tak menghiraukannya, lalu aku melanjutkan perjalanan dengan mempercepat langkahku
“  Mas, tolong anak saya mas, tolong bawakan dia ke Rumah Sakit,”
Aduh apalagi ini ibu – ibu, nggak tahu saya sedang capek, lelah, ingin istirahat
Gerutuku  lagi dalam hati
“ Ibu, saya harus segera sampai ke rumah, saya lelah, saya ingin istirahat, ibu bisa jalan kan? Jadi silahkan bawa anak ibu ke Rumah Sakit sendiri, atau minta bantuan kepada Orang lain,”
Aku mempercepat langkah kakiku dan ku tinggalkan ibu itu sendirian
Tiba – tiba ketika aku menyebrang jalan terdengar bunyi klakson sangat keras
“ tuuuuuuuuuttttt……. Ciiiiiiiiiiiiiiiitttt…. Brakkkkkkkk…..”
Tak sempat aku menghindar, mobil itu menghantam tubuhku
Aku terlempar jauh ke tepi jalan, pandanganku sayup, kepalaku kunang – kunang
Dan kulihat seorang kakek di sampingku, memanggil manggilku
“ Nak,,, ayo ikut kakek…”
Setelah itu aku tak sadarkan diri, dan entah apa yang terjadi denganku setelah itu
Setelah kuterbangun kumelihat tubuhku sangat memprihatinkan
Badan di balut perban, kaki tak mampu kugerakkan, tubuhku terasa kaku, hanya kedua bola mataku yang mampu kugerakkan, dan untuk berbicarapun terbata – bata aku mengeja setiap kata….
“ Ya Allah, mengapa kau uji hamba dengan cobaan seberat ini?
Apakah karena hamba tak memperhatikan orang – orang di sekitar hamba?
Apakah karena aku menghardik anak kecil tukang semir itu?
Dan aku tak mahu membantu anak ibu itu untuk ku bawa ke Rumah Sakit?
Ya Allah, maafkan Hamba, hamba sadar, hamba bukan siapa – siapa
Tak sepantasnya hamba berlaku seperti itu
Jika ini teguran dari-Mu, hamba ikhlas ya Allah
Hamba Ikhlas dengan segala ketetapan-Mu
Hamba janji, hamba tak kan mengulangi kesalahan hamba
Hamba tak kan lagi bersikap angkuh, acuh tak acuh,
Tak akan lagi menghardik orang lain,”


Penajam, 26 September 2015 

Jumat, 02 Oktober 2015

Pacarku, Nikah Yuk.. !!!!

Pacarku, Nikah Yuk..!!!!
Oleh : Amin Nur Kholis

Hari ini satu tahun hari jadi Dini dan Andi, setahun sudah mereka menjalin hubungan bernama Pacaran. “ Dek, kita jalan yuk!” pinta andi kepada dini, andi ingin mengajak dini merayakan hari jadinya yang sudah berjalan selama satu tahun. “ Jalan kemana kak? Dan tumben kakak ngajak jalan? “ Andi membaca SMS dari Dini.
Dini masih duduk di bangku SMP, sementara Andi adalah salah satu karyawan di tempat dimana orang tua Dini bekerja. Andi anak rantau dari seberang Pulau sana. Budaya pacaran memang sudah menjamur di kalangan Muda – Mudi saat ini, tak hanya orang Dewasa, anak – anakpun sudah mengenal budaya seperti itu. Seolah Pacaran menjadi Wajib di kalangan anak muda.

Kehangatan dalam Lingkaran Cinta

Kehangatan dalam Lingkaran Cinta
Oleh : Amin Nur Kholis

Setiap pekan Rindu bersua terobati
Bertemu dalam Lingkaran Cinta bernama Halaqah
Ia tak hanya sebuah perkumpulan
Tak hanya sebuah komunitas
Kita dipertemukan dengan Cinta-Nya
Terikat dalam Cintanya
Bahagia ketika kembali bersama...
Setiap pekan bersama mereka..
Kekuatan cinta-Nya begitu terasa..
Waktu terus berjalan dengan Ritme dalam Nada
Ketika semangat membara
Kekuatan cinta-Nya menguatkan tekad
Mendamaikan hati..
Tuk tetap berjalan dalam Ridho-Nya...
Bersama Murrabi dan juga sahabat lingkaran..
Sempat berfikir tuk pergi saat kejenuhan menyapa
Kejenuhan akan ritme dalam pertemuan..
Nada dalam kebersamaan..
Sehingga kelemahan hatipun tak dapat di elakan
Namun dengan Cinta-Nya
Mampu merubah segalanya
Ketika lemah menyapa
Ketika kejenuhan melanda
Cinta-Nya Menyadarkan diri ketika kita berjalan sendiri
Akankah kita sanggup menapaki jalan ini
Dalam Lingkaran cinta inilah kekuatan kita
Kekuatan cinta-Nya yang tak kan pernah pudar
Penajam, 15 Agustus 2015

Adakah Rindu Untukku?

Adakah Rindu Untukku?
Oleh : ~Amin Nur Kholis

Sudah hampir habis waktuku
Dengan hitungan jari,
Hariku kan berakhir disini
Aku harus kembali kesana
Tempat dimana kumengais rezeki dari-Nya
Namun, sekian lama kudisini
Adakah yang disana merindukanku?
Mengharapkanku kembali?
Entahlah, semua itu tak penting
Apakah mereka merindukanku
Mengharapkanku kembali
Itu tak lagi penting bagiku
diri ini cukup tahu
Tak pantas tuk di rindu
Tak pantas tuk diharap kembali
Setelah sekian lama pergi
Tanpa untaian kata
Hanya tuk sekedar bertanya kabar
Pun tak ku dengar
Hanya segelintir diantara mereka
Yang mengutarakannya
Semua tak seperti dulu
Saat kupulang dulu
Namun, itulah realita yang nampak di depan mata
aku akan tetap kembali
tuk mengepakan sayap
Mengais kepingan karunia-Nya
Kembali tuk kedua orang tuaku
Yang pasti lebih merindukanku
Ku ucapkan terimakasih untuk kalian yang masih memperhatikanku
Walau hanya sekedar bertanya tentang kabar
Terimakasih untuk semuanya
Yang masih mau menerimaku nanti
Sepulangku dari sini
Walau hubungan kita tak seharmonis dulu
Namun, kalian bagian dari kehidupanku disana
Salebu, 08 september 2015

Kampung Halaman

Kampung Halaman
Oleh : Amin Nur Kholis
Ketika kita jauh dari sana
Kampung halaman kita
Rindu tuk pulang selalu menyapa
Dikala sepi, sunyi selalu menghampiri
Terbayang keindahan kampung halaman
Disana kita lahir dan di rawat
Menjalani cerita masa indah waktu kecil
melewati lorong-lorong kehidupan
Mengukir cerita,
Menjalani lika liku kehidupan
Menghabiskan masa kecil dalam keceriaan disana
Masa remaja yang penuh warna
Kita habiskan di kampung kita
Namun Ketika dewasa,
Ketika tuntutan kebutuhan harus terpenuhi
Prospek kehidupan kampung yang tak memungkinkan
Memaksa diri untuk pergi meninggalkannya
Meninggalkan kampung halaman
Tuk mencari Rizki-Nya
Bukankah Kita di anjurkan untuk Berhijrah?
Ya, berhijrah untuk menjadi lebih baik
Seperti halnya meninggalkan kampung halaman
Tukmencari Rizki di tempat lain
Pergi ke tanah rantau
Menapakai jalan baru
Berjumpa dengan mereka orang-orang baru
Memaksa kita tuk mampu beradaptasi
Bersama mereka manusia penghuni bumi rantau
Penajam, 21 Agustus 2015

Aku Bukan Dia

AKU BUKAN DIA
OLEH : Amin Nur Kholis
kawan, cerita kita kini tinggal kenangan
Menjadi puing puing tentang persahabatan
Tak ada lagi kehangatan
Yang ada hanya kerinduan
Kawan, entah mengapa cerita kita berubah
Akukah yang salah?
akukah yang memulai?
Akukah yang membakar tiang persahabatan kita
Hingga kini yang tersisa tinggal puing puing kenangan
Tapi kawan, mengapa tak ada yang menegurku
Tak ada yang meluruskanku
Aku di biarkan sendiri disini
Memikirkan tentang kelanjutan jalinan ini
Kalian pergi, jauh dari sisiku
Hingga tak lagi dapat ku jabat tanganmu
Jikapun kujabat tanganmu
Dingin yang kurasa
Tak ada kehangatan seperti dulu
Kawan, aku sadar, dia lebih dari diriku
kehangatan yang ia beri untuk kalian
Sedangkan aku, api yang selalu ku kobarkan ditengah kalian
Kalian selalu menuntut diriku
Untuk menjadi seperti dirinya
Aku tak sanggup kawan jika itu yang kalian pinta
bukankah dulu ketulusan yang kalian beri, kehangatan yang kalian semai
Kawan, aku bukan dia
Dan tak kan ku bisa seperti dia
Penajam, 28 September 2015

Remaja

Remaja
Oleh : Amin Nur kholis
Kau tunas bangsa ini
Kau masa depan negeri ini
Kau pilar-pilar kokoh masa depan
Kau harapan tanah air
Wahai anak bangsa
Jadilah kau pemuda tangguh
Pemuda yang tak kenal lelah dalam berjuang
Pemuda penerus generasi
Pemuda yang tak gentar akan terpaan badai kehidupan
Ingatlah perjuangan pahlawan kita
Perjuangan yang tak kenal rasa lelah
Jiwa raga mereka korbankan demi cita-cita bangsa
Perjuangan tuk kemerdekaan bangsa
Kebebasan dari kedzaliman penjajah
Kaulah harapan bangsa wahai pemuda
Penajam, 10 Agustus 2015