Kamis, 29 Oktober 2015
Jodoh Pasti Bertemu
Jodoh adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh Allah yang maha Esa. Tetapi bagaimana kita mengetahui dia memang ditakdirkan untuk kita?
Kata orang, jodoh itu harus dicari. tapi, kamunya siapa?
Mu tahu ceritanya, ayo klik link di bawah ini ;
https://www.youtube.com/watch?v=MRW4NB-qf70
Pacaran itu?
Arti Pacaran yang sebenarnya. Apakah kamu tau apa arti pacaran yang sebenarnya bro ? :) Banyak lho saat ini orang yang berpacaran tapi tidak tahu atau tidak mengerti sebenarnya apa sih tujuan mereka berpacaran atau membina hubugan.
Jika ditanya apa sih tujuan dan arti pacaran kalian, kebanyakan akan menjawab karena sayang lah, karena cinta lah, karena pengen memilikinya lah, dll. apakah benar seperti itu?
mau tahu pacaran itu seperti apa? ayo Klik Link di bawah ini :
https://www.youtube.com/watch?v=F0aBCWzLsBM
Selasa, 27 Oktober 2015
Asap dan Senja
Asap dan Senja
Oleh : Amin Nur Kholis
'' Ayah,
ayah! kenapa sih asapnya nggak hilang - hilang? nggak seperti kalau ibu masak,
selesai ibu masak ya asapnya ikut pergi juga.'' celetuk anakku kepadaku.
Kami, aku dan anakku Angga, sedang duduk
di teras rumah, memandangi keindahan sore hari. Namun, Kini keindahannya tak
seperti biasanya. Dulu ketika warna senja kemerahan, dan matahari mulai tenggelam
tuk pulang ke peraduannya begitu elok tuk di pandang. Namun, kini yang nampak
di depan mata kami, segerombolan Asap pekat yang menutupi pancaran sinar
mentari. Warna merah senja, kini berubah menjadi gelap. Keelokan Matahari
tenggelampun tak nampak. Tak ada lagi senja seindah kemarin.
" Ayah! Kemari yah, cepat yah."
Minggu, 25 Oktober 2015
Aku yang Terlupakan
Aku yang Terlupakan
Oleh : Amin Nur
Kholis
Kawan!
Aku rindu padamu,
Kapan kau kembali
menyentuhku?
Kapan kau kembali melantunkanku?
Ingatkah kau, kapan
terakhir membuka setiap lembaranku?
Ingatkah kau, ayat
terakhir yang kau baca dariku?
Mungkin kau tak
mengingatnya
Sudah terlalu lama kau
tinggalkan aku sendiri di sini
Hingga sampulku kini
penuh dengan debu
Dan lembaran –
lembarnaku kini lusuh berwarna kecokelatan
Kawan!
Aku ini lembaran yang
di wariskan untukmu
Juga Untuk seluruh
ummat
Buakn harta dan tahta
yang di wariskan kepadamu
Karena aku lebih
berharaga dari semua itu
Akulah penuntun jalanmu
Akulah peta kehidupanmu
Kawan!
Kumohon, kembalilah
kepadaku
Barang sejenak saja,
tak perlu kau duduk berjam – jam
Untuk menyelesaikan
membuka lembaran
Dan melantunkan setiap
ayat dariku
Cukuplah kau istiqomah
menyapaku
Agar kau tak tersesat
di lembah belantara dunia Fana ini
#Penajam, 24 Okktober
2015
Ramadhan
Ramadhan
Oleh : Amin Nur
Kholis
Kau bulan yang kami
rindui
Hadirmu selalu din anti
Hanya satu kali kau
menampakkan diri
Namun, berkah sepanjang
hari
Hingga ketika kau pergi
Hadirmu mengubah
seluruh isi dunia
Yang dulu tak gemar
mengaji
Kini Al-qur’an selalu
di hati
Kemanapun kaki terayun
Al-Qur’an selalu
membersamai
Kau istimewa untuk kami
Yang selalu menanti
kehadiranmu di sini
Di dunia yang penuh uji
Semoga kelak kita kan
bersua kembali
Untuk mendapat rahmat
Illahi Rabbi
#Penajam, 22 Oktober
2015
Sabtu, 17 Oktober 2015
Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!
Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!
Oleh
: Amin Nur Kholis
Ayah sangat marah
ketika mengetahui aku menjalin hubungan dengan kak Alan, selama ini aku
sembunyi – sembunyi menjalin hubungan ini. Ayah melarang kami anak – anaknya
untuk Pacaran, ayah menyuruh kami untuk fokus belajar. Aku memang bandel, tidak
seperti kakakku Danang, dia nggak pernah Pacaran, dia selalu mendapat prestasi
di sekolahnya, sehingga kak Danang mendapat beasiswa kuliah di Jogja, dan sekarang
dia sudah menikah dengan orang Jogja, teman kuliahnya
Hanya Seuntai Do'a
Hanya Seuntai Do'a
Oleh : Amin Nur Kholis
45 tahun sudah kau arungi kehidupan
Di dunia yang penuh kepalsuan ini
Kebahagiaan yang setitik
Bak setetes air dari luasnya samudera
Maaf,
Aku tak memberimu sebungkus hadiah
Tak mengucapkan selamat ulang tahun
Juga tak memberimu seloyang kue tart
Aku tak tahu,
Bagaimana mengungkapkan cintaku padamu
Meluapkan kasih sayangku untukmu
Aku tak seperti mereka
Yang mampu memeluk ayah dan bunda
Mendekap hangat dalam kasihnya
Mengungkap dengan lantang
" Ayah, Bunda, aku sayang kalian "
Aku tak terbiasa seperti itu
Aku hanya mampu mematuhi setiap petuahmu
Mengungkap kasih dalam Do'a
Di sisa usiamu,
Aku ingin berbakti padamu
Bukan dengan materi
Bukan juga dengan kemewahan
Hanya dengan kepatuhanku
Dan seuntai do'a untukmu
Bukankah waladun sholih
Yang akan menjadi temanmu di sisi-Nya kelak?
Bukan harta dan kemewahan?
Ibu,
Terimakasihku untukmu
Kau telah memberikanku segudang pelajaran
Tentang kesabaran, ketabahan, dan pengokohan hati
Tentang arti kasih sayang yang sesungguhnya
Tentang arti cinta yang sebenarnya
Terimakasihku untukmu
Kau telah merawat kami anak-anakmu
Dengan penuh kasih sayang
Dengan ketulusan cinta tanpa pamrih
Ibu,
Hanya do'a yang dapat kami lantunkan untukmu
Seuntai do'a, agar Allah memberikanmu kebahagiaan
Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya untukmu
Allah senantiasa membimbingku
Untuk terus berbakti kepadamu
Hingga kelak kau bertemu dengan-Nya
Allah yang memiliki setiap jiwa
Penajam, 12 Oktober 2015
Barakallahu fi umrik Ummi, I Love U
Sabtu, 10 Oktober 2015
Sang Putri dan Kantung Ajaib
#CANBERAeuy!
By : OWP-ers 3 [ Sang Putri dan Kantung Ajaib ] Embusan angin bersuhu rendah membuat Putri Citra merapatkan jaketnya. Ia lalu memicingkan matanya, sesaat setelah mendengar gemuruh langit. Meski begitu, matanya masih terpaku pada refleksi seseorang pada air kolam di bawahnya. Ia pun mengembuskan napasnya dengan keras. Kesal.
By : OWP-ers 3 [ Sang Putri dan Kantung Ajaib ] Embusan angin bersuhu rendah membuat Putri Citra merapatkan jaketnya. Ia lalu memicingkan matanya, sesaat setelah mendengar gemuruh langit. Meski begitu, matanya masih terpaku pada refleksi seseorang pada air kolam di bawahnya. Ia pun mengembuskan napasnya dengan keras. Kesal.
Jumat, 09 Oktober 2015
Aku Enggan Menyapa Malam
Aku Enggan Menyapa Malam
Oleh : Amin Nur Kholis
Suasana semakin hening, hanya suara jangkrik yang terdengar '' Krik... Krik... Krik... ''
dinginnya malam pun semakin menusuk, hembusannya yg lembut, sentuhannya yang hangat, oh angin, kau menambah kesyahduan malam ini.
Kita tak Pernah Tahu
Kita tak pernah tahu
Oleh : Amin Nur Kholis
Oleh : Amin Nur Kholis
Hari ini kita masih dapat berbicara
Kita masih mampu menghirup udara
Kita masih bisa bersua dengan orang terkasih
Ayah, ibu, karib kerabat
Kita masih mampu menghirup udara
Kita masih bisa bersua dengan orang terkasih
Ayah, ibu, karib kerabat
Hari ini, kita masih mampu berjalan
Melangkah menuju mimpi - mimpi yang belum menjadi nyata
Mengejar cita - cita yang masih menggantung di gunung kesuksesan
Melangkah menuju mimpi - mimpi yang belum menjadi nyata
Mengejar cita - cita yang masih menggantung di gunung kesuksesan
Namun, sering kita tak pernah tahu
Kita tak pernah menyadari
Apakah esok kita masih mampu melakukan semua itu?
Masihkah kita menghirup udara segar?
menghela nafas sebagai anugerah ILLAHI?
Masihkah esok kaki kita mampu melangkah menuju masa depan yang kita impikan?
Kita tak pernah menyadari
Apakah esok kita masih mampu melakukan semua itu?
Masihkah kita menghirup udara segar?
menghela nafas sebagai anugerah ILLAHI?
Masihkah esok kaki kita mampu melangkah menuju masa depan yang kita impikan?
Entahlah, kita tak pernah tahu
Kapan kaki kita berhenti melangkah
Nafas kita terhenti
Mata tak lagi mampu menatap dunia
Lisan tak lagi mampu berdzikir
Kita tak pernah tahu
Kapan kita menutup usia
Kapan kaki kita berhenti melangkah
Nafas kita terhenti
Mata tak lagi mampu menatap dunia
Lisan tak lagi mampu berdzikir
Kita tak pernah tahu
Kapan kita menutup usia
Kau yang lebih dahulu menemui Rabb-Mu
Semoga amalmu berhadiahkan syurga
Semoga terang benderang jalan meniti dunia sesungguhnya
Kelak, kami akan menyusulmu
Entah esok, hari ini, atau mungkin setelah rangkaian kata ini tersusun
Kita tak pernah tahu
Kapan malaikat izro'il memanggil
Semoga amalmu berhadiahkan syurga
Semoga terang benderang jalan meniti dunia sesungguhnya
Kelak, kami akan menyusulmu
Entah esok, hari ini, atau mungkin setelah rangkaian kata ini tersusun
Kita tak pernah tahu
Kapan malaikat izro'il memanggil
Penajam, 08 Oktober 2015
Kusimpan Sajadah Darimu
Kusimpan Sajadah darimu
Olah : Amin Nur Kholis
Olah : Amin Nur Kholis
Tak selayaknya ikatan kita terlepas
Kau dan aku bukan sekedar teman
Bukan pula sahabat
Hubungan kita lebih dari itu
Kau saudaraku begitupun aku saudaramu
Namun,
tangan ini tak mampu lagi menggenggam tanganmu
tak mampu lagi menjabat tanganmu
Hati ini tak mampu lagi mendekapmu
Kau dan aku bukan sekedar teman
Bukan pula sahabat
Hubungan kita lebih dari itu
Kau saudaraku begitupun aku saudaramu
Namun,
tangan ini tak mampu lagi menggenggam tanganmu
tak mampu lagi menjabat tanganmu
Hati ini tak mampu lagi mendekapmu
Entah mengapa semua ini terjadi
Aku tak mampu mengerti
Bisikan orang tentang diriku
Yang cemburu dan iri terhadapmu
Membuatku semakin tak mengerti
Aku tak mampu mengerti
Bisikan orang tentang diriku
Yang cemburu dan iri terhadapmu
Membuatku semakin tak mengerti
Iri? Ya, mungkin aku iri kepadamu
Mereka lebih memilih dirimu daripada aku
Mereka lebih bahagia saat bersamamu
Daripada saat duduk berdampingan denganku
Mereka lebih memilih dirimu daripada aku
Mereka lebih bahagia saat bersamamu
Daripada saat duduk berdampingan denganku
Kau pernah berkata
" Aku menyayangimu, aku tak ingin kita seperti ini
Kita semua sama, mereka temanku juga temanmu"
Dan aku mencelamu
" Ah omong kosong, kau hanya ingin menghibur hatiku"
" Aku menyayangimu, aku tak ingin kita seperti ini
Kita semua sama, mereka temanku juga temanmu"
Dan aku mencelamu
" Ah omong kosong, kau hanya ingin menghibur hatiku"
Tak dapat kurasai ketulusan dalam berteman
Aku selalu di bandingkan denganmu Tentang segala hal
Dan mereka selalu berkata
" Kalian adalah teman kami, kami tak pernah membeda - bedakan antara kamu dan dia "
Benarkah demikian?
Jika iya, mengapa aku tak merasakannya?
Apakah hatiku yang sudah membeku
Entahlah, akupun tak mengerti tentang siapa diriku
Aku selalu di bandingkan denganmu Tentang segala hal
Dan mereka selalu berkata
" Kalian adalah teman kami, kami tak pernah membeda - bedakan antara kamu dan dia "
Benarkah demikian?
Jika iya, mengapa aku tak merasakannya?
Apakah hatiku yang sudah membeku
Entahlah, akupun tak mengerti tentang siapa diriku
" Aku mahu pulang, karena aku harus pulang"
Apa kau tahu apa yang kurasa saat itu
Saat mendengar kata " Pulang " darimu
Sedih, sakit, bukan tentang kepulanganmu
Namun tentang hubungan kita
Tali yang belum sempat terhubung kembali
Akan tetap putus sampai nanti
Namun,
Kau menghadiahkan sajadah ini untukku
Sebelum kau pergi tuk keluargamu
Dan satu permintaanmu atas sajadah ini
" Tolong pakai sajadah ini saat kamu shalat,
Saat kamu bermunajat kepada Allah "
Tak hanya itu
" Aku harap sajadah ini mampu mengikat kembali
Tali yang terputus itu, dan semakin erat ikatannya"
Aku terharu bila mengingat semua itu
Air mataku tak mampu kubendung
Aku tak mampu memenuhi amanatmu
Untuk memakai sajadah darimu
Aku malah menyimpannya di sudut lemari
Maafkan aku teman, aku telah menghianatimu
Aku tak memenuhi amanatmu
Biarlah tali ini berceceran
Ikatan ikatan ini berkeliaran
Tak usah lagi kita coba tuk mengikatnya kembali
Karena itu akan sia - sia
Selama hatiku masih membeku.
Apa kau tahu apa yang kurasa saat itu
Saat mendengar kata " Pulang " darimu
Sedih, sakit, bukan tentang kepulanganmu
Namun tentang hubungan kita
Tali yang belum sempat terhubung kembali
Akan tetap putus sampai nanti
Namun,
Kau menghadiahkan sajadah ini untukku
Sebelum kau pergi tuk keluargamu
Dan satu permintaanmu atas sajadah ini
" Tolong pakai sajadah ini saat kamu shalat,
Saat kamu bermunajat kepada Allah "
Tak hanya itu
" Aku harap sajadah ini mampu mengikat kembali
Tali yang terputus itu, dan semakin erat ikatannya"
Aku terharu bila mengingat semua itu
Air mataku tak mampu kubendung
Aku tak mampu memenuhi amanatmu
Untuk memakai sajadah darimu
Aku malah menyimpannya di sudut lemari
Maafkan aku teman, aku telah menghianatimu
Aku tak memenuhi amanatmu
Biarlah tali ini berceceran
Ikatan ikatan ini berkeliaran
Tak usah lagi kita coba tuk mengikatnya kembali
Karena itu akan sia - sia
Selama hatiku masih membeku.
Penajam, 29 Spetember 2015
Minggu, 04 Oktober 2015
[Malam Narasi OWOP3]
[Malam Narasi OWOP3]
" Mas Alan, di panggil bapak, mas alan diminta ke ruangannya sekarang," sekretaris pak hasan memberitahukanku kalau aku dipanggil pak hasan dan aku ditunggu pak hasan di ruangannya.
" Ada apa yah pak hasan memanggilku?" Tanyaku pada diri sendiri. Lalu aku berjalan menuju ruangan pak hasan, ketika aku di depan ruangannya, perasaanku tiba - tiba tidak enak. Setelah dipersilahkan masuk, aku duduk di kursi di depan pak hasan.
" Alan, mana laporan keuangan bulan ini? Kenapa belum ada di Meja saya"
Menyapamu dalam Do'a
Menyapamu dalam Do'a
Oleh : Amin Nur Kholis
Tak lagi kupinta, apa yang tak lagi kumiliki
Tak lagi berharap kembali, apa yang telah berlari
Biarlah hati ini belajar tentang sebuah keikhlasan
Melepas apa yang harus dilepas
Biarlah semua menjadi cerita
menjadi kenangan dalam bingkai kehidupan kita
Mungkin kita tak berjodoh di dunia
Dalam sebuah lingkaran cinta
Bernama teman atau saudara
Ini bukan salah siapa - siapa
Hanya hatiku yang sudah membeku
Tak lagi ku mampu memandang kebaikan
walau itu hanya setitik
Hatiku dipenuhi rasa benci, cemburu juga iri hati
Hingga hati inipun penuh dengan kerak
juga mengeras seperti batu
Maaf,
Jika aku tak pernah menyapa
Tak seperti mereka
Tak usah ditanya mengapa
Ini yang terbaik untuk kita
Aku hanya meminta
Tuk menyapa dalam Do'a
Hanya itu yang ku bisa
Karena lidah ini kelu saat bersua
Hingga tak dapat ku ungkap sebuah kata
Biarlah hanya dalam Do'a
Diri ini menyapa semua
Dan Biarlah,
Semua itu menjadi cerita
Pelajaran untuk kita semua
Semoga tak ada lagi manusia yang lain sepertiku di dunia
Cukup hanya satu, ialah Aku
Yang hatinya membeku
Semoga Tuhan selalu membahagiakan mereka, juga hatimu
Penajam, 02 Oktober 2015
Beranjaknya Usia
Beranjaknya Usia
Oleh : Amin Nur Kholis
23 tahun sudah kau arungi hidup ini
di bumi Allah yang kau dan kami cintai
genap 23 tahun usiamu hari ini
sebanyak itu pulalah quota usiamu telah berlari
Tinggal menanti sampai kapan sisa usiamu berhenti
Tak terasa sudah banyak cerita yang di jalani
Dari saat kau belajar berjalan hingga kau dapat berlari
dari kau kesana kemari selalu ditemani
Hingga kau kini menjadi mandiri
tak kan habis cerita 23 tahun silam
tuk di goreskan dengan pena
butuh berlembar lembar kertas
tuk dapat menulis semua cerita
Tak cukup hanya satu lembar kertas saja
Kini kau sudah dewasa
sudah mampu membanggakan orang tua
Yang dulu hanya sebuah mimpi belaka
kini kau dapat mebuat senyum di hati mereka
Dengan baktimu kepda kedua orang tua
Akhi,
maaf tak dapat ku berikan apa - apa buatmu
Hanya untaian do'a untuk kebahagiaanmu
Semoga di sisa usiamu
Menjadi barokah dalam hidupmu
Seiring beranjaknya usiamu
Kerberkahan hidup selaluu mendampingimu
Menambah kedewasaanmu
Juga baktimu kepada orangtuamu
Barakallahu fi 'umrik ya Akhi
Setangkai do'a untukmu hari ini
Semoga kelak dapat bersua di syurga ILLAHI
Semoga tali simpul persaudaraan ini
Dapat menjulur hingga ke akhirat
Mengantarkan kita ke syurga-Nya nanti
Penajam, 01 Oktober 2015
Untuk Akhina,
Untuk Akhina,
Tak Kan Ku Ulangi
Tak
Kan Ku Ulangi
Oleh : Amin Nur Kholis
“
Tidurlah nak, hari sudah larut malam,”
Aku
mendengar suara lirih seorang ibu dari balik rumah
Yang
berdindingkan kardus bekas
Beralaskan
Koran bekas
Sang
anak bertanya kepada ibunya
“
Ibu, kenapa nasib kita seperti ini? Allah nggak sayang sama kita ya Bu?”
Sang
ibu terisak, terdengar suaranya tercekat ketika menjelaskan kepada anaknya
“
Nak, tidak boleh berbicara seperti itu, Allah
sayang kepada kita, dan ini bentuk kasih sayang Allah kepada kita,
Allah
tidak mengizinkan kita menjadi orang yang kaya Harta,
Karena
Allah ingin menjadikan kita hamba yang selalu bersyukur,”
Aku
terdiam dan berhenti setelah mendengar perkataan sang ibu
Dalam
kondisi seperti itu, hidup jauh dari kata cukup, namun mereka tetap tegar
Sabar
dan menerima ketentuan dari Allah
Sedangkan
aku?
“
Ya Allah, kenapa pangkatku tidak naik – naik? Gajiku hanya segini?
Dengan
uang segini bagaimana aku bisa hidup kedepan?”
Aku
selalu mengeluhkan akan Rizki Allah,
Aku
selalu merasa kurang dengan rizki yang Allah beikan
Aku
melanjutkan langkahku menuju rumah
Aku
lelah, setelah seharian bekerja dan ingin segera merebahkan badan ini
Aku
mempercepat langkahku
“
Ayah, kita istirahat dulu yuk, aku lelah yah, aku ingin tidur barang sejenak,”
Kembali
ku melihat seorang anak merengek kepada ayahnya
Ia
meminta untuk beristirahat setelah seharian bekerja
Namun
ayahnya enggan memenuhi keinginan anaknya
Dengan
keranjang di pundaknya dan sepotong besi kecil untuk mengais sampah plastik
Tangannya
terus ia kayuhkan di tumpukan sampah di depan toko tepat di depanku
“
Nak, dari tadi pagi kita belum menemukan apa – apa yang dapat kita jual
Untuk
membeli makanan, “
Seraya
melanjutkan kayuhan tangannya, sang ayah menengok ke kanan dan kiri
Sepertinya
ia melihat sesuatu, dan ia ingin mengambilnya
“
Wah, ada dompet jatuh nih, lumayan uangnya bisa buat beli makan,”
Tapi
setelah ia mengambil dompet tersebut
Ia
mendongak ke atas, seolah ia melihat sesuatu
Tak
jadi ia mengambil uang sepeserpun dari dompet itu
Ia
kembali meletakkan dompet itu di tempat semula
“
Astaghfirullah, itu bukan hak saya, kalau saya mengambilnya, sama saja saya
mencuri,”
Aku
tersentak melihat kejujuran sang ayah,
Namun
hatiku belum juga tersentuh
Aku
kembali melanjutkan perjalanan, karena malam semakin larut
“
Om, semir Om, dijamin sepatu om mengkilat,”
Tiba
– tiba muncul seorang anak kecil menawarkan jasa semir sepatu kepadaku
Karena
saat itu sepatuku masih bersih, aku menolaknya, namun dengan cara kasar
“
Hei kamu, nggak level sepatu saya di semir oleh penyemir jalanan sepertimu,
pergi sana,”
Namun
anak itu enggan untuk pergi
“
Om, dari tadi pagi saya belum menemukan pelanggan satupun, tolong saya om,
untuk membeli makan saja om, tapi saya nggak mahu minta – minta,”
Huuuuhhhhhhh…..
dasar anak bandel, anak jalanan nggak tahu malu
Gerutuku
melihat tingkah anak itu, aku tetap tak menghiraukannya, lalu aku melanjutkan
perjalanan dengan mempercepat langkahku
“ Mas, tolong anak saya mas, tolong bawakan dia
ke Rumah Sakit,”
Aduh
apalagi ini ibu – ibu, nggak tahu saya sedang capek, lelah, ingin istirahat
Gerutuku lagi dalam hati
“
Ibu, saya harus segera sampai ke rumah, saya lelah, saya ingin istirahat, ibu
bisa jalan kan? Jadi silahkan bawa anak ibu ke Rumah Sakit sendiri, atau minta
bantuan kepada Orang lain,”
Aku
mempercepat langkah kakiku dan ku tinggalkan ibu itu sendirian
Tiba
– tiba ketika aku menyebrang jalan terdengar bunyi klakson sangat keras
“
tuuuuuuuuuttttt……. Ciiiiiiiiiiiiiiiitttt…. Brakkkkkkkk…..”
Tak
sempat aku menghindar, mobil itu menghantam tubuhku
Aku
terlempar jauh ke tepi jalan, pandanganku sayup, kepalaku kunang – kunang
Dan
kulihat seorang kakek di sampingku, memanggil manggilku
“
Nak,,, ayo ikut kakek…”
Setelah
itu aku tak sadarkan diri, dan entah apa yang terjadi denganku setelah itu
Setelah
kuterbangun kumelihat tubuhku sangat memprihatinkan
Badan
di balut perban, kaki tak mampu kugerakkan, tubuhku terasa kaku, hanya kedua
bola mataku yang mampu kugerakkan, dan untuk berbicarapun terbata – bata aku
mengeja setiap kata….
“
Ya Allah, mengapa kau uji hamba dengan cobaan seberat ini?
Apakah
karena hamba tak memperhatikan orang – orang di sekitar hamba?
Apakah
karena aku menghardik anak kecil tukang semir itu?
Dan
aku tak mahu membantu anak ibu itu untuk ku bawa ke Rumah Sakit?
Ya
Allah, maafkan Hamba, hamba sadar, hamba bukan siapa – siapa
Tak
sepantasnya hamba berlaku seperti itu
Jika
ini teguran dari-Mu, hamba ikhlas ya Allah
Hamba
Ikhlas dengan segala ketetapan-Mu
Hamba
janji, hamba tak kan mengulangi kesalahan hamba
Hamba
tak kan lagi bersikap angkuh, acuh tak acuh,
Tak
akan lagi menghardik orang lain,”
Penajam,
26 September 2015
Jumat, 02 Oktober 2015
Pacarku, Nikah Yuk.. !!!!
Pacarku,
Nikah Yuk..!!!!
Hari
ini satu tahun hari jadi Dini dan Andi, setahun sudah mereka menjalin hubungan bernama
Pacaran. “ Dek, kita jalan yuk!” pinta andi kepada dini, andi ingin mengajak
dini merayakan hari jadinya yang sudah berjalan selama satu tahun. “ Jalan
kemana kak? Dan tumben kakak ngajak jalan? “ Andi membaca SMS dari Dini.
Dini
masih duduk di bangku SMP, sementara Andi adalah salah satu karyawan di tempat
dimana orang tua Dini bekerja. Andi anak rantau dari seberang Pulau sana.
Budaya pacaran memang sudah menjamur di kalangan Muda – Mudi saat ini, tak
hanya orang Dewasa, anak – anakpun sudah mengenal budaya seperti itu. Seolah
Pacaran menjadi Wajib di kalangan anak muda.
Kehangatan dalam Lingkaran Cinta
Kehangatan dalam Lingkaran Cinta
Oleh : Amin Nur Kholis
Setiap pekan Rindu bersua terobati
Bertemu dalam Lingkaran Cinta bernama Halaqah
Ia tak hanya sebuah perkumpulan
Tak hanya sebuah komunitas
Kita dipertemukan dengan Cinta-Nya
Terikat dalam Cintanya
Bahagia ketika kembali bersama...
Setiap pekan bersama mereka..
Kekuatan cinta-Nya begitu terasa..
Waktu terus berjalan dengan Ritme dalam Nada
Ketika semangat membara
Kekuatan cinta-Nya menguatkan tekad
Mendamaikan hati..
Tuk tetap berjalan dalam Ridho-Nya...
Bersama Murrabi dan juga sahabat lingkaran..
Sempat berfikir tuk pergi saat kejenuhan menyapa
Kejenuhan akan ritme dalam pertemuan..
Nada dalam kebersamaan..
Sehingga kelemahan hatipun tak dapat di elakan
Namun dengan Cinta-Nya
Mampu merubah segalanya
Ketika lemah menyapa
Ketika kejenuhan melanda
Cinta-Nya Menyadarkan diri ketika kita berjalan sendiri
Akankah kita sanggup menapaki jalan ini
Dalam Lingkaran cinta inilah kekuatan kita
Kekuatan cinta-Nya yang tak kan pernah pudar
Bertemu dalam Lingkaran Cinta bernama Halaqah
Ia tak hanya sebuah perkumpulan
Tak hanya sebuah komunitas
Kita dipertemukan dengan Cinta-Nya
Terikat dalam Cintanya
Bahagia ketika kembali bersama...
Setiap pekan bersama mereka..
Kekuatan cinta-Nya begitu terasa..
Waktu terus berjalan dengan Ritme dalam Nada
Ketika semangat membara
Kekuatan cinta-Nya menguatkan tekad
Mendamaikan hati..
Tuk tetap berjalan dalam Ridho-Nya...
Bersama Murrabi dan juga sahabat lingkaran..
Sempat berfikir tuk pergi saat kejenuhan menyapa
Kejenuhan akan ritme dalam pertemuan..
Nada dalam kebersamaan..
Sehingga kelemahan hatipun tak dapat di elakan
Namun dengan Cinta-Nya
Mampu merubah segalanya
Ketika lemah menyapa
Ketika kejenuhan melanda
Cinta-Nya Menyadarkan diri ketika kita berjalan sendiri
Akankah kita sanggup menapaki jalan ini
Dalam Lingkaran cinta inilah kekuatan kita
Kekuatan cinta-Nya yang tak kan pernah pudar
Penajam, 15 Agustus 2015
Adakah Rindu Untukku?
Adakah Rindu Untukku?
Oleh : ~Amin Nur Kholis
Oleh : ~Amin Nur Kholis
Sudah hampir habis waktuku
Dengan hitungan jari,
Hariku kan berakhir disini
Aku harus kembali kesana
Tempat dimana kumengais rezeki dari-Nya
Namun, sekian lama kudisini
Adakah yang disana merindukanku?
Mengharapkanku kembali?
Entahlah, semua itu tak penting
Apakah mereka merindukanku
Mengharapkanku kembali
Itu tak lagi penting bagiku
diri ini cukup tahu
Tak pantas tuk di rindu
Tak pantas tuk diharap kembali
Setelah sekian lama pergi
Tanpa untaian kata
Hanya tuk sekedar bertanya kabar
Pun tak ku dengar
Hanya segelintir diantara mereka
Yang mengutarakannya
Semua tak seperti dulu
Saat kupulang dulu
Namun, itulah realita yang nampak di depan mata
aku akan tetap kembali
tuk mengepakan sayap
Mengais kepingan karunia-Nya
Kembali tuk kedua orang tuaku
Yang pasti lebih merindukanku
Ku ucapkan terimakasih untuk kalian yang masih memperhatikanku
Walau hanya sekedar bertanya tentang kabar
Dengan hitungan jari,
Hariku kan berakhir disini
Aku harus kembali kesana
Tempat dimana kumengais rezeki dari-Nya
Namun, sekian lama kudisini
Adakah yang disana merindukanku?
Mengharapkanku kembali?
Entahlah, semua itu tak penting
Apakah mereka merindukanku
Mengharapkanku kembali
Itu tak lagi penting bagiku
diri ini cukup tahu
Tak pantas tuk di rindu
Tak pantas tuk diharap kembali
Setelah sekian lama pergi
Tanpa untaian kata
Hanya tuk sekedar bertanya kabar
Pun tak ku dengar
Hanya segelintir diantara mereka
Yang mengutarakannya
Semua tak seperti dulu
Saat kupulang dulu
Namun, itulah realita yang nampak di depan mata
aku akan tetap kembali
tuk mengepakan sayap
Mengais kepingan karunia-Nya
Kembali tuk kedua orang tuaku
Yang pasti lebih merindukanku
Ku ucapkan terimakasih untuk kalian yang masih memperhatikanku
Walau hanya sekedar bertanya tentang kabar
Terimakasih untuk semuanya
Yang masih mau menerimaku nanti
Sepulangku dari sini
Walau hubungan kita tak seharmonis dulu
Namun, kalian bagian dari kehidupanku disana
Yang masih mau menerimaku nanti
Sepulangku dari sini
Walau hubungan kita tak seharmonis dulu
Namun, kalian bagian dari kehidupanku disana
Salebu, 08 september 2015
Kampung Halaman
Kampung Halaman
Oleh : Amin Nur Kholis
Ketika kita jauh dari sana
Kampung halaman kita
Rindu tuk pulang selalu menyapa
Dikala sepi, sunyi selalu menghampiri
Terbayang keindahan kampung halaman
Disana kita lahir dan di rawat
Menjalani cerita masa indah waktu kecil
melewati lorong-lorong kehidupan
Mengukir cerita,
Menjalani lika liku kehidupan
Menghabiskan masa kecil dalam keceriaan disana
Masa remaja yang penuh warna
Kita habiskan di kampung kita
Namun Ketika dewasa,
Ketika tuntutan kebutuhan harus terpenuhi
Prospek kehidupan kampung yang tak memungkinkan
Memaksa diri untuk pergi meninggalkannya
Meninggalkan kampung halaman
Tuk mencari Rizki-Nya
Bukankah Kita di anjurkan untuk Berhijrah?
Ya, berhijrah untuk menjadi lebih baik
Seperti halnya meninggalkan kampung halaman
Tukmencari Rizki di tempat lain
Pergi ke tanah rantau
Menapakai jalan baru
Berjumpa dengan mereka orang-orang baru
Memaksa kita tuk mampu beradaptasi
Bersama mereka manusia penghuni bumi rantau
Kampung halaman kita
Rindu tuk pulang selalu menyapa
Dikala sepi, sunyi selalu menghampiri
Terbayang keindahan kampung halaman
Disana kita lahir dan di rawat
Menjalani cerita masa indah waktu kecil
melewati lorong-lorong kehidupan
Mengukir cerita,
Menjalani lika liku kehidupan
Menghabiskan masa kecil dalam keceriaan disana
Masa remaja yang penuh warna
Kita habiskan di kampung kita
Namun Ketika dewasa,
Ketika tuntutan kebutuhan harus terpenuhi
Prospek kehidupan kampung yang tak memungkinkan
Memaksa diri untuk pergi meninggalkannya
Meninggalkan kampung halaman
Tuk mencari Rizki-Nya
Bukankah Kita di anjurkan untuk Berhijrah?
Ya, berhijrah untuk menjadi lebih baik
Seperti halnya meninggalkan kampung halaman
Tukmencari Rizki di tempat lain
Pergi ke tanah rantau
Menapakai jalan baru
Berjumpa dengan mereka orang-orang baru
Memaksa kita tuk mampu beradaptasi
Bersama mereka manusia penghuni bumi rantau
Penajam, 21 Agustus 2015
Aku Bukan Dia
AKU BUKAN DIA
OLEH : Amin Nur Kholis
OLEH : Amin Nur Kholis
kawan, cerita kita kini tinggal kenangan
Menjadi puing puing tentang persahabatan
Tak ada lagi kehangatan
Yang ada hanya kerinduan
Menjadi puing puing tentang persahabatan
Tak ada lagi kehangatan
Yang ada hanya kerinduan
Kawan, entah mengapa cerita kita berubah
Akukah yang salah?
akukah yang memulai?
Akukah yang membakar tiang persahabatan kita
Hingga kini yang tersisa tinggal puing puing kenangan
Akukah yang salah?
akukah yang memulai?
Akukah yang membakar tiang persahabatan kita
Hingga kini yang tersisa tinggal puing puing kenangan
Tapi kawan, mengapa tak ada yang menegurku
Tak ada yang meluruskanku
Aku di biarkan sendiri disini
Memikirkan tentang kelanjutan jalinan ini
Kalian pergi, jauh dari sisiku
Hingga tak lagi dapat ku jabat tanganmu
Jikapun kujabat tanganmu
Dingin yang kurasa
Tak ada kehangatan seperti dulu
Tak ada yang meluruskanku
Aku di biarkan sendiri disini
Memikirkan tentang kelanjutan jalinan ini
Kalian pergi, jauh dari sisiku
Hingga tak lagi dapat ku jabat tanganmu
Jikapun kujabat tanganmu
Dingin yang kurasa
Tak ada kehangatan seperti dulu
Kawan, aku sadar, dia lebih dari diriku
kehangatan yang ia beri untuk kalian
Sedangkan aku, api yang selalu ku kobarkan ditengah kalian
Kalian selalu menuntut diriku
Untuk menjadi seperti dirinya
Aku tak sanggup kawan jika itu yang kalian pinta
bukankah dulu ketulusan yang kalian beri, kehangatan yang kalian semai
Kawan, aku bukan dia
Dan tak kan ku bisa seperti dia
kehangatan yang ia beri untuk kalian
Sedangkan aku, api yang selalu ku kobarkan ditengah kalian
Kalian selalu menuntut diriku
Untuk menjadi seperti dirinya
Aku tak sanggup kawan jika itu yang kalian pinta
bukankah dulu ketulusan yang kalian beri, kehangatan yang kalian semai
Kawan, aku bukan dia
Dan tak kan ku bisa seperti dia
Penajam, 28 September 2015
Remaja
Remaja
Oleh : Amin Nur kholis
Kau tunas bangsa ini
Kau masa depan negeri ini
Kau pilar-pilar kokoh masa depan
Kau harapan tanah air
Wahai anak bangsa
Jadilah kau pemuda tangguh
Pemuda yang tak kenal lelah dalam berjuang
Pemuda penerus generasi
Pemuda yang tak gentar akan terpaan badai kehidupan
Kau masa depan negeri ini
Kau pilar-pilar kokoh masa depan
Kau harapan tanah air
Wahai anak bangsa
Jadilah kau pemuda tangguh
Pemuda yang tak kenal lelah dalam berjuang
Pemuda penerus generasi
Pemuda yang tak gentar akan terpaan badai kehidupan
Ingatlah perjuangan pahlawan kita
Perjuangan yang tak kenal rasa lelah
Jiwa raga mereka korbankan demi cita-cita bangsa
Perjuangan tuk kemerdekaan bangsa
Kebebasan dari kedzaliman penjajah
Kaulah harapan bangsa wahai pemuda
Perjuangan yang tak kenal rasa lelah
Jiwa raga mereka korbankan demi cita-cita bangsa
Perjuangan tuk kemerdekaan bangsa
Kebebasan dari kedzaliman penjajah
Kaulah harapan bangsa wahai pemuda
Penajam, 10 Agustus 2015
Langganan:
Postingan (Atom)

