#CANBERAeuy!
By : OWP-ers 3
[ Sang Putri dan Kantung Ajaib ]
Embusan angin bersuhu rendah membuat Putri Citra merapatkan jaketnya. Ia lalu memicingkan matanya, sesaat setelah mendengar gemuruh langit. Meski begitu, matanya masih terpaku pada refleksi seseorang pada air kolam di bawahnya. Ia pun mengembuskan napasnya dengan keras. Kesal.
Huft! Suasana malam ini begitu dingin, membuatku tak ingin melepas jaketku ini barang satu senti pun. Apalagi bayangan seseorang itu, siapa sih dirinya? Rasanya ia tak asing bagiku. Namun, aku lupa.
Entah. Semakin Putri Citra terdiam, bayangan itu hadir kembali. Ia lalu mengambil kerikil di sebelahnya. Melemparnya ke depan. Makin kencang gemuruh di langit, Putri Citra melempar kerikil makin kencang pula.
Saat meraba kerikil ke seratus, barulah Citra teringat. Ya, tak salah lagi! Sosok itu adalah anak perempuan yang ada dalam mimpi seramnya dua pekan lalu. Anak itu mencincangnya dalam mimpi. Mengerikan sekali. Tapi, mengapa Citra bisa melihat sosok anak itu tadi pagi. Terlebih, dia juga menatap Citra sembari tersenyum menyeringai, sama seperti dalam mimpi.
Putri Citra bergidik ngeri. Ia segera menjauh dari kolam. Tertatih-tatih menjauhi bayangan itu.
"Pergi kau!"
Petticoat dalam gaun yang ia kenakan membuatnya lebih luwes berlari. Namun bayangan itu tetap mengejarnya. Tangannya begitu dekat dengan leher Putri Citra, siap mencekik.
Kres. Kres.
Tiba-tiba terdengar suara gesekan. Putri Citra terkejut, semakin bergidik. Ia mencari sumber suara. Menengok kesana-kemari. Suara iti berhenti. Putri Citra mencoba melangkah ke arah semak-semak.
"Mungkinkah suara itu berasal darisana?" Gumamnya.
Satu langkah, dua langkah. Putri Citra bergerak maju, dinginnya angin malam tak dipedulikan. Hawa takut bahkan gentar dengan rasa penasarannya.
Kres. Kres.
Suara itu muncul lagi, sesaat Ia ragu, namun tangannya mulai menggapai semak-semak itu.
Bola matanya membulat ketika mendapati sebuah plastik di tangannya. Plastik itu berisi. Isinya bulat-bulat, kecil-kecil, licin, dan pipih. Ia menahan napas. Mengingat kembali wajah itu. Tangan itu terasa kembali dekat. Tangan kecilnya yang pucat. Putri Citra lalu menarik plastik itu. Ia pun memekik saat melihatnya.
"Apa ini yang buat si kecil pucat itu mengejarku?" batinnya.
Tangan Putri Citra mengambil isi dalam plastik itu. Lalu ditaruhnya benda bulat, kecil, licin dan pipih itu. Detik berlalu. Tidak ada pergerakan. Hanya angin yang terngiang di telinga.
"Neng," ada tangan menepuk pundak Putri Citra.
Terkejut, Citra menoleh cepat. Ternyata itu Dayang Han, kepala pelayan pribadi Citra.
"Kau mengejutkanku, Dayang Han."
"Maafkan saya, neng. Maksud saya, tuan putri. Tapi Yang Mulia Permaisuri ingin segera menemui anda." Ujar Dayang Han.
"Ibu? Baiklah."
Citra segera meninggalkan kolam istana dan bergegas ke kamar ibunya, walaupun berbagai pikiran aneh masih bersarang di kepalanya.
Sembari diiringi Dayang Han dan tiga dayang lainnya, Citra berjalan menyusuri lorong istana. Ukiran geometris dan tanaman terpahat di tiap dindingnya menyimbolkan keteraturan hukum Sang Pencipta.
Tak lama, Citra sampai di depan pintu kamar ibunya. Dua dayang penjaga membukakan pintu. Di tengah ruangan, seorang wanita berdiri menyambutnya. Wanita itu mengenakan gamis sutra coklat, kerudung dalam sepanjang dada dengan bordir emas di pinggirnya, bandana berhias safir biru yang tersambung dengan kerudung luar yang berupa sutra kuning keemasan tipis. Dialah Permaisuri Hanna, ibunda Citra.
"Ibunda." Citra berujar sembari menekuk lututnya.
"Kemarilah, putriku." Ujar permaisuri dengan lembut. "Ada hal yang ingin Ibu bicarakan."
"Ada apa wahai Ibunda? Mengapa Anda terlihat resah?"
"Yah, inilah yang akan kubicarakan denganmu." Jawab sang permaisuri dengan suara bergetar.
"Apa yang baru saja kau lihat?"
Putri Citra tertegun, bagaimana bisa Sang Ibu mengetahui itu semua.
"Iya?"
"Kau mendengarku dengan jelas, putriku. Katakan. Ini perintah." Sorot matanya tajam.
"Aku melihat anak perempuan dalam mimpiku, Ibu. Dia ingin membunuhku."
"Hmm.. sudah kuduga.." gumam Permaisuri Hanna yang memiliki nama lengkap Hanna Happy Clap Along If You Feel Like A Room Without The Roof atau biasa dipanggil Hannah Helwah sembari memangku dagu.
"Tapi Ibunda, bagaimana Ibu bisa tahu? Dan, apa Ibunda tahu ia siapa? Iya cukup menyeramkan, aku takut."
Sesaat Permaisuri termenung, diambilnya daun sirih dari piring emas di sampingnya. Sambil mengunyah, Ia berkata setengah berbisik, "Weelah dalah Nduk, mosok e kamu ndak tahu toh? Ibu ini kan dulu tukang nujum paling ngetop sebelum dipinang ayahmu itu.. Aku punya bola Kristal ajaib lho! Bisa mengawasi kamu.."
"Ooh.. seperti itu.. tapi Ibunda, siapa anak itu? Apa yang ia mau dariku?" Putri Cotra beranjak cemas.
Belum semoat Ibunya menjawab, diluar, terdengar suara rusuh para dayang.
"Kami mohon pergilah! Ini bukan tempatmu!" Itu suara Dayang Han, alias Hanica Afrihandap.
"Aku menginginkannya! Serahkan ia padaku. Purnama segera tiba. Aku menginginkannya!" Suara yang lain muncul, diiringi gemuruh suara di belakangnya.
Tiba-tiba Putri Citra ketakutan. Seperti akan terjadi sesuatu yang tak mengenakan.
"Ibu.."
"Tenang anakku.. "
Sang Ibunda berdiri, Ia tahu betul apa yang tengah terjadi. Purnama.. Ia segera mengambil kantung yang berisi terasi, garam, cabai dan biji timun yang tersimpan di dalam lemari pakainnya.
"Bawa ini, dan pergilah melalui pintu belakang."
"Tapi kenapa Ibu?"
"Pergilah, Nak! Ini perintah!" Permaisuri Hanna setengah berteriak dengan diiringi tetes air mata. Dan Sang Putri pun paham betul perintah itu, diambilnya kantung tersebut, dan segera berlari secepat mungkin menuju pintu belakang.
Dari pintu belakang, Putri Citra segera menuju si Hitam. Kuda poni berwarna putih cantik miliknya. Iya, namanya si Hitam. Sembari memasukkan kantung dari Ibu, ia memeriksa sekitar. Menakar, amankah gerbang itu? Atau ia harus berputar dulu ke bagian lain, baru bisa menuju jalan utama? Baiklah mungkin itu.
Di atas Si Hitam, Putri Citra kembali memutar kejadian pagi ini. Gadis itu, tangannya yang pucat dan berhawa dingin. Matanya kelaparan. Plastik berisi benda pilih dan licin yang ia tinggalkan di dekat kolam. Teriakan orang yang tak dikenal memeringati bahwa purnama telah tiba. Dan kantung ini.
Si Hitam tiba-tiba berhenti dengan kaki depan mengangkat tinggi-tinggi. Suaranya memilukan. Putri Citra mengusapnya.
"Ssshh, Hitamku...tenang..." lalu ia mengedarkan pandangan. Aih! Tak heran jika Si Hitam yang gagah ini ketakutan.
Matanya...jemarinya...
Hawa dingin itu sampai membuanya bergidik.
"Kau tak bisa lari." Ujar sosok anak perempuan itu yang sekarang berada tepat di hadapan Citra.
"Ya. Aku tahu sekarang. Kau adalah Bellatrix Lestrange, wanita penyihir yang mencari keabadian dengan mengorbankan darah para putri."
"Itu benar." Jawab anak itu menyeringai. "Dan dengan mengorbankanmu, aku bisa hidup seratus tahun lagi."
"Tidak akan!" Gertak Citra sambil memacu kudanya. Tetapi Bellatrix langsung mengacungkan tongkat sihirnya.
"Incendio!" Teriak Bellatrik. Tiba-tiba, api muncul dan berkobar hebat mengepung Citra.
"Mercury Crystal Power!" Teriak Citra sambil menabur garam. Tiba-tiba, muncul air sangat berlimpah dari tanah, menjadikan kepungan api mereda. Citra memacu kudanya dan segera melesat ke utara.
"Kau tak dapat lari!" Bellatrix mengejar dengan sapu terbangnya dengan cepat, menjadikan dia hanya berjarak lima hasta.
Dengan sigap, Putri Citra segera mengaktifkan daya terbang Si Hitam, agar kecepatan berlari semakin tinggi. Perlahan muncul sayap-sayap putih indah pada punggung Si Hitam. Kaki-kaki kuda itu tak lagi menapak, segera mencari posisi enak untuk terbang.
"Oryza Sativa!" Kembali penyihir itu mengeluarkan mantra saktinya.
Putri Citra dan kudanya menghindar.
Duar!
Terdengar bunyi dentuman searah ayunan tongkat si penyihir.
"Dengan kekuatan bulan, aku akan mengalahkanmu!" Segera Putri Citra menghisap cahaya bulan, tangannya seketika bersinar terang, Ia ambil cabai dan biji timun dan melemparnya ke arah si penyihir.
Mencoba menghindar, namun gagal. Penyihir itu terjerat oleh belitan tanaman cabai dan timun yang raksasa. Putri Citra bernapas lega, syukurlah.
Kuda poninya terbang semakin tinggi dan jauh dari si penyihir. Putri Citra kelelahan.
Sayangnya, bayangan itu kembali muncul. Sang penyihir berhasil meloloskan diri. Dan sudah muncul di hadapan Sang Putri.
"Hahahaa.. tak semudah itu, Bocah!"
"Petroleum Petromax!" Kali ini pusaran air muncul dari ujung tongkatnya, perlahan makin membesar dan diarahkan pada Sang Putri. "Rasakan serangan mautku hahaha"
Putri Citra agak terkejut dengan serangan yang tiba-tiba itu. Segera tubuhnya merespon cepat. Ia dan serangan itu hanya berjarak sepersekian senti, dan sepersekian detik. Slow-motion pun tercipta, badan Putri Citra merunduk ke belakang. Membiarkan serangan air itu melewatinya begitu saja. Terlambat sedikit saja ia tinggal nama.
"Kini giliranku!" Setelah merapikan posisi duduknya, diarihnya benda terakhir dari dalam kantung pemberian ibunya.
"Dengan menyebut nama Allah, ENYAHLAH KAU!"
Dan, terasi si benda terakhir itu segera melebur menjadi lautan lumpur hidup. Menarik penyihir untuk kembali menjejak tanah, melumatnya hidup-hidup.
"Aaarggh! Incen.. argh! Tidaaak!" Pasrah. Sang Penyihir terjerat dalam lautan lumpur hitam pekat.
"Semoga kali ini berakhir. Oh Ibu, ini karena do'amu. Kini aku harus kembali menemuimu."
Setelah memastikan Sang Penyihir tak kan bangkit, Putri pun memacu kudanya secepat kilat. Segera kembali ke istana, tempat dimana wanita terkasihnya menanti.
- THE END -
Sayangnya Putri tak sempat melihat, tangan pucat itu kembali muncul dari balik lumpur. Berhiaskan janji pembalasan.
Rumah-OWOP3, 7 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar