Aku Enggan Menyapa Malam
Oleh : Amin Nur Kholis
Suasana semakin hening, hanya suara jangkrik yang terdengar '' Krik... Krik... Krik... ''
dinginnya malam pun semakin menusuk, hembusannya yg lembut, sentuhannya yang hangat, oh angin, kau menambah kesyahduan malam ini.
Kutatap langit yang terang, sang bulanpun tersenyum, sinarnya sangat terang, menambah keindahan malam ini, dan ingatan tentang apa yang tak ingin aku mengingatnyapun tiba - tiba menyapa.
'' Hei kamu, ingatkah kamu akan diriku? ''
ah, siapa yang memanggilku? Untuk mengingat siapa dia? Hatiku bergumam. Ku tengok ke kanan dan kiri, tetapi tak ku temui ada tanda - tanda seseorang dimanapun. Akupun mengabaikannya, kembali kunikmati indahnya malam, dengan kesyahduannya.
'' Oh, indahnya malam ini, andaikan kita masih bersama, seperti cerita dulu ''
ahhhhh,,, ingatanku kembali menerawang masa lalu, dan
'' Hei kamu, ingatkah kamu akan diriku? ''
tiba - tiba terdengar lagi suara itu, kembali kutengok ke kanan dan kiri, kali ini pandanganku tajam, melihat di setiap sudut malam yang sunyi. '' Siapakah yang memanggilku? '' aku semakin bingung.
Malam semakin larut, hembusan anginpun semakin menusuk. '' Siapa ya yang memanggilku sedari tadi? Tak ada orang di sekitarku, pun tak ada seorangpun yang melintas sedari tadi, ah,,, sudahlah, lupakan saja siapa dia, toh dia juga enggan menemuiku, hanya memanggil saja, '' aku beranjak pergi, namun, belum sempat aku mengangkat kaki untuk berdiri, suara itu kembali memanggilku,
'' Hei kamu, lupakah kamu akan diriku? Sedari tadi aku memanggilmu, namun, kau tak menggubrisnya? ''
ahhhhh,, siapa sih dia? Kali ini aku sedikit marah, '' Hei, siapa disana? Kenapa kau menggangguku? ''
Lama ku menunggu, namun suara itu tak kunjung memanggilku lagi, ketika ku akan beranjak lagi, tiba - tiba ia memanggilku lagi,
'' Hei, kamu, kau memang sudah benar - benar melupakanku, panggilanku tak kau hiraukan, aku ini masa lalumu, masa lalu yang dulu pernah membuat harimu berwarna, masa lalu tentang cerita persahabatan, kehangatan dalam kebersamaan, aku ingatanmu tentang semua itu, benarkah kau sudah melupakanku? Aku tahu, sebenarnya hatimu tak inginkan itu, kau ingin semua cerita di masa lalu itu kembali,'' aku semakin geram, ''
Ku tutup telinga dan ku tundukan kepalaku di atas lutut
" Cukup!!! jangan kau teruskan lagi, tak usah kau mengingatkanku tentang semua itu, susah payah aku melupakan tentang itu, kini kau hadir untuk membuka memoriku tentang semuanya? Apa mauhum? ''
Lalu ku dongakan kepala, kutantang suara itu, aku kesal, aku muak, dan aku berdiri, ku hentakkan kaki dan kupukul kepala ini, untuk sekedar meredam emosiku, berharap setelah kupukul kepalaku, suara dari memoriku pergi. Namun,
'' Hei kamu, aku bukannya ingin mengingatkanmu tentang semua itu, untuk membuatmu semakin terluka, aku hanya ingin kau sadar, kau buka mata hatimu. Tak seharusnya kau begitu, tak seharusnya kau pergi dan mencoba melupakan semua tentang sahabatmu, aku ingin, kehangatan dan kemesraan tentang jalinan persahabatanmu terajut kembali, aku tak ingin kau jauh dari mereka,''
aku tertunduk, kulihat hamparan tanah yang tandus, seolah ia mengerti akan keringnya hatiku, dan tak terasa air mataku meleleh.
'' Hei kau, tahukah kau? akupun tak ingin seperti ini, kehangatan yang dulu sempat terajut, kebersamaan yang sempat terpintal, hancur dan hilang begitu saja, aku tahu, ini akibat kesalahanku, aku yang memutuskan tali simpul diantara kami, aku yang menyulut api hingga asap membumbung, hingga menutup hatiku,''
'' lalu, mengapa kau seperti itu? Kau jauhi mereka? Kau kobarkan selalu api yang hanya akan membakar dirimu sendiri? Cobalah kau perbaiki hubungan kalian, bukankah sahabat adalah rizki? '' ia kembali mengingatkanku.
Aku kembali terduduk, ku pandangi rembulan yang bersinar terang, dan kesyahduan semakin mencekam,
'' Sudahlah, biarkan semua seperti itu, tak hanya sekali dua kali aku gagal memintal kembali rajutan yang terlepas, menyambung kembali sumpul tali yang terlepas, tetapi, semua itu sia - sia, api itu terus berkobar, dan kini hatiku sudah membeku.''
semakin deras air mataku mengalir, dan ingatan tentang masa lalu semakin menerkam, disaat itu, suara itu hilang, entah kemana perginya,
" Hei kamu! Kemana kau sekarang? Kau sudah mengantarkanku kepada memori silam, kau berhasil membuat hatiku sesak lagi,"
kini malam semakin sunyi, suara itupun sudah pergi, aku sendiri hanya ditemani tentang memori masa lalu, seperti malam - malam yang telah berlalu, ingatan itu selalu menyapa, hingga aku enggan menyapa malam bila ia datang, aku tak ingin mengingat kembali cerita tentang semuanya, aku ingin cerita itu menjadi lembaran - lembaran indah dalam perjalanan hidupku, namun tak untuk ku ingat. semakin ku mengingat cerita itu, semakin sesak hati ini.
Ya Robbi, ikhlaskanlah hati ini untuk melepaskan semua, dan menutup lembaran cerita masa lalu agar aku tak takut untuk menatap masa depan.
[Malam Narasi OWOP]
Penajam, 07 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar