Jumat, 02 Oktober 2015

Pacarku, Nikah Yuk.. !!!!

Pacarku, Nikah Yuk..!!!!
Oleh : Amin Nur Kholis

Hari ini satu tahun hari jadi Dini dan Andi, setahun sudah mereka menjalin hubungan bernama Pacaran. “ Dek, kita jalan yuk!” pinta andi kepada dini, andi ingin mengajak dini merayakan hari jadinya yang sudah berjalan selama satu tahun. “ Jalan kemana kak? Dan tumben kakak ngajak jalan? “ Andi membaca SMS dari Dini.
Dini masih duduk di bangku SMP, sementara Andi adalah salah satu karyawan di tempat dimana orang tua Dini bekerja. Andi anak rantau dari seberang Pulau sana. Budaya pacaran memang sudah menjamur di kalangan Muda – Mudi saat ini, tak hanya orang Dewasa, anak – anakpun sudah mengenal budaya seperti itu. Seolah Pacaran menjadi Wajib di kalangan anak muda.

Andi memiliki seorang teman dengan latar belakang yang berbeda, dia tidak seperti kebanyakan remaja pada umumnya, kepribadian merekapun jauh berbeda. Andi orang yang friendly dan mudah bergaul, sehingga ketika dia baru datang ke perantauan, dia langsung bisa masuk dalam kehidupan masyarakat di sana. Sementara Anton, temannya Andi seorang yang sangat pendiam, tidak mudah bergaul, sehingga dia tidak memiliki banyak teman, namun jika dia sudah akrab dan dekat dengan seseorang, dia akan menjaga hubungan yang sudah dijalin dengan baik, ia takut kalau hubungan pertemanan akan rusak.
Andi menaruh perhatian kepada Dini sejak awal dia bertemu Dini. sedangkan Anton, selama dia tinggal di rantau, tidak ada satupun wanita yang dia Pacarin, karena dia berprinsip, “ Tidak akan memberikan Cintanya sebelum Menikah “, Anton lebih mendedikasikan hidupnya kepada orang tuanya. Anton ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu, dan dia nggak mau ikut – ikutan menjalin hubungan yang bernama “ pacaran “ karena dia pernah di tantang oleh tetehnya, “ Silahkan saja kalau kamu mahu pacaran, nanti buatkan teteh list kebaikan dan keburukan dari pacaran ya, “. Degh! sejak saat itu Anton selalu berfikir beribu – ribu kali ketika terbesit keinginan untuk Pacaran.
Waktu terus berjalan, Dini dan Andi semakin erat hubungannya, kedua orang tua masing – masing pun sudah saling merestui hubungan mereka. Andi dengan segala kesibukannya dalam bekerja dan Dini dengan setumpuk tugas dari sekolah, selalu menyempatkan waktu untuk sailing melepas rindu, walaupun kadang hanya lewat sms. “ Kak, lagi ngapain?” Dini mengirim sms kepada Andi. Lama Dini menunggu balesan sms dari Andi, namun tak kunjung jua Andi membalasnya, Dinipun mulai gelisah dan kesal. Dini kembali mengirimkan sms untuk Andi, “ Kak, kenapa Nggak bales smsku? “ sms Dini tak juga di respon oleh Andi. Dinipun semakin gelisah dan kesal.
***
Suatu ketika setelah hubungan mereka berjalan sudah cukup lama, Dini bertemu dengan seorang pria, mereka tidak sengaja bertemu saat Dini pulang sekolah dan mampir ke Masjid untuk shalat dhuhur. Entah mengapa Dini waktu itu ingin sekali berkenalan dengan Pria itu, lalu Dini menghampiri Pria itu dan mengajaknya berkenalan.
“ Assalamu’alaikum” sapa Dini kepada laki – laki itu.
Alan yang saat itu sedang duduk, terkejut ketika mendengar ada seorang wnita yang mengucapkan salam padanya.
“ Wa’alaikumsalam, ada apa ya Dik?” sapa Alan kepada  Dini.
dengan sedikit kikuk Dini memperkenalkan Diri dan menjelaskan mengapa dia menghampiri Alan.
“ Maaf Mas, perkenalkan, saya Dini, saya tidak sengaja tadi mendengar mas sedang Tilawah Al-Qur’an dan lantunannya sangat merdu, indah sekali unntuk di dengar.”
Andi tersenyum kepada Dini, “ Oh, iya, boleh dik, Saya Alan, soal bacaan Qur’an saya tadi, dik Dini bisa saja, padahal bacaan Al-Qur’an saya tidak sebagus yang dik Dini ungkapkan.” Merekapun berkenalan dan karena hari itu sudah sore, Dini segera pergi untuk pulang ke rumah, karena takut di cari orang tuanya, setelah Dini meminta No. Telephone Alan. Sesampainya di rumah, ketika malam hadir, tiba - tiba Dini teringat dengan sosok Pria itu, lalu dini mengambil Handphone dan mengirim pesan kepada Alan,
“ Assalamu’alaikum, Mas Alan ” lama dini menunggu smsnya di balas oleh Alan, selang beberapa waktu Handphone dini bordering,
“ Wa’alaikumsalam, maaf, ini dengan siapa ya?” Dini lupa menulis namanya di akhir pesannya, karena tadi sore hanya Dini yang meminta no. telephone Alan
“ Oh, maaf mas, ini Dini yang tadi kita bertemu di Masjid dekat Sekolah,” Dini menjelaskan kepada Alan.
“ Oh, iya maaf ya dik, soalnya  Nomernya baru, ada apa dik? Ada yang bisa dibantu?”
 “ Nggak ada apa – apa kok mas, Cuma pengin sms saja, ya sudah mas, selamat Malam, selamat istirahat. Assalamu’alaikum.” Dini menaruh handphonenya di meja sampingnya. Dia masih terfikirkan tentang Alan.
“ Wa’alaikumsalam.”
***
Setelah mengenal Alan, Dini sering menghubungi Alan via SMS, walau hanya sekedar menanyakan kabar Alan, kadang juga Dini bertanya soal Agama kepada Alan. Suatu ketika Dini menanyakan soal hubungan pria dan wanita yang belum Menikah yang disebut anak muda dengan istilah “ Pacaran “, apakah hukumnya dalam islam? Apakah islam membolehkan berpacaran?. Dini juga sering menanyakan soal Hijjab, karena selama ini Dini memakai Hijjab ketika di sekolah atau jalan keluar. Alhamdulillah Dini sekarang Dini sudah berhijjab walaupun masih dalam proses perbaikan dan pembelajaran.
 “ Mas Alan, apa sih Hukumnya wanita berhijjab? Kalau wajib, kenapa banyak wanita yang tidak memakai Hijjab?” pertanyaan Dini suatu ketika kepada Alan.
“ Assalamu’alaikum Dik Dini, insyaAllah saya akan menjawab pertanyaan Dik Dini semampu saya, karena sayapun masih dalam proses Belajar,” Alan melanjutkan mengetik pesan untuk Dini,
“ Begini Dik, kita sebagai Ummat Muslim, kita wajib taat dan patuh terhadap Perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya, agar kita tergolong kepada orang – orang yang bertaqwa. Dan untuk soal Hijjab bagi wanita, itu hukumnya Wajib, karena Hijjab itu untuk menutupi Aurat wanita dan melindungi si wanita itu sendiri, seperti halnya istri Rasulullah SAW. Juga di perintahakan untuk berhijjab, seperti dalam Surah Al – Ahzab : 59 yang Artinya : “ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Jadi sudah jelas diterangkan bahwa wanita muslimah haruslah menutup seluruh tubuh mereka, agar terhindar dari Fitnah.”
Membaca SMS dari Alan, Dini mulai gelisah, mulai ada Rasa berguncang di Hatinya,
“ Ya Allah, hamba telah berdosa selama ini, karena hamba tidak melaksanakan perintah-Mu.” Butiran bening menetes dari pelupuk mata Dini.
Hari – hari berlalu, Dini dengan kesibukannya di sekolah, dan dengan perasaan yang masih gundah, setelah mendengar penjelasan dari Alan. Dini sempat mengutarakan niatnya kepada Alan tentang keinginannya untuk berhijjab,
“ Mas Alan, Dini ingin memakai Hijjab, Dini ingin taat kepada Allah, Mas, bantu Dini ya untuk berhijjab!” Alhamdulillah setelah seringnya komunikasi vis SMS dengan Alan, Dini mulai berubah, sekarang Dini sudah berhijjab, tapi ada satu masalah lagi yang Dini masih belum bisa meninggalkannya, dengan Alasan Cinta, dan lain sebagainya Dini masih melanjutkan Hubungan Pacaran dengan Andi, bahkan semakin Erat. Dan orang tua merekapun semakin member lampu hijau terhadap hubungan mereka. Dini ingin lepas dari hubungan itu, namun, dini sangat mencintai Andi, dan orang tua dini pun tak ingin dini berpisah dengan Andi.
***
Selain berdiskusi tentang Hijjab, mereka pun berdiskusi tentang Pacaran, tetapi yang masuk ke Hati Dini masih hanya tentang kewajiban berHijjab. Suatu ketika Dini pernah mengatakan. “ Mas Alan, Dini mahu putus dari pacar Dini, Dini takut sama Allah, mas Alan kan pernah Bilang, Pacaran itu nggak Boleh, Allah nggak suka, jadi Dini mau putus saja sama Pacar Dini Do’ain ya mas.” Alan pun menjawab SMS Dini,
“  Alhamdulillah, semoga Istiqomah ya Din, soal Jodoh kita tak perlu khawatir, Allah sudah menuliskan siapa jodoh kita di lauhul mahfudz sana, tugas kita memperbaiki diri, memantaskan diri kita untuk mendapat jodoh terbaik Pilihan Allah, kita menginginkan hal yang baik dari Allah, tentu kita harus menjemputnya dengan baik pula. Jodoh kita tak akan tertukar.”
Setelah beberapa waktu mereka tidak berkomunikasi, karena kesibukan masing – masing, suatu malam Alan mendapat SMS dari Dini,
“ Assalamu’alaikum, mas Alan, maafin Dini yah, Dini nggak bisa putus dengan Pacar Dini, Dini sayang sama dia Mas, Dini Cinta sama pacar Dini, Maaf ya Mas ): dini nggak mahu berpisah dengan pacar dini mas.” Alan melanjutkan membaca SMS dari Dini dan kepalanya menggeleng – geleng.
“ selama ini, hanya Pacar Dini yang bisa ngertiin Dini, memahami Dini, tahu apa yang Dini inginkan, dia selalu ada saat Dini butuh Mas.” Alan tersenyum membaca SMS dari Dini,
“ Wa’alaikum salam Dik Dini, Cinta itu Anugerah dari Allah, Cinta itu Fitri, Bersih, jadi tak selayaknya kita mengotori Cinta itu denga hal – hal yang tidak disukai oleh sang pemilik Cinta itu, Allah SWT. Kita semua punya Cinta, tetapi Cinta yang seperti apa yang Allah Ridhoi, jika memang Dini mencintai pacar Dini, segeralah minta dia untuk Menikahi Dini, agar cinta kalian berkah, bukankan dalam sebuah hadits di jelaskan,
“ Tidak ditemukan jalan lain bagi dua orang yang saling mencintai, kecuali menikah “
 nah sudah jelas kan, jalan satu – satunya bagi orang yang saling mencintai, yaitu Menikah, sedangkan Pacaran? Itu lebih kepada mendekati Zina,
“ Dan janganlah kamu mendekati Zina, karena itu perbuatan yang buruk.”
Dini menangis membaca SMS dari Alan, namun Dini nggak tahu harus bagaimana, kalau Dini harus menikah saat ini, tidak mungkin, karena Dini masih sekolah, sedangkan  untuk meninggalkan pacarnya, dini pun enggan.
Setelah merenungkan nasihat dari Alan, Dini memberanikan diri membicarakan hal itu dengan Pacarnya, Dini mengajak Andi bertemu untuk mebicarakan perihal itu.
“ Dik Dini, ada apa kok ngajak kaka ketemuan?”
Dini meminta Andi duduk,
” Kak, kaka tahu nggak, kalau Pacaran itu nggak Boleh? Pacaran itu mendekati kepada Zina, Kalau kita saling mencintai maka kita harus menikah, bukan Pacaran! Dini pun malu kak, Dini sekarang memakai Hijjab, tapi Masih Pacaran.” Andi terdiam dan memandangi wajah Dini,
“ Iya Dik, kakak tahu itu, kakak pun nggak mahu seperti ini terus kakak juga ingin kita hidup bersama,” Andi mencoba menjelaskan kepada Dini
“ ya udah kalau begitu kak, Kita Menikah yuk kak, toh orang tua kita sudah merestui hubungan kita!” Andi hanya Bisa diam.
“ Kakak mahu menikah dengan Adik, karena kaka mencintai Adik, kakak sayang sama Adik, kakak nggak mahu kehilangan Adik, tetapi untuk menikahi adik, saat ini kakak belum siap, kakak belum punya apa – apa, dan adik juga masih sekolah kan, apa orang tua Adek mengizinkan untuk menikah?”
“ tapi kak, Dini takut sama Allah, Dini takut Allah Marah dengan hubungan ini kak,” Dini sesenggukan dan menangis karena mengingat apa yang dilakukaknnya itu salah, tetapi dia juga nggak mahu kehilangan Andi, tapi Dini pun nggak mahu kalau menjalin hubungan yang tidak disukai Allah.
***
Setelah beberapa bulan setelah pertemuan itu, dini kembali menghubungi Alan,
” Mas Alan, bagaimana kabarnya? Sudah lama Dini nggak SMS mas Alan, semoga Mas Alan baik – baik ya, amiin.” Alan merogoh saku Celananya dan mengambil Handphonenya, dan Alan berhenti sejenak, ” Iya Dik Dini, Alhamdulillah Mas Alan sehat, dik Dini bagaimana kabarnya? Semoga sehat juga ya.” Alan membalas sms dari Dini.
“ Mas, waktu itu Dini sudah bicara dengan Pacar Dini, kalau Dini minta untuk dia segera menikahi Dini, namun dia menolak menikahi Dini untuk saat ini, dengan Alasan dia belum siap, dan dini masih sekolah, maafin Dini ya mas, Dini bukan Muslimah yang baik, bukan Muslimah yang di Cintai allah.”
Alan menghela nafas setelah membaca SMS dari Dini.
“ Oh, begitu ya Dik, jangan minta maaf sama mas, mas ini bukan siapa – siapa, sekarang terserah dek Dini dan Pacar dik Dini, mas Alan hanya menyarankan lebih baik kalian segera menikah, supaya tidak menimbulkan fitnah, toh orang tua sudah merestui hubungan kalian kan? Apa yang kalian tunggu? Mintalah petunjuk kepada Allah, utnuk dini keluar dari Masalah ini, Hanya Allah yang dapat membantu Dini, mas alan hanya menyarankan dan memberitahu apa yang seharusnya mas alan berikan. Udah dulu ya Dik, mas alan harus pergi, masih ada urusan, semoga Allah membantu Dini. Wassalamu’alaikum.”
Alan pun pergi setelah membalas SMS Dini, sementara Dini masih terpaku, diam dan tidak bisa bicara, dini bingung apa yang harus dini lakukan, dini sayang sama Andi tapi dini nggak mahu rasa sayang dan cintanya kepada Andi membuat Allah Murka, namun dini juga nggak mahu kehilangan Andi, dan orang tua Dinipun sudah sayang kepada Andi.
***
“ Ibu, Dini rindu sama Ibu, Bapak, dan kakak, kabar keluarga sehat kan Bu?” dini menghubungi Ibunya di rumah, Dini sekarang melanjutkan study SMA di luar kota. “ iya Nak, kami di sini sehat – sehat, bagaimana kamu di sana? Jangan lupa jaga kesehatan ya Din,” pesan ibu melalui telephone untuk Dini.
Tiga tahun sudah dini berpisah dengan Andi, mereka menjalani hubungan jarak jauh saat ini karena dini harus sekolah di luar kota. Kedekatan mereka tak seperti dulu lagi, mereka jarang komunikasi, ya mungkin karena jarak di antara mereka.
“ Din, kakak kangen sama adik, kenapa adik pergi dari kakak? “ Andi mengirim SMS untuk dini.
“  Ka, maafin Dini yah, Dini harus pergi dari kaka, karena Dini harus sekolah di Luar kota, kaka tahu sendiri lah pendidikan di sana seperti apa, Dini mahu mencari tempat yang kwalitas pendidikannya lebih baik.”
“ iya diik, kakak tahu, tapi kakak sedih, adik pergi dari kakak, nggak ada lagi yang menemani kakak saat kakak kesepian.” Keluh Andi kepada Dini.
Dini mulai merasa bingung, bagaimana harus bersikap kepada Andi, andi masih mengharapkan dini untuk kembali bersamanya, namun Dini sekarang sedang dalam proses berhijrah.
***
“ Din, kita jadi liqo sore ini?” Tanya Rini kepada dini, teman Dini di SMA, Rini adalah yang mengajak dini untuk ikut kajian, dan kegiatan kerohanian lainnya. Rini sahabat terbaik Dini saat ini, Dini banyak mendapat pelajaran dari Rini, dan kehidupan Dinipun berangsur berubah. dini mulai jarang menghubungi Andi, jika andi menghubungi dia, SMS/Telphone, Dini jarang meresponnya, karena dini takut akan berubah lagi pendirian hatinya, walaupun dini masih menjalin hubungan dengan andi, tapi tak seintens dulu waktu masih tinggal bersama, dia bertekad akan mengakhiri hubungan mereka. Dini ingin mengabdikan dirinya untuk Allah, mencintai Allah dan Rasullullah dengan segenap hati. Dini ingin menjadi Muslimah yang baik. Tapi dini butuh proses.
“ Kak, dini mau minta maaf sama Kaka, dini sayang sama kakak, dan dini tahu kakak juga sayang sama dini, kita telah melewati hari – hari bersama, dan semuanya kita jalani bersama, tapi kita lupa kak, kita lupa kalau apa yang kita lakukan selama ini salah, Allah tidak suka dengan apa yang kita lakukan,”
degh,,,,,,,,,,,!!!!, seperti disambar petir tubuh Andi saat itu mendengar penuturan Dini,
“ Kak, kalau kakak masih sayang sama Dini, kakak harus tinggalin Dini, kita #Putuskan saja hubungan ini, kita serahkan semuanya sama Allah, jika kita berjodoh, insyaAllah, kita akan dipertemukan dalam Cinta_Nya, namun jika tidak, dini yakin, kakak akan mendapatkan pendamping hidup yang jauh lebih baik dari dini. kak, maafin dini ya, dini sayang sama kakak, tapi dini lebih takut sama Allah,” andi tak bisa berbicara apa – apa, dia diam membisu sejenak,
“ Din, apa kamu nggak kasihan sama kakak? Kamu nggak sayang lagi sama kakak? Kamu mau ngelupain apa yang pernah kita jalani bersama, kamu nggak ingat sama janji kita dulu, kalau kita nggak akan berpisah sampai kapanpun, kita nggak akan meninggalkan satu sama lain? “
sambil meneteskan air mata, andi mencoba mengingatkan Dini tentang kenangan mereka. Namun hasilnya Nihil, dini tetap pada pendiriannya untuk  tidak melanjutkan hubungan mereka, kecuali kalau Andi menikahi dini segera.
Itulah terakhir kalinya andi dan dini berkomunikasi melalui telephone. Saat ini mereka menjalani hidup mereka masing – masing.
***
“ Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas nikmat dan karunia_Mu, hamba akan persemmbahakan ini sebagai hadiah untuk Ibu, dan keluarga,” hari ini, wisuda Dini di sekolah, dini sangat bahagia dengan nikmat kelulusannya, dan dia bersyukur, Allah telah merubah hidup dini melalui Rini. Dini pulang ke kampung, ke rumah keluarganya, dan dini harus berpisah dengan Rini, karena Rini akan melanjutkan Kuliah ke Luar Negeri, Rini mendapat beasiswa ke Mesir. Tapi mereka berjanji tidak akan melupakan satu sama lain, mereka akan menjaga persahabatan mereka.
****
“ Dini…….. “
terdengar suara laki – laki memanggil nama dini. ketika dini sedang berjalan hendak menuju tempat ia mengajar.
“ Kak Andi, bagaimana kabarnya kak? Kakak sehat? “ sapa dini kepada andi.
“ Alhamdulillah kakak sehat, Dini sendiri?” saat ini dini sudah tidak menjalin hubungan apa – apa dengan andi, dini lebih memilih mencintai Allah dan Rasulullah, dan menyayangi keluarganya. Namun Andi maih berharap Dini menjadi kekasihnya, dengan mencoba mengingatkan dini tentang perjalanan cinta mereka dahulu.
“ Kak, maaf ya, dini harus segera pergi, ada urusan yang nggak bisa di tinggal, Assalamu’alaikum” dini berlalu pergi setelah mengucap salam kepada Andi. Andi masih berdiri di sana memandangi kepergian dini, seolah dia tak percaya Dini setega itu padanya, dini meninggalkan andi seolah dini tak ingat akan janji mereka berdua dulu ketika mereka masih pacaran. Tapi andi nggak bisa berbuat apa – apa, mungkin ini cerita cinta yang harus andi alami.
Setelah satu tahun berlalu, andi mendengar kabar bahwa dini akan segera menikah, hancurlah hati andi, pupus sudah harapannya untuk menjadikan dini sebagai pendamping hidupnya. Andi hanya bisa pasrah dan merelakan dini dengan orang lain. Walaupun berat baginya, tapi itu sudah jalan hidup yang harus dilalui andi.
“ Semoga kau bahagia dini, aku akan selalu mendo’akan kebahagiaan untukmu, “ do’a andi untuk dini.
Dini sekarang hidup bahagia dengan suaminya, Dini tinggal di luar kota, jauh dari orang tua, karena dia harus ikut suaminya. Sementara Andi,  dia masih mengharapkan dini yang kini sudah menjadi istri orang. Mungkin cinta andi sangat dalam kepada dini, tetapi seharusnya dia tahu, jodoh itu sudah allah atur, jika memang dini bukan jodohnya, dia harus mengikhlaskannya. Semoga Allah menuntun andi ke jalan-Nya dan andi sadar, Dini bukanlah miliknya.
***

#Penajam, 20 September 2015
(:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar