Pacarku,
Nikah Yuk..!!!!
Hari
ini satu tahun hari jadi Dini dan Andi, setahun sudah mereka menjalin hubungan bernama
Pacaran. “ Dek, kita jalan yuk!” pinta andi kepada dini, andi ingin mengajak
dini merayakan hari jadinya yang sudah berjalan selama satu tahun. “ Jalan
kemana kak? Dan tumben kakak ngajak jalan? “ Andi membaca SMS dari Dini.
Dini
masih duduk di bangku SMP, sementara Andi adalah salah satu karyawan di tempat
dimana orang tua Dini bekerja. Andi anak rantau dari seberang Pulau sana.
Budaya pacaran memang sudah menjamur di kalangan Muda – Mudi saat ini, tak
hanya orang Dewasa, anak – anakpun sudah mengenal budaya seperti itu. Seolah
Pacaran menjadi Wajib di kalangan anak muda.
Andi
memiliki seorang teman dengan latar belakang yang berbeda, dia tidak seperti
kebanyakan remaja pada umumnya, kepribadian merekapun jauh berbeda. Andi orang
yang friendly dan mudah bergaul, sehingga ketika dia baru datang ke perantauan,
dia langsung bisa masuk dalam kehidupan masyarakat di sana. Sementara Anton,
temannya Andi seorang yang sangat pendiam, tidak mudah bergaul, sehingga dia
tidak memiliki banyak teman, namun jika dia sudah akrab dan dekat dengan
seseorang, dia akan menjaga hubungan yang sudah dijalin dengan baik, ia takut
kalau hubungan pertemanan akan rusak.
Andi
menaruh perhatian kepada Dini sejak awal dia bertemu Dini. sedangkan Anton, selama
dia tinggal di rantau, tidak ada satupun wanita yang dia Pacarin, karena dia berprinsip,
“ Tidak akan memberikan Cintanya sebelum Menikah “, Anton lebih mendedikasikan
hidupnya kepada orang tuanya. Anton ingin membahagiakan orang tuanya terlebih
dahulu, dan dia nggak mau ikut – ikutan menjalin hubungan yang bernama “
pacaran “ karena dia pernah di tantang oleh tetehnya, “ Silahkan saja kalau
kamu mahu pacaran, nanti buatkan teteh list kebaikan dan keburukan dari pacaran
ya, “. Degh! sejak saat itu Anton selalu berfikir beribu – ribu kali ketika terbesit
keinginan untuk Pacaran.
Waktu
terus berjalan, Dini dan Andi semakin erat hubungannya, kedua orang tua masing
– masing pun sudah saling merestui hubungan mereka. Andi dengan segala
kesibukannya dalam bekerja dan Dini dengan setumpuk tugas dari sekolah, selalu
menyempatkan waktu untuk sailing melepas rindu, walaupun kadang hanya lewat
sms. “ Kak, lagi ngapain?” Dini mengirim sms kepada Andi. Lama Dini menunggu
balesan sms dari Andi, namun tak kunjung jua Andi membalasnya, Dinipun mulai
gelisah dan kesal. Dini kembali mengirimkan sms untuk Andi, “ Kak, kenapa Nggak
bales smsku? “ sms Dini tak juga di respon oleh Andi. Dinipun semakin gelisah
dan kesal.
***
Suatu
ketika setelah hubungan mereka berjalan sudah cukup lama, Dini bertemu dengan
seorang pria, mereka tidak sengaja bertemu saat Dini pulang sekolah dan mampir
ke Masjid untuk shalat dhuhur. Entah mengapa Dini waktu itu ingin sekali
berkenalan dengan Pria itu, lalu Dini menghampiri Pria itu dan mengajaknya
berkenalan.
“
Assalamu’alaikum” sapa Dini kepada laki – laki itu.
Alan
yang saat itu sedang duduk, terkejut ketika mendengar ada seorang wnita yang
mengucapkan salam padanya.
“
Wa’alaikumsalam, ada apa ya Dik?” sapa Alan kepada Dini.
dengan
sedikit kikuk Dini memperkenalkan Diri dan menjelaskan mengapa dia menghampiri
Alan.
“
Maaf Mas, perkenalkan, saya Dini, saya tidak sengaja tadi mendengar mas sedang
Tilawah Al-Qur’an dan lantunannya sangat merdu, indah sekali unntuk di dengar.”
Andi
tersenyum kepada Dini, “ Oh, iya, boleh dik, Saya Alan, soal bacaan Qur’an saya
tadi, dik Dini bisa saja, padahal bacaan Al-Qur’an saya tidak sebagus yang dik
Dini ungkapkan.” Merekapun berkenalan dan karena hari itu sudah sore, Dini
segera pergi untuk pulang ke rumah, karena takut di cari orang tuanya, setelah
Dini meminta No. Telephone Alan. Sesampainya di rumah, ketika malam hadir, tiba
- tiba Dini teringat dengan sosok Pria itu, lalu dini mengambil Handphone dan
mengirim pesan kepada Alan,
“
Assalamu’alaikum, Mas Alan ” lama dini menunggu smsnya di balas oleh Alan,
selang beberapa waktu Handphone dini bordering,
“
Wa’alaikumsalam, maaf, ini dengan siapa ya?” Dini lupa menulis namanya di akhir
pesannya, karena tadi sore hanya Dini yang meminta no. telephone Alan
“
Oh, maaf mas, ini Dini yang tadi kita bertemu di Masjid dekat Sekolah,” Dini
menjelaskan kepada Alan.
“
Oh, iya maaf ya dik, soalnya Nomernya
baru, ada apa dik? Ada yang bisa dibantu?”
“ Nggak ada apa – apa kok mas, Cuma pengin sms
saja, ya sudah mas, selamat Malam, selamat istirahat. Assalamu’alaikum.” Dini
menaruh handphonenya di meja sampingnya. Dia masih terfikirkan tentang Alan.
“
Wa’alaikumsalam.”
***
Setelah
mengenal Alan, Dini sering menghubungi Alan via SMS, walau hanya sekedar menanyakan
kabar Alan, kadang juga Dini bertanya soal Agama kepada Alan. Suatu ketika Dini
menanyakan soal hubungan pria dan wanita yang belum Menikah yang disebut anak
muda dengan istilah “ Pacaran “, apakah hukumnya dalam islam? Apakah islam
membolehkan berpacaran?. Dini juga sering menanyakan soal Hijjab, karena selama
ini Dini memakai Hijjab ketika di sekolah atau jalan keluar. Alhamdulillah Dini
sekarang Dini sudah berhijjab walaupun masih dalam proses perbaikan dan
pembelajaran.
“ Mas Alan, apa sih Hukumnya wanita berhijjab?
Kalau wajib, kenapa banyak wanita yang tidak memakai Hijjab?” pertanyaan Dini
suatu ketika kepada Alan.
“
Assalamu’alaikum Dik Dini, insyaAllah saya akan menjawab pertanyaan Dik Dini
semampu saya, karena sayapun masih dalam proses Belajar,” Alan melanjutkan
mengetik pesan untuk Dini,
“
Begini Dik, kita sebagai Ummat Muslim, kita wajib taat dan patuh terhadap
Perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya, agar kita tergolong kepada orang –
orang yang bertaqwa. Dan untuk soal Hijjab bagi wanita, itu hukumnya Wajib, karena
Hijjab itu untuk menutupi Aurat wanita dan melindungi si wanita itu sendiri,
seperti halnya istri Rasulullah SAW. Juga di perintahakan untuk berhijjab,
seperti dalam Surah Al – Ahzab : 59 yang Artinya : “ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka."
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Jadi
sudah jelas diterangkan bahwa wanita muslimah haruslah menutup seluruh tubuh
mereka, agar terhindar dari Fitnah.”
Membaca SMS dari Alan, Dini mulai
gelisah, mulai ada Rasa berguncang di Hatinya,
“ Ya Allah, hamba telah berdosa selama
ini, karena hamba tidak melaksanakan perintah-Mu.” Butiran bening menetes dari
pelupuk mata Dini.
Hari – hari berlalu, Dini dengan
kesibukannya di sekolah, dan dengan perasaan yang masih gundah, setelah
mendengar penjelasan dari Alan. Dini sempat mengutarakan niatnya kepada Alan
tentang keinginannya untuk berhijjab,
“ Mas Alan, Dini ingin memakai Hijjab,
Dini ingin taat kepada Allah, Mas, bantu Dini ya untuk berhijjab!”
Alhamdulillah setelah seringnya komunikasi vis SMS dengan Alan, Dini mulai
berubah, sekarang Dini sudah berhijjab, tapi ada satu masalah lagi yang Dini
masih belum bisa meninggalkannya, dengan Alasan Cinta, dan lain sebagainya Dini
masih melanjutkan Hubungan Pacaran dengan Andi, bahkan semakin Erat. Dan orang
tua merekapun semakin member lampu hijau terhadap hubungan mereka. Dini ingin
lepas dari hubungan itu, namun, dini sangat mencintai Andi, dan orang tua dini
pun tak ingin dini berpisah dengan Andi.
***
Selain berdiskusi tentang Hijjab, mereka
pun berdiskusi tentang Pacaran, tetapi yang masuk ke Hati Dini masih hanya
tentang kewajiban berHijjab. Suatu ketika Dini pernah mengatakan. “ Mas Alan,
Dini mahu putus dari pacar Dini, Dini takut sama Allah, mas Alan kan pernah
Bilang, Pacaran itu nggak Boleh, Allah nggak suka, jadi Dini mau putus saja
sama Pacar Dini Do’ain ya mas.” Alan pun menjawab SMS Dini,
“
Alhamdulillah, semoga Istiqomah ya Din, soal Jodoh kita tak perlu
khawatir, Allah sudah menuliskan siapa jodoh kita di lauhul mahfudz sana, tugas
kita memperbaiki diri, memantaskan diri kita untuk mendapat jodoh terbaik
Pilihan Allah, kita menginginkan hal yang baik dari Allah, tentu kita harus
menjemputnya dengan baik pula. Jodoh kita tak akan tertukar.”
Setelah beberapa waktu mereka tidak
berkomunikasi, karena kesibukan masing – masing, suatu malam Alan mendapat SMS
dari Dini,
“ Assalamu’alaikum, mas Alan, maafin
Dini yah, Dini nggak bisa putus dengan Pacar Dini, Dini sayang sama dia Mas,
Dini Cinta sama pacar Dini, Maaf ya Mas ): dini nggak mahu berpisah dengan
pacar dini mas.” Alan melanjutkan membaca SMS dari Dini dan kepalanya
menggeleng – geleng.
“ selama ini, hanya Pacar Dini yang bisa
ngertiin Dini, memahami Dini, tahu apa yang Dini inginkan, dia selalu ada saat
Dini butuh Mas.” Alan tersenyum membaca SMS dari Dini,
“ Wa’alaikum salam Dik Dini, Cinta itu
Anugerah dari Allah, Cinta itu Fitri, Bersih, jadi tak selayaknya kita
mengotori Cinta itu denga hal – hal yang tidak disukai oleh sang pemilik Cinta
itu, Allah SWT. Kita semua punya Cinta, tetapi Cinta yang seperti apa yang
Allah Ridhoi, jika memang Dini mencintai pacar Dini, segeralah minta dia untuk
Menikahi Dini, agar cinta kalian berkah, bukankan dalam sebuah hadits di
jelaskan,
“
Tidak ditemukan jalan lain bagi dua orang yang saling mencintai, kecuali
menikah “
nah sudah jelas kan, jalan satu – satunya bagi
orang yang saling mencintai, yaitu Menikah, sedangkan Pacaran? Itu lebih kepada
mendekati Zina,
“
Dan janganlah kamu mendekati Zina, karena itu perbuatan yang buruk.”
Dini menangis membaca SMS dari Alan,
namun Dini nggak tahu harus bagaimana, kalau Dini harus menikah saat ini, tidak
mungkin, karena Dini masih sekolah, sedangkan
untuk meninggalkan pacarnya, dini pun enggan.
Setelah merenungkan nasihat dari Alan,
Dini memberanikan diri membicarakan hal itu dengan Pacarnya, Dini mengajak Andi
bertemu untuk mebicarakan perihal itu.
“ Dik Dini, ada apa kok ngajak kaka
ketemuan?”
Dini meminta Andi duduk,
” Kak, kaka tahu nggak, kalau Pacaran
itu nggak Boleh? Pacaran itu mendekati kepada Zina, Kalau kita saling mencintai
maka kita harus menikah, bukan Pacaran! Dini pun malu kak, Dini sekarang memakai
Hijjab, tapi Masih Pacaran.” Andi terdiam dan memandangi wajah Dini,
“ Iya Dik, kakak tahu itu, kakak pun
nggak mahu seperti ini terus kakak juga ingin kita hidup bersama,” Andi mencoba
menjelaskan kepada Dini
“ ya udah kalau begitu kak, Kita Menikah
yuk kak, toh orang tua kita sudah merestui hubungan kita!” Andi hanya Bisa
diam.
“ Kakak mahu menikah dengan Adik, karena
kaka mencintai Adik, kakak sayang sama Adik, kakak nggak mahu kehilangan Adik,
tetapi untuk menikahi adik, saat ini kakak belum siap, kakak belum punya apa –
apa, dan adik juga masih sekolah kan, apa orang tua Adek mengizinkan untuk
menikah?”
“ tapi kak, Dini takut sama Allah, Dini
takut Allah Marah dengan hubungan ini kak,” Dini sesenggukan dan menangis
karena mengingat apa yang dilakukaknnya itu salah, tetapi dia juga nggak mahu
kehilangan Andi, tapi Dini pun nggak mahu kalau menjalin hubungan yang tidak
disukai Allah.
***
Setelah beberapa bulan setelah pertemuan
itu, dini kembali menghubungi Alan,
” Mas Alan, bagaimana kabarnya? Sudah
lama Dini nggak SMS mas Alan, semoga Mas Alan baik – baik ya, amiin.” Alan
merogoh saku Celananya dan mengambil Handphonenya, dan Alan berhenti sejenak, ”
Iya Dik Dini, Alhamdulillah Mas Alan sehat, dik Dini bagaimana kabarnya? Semoga
sehat juga ya.” Alan membalas sms dari Dini.
“ Mas, waktu itu Dini sudah bicara
dengan Pacar Dini, kalau Dini minta untuk dia segera menikahi Dini, namun dia
menolak menikahi Dini untuk saat ini, dengan Alasan dia belum siap, dan dini
masih sekolah, maafin Dini ya mas, Dini bukan Muslimah yang baik, bukan
Muslimah yang di Cintai allah.”
Alan menghela nafas setelah membaca SMS
dari Dini.
“ Oh, begitu ya Dik, jangan minta maaf
sama mas, mas ini bukan siapa – siapa, sekarang terserah dek Dini dan Pacar dik
Dini, mas Alan hanya menyarankan lebih baik kalian segera menikah, supaya tidak
menimbulkan fitnah, toh orang tua sudah merestui hubungan kalian kan? Apa yang
kalian tunggu? Mintalah petunjuk kepada Allah, utnuk dini keluar dari Masalah
ini, Hanya Allah yang dapat membantu Dini, mas alan hanya menyarankan dan
memberitahu apa yang seharusnya mas alan berikan. Udah dulu ya Dik, mas alan
harus pergi, masih ada urusan, semoga Allah membantu Dini. Wassalamu’alaikum.”
Alan pun pergi setelah membalas SMS
Dini, sementara Dini masih terpaku, diam dan tidak bisa bicara, dini bingung
apa yang harus dini lakukan, dini sayang sama Andi tapi dini nggak mahu rasa
sayang dan cintanya kepada Andi membuat Allah Murka, namun dini juga nggak mahu
kehilangan Andi, dan orang tua Dinipun sudah sayang kepada Andi.
***
“ Ibu, Dini rindu sama Ibu, Bapak, dan
kakak, kabar keluarga sehat kan Bu?” dini menghubungi Ibunya di rumah, Dini
sekarang melanjutkan study SMA di luar kota. “ iya Nak, kami di sini sehat –
sehat, bagaimana kamu di sana? Jangan lupa jaga kesehatan ya Din,” pesan ibu
melalui telephone untuk Dini.
Tiga tahun sudah dini berpisah dengan
Andi, mereka menjalani hubungan jarak jauh saat ini karena dini harus sekolah
di luar kota. Kedekatan mereka tak seperti dulu lagi, mereka jarang komunikasi,
ya mungkin karena jarak di antara mereka.
“ Din, kakak kangen sama adik, kenapa adik
pergi dari kakak? “ Andi mengirim SMS untuk dini.
“
Ka, maafin Dini yah, Dini harus pergi dari kaka, karena Dini harus
sekolah di Luar kota, kaka tahu sendiri lah pendidikan di sana seperti apa, Dini
mahu mencari tempat yang kwalitas pendidikannya lebih baik.”
“ iya diik, kakak tahu, tapi kakak sedih,
adik pergi dari kakak, nggak ada lagi yang menemani kakak saat kakak kesepian.”
Keluh Andi kepada Dini.
Dini mulai merasa bingung, bagaimana
harus bersikap kepada Andi, andi masih mengharapkan dini untuk kembali
bersamanya, namun Dini sekarang sedang dalam proses berhijrah.
***
“ Din, kita jadi liqo sore ini?” Tanya
Rini kepada dini, teman Dini di SMA, Rini adalah yang mengajak dini untuk ikut
kajian, dan kegiatan kerohanian lainnya. Rini sahabat terbaik Dini saat ini,
Dini banyak mendapat pelajaran dari Rini, dan kehidupan Dinipun berangsur
berubah. dini mulai jarang menghubungi Andi, jika andi menghubungi dia,
SMS/Telphone, Dini jarang meresponnya, karena dini takut akan berubah lagi
pendirian hatinya, walaupun dini masih menjalin hubungan dengan andi, tapi tak
seintens dulu waktu masih tinggal bersama, dia bertekad akan mengakhiri hubungan
mereka. Dini ingin mengabdikan dirinya untuk Allah, mencintai Allah dan
Rasullullah dengan segenap hati. Dini ingin menjadi Muslimah yang baik. Tapi
dini butuh proses.
“ Kak, dini mau minta maaf sama Kaka,
dini sayang sama kakak, dan dini tahu kakak juga sayang sama dini, kita telah
melewati hari – hari bersama, dan semuanya kita jalani bersama, tapi kita lupa
kak, kita lupa kalau apa yang kita lakukan selama ini salah, Allah tidak suka
dengan apa yang kita lakukan,”
degh,,,,,,,,,,,!!!!, seperti disambar
petir tubuh Andi saat itu mendengar penuturan Dini,
“ Kak, kalau kakak masih sayang sama
Dini, kakak harus tinggalin Dini, kita #Putuskan saja hubungan ini, kita
serahkan semuanya sama Allah, jika kita berjodoh, insyaAllah, kita akan
dipertemukan dalam Cinta_Nya, namun jika tidak, dini yakin, kakak akan
mendapatkan pendamping hidup yang jauh lebih baik dari dini. kak, maafin dini
ya, dini sayang sama kakak, tapi dini lebih takut sama Allah,” andi tak bisa
berbicara apa – apa, dia diam membisu sejenak,
“ Din, apa kamu nggak kasihan sama
kakak? Kamu nggak sayang lagi sama kakak? Kamu mau ngelupain apa yang pernah
kita jalani bersama, kamu nggak ingat sama janji kita dulu, kalau kita nggak
akan berpisah sampai kapanpun, kita nggak akan meninggalkan satu sama lain? “
sambil meneteskan air mata, andi mencoba
mengingatkan Dini tentang kenangan mereka. Namun hasilnya Nihil, dini tetap
pada pendiriannya untuk tidak
melanjutkan hubungan mereka, kecuali kalau Andi menikahi dini segera.
Itulah terakhir kalinya andi dan dini
berkomunikasi melalui telephone. Saat ini mereka menjalani hidup mereka masing –
masing.
***
“
Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas nikmat dan karunia_Mu, hamba akan
persemmbahakan ini sebagai hadiah untuk Ibu, dan keluarga,” hari ini, wisuda
Dini di sekolah, dini sangat bahagia dengan nikmat kelulusannya, dan dia
bersyukur, Allah telah merubah hidup dini melalui Rini. Dini pulang ke kampung,
ke rumah keluarganya, dan dini harus berpisah dengan Rini, karena Rini akan
melanjutkan Kuliah ke Luar Negeri, Rini mendapat beasiswa ke Mesir. Tapi mereka
berjanji tidak akan melupakan satu sama lain, mereka akan menjaga persahabatan
mereka.
****
“
Dini…….. “
terdengar
suara laki – laki memanggil nama dini. ketika dini sedang berjalan hendak
menuju tempat ia mengajar.
“
Kak Andi, bagaimana kabarnya kak? Kakak sehat? “ sapa dini kepada andi.
“
Alhamdulillah kakak sehat, Dini sendiri?” saat ini dini sudah tidak menjalin
hubungan apa – apa dengan andi, dini lebih memilih mencintai Allah dan
Rasulullah, dan menyayangi keluarganya. Namun Andi maih berharap Dini menjadi
kekasihnya, dengan mencoba mengingatkan dini tentang perjalanan cinta mereka dahulu.
“
Kak, maaf ya, dini harus segera pergi, ada urusan yang nggak bisa di tinggal,
Assalamu’alaikum” dini berlalu pergi setelah mengucap salam kepada Andi. Andi
masih berdiri di sana memandangi kepergian dini, seolah dia tak percaya Dini
setega itu padanya, dini meninggalkan andi seolah dini tak ingat akan janji
mereka berdua dulu ketika mereka masih pacaran. Tapi andi nggak bisa berbuat
apa – apa, mungkin ini cerita cinta yang harus andi alami.
Setelah
satu tahun berlalu, andi mendengar kabar bahwa dini akan segera menikah,
hancurlah hati andi, pupus sudah harapannya untuk menjadikan dini sebagai
pendamping hidupnya. Andi hanya bisa pasrah dan merelakan dini dengan orang
lain. Walaupun berat baginya, tapi itu sudah jalan hidup yang harus dilalui
andi.
“
Semoga kau bahagia dini, aku akan selalu mendo’akan kebahagiaan untukmu, “ do’a
andi untuk dini.
Dini
sekarang hidup bahagia dengan suaminya, Dini tinggal di luar kota, jauh dari
orang tua, karena dia harus ikut suaminya. Sementara Andi, dia masih mengharapkan
dini yang kini sudah menjadi istri orang. Mungkin cinta andi sangat dalam
kepada dini, tetapi seharusnya dia tahu, jodoh itu sudah allah atur, jika memang dini bukan jodohnya, dia harus mengikhlaskannya. Semoga Allah menuntun andi ke jalan-Nya dan andi sadar, Dini bukanlah miliknya.
***
#Penajam,
20 September 2015
(:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar