Minggu, 04 Oktober 2015

Tak Kan Ku Ulangi

Tak Kan Ku Ulangi
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Tidurlah nak, hari sudah larut malam,”
Aku mendengar suara lirih seorang ibu dari balik rumah
Yang berdindingkan kardus bekas
Beralaskan Koran bekas
Sang anak bertanya kepada ibunya
“ Ibu, kenapa nasib kita seperti ini? Allah nggak sayang sama kita ya Bu?”
Sang ibu terisak, terdengar suaranya tercekat ketika menjelaskan kepada anaknya
“ Nak, tidak boleh berbicara seperti itu,  Allah sayang kepada kita, dan ini bentuk kasih sayang Allah kepada kita,
Allah tidak mengizinkan kita menjadi orang yang kaya Harta,
Karena Allah ingin menjadikan kita hamba yang selalu bersyukur,”
Aku terdiam dan berhenti setelah mendengar perkataan sang ibu
Dalam kondisi seperti itu, hidup jauh dari kata cukup, namun mereka tetap tegar
Sabar dan menerima ketentuan dari Allah
Sedangkan aku?
“ Ya Allah, kenapa pangkatku tidak naik – naik? Gajiku hanya segini?
Dengan uang segini bagaimana aku bisa hidup kedepan?”
Aku selalu mengeluhkan akan Rizki Allah,
Aku selalu merasa kurang dengan rizki yang Allah beikan
Aku melanjutkan langkahku menuju rumah
Aku lelah, setelah seharian bekerja dan ingin segera merebahkan badan ini
Aku mempercepat langkahku
“ Ayah, kita istirahat dulu yuk, aku lelah yah, aku ingin tidur barang sejenak,”
Kembali ku melihat seorang anak merengek kepada ayahnya
Ia meminta untuk beristirahat setelah seharian bekerja
Namun ayahnya enggan memenuhi keinginan anaknya
Dengan keranjang di pundaknya dan sepotong besi kecil untuk mengais sampah plastik
Tangannya terus ia kayuhkan di tumpukan sampah di depan toko tepat di depanku
“ Nak, dari tadi pagi kita belum menemukan apa – apa yang dapat kita jual
Untuk membeli makanan, “
Seraya melanjutkan kayuhan tangannya, sang ayah menengok ke kanan dan kiri
Sepertinya ia melihat sesuatu, dan ia ingin mengambilnya
“ Wah, ada dompet jatuh nih, lumayan uangnya bisa buat beli makan,”
Tapi setelah ia mengambil dompet tersebut
Ia mendongak ke atas, seolah ia melihat sesuatu
Tak jadi ia mengambil uang sepeserpun dari dompet itu
Ia kembali meletakkan dompet itu di tempat semula
“ Astaghfirullah, itu bukan hak saya, kalau saya mengambilnya, sama saja saya mencuri,”
Aku tersentak melihat kejujuran sang ayah,
Namun hatiku belum juga tersentuh
Aku kembali melanjutkan perjalanan, karena malam semakin larut
“ Om, semir Om, dijamin sepatu om mengkilat,”
Tiba – tiba muncul seorang anak kecil menawarkan jasa semir sepatu kepadaku
Karena saat itu sepatuku masih bersih, aku menolaknya, namun dengan cara kasar
“ Hei kamu, nggak level sepatu saya di semir oleh penyemir jalanan sepertimu, pergi sana,”
Namun anak itu enggan untuk pergi
“ Om, dari tadi pagi saya belum menemukan pelanggan satupun, tolong saya om, untuk membeli makan saja om, tapi saya nggak mahu minta – minta,”
Huuuuhhhhhhh….. dasar anak bandel, anak jalanan nggak tahu malu
Gerutuku melihat tingkah anak itu, aku tetap tak menghiraukannya, lalu aku melanjutkan perjalanan dengan mempercepat langkahku
“  Mas, tolong anak saya mas, tolong bawakan dia ke Rumah Sakit,”
Aduh apalagi ini ibu – ibu, nggak tahu saya sedang capek, lelah, ingin istirahat
Gerutuku  lagi dalam hati
“ Ibu, saya harus segera sampai ke rumah, saya lelah, saya ingin istirahat, ibu bisa jalan kan? Jadi silahkan bawa anak ibu ke Rumah Sakit sendiri, atau minta bantuan kepada Orang lain,”
Aku mempercepat langkah kakiku dan ku tinggalkan ibu itu sendirian
Tiba – tiba ketika aku menyebrang jalan terdengar bunyi klakson sangat keras
“ tuuuuuuuuuttttt……. Ciiiiiiiiiiiiiiiitttt…. Brakkkkkkkk…..”
Tak sempat aku menghindar, mobil itu menghantam tubuhku
Aku terlempar jauh ke tepi jalan, pandanganku sayup, kepalaku kunang – kunang
Dan kulihat seorang kakek di sampingku, memanggil manggilku
“ Nak,,, ayo ikut kakek…”
Setelah itu aku tak sadarkan diri, dan entah apa yang terjadi denganku setelah itu
Setelah kuterbangun kumelihat tubuhku sangat memprihatinkan
Badan di balut perban, kaki tak mampu kugerakkan, tubuhku terasa kaku, hanya kedua bola mataku yang mampu kugerakkan, dan untuk berbicarapun terbata – bata aku mengeja setiap kata….
“ Ya Allah, mengapa kau uji hamba dengan cobaan seberat ini?
Apakah karena hamba tak memperhatikan orang – orang di sekitar hamba?
Apakah karena aku menghardik anak kecil tukang semir itu?
Dan aku tak mahu membantu anak ibu itu untuk ku bawa ke Rumah Sakit?
Ya Allah, maafkan Hamba, hamba sadar, hamba bukan siapa – siapa
Tak sepantasnya hamba berlaku seperti itu
Jika ini teguran dari-Mu, hamba ikhlas ya Allah
Hamba Ikhlas dengan segala ketetapan-Mu
Hamba janji, hamba tak kan mengulangi kesalahan hamba
Hamba tak kan lagi bersikap angkuh, acuh tak acuh,
Tak akan lagi menghardik orang lain,”


Penajam, 26 September 2015 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar