Tak
Kan Ku Ulangi
Oleh : Amin Nur Kholis
“
Tidurlah nak, hari sudah larut malam,”
Aku
mendengar suara lirih seorang ibu dari balik rumah
Yang
berdindingkan kardus bekas
Beralaskan
Koran bekas
Sang
anak bertanya kepada ibunya
“
Ibu, kenapa nasib kita seperti ini? Allah nggak sayang sama kita ya Bu?”
Sang
ibu terisak, terdengar suaranya tercekat ketika menjelaskan kepada anaknya
“
Nak, tidak boleh berbicara seperti itu, Allah
sayang kepada kita, dan ini bentuk kasih sayang Allah kepada kita,
Allah
tidak mengizinkan kita menjadi orang yang kaya Harta,
Karena
Allah ingin menjadikan kita hamba yang selalu bersyukur,”
Aku
terdiam dan berhenti setelah mendengar perkataan sang ibu
Dalam
kondisi seperti itu, hidup jauh dari kata cukup, namun mereka tetap tegar
Sabar
dan menerima ketentuan dari Allah
Sedangkan
aku?
“
Ya Allah, kenapa pangkatku tidak naik – naik? Gajiku hanya segini?
Dengan
uang segini bagaimana aku bisa hidup kedepan?”
Aku
selalu mengeluhkan akan Rizki Allah,
Aku
selalu merasa kurang dengan rizki yang Allah beikan
Aku
melanjutkan langkahku menuju rumah
Aku
lelah, setelah seharian bekerja dan ingin segera merebahkan badan ini
Aku
mempercepat langkahku
“
Ayah, kita istirahat dulu yuk, aku lelah yah, aku ingin tidur barang sejenak,”
Kembali
ku melihat seorang anak merengek kepada ayahnya
Ia
meminta untuk beristirahat setelah seharian bekerja
Namun
ayahnya enggan memenuhi keinginan anaknya
Dengan
keranjang di pundaknya dan sepotong besi kecil untuk mengais sampah plastik
Tangannya
terus ia kayuhkan di tumpukan sampah di depan toko tepat di depanku
“
Nak, dari tadi pagi kita belum menemukan apa – apa yang dapat kita jual
Untuk
membeli makanan, “
Seraya
melanjutkan kayuhan tangannya, sang ayah menengok ke kanan dan kiri
Sepertinya
ia melihat sesuatu, dan ia ingin mengambilnya
“
Wah, ada dompet jatuh nih, lumayan uangnya bisa buat beli makan,”
Tapi
setelah ia mengambil dompet tersebut
Ia
mendongak ke atas, seolah ia melihat sesuatu
Tak
jadi ia mengambil uang sepeserpun dari dompet itu
Ia
kembali meletakkan dompet itu di tempat semula
“
Astaghfirullah, itu bukan hak saya, kalau saya mengambilnya, sama saja saya
mencuri,”
Aku
tersentak melihat kejujuran sang ayah,
Namun
hatiku belum juga tersentuh
Aku
kembali melanjutkan perjalanan, karena malam semakin larut
“
Om, semir Om, dijamin sepatu om mengkilat,”
Tiba
– tiba muncul seorang anak kecil menawarkan jasa semir sepatu kepadaku
Karena
saat itu sepatuku masih bersih, aku menolaknya, namun dengan cara kasar
“
Hei kamu, nggak level sepatu saya di semir oleh penyemir jalanan sepertimu,
pergi sana,”
Namun
anak itu enggan untuk pergi
“
Om, dari tadi pagi saya belum menemukan pelanggan satupun, tolong saya om,
untuk membeli makan saja om, tapi saya nggak mahu minta – minta,”
Huuuuhhhhhhh…..
dasar anak bandel, anak jalanan nggak tahu malu
Gerutuku
melihat tingkah anak itu, aku tetap tak menghiraukannya, lalu aku melanjutkan
perjalanan dengan mempercepat langkahku
“ Mas, tolong anak saya mas, tolong bawakan dia
ke Rumah Sakit,”
Aduh
apalagi ini ibu – ibu, nggak tahu saya sedang capek, lelah, ingin istirahat
Gerutuku lagi dalam hati
“
Ibu, saya harus segera sampai ke rumah, saya lelah, saya ingin istirahat, ibu
bisa jalan kan? Jadi silahkan bawa anak ibu ke Rumah Sakit sendiri, atau minta
bantuan kepada Orang lain,”
Aku
mempercepat langkah kakiku dan ku tinggalkan ibu itu sendirian
Tiba
– tiba ketika aku menyebrang jalan terdengar bunyi klakson sangat keras
“
tuuuuuuuuuttttt……. Ciiiiiiiiiiiiiiiitttt…. Brakkkkkkkk…..”
Tak
sempat aku menghindar, mobil itu menghantam tubuhku
Aku
terlempar jauh ke tepi jalan, pandanganku sayup, kepalaku kunang – kunang
Dan
kulihat seorang kakek di sampingku, memanggil manggilku
“
Nak,,, ayo ikut kakek…”
Setelah
itu aku tak sadarkan diri, dan entah apa yang terjadi denganku setelah itu
Setelah
kuterbangun kumelihat tubuhku sangat memprihatinkan
Badan
di balut perban, kaki tak mampu kugerakkan, tubuhku terasa kaku, hanya kedua
bola mataku yang mampu kugerakkan, dan untuk berbicarapun terbata – bata aku
mengeja setiap kata….
“
Ya Allah, mengapa kau uji hamba dengan cobaan seberat ini?
Apakah
karena hamba tak memperhatikan orang – orang di sekitar hamba?
Apakah
karena aku menghardik anak kecil tukang semir itu?
Dan
aku tak mahu membantu anak ibu itu untuk ku bawa ke Rumah Sakit?
Ya
Allah, maafkan Hamba, hamba sadar, hamba bukan siapa – siapa
Tak
sepantasnya hamba berlaku seperti itu
Jika
ini teguran dari-Mu, hamba ikhlas ya Allah
Hamba
Ikhlas dengan segala ketetapan-Mu
Hamba
janji, hamba tak kan mengulangi kesalahan hamba
Hamba
tak kan lagi bersikap angkuh, acuh tak acuh,
Tak
akan lagi menghardik orang lain,”
Penajam,
26 September 2015