Minggu, 20 Desember 2015

Anak Mamak!

Anak Mamak!

Oleh : OWOP#3

#CanberraEuy!
#NewEra

“Hei, sudah dengar kabar terbaru?” tanya Rasyid tiba-tiba sambil meninju ringan lenganku.
“Ada apa? Baru saja aku masuk kelas, mana tahu ada berita.”
“Elli anak PMR. Dia tewas!”
“Eh, kau serius? Kapan kejadiannya? Bagaimana ceritanya?” cecarku.
“Tidak ada yang tahu. Jasadnya ditemukan di tengah lapangan basket oleh penjaga sekolah pagi ini. Perutnya ditikam belati,” balas Rasyid.
“Memangnya tidak ada yang melihat kejadiannya atau apa gitu?” tanyaku lagi.
“Kata temen sekelasnya sih, malam sebelumnya Elli ada rapat malam. Sampai pukul delapan malam pun dia masih ngobrol di grup WA satu kelasnya.”
“Rapat apa memang?”
“Katanya sih rapat PMR. Tapi pas ketua PMR-nya ditanyain, dianya malah gak tau kalau ada rapat. Aneh, kan?”
Aku hanya menghela napas dalam.
“Eh, berarti ini jadi korban keempat, ya?” bisik Rasyid.
Sekali lagi, aku hanya menghela napas.
***

Biarlah Berlalu!

Biarlah Berlalu!
Oleh : Amin Nur Kholis

Kini aku mengerti, bahkan memasuki tingkat paham, mungkin. Tak perlu lagi mencari makna atas semua yang terjadi. Tak perlu lagi bertanya mengapa, bagaimana dan sejak kapan tali simpul ini merenggang, bahkan terlepas.

Tak perlu!

Mengharapkan pelangi kembali menampakkan keindahannya. Karena hujan tak lagi membasahi. Mungkin hujanpun lelah melukis guratan wajah. Bilapun hujan datang, hanya rintik gerimis yang menaburi.

Tentangmu

Tentangmu Oleh : Amin Nur Kholis Hati semakin yakin, kaulah bintang di hati. Sinarmu menerangi setiap jiwa yang bertandang di hidupmu. Tak ada pilih kasih apalagi menjatuhkan. Setiap penggal kisah yang kuutarakan, selalu kau dengarkan. Hatimu selalu menerima. Akupun nyaman berbagi kisah denganmu. Kau hadir disaat bintang yang lain lelah bersinar. Bahkan tak menutup kemungkinan bintang itu akan pergi. Benar-benar meredup. Tapi, kau hadir menggantikan mereka. Kau hanya satu, tapi sinarmu bertaburan ke setiap penjuru. Menembus lorong-lorong yang sulit terjamah.

Episode Hari Ini!

Episode Hari Ini! Oleh : Amin Nur Kholis Ada apa dengan hari ini? Hari yang seharusnya bertebaran keberkahan, justru malah menuai beberapa problematika. Dalam dunia nyata, juga dalam dunia maya. Akupun akhirnya bertanya, ''Ada apa dengan hari ini? Adakah yang salah dengan hari ini, atau suasana hati yang sedang menuai konflik?'' Entahlah!

Lintasan Hati

Lintasan Hati Oleh : Amin Nur Kholis Sempat terlintas pikiran tuk pergi. Jauh meninggalkan hingar bingar kehidupan ini. Tepatnya di sini. Di mana kaki kini berpijak, mengadu nasib, menjemput rizki-Nya. Meninggalkan segenap kenangan yang pernah terlukis. Cerita tentang pelangi, tentang senja, hujan dan setiap detik yang telah dilalui.

Terima Kasih


Terima Kasih
Oleh : Amin Nur Kholis
Aku ingin ungkapkan terima kasih. Ungkap segala isi hati. Kepadamu yang kini telah merubah gulita menjadi memesona. Gulita yang tak lagi menakutkan. Dengan pancaran sinarmu yang hanya setitik. Namun cukup menerangi segala ruang di hati. Rongga hati yang selama ini menutup, kini mulai melepaskan jerat belenggu. Mencoba menepis segala deru yang menyapa. Ombak yang menghadang.


Kelu!

Sudahlah!


Sudahlah!
Oleh : Amin Nur Kholis
Mendung menghias senja. Rintik hujan sedikit membasahi. Tarikan gas semakin melaju. Menyusuri jalan yang biasa dilalui. Jalan yang menyisa ribuan kenangan. Tentang mereka. Hah, Mereka? Siapa mereka? Kucoba menerka siapa mereka? tak dapat ku raba bayangnya. Buram. Semakin laju putaran roda. Rintik mulai lelah. Tiba ku di satu titik. Pusat kenangan yang kini tinggal cerita. Kulihat kerumunan mereka. Tokoh dalam kenangan yang pernah merajut kisah. Denganku! Hah, denganku? Pernahkah? Ya, mereka yang sedari tadi kuraba, akan kelabunya. Kini nampak jelas di mataku. Deru canda juga gelak tawa, menghias kerumunan. Kehangatanpun nampak terlukis. ''Hei, kenapa kamu tak mengindahkan panggilannya? Kenapa kau hanya sunggingkan senyum pada mereka? Ikhlaskah kau taburkan senyum untuk mereka?'' bisikan yang entah dari mana datangnya, mengiang di telinga. Tanpa kabar ia menyapa. Hanya diam yang dapat kuberi. Tak kuhiraukan kerumunan itu, kutancap gas lebih laju. Senyum masih tersungging. Sekedar untuk menghibur. Bisikan itu terus menghantui. Sepanjang lorong senja, ia tak bosan membisik kata, ''Sudahlah!'' Aku tak mengerti, apa maksudnya. Berkali-kali bisikan itu mampir di telinga. Aku tak pernah menghiraukannya. Kali ini aku geram, apa sebenarnya maksudnya ia membisikan kata itu. ''Hei, kamu, apa maksudmu mengatakan sudahlah! Semudah itukah melupakan memori? Tentang kisah pelangi yang kadang kelabu menyapa.'' entah kepada siapa pertanyaan itu ku ajukan. Tak ada siapa-siapa di sini. Hanya aku dan gerimis berhias senja. ''Kamu bertanya apa maksudku?'' bisikan itu menjawab. ''Iya,'' jawabku. Masih tak ada siapapun. Hanya aku dan suara itu. ''Tak perlu kujelaskan padamu, sesungguhnya kau sudah paham apa maksudku!'' jawabnya pelan. Tertunduk wajah, menatap bumi yang ku pijak. Satu persatu butiran bening gugur. ''Sudahlah, bukankah kau bilang sudah mengikhlaskan semuanya? Bukankah kau selalu bilang, Tak kan lagi kau mengusik mereka.'' dekapnya hangat. Seolah dia tahu, dekapan hangat yang kuperlukan saat ini. Semakin tertunduk wajah ini, semakin banyak guguran air mata di pipi. Memaksaku tuk menjenguk Kisah lalu. Dia tetap mendekap, membisik. ''Sudahlah!'' Kucoba cari makna, dan kuraba, kapan aku mengucap kata itu. Ah, Kini aku ingat, kapan aku melafalkan kata itu. Sepanjang hari, sepanjang nafas menghela. Melafalkan tuk mendamaikan sekeping jiwa. Menepis segala rasa yang hinggap. Ketika berjumpa dengan mereka. Kerumunan yang kini tak lagi dapat ku menyusup. Menyelinap tuk sekedar memasang telinga. Mendengar setiap kisah yang mereka ceritakan. ''Sudahlah! Ikhlaskan cerita itu berlalu. Tak usah sesak menghantuimu, bila kembali kau jumpai kerumunan mereka. Tak hanya mereka manusia di dunia ini. Cintailah mereka tulus, tak usah harap balasan. Sayangilah mereka ikhlas, tak usah harap balasan. Dekap mereka dalam diam. Biarkan cerita melukis kisah baru.'' bisikan terakhir darinya. Ia lenyap bersama perginya senja. Damai menyapa bersama gelap malam yang menyapa. ~Penajam, 16 Desember 2015

Ada Apa Denganmu?


Ada Apa Denganmu?
Oleh : Amin Nur Kholis

''Hei, kenapa kamu?'' tanyaku pada dia yang sedang duduk termangu. Di tepi pantai, memandang senja. Kini senja berhias kelabu. Mendung menggelayut. Ia tetap saja membisu. Tak kunjung menjawab tanyaku. Ia tak peduli deru ombak yang mendebur. ''Hei, apa kamu tuli?'' tanyaku kembali. Namun kini dia makin menjengkelkan. Wajahnya murung, matanya terpejam. Menunduk. Seolah aku ini menjijikan. Tik tik tik....

Kupikir Tak Ada Lagi

Kupikir Tak Ada Lagi

Oleh : Amin Nur Kholis

Kupikir tak ada lagi bintang di langit. Berkerlip membias cahaya. Hingga gulita tak lagi pekat. Indahnya malam yang dulu pernah hadir, tak seindah malam-malam yang kini sedang mampir. Sesak, sumpeg, rasanya dunia ini. Cahaya bintang yang dulu sempat mengisi malam-malamku, tak lagi memancarkan cahayanya. Mereka sepertinya lelah, dengan sikapku yang tak lagi mampu mengerti mereka. Aku selalu memaksa ia tuk terus bercahaya, meski aku tahu, ia butuh istirahat. Aku tak pernah memikirkan hal itu. Aku tak pernah mau bila kerlip bintang benar-benar menghilang.

Biarlah

Biarlah Oleh : Amin Nur Kholis ''Hei kamu, sedang apa kamu di sana?'' kutanyakan pada dia yang entah sejak kapan dia singgah di sana, mengisi rongga di hati. Dia tetap tak bergeming. Asyik dengan dunianya. Menggerogoti setiap rongga di hati. Sampai-sampai pikiranku pun ia renggut.

Minggu, 13 Desember 2015

Untaian Sederhana

                                   Untaian Sederhana
Oleh : Amin Nur Kholis

Selama ini aku tak merasakan kerlip cahaya darimu. Cahaya yang selama ini kurindui. Cahaya yang selama ini tak lagi mencipta terang dalam hati. Selama ini aku terfokus pada semua problematika yang tak terlalu penting dan tak sepantasnya aku menyimpan ini dalam rongga hati. Bias cahayamu tak dapat kurasakan, padahal sinarnya selalu memancar.

Salah paham!

Ya, sebuah kesalahpahaman yang entah darimana mulainya. Semua berjalan seiring guliran waktu. Awalnya aku tak menganggap ini sebuah masalah yang besar. Aku anggap ia hanyalah batu kerikil yang menghiasi perjalanan, jalinan persahabatan kita. Kini kesalahpahaman itu sudah menjadi problematika yang akut. Mungkin jika disamakan dengan kanker, ia sudah memasuki stadium akhir. Hingga tak ada lagi butiran kepercayaan yang menggelayut di hati.

Sabtu, 14 November 2015

Ceceran Hati

Ceceran Hati
Oleh : Amin Nur Kholis

Bila angin bertiup kencang seperti ini, apakah hati akan tetap tegar? Kaki akan tetap berdiri kokoh? Entahlah bilakah nanti batang tubuh rapuh ini akan rebah tertiup angin, mungkin itulah takdir. Semakin hari angin bertiup semakin kencang. Dari angin sepoi hingga angin ribut. Bahkan angin tornado juga ikut berperan. Ajaibnya, angin datang di saat diri ini sedang berusaha mengumpulkan kepingan hati yang sudah lama tercecer. Kepingan hati yang selama ini bergelimang dengan rasa yang tak seharusnya di genggam.

Selasa, 10 November 2015

‪[Malam‬ Narasi OWOP#3]

Suara Hati! Oleh : Amin Nur Kholis "Tok tok tok." Ketukan pintu itu berulang-ulang terdengan olehku. Namun setiap kali aku menghampiri pintu itu. Tak ku temui siapapun di sana. Malam ini begitu dingin. Hembusan angin begitu menusuk qolbu. Hanya kerikan jangkrik yang terdengar dan ketukan pintu yang berulang-ulang. Aku kembali ke tempat dudukku. Aku muak. Aku bosan dengan semua ini. Tentang hatiku yang selalu menyakiti orang lain. Aku lelah dengan diriku. " Hei! Bukakan pintu untukku. Cepat!" Kini terdengar suara sesorang dari balik pintu kamarku. Bersamaan dengan ketukan pintu yang sama. "Siapa di sana?" "Bukakan pintu. Cepat!" Suara itu terdengar sangat keras. Rasa takut menggelayut di hatiku. Namun suara itu sepertinya tak asing di telingaku. "Siapa di sana?" Tanyaku kembali. "Hei! Apakah kau tak mendengarku? Cepat kau buka pintu ini. Dasar manusia bodoh!" Apah? Manusia bodoh. Beraninya dia mengatakan aku bodoh. "Hei, siapa kamu? Beraninya kamu mengatai aku bodoh." Aku beranjak dari dudukku. Mendekati pintu kamarku. Aku penasaran. Siapa sebenarnya orang di balik pintu itu. "Ceklek." Ku buka Kunci pintu kamarku. Betapa kagetnya aku ketika kubuka pintu dan aku melihat sosok yang sama persis dengan diriku. "Hei, siapa kamu?" Tanyaku kepada sosok yang berdiri di depanku. "Tak kenalkah kau siapa aku ini? Ini aku. Bayangan dirimu. Aku ini hatimu. Hati yang selalu kau lempari dengan kotoran. Hati yang selalu kau penuhi dengan kebencian." Ia menunjuk diriku dengau raut wajah marah. "Tidak! Aku tak mengenalmu. Kau bukan bayanganku. Mana mungin bayangan bisa bicara. Kau pembohong. Pergi kau!" Kututup pintu kamarku dan ku kunci agar dia tak lagi menggangguku. Aku kembali duduk dan kutelungkupkan kaki untuk menyembunyikan kepalaku. "Hei, kenapa kau mengusirku? Kau tahu, kau tak dapat mengusirku. Karena Aku adalah hatimu. Aku adalah dirimu. Jadi kau tak kan pernah bisa mengusirku." Aku tersentak ketika suara itu kembali hadir. Kini dia di dekatku. Ku lempar dia dengan bantal yang ada di dekatku. Namun ia tak jua pergi. "Darimana kau masuk? Bukankah aku sudah mengunci pintu itu." Aku semakin bingung. Aku heran mengapa dia bisa tiba-tiba di dekatku. Darimana dia masuk? "Bukankah aku sudah mengatakan. Aku ini hatimu. Bayangan dirimu. Jadi kemanapun kau pergi. Aku akan menyertaimu. Kau tak bisa lari dariku." Jawabnya. "Argh! Kau pasti bohong. Pergi kau dari sini. Atau aku bunuh kau? Pergi!" Aku lihat ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu yang dapat kupakai untuk membunuhnya. Namun tak kutemukan apapun. Akhirnya aku memilih pergi. Aku tinggalkan dia sendiri di kamarku. "Braaaak!" Kututup pintu sekuat tenaga. Lalu aku berlari ke teras rumah. Aku harap di sana aman. Tak ada lagi yang mengikutiku. Namun aku salah. Ketika baru saja aku duduk di kursi teras rumah, dia sudah lebih dulu duduk di sana. Aku menyerah. Aku lelah. Akhirnya aku beranikan untuk berbicara baik-baik dengan dia. Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku. "Ok! Aku menyerah. Sekali lagi aku tanya. Siapa kamu? Apa yang kau inginkan dariku? Mengapa kau menggangguku?" Kutatap matanya tajam. Dengan sedikit emosi. "Bukankah aku sudah mengatakan, siapa aku sebenarnya. Aku adalah dirimu. Aku adalah hatimu. Aku ingin kau berubah. Aku ingin kau bersihkan hatimu, jangan lagi kau menaruh dendam dan memelihara kebencian kepada siapapun." Jawabnya dengan lembut sekarang. "Apa maksudmu? Aku nggak pernah membenci siapapun, apalagi menaruh dendam. Atas dasar apa kamu menuduhku seperti itu?" Aku kesal. "Benar kau tak membenci dan dendam kepada siapapun?" Tanyanya kepadaku. "Benar!" Jawabku datar. "Lalu, perlakuanmu kepada Andi temanmu sekaligus saudaramu itu apa? Juga kepada teman-temanmu yang dulu pernah dekat denganmu? Kau selalu memalingkan muka dari mereka. Kau acuh kepada mereka. Wajahmu sisins setiap berjumpa dengan mereka. Mereka selalu berusaha berbuat baik kepadamu, tapi kamu selalu mengabaikannya. Terutama Andi. Dia itu saudaramu, tak sepantasnya kau begitu. Jika dia punya salah kepadamu. Maafkanlah. Bukankah manusia tak luput dari salah? Jika kau yang bersalah. Mintalah maaf kepada dia. Aku tak ingin selalu kau gunakan untuk membenci mereka." Jawabnya panjang lebar. "Kata siapa aku seperti itu?" Aku mengelak. "Sudahlah. Buang rasa egomu. Bukalah hatimu. Bukankah dulu kalian teman baik? Hanya karena kesalah pahaman, mengapa kau merusak hubungan kalian? Tak pantas kau seperti itu. Perbaikilah hubunganmu dengan mereka. Bukankah selama ini mereka berbuat baik kepadamu? Hanya saja kamu yang selalu menutup hati dengan mereka. Sadarlah! Bukalah hatimu!" Sosok itu tiba-tiba menghilang. Aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan. Aku bingung. Aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan. Semua yang dia katakan memang benar. Hatiku telah penuh dengan rasa benci. Dendam dan segala penyakit hati lainnya. Aku tak lagi mampu melihat kebaikan di sekitarku. Aku selalu melihat keburukan di sekitarku. Aku sudah beberapa kali mencoba menata hati. Membuka hati seperti dulu. Tapi selalu gagal. Sampai hati ini penuh dengan quota kebencian dan prasangka buruk. Aku tak tahu lagi bagimana caranya berbuat baik kepada orang lain. *** ‪#‎Malam‬ Narasi OWOP#3 ~Majapahit,08112015

Kamis, 29 Oktober 2015

Jodoh Pasti Bertemu


Jodoh adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh Allah yang maha Esa. Tetapi bagaimana kita mengetahui dia memang ditakdirkan untuk kita? 
Kata orang, jodoh itu harus dicari. tapi, kamunya siapa?

Mu tahu ceritanya, ayo klik link di bawah ini ;

https://www.youtube.com/watch?v=MRW4NB-qf70

Pacaran itu?


Arti Pacaran yang sebenarnya. Apakah kamu tau apa arti pacaran yang sebenarnya bro ? :) Banyak lho saat ini orang yang berpacaran tapi tidak tahu atau tidak mengerti sebenarnya apa sih tujuan mereka berpacaran atau membina hubugan.

Jika ditanya apa sih tujuan dan arti pacaran kalian, kebanyakan akan menjawab karena sayang lah, karena cinta lah, karena pengen memilikinya lah, dll. apakah benar seperti itu?

mau tahu pacaran itu seperti apa? ayo Klik Link di bawah ini :

https://www.youtube.com/watch?v=F0aBCWzLsBM

Selasa, 27 Oktober 2015

Asap dan Senja

Asap dan Senja
Oleh : Amin Nur Kholis

'' Ayah, ayah! kenapa sih asapnya nggak hilang - hilang? nggak seperti kalau ibu masak, selesai ibu masak ya asapnya ikut pergi juga.'' celetuk anakku kepadaku.
Kami, aku dan anakku Angga, sedang duduk di teras rumah, memandangi keindahan sore hari. Namun, Kini keindahannya tak seperti biasanya. Dulu ketika warna senja kemerahan, dan matahari mulai tenggelam tuk pulang ke peraduannya begitu elok tuk di pandang. Namun, kini yang nampak di depan mata kami, segerombolan Asap pekat yang menutupi pancaran sinar mentari. Warna merah senja, kini berubah menjadi gelap. Keelokan Matahari tenggelampun tak nampak. Tak ada lagi senja seindah kemarin.
" Ayah! Kemari yah, cepat yah."

Minggu, 25 Oktober 2015

Aku yang Terlupakan

Aku yang Terlupakan
Oleh : Amin Nur Kholis
Kawan!
Aku rindu padamu,
Kapan kau kembali menyentuhku?
Kapan kau kembali melantunkanku?

Ingatkah kau, kapan terakhir membuka setiap lembaranku?
Ingatkah kau, ayat terakhir yang kau baca dariku?
Mungkin kau tak mengingatnya
Sudah terlalu lama kau tinggalkan aku sendiri di sini
Hingga sampulku kini penuh dengan debu
Dan lembaran – lembarnaku kini lusuh berwarna kecokelatan

Kawan!
Aku ini lembaran yang di wariskan untukmu
Juga Untuk seluruh ummat
Buakn harta dan tahta yang di wariskan kepadamu
Karena aku lebih berharaga dari semua itu
Akulah penuntun jalanmu
Akulah peta kehidupanmu

Kawan!
Kumohon, kembalilah kepadaku
Barang sejenak saja, tak perlu kau duduk berjam – jam
Untuk menyelesaikan membuka lembaran
Dan melantunkan setiap ayat dariku
Cukuplah kau istiqomah menyapaku
Agar kau tak tersesat di lembah belantara dunia Fana ini


#Penajam, 24 Okktober 2015

Ramadhan

Ramadhan
Oleh : Amin Nur Kholis

Kau bulan yang kami rindui
Hadirmu selalu din anti
Hanya satu kali kau menampakkan diri
Namun, berkah sepanjang hari
Hingga ketika kau pergi

Hadirmu mengubah seluruh isi dunia
Yang dulu tak gemar mengaji
Kini Al-qur’an selalu di hati
Kemanapun kaki terayun
Al-Qur’an selalu membersamai

Kau istimewa untuk kami
Yang selalu menanti kehadiranmu di sini
Di dunia yang penuh uji
Semoga kelak kita kan bersua kembali
Untuk mendapat rahmat Illahi Rabbi


#Penajam, 22 Oktober 2015

Sabtu, 17 Oktober 2015

Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!

Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Jangan ayah! aku sangat mencintai kak Alan.”
Ayah sangat marah ketika mengetahui aku menjalin hubungan dengan kak Alan, selama ini aku sembunyi – sembunyi menjalin hubungan ini. Ayah melarang kami anak – anaknya untuk Pacaran, ayah menyuruh kami untuk fokus belajar. Aku memang bandel, tidak seperti kakakku Danang, dia nggak pernah Pacaran, dia selalu mendapat prestasi di sekolahnya, sehingga kak Danang mendapat beasiswa kuliah di Jogja, dan sekarang dia sudah menikah dengan orang Jogja, teman kuliahnya

Hanya Seuntai Do'a

Hanya Seuntai Do'a Oleh : Amin Nur Kholis 45 tahun sudah kau arungi kehidupan Di dunia yang penuh kepalsuan ini Kebahagiaan yang setitik Bak setetes air dari luasnya samudera Maaf, Aku tak memberimu sebungkus hadiah Tak mengucapkan selamat ulang tahun Juga tak memberimu seloyang kue tart Aku tak tahu, Bagaimana mengungkapkan cintaku padamu Meluapkan kasih sayangku untukmu Aku tak seperti mereka Yang mampu memeluk ayah dan bunda Mendekap hangat dalam kasihnya Mengungkap dengan lantang " Ayah, Bunda, aku sayang kalian " Aku tak terbiasa seperti itu Aku hanya mampu mematuhi setiap petuahmu Mengungkap kasih dalam Do'a Di sisa usiamu, Aku ingin berbakti padamu Bukan dengan materi Bukan juga dengan kemewahan Hanya dengan kepatuhanku Dan seuntai do'a untukmu Bukankah waladun sholih Yang akan menjadi temanmu di sisi-Nya kelak? Bukan harta dan kemewahan? Ibu, Terimakasihku untukmu Kau telah memberikanku segudang pelajaran Tentang kesabaran, ketabahan, dan pengokohan hati Tentang arti kasih sayang yang sesungguhnya Tentang arti cinta yang sebenarnya Terimakasihku untukmu Kau telah merawat kami anak-anakmu Dengan penuh kasih sayang Dengan ketulusan cinta tanpa pamrih Ibu, Hanya do'a yang dapat kami lantunkan untukmu Seuntai do'a, agar Allah memberikanmu kebahagiaan Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya untukmu Allah senantiasa membimbingku Untuk terus berbakti kepadamu Hingga kelak kau bertemu dengan-Nya Allah yang memiliki setiap jiwa Penajam, 12 Oktober 2015 Barakallahu fi umrik Ummi, I Love U

Sabtu, 10 Oktober 2015

Sang Putri dan Kantung Ajaib

‪#‎CANBERAeuy‬!
By : OWP-ers 3 [ Sang Putri dan Kantung Ajaib ] Embusan angin bersuhu rendah membuat Putri Citra merapatkan jaketnya. Ia lalu memicingkan matanya, sesaat setelah mendengar gemuruh langit. Meski begitu, matanya masih terpaku pada refleksi seseorang pada air kolam di bawahnya. Ia pun mengembuskan napasnya dengan keras. Kesal.

Jumat, 09 Oktober 2015

Aku Enggan Menyapa Malam

Aku Enggan Menyapa Malam Oleh : Amin Nur Kholis Suasana semakin hening, hanya suara jangkrik yang terdengar '' Krik... Krik... Krik... '' dinginnya malam pun semakin menusuk, hembusannya yg lembut, sentuhannya yang hangat, oh angin, kau menambah kesyahduan malam ini.

Kita tak Pernah Tahu

Kita tak pernah tahu
Oleh : Amin Nur Kholis
Hari ini kita masih dapat berbicara
Kita masih mampu menghirup udara
Kita masih bisa bersua dengan orang terkasih
Ayah, ibu, karib kerabat
Hari ini, kita masih mampu berjalan
Melangkah menuju mimpi - mimpi yang belum menjadi nyata
Mengejar cita - cita yang masih menggantung di gunung kesuksesan
Namun, sering kita tak pernah tahu
Kita tak pernah menyadari
Apakah esok kita masih mampu melakukan semua itu?
Masihkah kita menghirup udara segar?
menghela nafas sebagai anugerah ILLAHI?
Masihkah esok kaki kita mampu melangkah menuju masa depan yang kita impikan?
Entahlah, kita tak pernah tahu
Kapan kaki kita berhenti melangkah
Nafas kita terhenti
Mata tak lagi mampu menatap dunia
Lisan tak lagi mampu berdzikir
Kita tak pernah tahu
Kapan kita menutup usia
Kau yang lebih dahulu menemui Rabb-Mu
Semoga amalmu berhadiahkan syurga
Semoga terang benderang jalan meniti dunia sesungguhnya
Kelak, kami akan menyusulmu
Entah esok, hari ini, atau mungkin setelah rangkaian kata ini tersusun
Kita tak pernah tahu
Kapan malaikat izro'il memanggil
Penajam, 08 Oktober 2015

Kusimpan Sajadah Darimu

Kusimpan Sajadah darimu
Olah : Amin Nur Kholis
Tak selayaknya ikatan kita terlepas
Kau dan aku bukan sekedar teman
Bukan pula sahabat
Hubungan kita lebih dari itu
Kau saudaraku begitupun aku saudaramu
Namun,
tangan ini tak mampu lagi menggenggam tanganmu
tak mampu lagi menjabat tanganmu
Hati ini tak mampu lagi mendekapmu
Entah mengapa semua ini terjadi
Aku tak mampu mengerti
Bisikan orang tentang diriku
Yang cemburu dan iri terhadapmu
Membuatku semakin tak mengerti
Iri? Ya, mungkin aku iri kepadamu
Mereka lebih memilih dirimu daripada aku
Mereka lebih bahagia saat bersamamu
Daripada saat duduk berdampingan denganku
Kau pernah berkata
" Aku menyayangimu, aku tak ingin kita seperti ini
Kita semua sama, mereka temanku juga temanmu"
Dan aku mencelamu
" Ah omong kosong, kau hanya ingin menghibur hatiku"
Tak dapat kurasai ketulusan dalam berteman
Aku selalu di bandingkan denganmu Tentang segala hal
Dan mereka selalu berkata
" Kalian adalah teman kami, kami tak pernah membeda - bedakan antara kamu dan dia "
Benarkah demikian?
Jika iya, mengapa aku tak merasakannya?
Apakah hatiku yang sudah membeku
Entahlah, akupun tak mengerti tentang siapa diriku
" Aku mahu pulang, karena aku harus pulang"
Apa kau tahu apa yang kurasa saat itu
Saat mendengar kata " Pulang " darimu
Sedih, sakit, bukan tentang kepulanganmu
Namun tentang hubungan kita
Tali yang belum sempat terhubung kembali
Akan tetap putus sampai nanti
Namun,
Kau menghadiahkan sajadah ini untukku
Sebelum kau pergi tuk keluargamu
Dan satu permintaanmu atas sajadah ini
" Tolong pakai sajadah ini saat kamu shalat,
Saat kamu bermunajat kepada Allah "
Tak hanya itu
" Aku harap sajadah ini mampu mengikat kembali
Tali yang terputus itu, dan semakin erat ikatannya"
Aku terharu bila mengingat semua itu
Air mataku tak mampu kubendung
Aku tak mampu memenuhi amanatmu
Untuk memakai sajadah darimu
Aku malah menyimpannya di sudut lemari
Maafkan aku teman, aku telah menghianatimu
Aku tak memenuhi amanatmu
Biarlah tali ini berceceran
Ikatan ikatan ini berkeliaran
Tak usah lagi kita coba tuk mengikatnya kembali
Karena itu akan sia - sia
Selama hatiku masih membeku.
Penajam, 29 Spetember 2015

Minggu, 04 Oktober 2015

[Malam Narasi OWOP3]

[Malam Narasi OWOP3] " Mas Alan, di panggil bapak, mas alan diminta ke ruangannya sekarang," sekretaris pak hasan memberitahukanku kalau aku dipanggil pak hasan dan aku ditunggu pak hasan di ruangannya. " Ada apa yah pak hasan memanggilku?" Tanyaku pada diri sendiri. Lalu aku berjalan menuju ruangan pak hasan, ketika aku di depan ruangannya, perasaanku tiba - tiba tidak enak. Setelah dipersilahkan masuk, aku duduk di kursi di depan pak hasan. " Alan, mana laporan keuangan bulan ini? Kenapa belum ada di Meja saya"

Menyapamu dalam Do'a

Menyapamu dalam Do'a Oleh : Amin Nur Kholis Tak lagi kupinta, apa yang tak lagi kumiliki Tak lagi berharap kembali, apa yang telah berlari Biarlah hati ini belajar tentang sebuah keikhlasan Melepas apa yang harus dilepas Biarlah semua menjadi cerita menjadi kenangan dalam bingkai kehidupan kita Mungkin kita tak berjodoh di dunia Dalam sebuah lingkaran cinta Bernama teman atau saudara Ini bukan salah siapa - siapa Hanya hatiku yang sudah membeku Tak lagi ku mampu memandang kebaikan walau itu hanya setitik Hatiku dipenuhi rasa benci, cemburu juga iri hati Hingga hati inipun penuh dengan kerak juga mengeras seperti batu Maaf, Jika aku tak pernah menyapa Tak seperti mereka Tak usah ditanya mengapa Ini yang terbaik untuk kita Aku hanya meminta Tuk menyapa dalam Do'a Hanya itu yang ku bisa Karena lidah ini kelu saat bersua Hingga tak dapat ku ungkap sebuah kata Biarlah hanya dalam Do'a Diri ini menyapa semua Dan Biarlah, Semua itu menjadi cerita Pelajaran untuk kita semua Semoga tak ada lagi manusia yang lain sepertiku di dunia Cukup hanya satu, ialah Aku Yang hatinya membeku Semoga Tuhan selalu membahagiakan mereka, juga hatimu Penajam, 02 Oktober 2015

Beranjaknya Usia

Beranjaknya Usia Oleh : Amin Nur Kholis 23 tahun sudah kau arungi hidup ini di bumi Allah yang kau dan kami cintai genap 23 tahun usiamu hari ini sebanyak itu pulalah quota usiamu telah berlari Tinggal menanti sampai kapan sisa usiamu berhenti Tak terasa sudah banyak cerita yang di jalani Dari saat kau belajar berjalan hingga kau dapat berlari dari kau kesana kemari selalu ditemani Hingga kau kini menjadi mandiri tak kan habis cerita 23 tahun silam tuk di goreskan dengan pena butuh berlembar lembar kertas tuk dapat menulis semua cerita Tak cukup hanya satu lembar kertas saja Kini kau sudah dewasa sudah mampu membanggakan orang tua Yang dulu hanya sebuah mimpi belaka kini kau dapat mebuat senyum di hati mereka Dengan baktimu kepda kedua orang tua Akhi, maaf tak dapat ku berikan apa - apa buatmu Hanya untaian do'a untuk kebahagiaanmu Semoga di sisa usiamu Menjadi barokah dalam hidupmu Seiring beranjaknya usiamu Kerberkahan hidup selaluu mendampingimu Menambah kedewasaanmu Juga baktimu kepada orangtuamu Barakallahu fi 'umrik ya Akhi Setangkai do'a untukmu hari ini Semoga kelak dapat bersua di syurga ILLAHI Semoga tali simpul persaudaraan ini Dapat menjulur hingga ke akhirat Mengantarkan kita ke syurga-Nya nanti Penajam, 01 Oktober 2015
Untuk Akhina,

Tak Kan Ku Ulangi

Tak Kan Ku Ulangi
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Tidurlah nak, hari sudah larut malam,”
Aku mendengar suara lirih seorang ibu dari balik rumah
Yang berdindingkan kardus bekas
Beralaskan Koran bekas
Sang anak bertanya kepada ibunya
“ Ibu, kenapa nasib kita seperti ini? Allah nggak sayang sama kita ya Bu?”
Sang ibu terisak, terdengar suaranya tercekat ketika menjelaskan kepada anaknya
“ Nak, tidak boleh berbicara seperti itu,  Allah sayang kepada kita, dan ini bentuk kasih sayang Allah kepada kita,
Allah tidak mengizinkan kita menjadi orang yang kaya Harta,
Karena Allah ingin menjadikan kita hamba yang selalu bersyukur,”
Aku terdiam dan berhenti setelah mendengar perkataan sang ibu
Dalam kondisi seperti itu, hidup jauh dari kata cukup, namun mereka tetap tegar
Sabar dan menerima ketentuan dari Allah
Sedangkan aku?
“ Ya Allah, kenapa pangkatku tidak naik – naik? Gajiku hanya segini?
Dengan uang segini bagaimana aku bisa hidup kedepan?”
Aku selalu mengeluhkan akan Rizki Allah,
Aku selalu merasa kurang dengan rizki yang Allah beikan
Aku melanjutkan langkahku menuju rumah
Aku lelah, setelah seharian bekerja dan ingin segera merebahkan badan ini
Aku mempercepat langkahku
“ Ayah, kita istirahat dulu yuk, aku lelah yah, aku ingin tidur barang sejenak,”
Kembali ku melihat seorang anak merengek kepada ayahnya
Ia meminta untuk beristirahat setelah seharian bekerja
Namun ayahnya enggan memenuhi keinginan anaknya
Dengan keranjang di pundaknya dan sepotong besi kecil untuk mengais sampah plastik
Tangannya terus ia kayuhkan di tumpukan sampah di depan toko tepat di depanku
“ Nak, dari tadi pagi kita belum menemukan apa – apa yang dapat kita jual
Untuk membeli makanan, “
Seraya melanjutkan kayuhan tangannya, sang ayah menengok ke kanan dan kiri
Sepertinya ia melihat sesuatu, dan ia ingin mengambilnya
“ Wah, ada dompet jatuh nih, lumayan uangnya bisa buat beli makan,”
Tapi setelah ia mengambil dompet tersebut
Ia mendongak ke atas, seolah ia melihat sesuatu
Tak jadi ia mengambil uang sepeserpun dari dompet itu
Ia kembali meletakkan dompet itu di tempat semula
“ Astaghfirullah, itu bukan hak saya, kalau saya mengambilnya, sama saja saya mencuri,”
Aku tersentak melihat kejujuran sang ayah,
Namun hatiku belum juga tersentuh
Aku kembali melanjutkan perjalanan, karena malam semakin larut
“ Om, semir Om, dijamin sepatu om mengkilat,”
Tiba – tiba muncul seorang anak kecil menawarkan jasa semir sepatu kepadaku
Karena saat itu sepatuku masih bersih, aku menolaknya, namun dengan cara kasar
“ Hei kamu, nggak level sepatu saya di semir oleh penyemir jalanan sepertimu, pergi sana,”
Namun anak itu enggan untuk pergi
“ Om, dari tadi pagi saya belum menemukan pelanggan satupun, tolong saya om, untuk membeli makan saja om, tapi saya nggak mahu minta – minta,”
Huuuuhhhhhhh….. dasar anak bandel, anak jalanan nggak tahu malu
Gerutuku melihat tingkah anak itu, aku tetap tak menghiraukannya, lalu aku melanjutkan perjalanan dengan mempercepat langkahku
“  Mas, tolong anak saya mas, tolong bawakan dia ke Rumah Sakit,”
Aduh apalagi ini ibu – ibu, nggak tahu saya sedang capek, lelah, ingin istirahat
Gerutuku  lagi dalam hati
“ Ibu, saya harus segera sampai ke rumah, saya lelah, saya ingin istirahat, ibu bisa jalan kan? Jadi silahkan bawa anak ibu ke Rumah Sakit sendiri, atau minta bantuan kepada Orang lain,”
Aku mempercepat langkah kakiku dan ku tinggalkan ibu itu sendirian
Tiba – tiba ketika aku menyebrang jalan terdengar bunyi klakson sangat keras
“ tuuuuuuuuuttttt……. Ciiiiiiiiiiiiiiiitttt…. Brakkkkkkkk…..”
Tak sempat aku menghindar, mobil itu menghantam tubuhku
Aku terlempar jauh ke tepi jalan, pandanganku sayup, kepalaku kunang – kunang
Dan kulihat seorang kakek di sampingku, memanggil manggilku
“ Nak,,, ayo ikut kakek…”
Setelah itu aku tak sadarkan diri, dan entah apa yang terjadi denganku setelah itu
Setelah kuterbangun kumelihat tubuhku sangat memprihatinkan
Badan di balut perban, kaki tak mampu kugerakkan, tubuhku terasa kaku, hanya kedua bola mataku yang mampu kugerakkan, dan untuk berbicarapun terbata – bata aku mengeja setiap kata….
“ Ya Allah, mengapa kau uji hamba dengan cobaan seberat ini?
Apakah karena hamba tak memperhatikan orang – orang di sekitar hamba?
Apakah karena aku menghardik anak kecil tukang semir itu?
Dan aku tak mahu membantu anak ibu itu untuk ku bawa ke Rumah Sakit?
Ya Allah, maafkan Hamba, hamba sadar, hamba bukan siapa – siapa
Tak sepantasnya hamba berlaku seperti itu
Jika ini teguran dari-Mu, hamba ikhlas ya Allah
Hamba Ikhlas dengan segala ketetapan-Mu
Hamba janji, hamba tak kan mengulangi kesalahan hamba
Hamba tak kan lagi bersikap angkuh, acuh tak acuh,
Tak akan lagi menghardik orang lain,”


Penajam, 26 September 2015 

Jumat, 02 Oktober 2015

Pacarku, Nikah Yuk.. !!!!

Pacarku, Nikah Yuk..!!!!
Oleh : Amin Nur Kholis

Hari ini satu tahun hari jadi Dini dan Andi, setahun sudah mereka menjalin hubungan bernama Pacaran. “ Dek, kita jalan yuk!” pinta andi kepada dini, andi ingin mengajak dini merayakan hari jadinya yang sudah berjalan selama satu tahun. “ Jalan kemana kak? Dan tumben kakak ngajak jalan? “ Andi membaca SMS dari Dini.
Dini masih duduk di bangku SMP, sementara Andi adalah salah satu karyawan di tempat dimana orang tua Dini bekerja. Andi anak rantau dari seberang Pulau sana. Budaya pacaran memang sudah menjamur di kalangan Muda – Mudi saat ini, tak hanya orang Dewasa, anak – anakpun sudah mengenal budaya seperti itu. Seolah Pacaran menjadi Wajib di kalangan anak muda.

Kehangatan dalam Lingkaran Cinta

Kehangatan dalam Lingkaran Cinta
Oleh : Amin Nur Kholis

Setiap pekan Rindu bersua terobati
Bertemu dalam Lingkaran Cinta bernama Halaqah
Ia tak hanya sebuah perkumpulan
Tak hanya sebuah komunitas
Kita dipertemukan dengan Cinta-Nya
Terikat dalam Cintanya
Bahagia ketika kembali bersama...
Setiap pekan bersama mereka..
Kekuatan cinta-Nya begitu terasa..
Waktu terus berjalan dengan Ritme dalam Nada
Ketika semangat membara
Kekuatan cinta-Nya menguatkan tekad
Mendamaikan hati..
Tuk tetap berjalan dalam Ridho-Nya...
Bersama Murrabi dan juga sahabat lingkaran..
Sempat berfikir tuk pergi saat kejenuhan menyapa
Kejenuhan akan ritme dalam pertemuan..
Nada dalam kebersamaan..
Sehingga kelemahan hatipun tak dapat di elakan
Namun dengan Cinta-Nya
Mampu merubah segalanya
Ketika lemah menyapa
Ketika kejenuhan melanda
Cinta-Nya Menyadarkan diri ketika kita berjalan sendiri
Akankah kita sanggup menapaki jalan ini
Dalam Lingkaran cinta inilah kekuatan kita
Kekuatan cinta-Nya yang tak kan pernah pudar
Penajam, 15 Agustus 2015

Adakah Rindu Untukku?

Adakah Rindu Untukku?
Oleh : ~Amin Nur Kholis

Sudah hampir habis waktuku
Dengan hitungan jari,
Hariku kan berakhir disini
Aku harus kembali kesana
Tempat dimana kumengais rezeki dari-Nya
Namun, sekian lama kudisini
Adakah yang disana merindukanku?
Mengharapkanku kembali?
Entahlah, semua itu tak penting
Apakah mereka merindukanku
Mengharapkanku kembali
Itu tak lagi penting bagiku
diri ini cukup tahu
Tak pantas tuk di rindu
Tak pantas tuk diharap kembali
Setelah sekian lama pergi
Tanpa untaian kata
Hanya tuk sekedar bertanya kabar
Pun tak ku dengar
Hanya segelintir diantara mereka
Yang mengutarakannya
Semua tak seperti dulu
Saat kupulang dulu
Namun, itulah realita yang nampak di depan mata
aku akan tetap kembali
tuk mengepakan sayap
Mengais kepingan karunia-Nya
Kembali tuk kedua orang tuaku
Yang pasti lebih merindukanku
Ku ucapkan terimakasih untuk kalian yang masih memperhatikanku
Walau hanya sekedar bertanya tentang kabar
Terimakasih untuk semuanya
Yang masih mau menerimaku nanti
Sepulangku dari sini
Walau hubungan kita tak seharmonis dulu
Namun, kalian bagian dari kehidupanku disana
Salebu, 08 september 2015

Kampung Halaman

Kampung Halaman
Oleh : Amin Nur Kholis
Ketika kita jauh dari sana
Kampung halaman kita
Rindu tuk pulang selalu menyapa
Dikala sepi, sunyi selalu menghampiri
Terbayang keindahan kampung halaman
Disana kita lahir dan di rawat
Menjalani cerita masa indah waktu kecil
melewati lorong-lorong kehidupan
Mengukir cerita,
Menjalani lika liku kehidupan
Menghabiskan masa kecil dalam keceriaan disana
Masa remaja yang penuh warna
Kita habiskan di kampung kita
Namun Ketika dewasa,
Ketika tuntutan kebutuhan harus terpenuhi
Prospek kehidupan kampung yang tak memungkinkan
Memaksa diri untuk pergi meninggalkannya
Meninggalkan kampung halaman
Tuk mencari Rizki-Nya
Bukankah Kita di anjurkan untuk Berhijrah?
Ya, berhijrah untuk menjadi lebih baik
Seperti halnya meninggalkan kampung halaman
Tukmencari Rizki di tempat lain
Pergi ke tanah rantau
Menapakai jalan baru
Berjumpa dengan mereka orang-orang baru
Memaksa kita tuk mampu beradaptasi
Bersama mereka manusia penghuni bumi rantau
Penajam, 21 Agustus 2015

Aku Bukan Dia

AKU BUKAN DIA
OLEH : Amin Nur Kholis
kawan, cerita kita kini tinggal kenangan
Menjadi puing puing tentang persahabatan
Tak ada lagi kehangatan
Yang ada hanya kerinduan
Kawan, entah mengapa cerita kita berubah
Akukah yang salah?
akukah yang memulai?
Akukah yang membakar tiang persahabatan kita
Hingga kini yang tersisa tinggal puing puing kenangan
Tapi kawan, mengapa tak ada yang menegurku
Tak ada yang meluruskanku
Aku di biarkan sendiri disini
Memikirkan tentang kelanjutan jalinan ini
Kalian pergi, jauh dari sisiku
Hingga tak lagi dapat ku jabat tanganmu
Jikapun kujabat tanganmu
Dingin yang kurasa
Tak ada kehangatan seperti dulu
Kawan, aku sadar, dia lebih dari diriku
kehangatan yang ia beri untuk kalian
Sedangkan aku, api yang selalu ku kobarkan ditengah kalian
Kalian selalu menuntut diriku
Untuk menjadi seperti dirinya
Aku tak sanggup kawan jika itu yang kalian pinta
bukankah dulu ketulusan yang kalian beri, kehangatan yang kalian semai
Kawan, aku bukan dia
Dan tak kan ku bisa seperti dia
Penajam, 28 September 2015