Minggu, 20 Desember 2015

Terima Kasih


Terima Kasih
Oleh : Amin Nur Kholis
Aku ingin ungkapkan terima kasih. Ungkap segala isi hati. Kepadamu yang kini telah merubah gulita menjadi memesona. Gulita yang tak lagi menakutkan. Dengan pancaran sinarmu yang hanya setitik. Namun cukup menerangi segala ruang di hati. Rongga hati yang selama ini menutup, kini mulai melepaskan jerat belenggu. Mencoba menepis segala deru yang menyapa. Ombak yang menghadang.


Kelu!
Selalu lidah ini tak mampu melafalkan kata yang sedari tadi sudah tersusun, Rapi. Hanya tinggal menuangkannya. Tapi, kelu selalu menyekat bibir. Lantas, bagaimana hendak ku utarakan rasa ini? Mengucap terima kasih padamu? Jika lidah ini tetap kelu. Kelu ini, apakah karena otaku terlalu banyak berpikir? Ia selalu membawaku ke dalam pikiran dan membuat sebuah tanya, "Apakah ia mau menerima ucapan terima kasihku? Dan apakah aku terlalu berlebihan jika ingin ku utarakan isi hatiku.'' Entahlah! Mungkin jika ada sepasang mata yang melihat tulisan ini, lalu bibir komat kamit membacanya. Otak akan berfikir, "Lebay amat sih, mau bilang terima kasih ya ungkapin saja. Nggak usah di dramatisir gitu." Mungkin. Atau bahkan akan ada yang berfikiran seperti ini, "Seberapa special sih orang itu? Sampai mengucap terima kasih saja sampai segitunya." Ada juga yang beranggapan, "Ia adalah rasa cinta". Karena tak mungkin bila rasa yang biasa sulit tuk di ungkap. Kecuali rasa Cinta. Lima deret huruf yang mudah ditulis, namun sulit tuk diungkap. Bila tak mendapat waktu yang tepat. Mungkin memang ia, ini rasa cinta yang sebenarnya diri ini pun tak tahu. Apakah itu? Cinta! Bukankah ia memiliki makna yang luas? Tak hanya sebatas cinta pada lawan jenis. Ada cinta yang lebih dari sekedar cinta pada dia si lawan jenis. Cinta pada orang tua, sahabat, juga kepada siapa saja yang ada di sekitar kita, contohnya. Lantas, apa yang menghalangi tuk ungkap itu semua? Malu! Ya, malu dan takut yang selalu dirasa. Takut jika si penerima ungkapan terima kasih menafsirkan lain. Apalagi mendengar kata cinta. Ah, entahlah. Biarkan kata terima kasih itu tetap tersimpan dalam hati. Rangkai saja ia dalam goresan pena. Dalam kata yang disusun keypad dalam ponsel. Atau keyboard pada laptop. (: ~Penajam, 16 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar