Minggu, 20 Desember 2015

Kupikir Tak Ada Lagi

Kupikir Tak Ada Lagi

Oleh : Amin Nur Kholis

Kupikir tak ada lagi bintang di langit. Berkerlip membias cahaya. Hingga gulita tak lagi pekat. Indahnya malam yang dulu pernah hadir, tak seindah malam-malam yang kini sedang mampir. Sesak, sumpeg, rasanya dunia ini. Cahaya bintang yang dulu sempat mengisi malam-malamku, tak lagi memancarkan cahayanya. Mereka sepertinya lelah, dengan sikapku yang tak lagi mampu mengerti mereka. Aku selalu memaksa ia tuk terus bercahaya, meski aku tahu, ia butuh istirahat. Aku tak pernah memikirkan hal itu. Aku tak pernah mau bila kerlip bintang benar-benar menghilang.
Waktu terus bergulir. Memudarnya cahaya bintangpun semakin nampak. Gulita semakin pekat. Pandangan mulai kabur. Pikiran tak lagi menjernih, debur prasangka terus menggerogoti. Namun di balik semua itu, ada satu bintang yang selalu berkerlip. Cahayanya tak pernah pudar, ia juga tak fokus menyinari satu titik. Segala apa yang nampak, ia terangi. Bahkan hingga ke sudut-sudut yang tak mungkin terjamah. Sayangnya selama ini aku tak pernah merasakan hadirnya. walau ia sangat dekat. Aku hanya terfokus pada banyaknya bintang yang memudar, hingga hadirnya satu bintang itu tak pernah kurasai.

Pikiranku terkuras, hanya memperdulikan bintang yang banyak itu. Tenagaku habis, hanya menghiraukan memudarnya cahaya itu. Perlahan lelah menghampiri, melambai memanggilku.
''Hei kamu, sudahlah tak usah kau pikirkan lagi bintaang yang pergi itu. Coba tengok, sejenak saja. Masih ada satu bintang yang bercahaya. Kerlipnya selalu menghias. Mencipta terang dalam gulita.'' bisikan itu selalu menggaung di telinga. Namun aku tak pernah menghiraukannya. Selalu saja banyaknya cahaya yang dulu pernah bersinar, dan kini telah memudar, menguasai pikiranku.
Hanya sebait do'a yang dapat teruntai. Segenggam terimakasih yang dapat tersemai. Padamu bintang, yang kini mencipta warna baru dalam cerita. Yang mampu mengalihkan segenap pikiran agar tak lagi berfokus pada memudarnya bintang yang lain. Yang mampu menyingkap tabir yang selama ini menutup rongga hati. Tak banyak pintaku padamu, teruslah bersinar, berikan kerlipmu walau hanya setitik. Kan kujaga bias cahayamu agar tak ikut memudar, terbungkus kepercayaan. Dan hanya satu pintaku pada Tuhan, semoga Dia senantiasa memberkahi hidupmu, membersamai dalam setiap langkahmu. Maaf, selama ini tak pernah menghiraukanmu. Pura-pura tak melihatmu, padahal kau dekat.
Perlahan lelah itu berhasil mengusik keegoisanku. Tembok ketidakpeduliankupun retak. Debur prasangka mulai meredam. Kuberanikan tuk menengok satu bintang itu. Kucoba membuka gerbang hati tuk menyambut biasnya. Sejuk, damai, tentram, perlahan menggelayut. Cahaya bintangpun semakin jelas pancarannya. ''Ternyata, masih ada bintang yang berkenan membiaskan cahayanya. Berkenan menerima segala kekurangan Yang menghias diri.'' Hati bergumam.
~Penajam,14 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar