Anak Mamak!
Oleh
: OWOP#3
#CanberraEuy!
#NewEra
“Hei,
sudah dengar kabar terbaru?” tanya Rasyid tiba-tiba sambil meninju ringan
lenganku.
“Ada apa? Baru saja aku masuk kelas,
mana tahu ada berita.”
“Elli anak PMR. Dia tewas!”
“Eh, kau serius? Kapan kejadiannya?
Bagaimana ceritanya?” cecarku.
“Tidak ada yang tahu. Jasadnya
ditemukan di tengah lapangan basket oleh penjaga sekolah pagi ini. Perutnya
ditikam belati,” balas Rasyid.
“Memangnya tidak ada yang melihat
kejadiannya atau apa gitu?” tanyaku lagi.
“Kata temen sekelasnya sih, malam
sebelumnya Elli ada rapat malam. Sampai pukul delapan malam pun dia masih
ngobrol di grup WA satu kelasnya.”
“Rapat apa memang?”
“Katanya sih rapat PMR. Tapi pas
ketua PMR-nya ditanyain, dianya malah gak tau kalau ada rapat. Aneh, kan?”
Aku hanya menghela napas dalam.
“Eh, berarti ini jadi korban keempat,
ya?” bisik Rasyid.
Sekali lagi, aku hanya menghela
napas.
***
Aku Keizel, siswa kelas dua di sebuah
SMA ternama di kota yang asri dan cukup padat. Sebenarnya kehidupan SMAku biasa
saja, sampai sebulan yang lalu, ketua OSIS kami menerima surat ancaman mengenai
pembunuhan berantai di SMA kami. Awalnya kami kira hal tersebut hanya bercanda.
Tapi nyatanya, sekarang sudah korban keempat. Sebagai wakil ketua OSIS, mau tak
mau aku punya tanggung jawab besar dalam tragedi ini.
Seminggu kemudian, ada suatu kejadian
yang tak biasanya di Kelas 10. Yaitu salah satu bangku dan meja berada di luar
kelas. Satpam yang bertugas jaga malam dan OB yang biasa membersihkan kelas pun
tidak merasa memindahkan meja dan kursi tersebut. Dan ketika aku tahu, meja dan
kursi itu yang biasa aku duduki di kelasku. Tapi pagi ini bisa berpindah di
depan Kelas 10.
Aku cukup bingung dengan berbagai
peristiwa ini. Empat siswa yang tewas dengan cara berbeda-beda secara beruntun
masing-masing di hari Jumat, surat ancaman itu, kursi dan meja yang berada di
luar. Bahkan bukan aku saja, seisi sekolah dibuat pusing dan takut karena itu
semua. Hingga akhirnya, beberapa siswi mulai ketakutan jika menjelang hari
Jumat, hari di mana sekolah secara sekaligus menjadwalkan kegiatan
ekstrakurikuler hingga malam.
Jane, ketua OSIS kami juga memiliki
kekhawatiran yang sama, namun aku rasa ia cukup tangguh. Sikapnya yang kalem
berwibawa, ditemani kawan karibnya, Merlin si sekretaris OSIS kami yang suka
teka-teki dan pengagum Detective Conan, mereka berusaha memecahkan persoalan
ini. Aku? Jelas saja mesti bergabung, tak ada yang cukup berani selain kami,
maka kami bertiga membuat geng bernama,
“3 Ikan Buntal”
Terinspirasi dari geng dalam salah
satu serial Anak Mamak karya Tere Liye, tentu saja beliau penulis kegemaran
Jane. Aku hanya mengiyakan ide geng dan namanya itu. Sebenarnya aku geli, ikan
buntal? Yang benar saja.
Katanya, dengan nama itu, berharap
kami bisa menggigit si pelaku atas semua kejadian aneh ini.
Kami, 3 Ikan Buntal pun, mulai
beraksi. Awal penyelidikan kami mulai dari surat berantai yang pernah
dikirimkan ke salah satu korban. Aku mencari satu demi satu surat yang pernah
diterima para korban. Sejujurnya ada rasa takut yang kurasa. Tapi, aku tak bisa
jika hanya diam termangu. Toh ini untuk masa depan sekolahku juga, bukan?
Satu pesan telah kuperoleh, dan
isinya bisa membuat tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana bisa surat berantai
berisi undangan nonton sirkus. Alamak, bagaimana bisa mereka menerima ajakan
dari surat ini tanpa rasa curiga sedikitpun? Rasanya semuanya di luar dugaan.
Kukira surat ini berisi ancaman, atau sejenisnya. Ternyata…
Suratnya memang berisi ancaman. Surat
ini mengancam kami, jika tidak datang tepat waktu ke Pasar Malam yang ramai
diadakan setiap Malam Jumat pekan kedua dan keempat di lapangan dekat Alun-Alun
Kota, akan menerima sebuah ‘ganjaran’.
Yang kuheran, mengapa sampai keempat
korban meninggal tersebut memberanikan diri untuk datang sendiri ke sana.
Padahal, jam yang diberitahukanpun tidaklah wajar. Masa siswa disuruh datang
tepat pukul 12 malam, malam sebelum Pasar Malam itu dibuka.
Usut punya usut, sebelum kematian
keempat siswa itu, sehari sebelum mereka meninggal, bangku dan kursi yang biasa
mereka gunakan, mendadak berpindah tempat. Aku lalu teringat meja dan bangku
yang biasa kugunakan di kelas, lalu berpindah tempat.
Mendadak, aku langsung mual. Aku
yakin sekali jika bercermin saat ini, pasti wajahku pucah pasi. Angin pun
terasa kian dingin meniup leherku yang sudah basah oleh keringat.
Aku segera melipat surat itu, dan
memasukkannya ke kantong.
“Buuuk!!”
Aku tersadar. Leherku sakit sekali.
Seperti baru ada truk menabrak tepat di leher. Ruangannya gelap. Lembab. Hanya
ada cahaya dari ventilasi. Tanganku terikat digantung. Kakiku sedikit menyentuh
lantai yang basah, tapi lengket. Telingaku seperti menangkap suara manusia.
Tapi sangat pelan.
“Siapa itu? Dimana aku?” Ucapku lemas
“Ke-kei-keizel… Kamu kah itu?”
Suara yang sama-sama saling mengenal,
bertemu dalam satu ruangan yang asing. Dan aku sangat mengenal suara itu. Suara
yang telah lama hilang dari sekolah.
Suara itu semakin jelas terdengar.
Bulu kudukku berdiri. Merinding. Kini terdengar langkah kaki terseok. Semakin
dekat. Rasa takut semakin mencekam. Keringat semakin tebal membasahi. Sesekali
kuusap peluh di wajahku.
Aku mencoba untuk berlari, keluar dari
ruangan ini. Namun kakiku seperti ada yang menahan. Sementara suara itu semakin
mendekat.
“Mak! Tolongin aye, Mak! Aye belum
mau mati, Mak.”
Tiba-tiba aku teringat ibuku. Ya,
tadi sebelum aku melaksanakan misi pencarian ini, aku belum pamitan padanya. Karena
terburu-buru, jadi aku langsung saja pergi sehabis makan malam.
Biasanya kalau aku pergi tanpa pamit
begini, Mamak bakal mencariku sampai ketemu. Mamak takut kalau terjadi apa-apa
denganku.
“Opo le?”
Terdengar suara di luar. Dan suara
itu tak asing di telingaku. Langkah kaki semakin mendekat. Dan langkah kaki itu
sepertinya aku kenal.
“Ah, gak mungkin itu Mamak.
Malam-malam begini ngapain Mamak di sini?”
Semakin dekat. Rasa takut semakin
mencekam. Aku merasakan ada kehangatan di bagian bawah tubuhku. Ku coba meraba
celanaku. Basah!
“Le… Kemari Le!”
Entah
bagaimana, rasa curigaku seakan begitu kuat. Maka, seiring dengan langkah kaki
yang kian dekat, aku mencari tempat persembunyian di ruangan ini.
“Kei, ke sini!” suara yang dulu kerap
memarahiku, Jane, dan Merlin jika kami malas sekali mengerjakan tugas Kimia
tentang Tabel Periodik. Al. Aku mengikuti arah suara Al. Ia berada di bawah
meja yang ditutup kain.
Anyir. Ruangan ini begitu anyir.
Basah di celanaku ini, sedetik lalu sempat kusangka aku mengompol. Tapi ini
bukan bau pesing. Bau cairan lengket ini membawaku pada peristiwa beberapa
bulan lalu saat aku ditonjok oleh….Al. Al saat itu marah. Dia kira, aku
berkencan dengan Jane. Madirabbit!
“Apa yang kaulakukan di sini, Al?”
bisikku sehalus dan sepelan mungkin.
“Ssstttt….kau tidak akan mau tahu,
Kei!” jawabnya dengan suara yang setingkat dengan suaraku tadi.
Cahaya memasuki ruangan, seiring
suara berderit pintu dibuka.
“Le….di mana kau?” suara Mamak. Aku
menganga. Apa yang ia lakukan di sini.
Suara serta kecipak langkah kakinya
pada lantai…..berdarah ini berhasil menyihirku menjadi patung. Mamaku ini
siapanya Medusa sih?
“Baiklah, Le, jika kau belum mau
muncul, tidak apa. Ini kubawakan makan malam untuk kalian bertiga Sampai
bertemu di Hari Persembahan, Anak-anakku…” dan begitulah cahaya pergi, pintu
kembali berderit dan menutup.
“Al?” suara seorang perempuan dari
ujung lain ruangan. Aku kenal suara itu. Suara yang kerap berteriak “Siap,
Grak!” Dahlia. Ketua Ekstrakulikuler Paskibra. Ia dikabarkan hilang beberapa
pekan lalu.
“Yes, Dah?” jawab Al kemudian.
“Apa yan kalian berdua lakukan di
sini?” aku bertanya kembali.
“Apa kaubertemu Elli di luar sana,
Kei?” balas Dahlia dari kejauhan dengan pertanyaan lain.
“Tidak, Dah. Maksudku…ya. Tapi tidak
dalam keadaan bernyawa. Penjaga sekolah menemukan jasadnya di lapangan basket.”
“Bagian mana yang ditikam, Kei?” kali
ini Al, yang berada di sebelahku, melontarkan pertanyaan yang berhasil
membuatku terbelalak, lagi.
“Per..ut..bagaimana kautahu?”
“Sudah kukatakan, Al! Hahaha. Aku
menang. Elli bertubuh ideal, ususnya pasti sehat,” sahut Dahlia lagi dengan
ringan.
“Ya, tapi, aku bertaruh untuk
ginjalnya. Kaupikir, jika perutnya yang ditikam, hanya perkara usus?”
Aku mengernyit. Suara mereka yang
sahut menyahut memudar. Usus, ginjal, tikaman. Suara Mamakku. Hari Persembahan.
“Jane?” suaraku menyela mereka. “Ada
apa dengan Jane?” Nama itu menyangkut pada obrolan mereka.
“Oh sebentar. Jane adalah ketua, dan
kau adalah wakilnya. Lalu, apa yang kaulakukan di sini, Kei? Demi Tuhan!”
Dahlia setengah berteriak.
“Aku tak tahu apa-apa, Dah….”
“Jane, Kei, entah bagaimana bisa
rutin ada di bangunan ini.”
“Bagaimana kautahu, Al? Ruangan ini
saja gelap gulita.”
Dahlia dan Al tertawa bersamaan.
“Telinga kami tak bisa dibohongi, Keizel. Bagaimana mungkin kau tidak mengenali
suara ketua OSISmu sendiri, sementara ia adalah yang paling sering mengumumkan
ini itu di sekolah? Kau lupa betapa jeniusnya aku?” Al terkekeh di ujung
pidatonya.
“Dan angkuh, Al,” kali ini Dahlia
yang terkekeh. Aku pun ikut terkekeh tanda setuju.
“Oh dan bagaimana dengan ketiga orang
lainnya, Kei? Banu….si kapten basket itu? Lalu siapa lagi, Al? Aku lupa. Yang
dulu sangat ketakutan sampai mengompol.”
“Indra, Dah. Dia menaksirmu
mati-matian bukan? Malangnya, harus bertemu dengan pujaan hati dalam keadaan
menyedihkan ini,” ujar Al, lalu tertawa.
Aku dapat merasakan Dahlia mengernyit
kesal di ujung sana. “Satu lagi…..si Mayoret itu…hmmm….”
“Pita…” jawabku dengan suara tercekat.
“Nah dia. Kau bertemu mereka?”
“Tidak setelah mereka ditemukan tak
bernyawa di lapangan basket dengan tikaman di tubuh mereka.”
“Good jokes, Kei. Ironis. Banu
ditemukan di arena di mana ia menjadi raja,” Al berkata dengan suara lirih di
sampingku.
“Jika ketiga orang itu ditikam, maka
mengapa kalian yang menghilang dari sekolah jauh sebelum mereka, masih berada
di sini?” tanyaku menoleh pada Al, meski kutahu, aku tak akan mungkin
melihatnya.
“Kau akan tahu, Kei,” jawab Dahlia
dan Al bersamaan.
“Baiklah,
Anak-anakku, tiba waktunya…..Hari Persembahan,” suara Mamak lagi. Aku benci
setengah mati mendengar suaranya dalam keadaan seperti ini.
Kami pun diangkat. Parfum beraroma
vanili kesukaan Jane menyapa penciumanku. Sialan! Ada apa ini? Mengapa aku
mendadak membisu? Apa yang terjadi malam tadi? Tuhan…..ada apa?
Aku melihat tubuh Dahlia dan Al yang
juga diangkat ke atas kursi roda. Aku pun. Cahaya ini, bagaimanapun terangnya,
tetap terasa menyesakkan.
Sepertinya Jane bertugas mendorong
kursi roda Dahlia. Tangannya terkulai lemas di samping. Ia menoleh padaku. Aku
kaget minta ampun! Mata kirinya tak kutemuan. Hilang.
Aku ingat! Aku ingat, Tuhan! Beberapa
bulan lalu, gantungan kunci mobil Mamak berupa mata dikeraskan. Saat kutanya,
“Mata siapa pula ini, Mak?”
Mamak menjawab sembari terkekeh,
“Pasienku,” aku pun ikut tertawa. Karena kutahu, Mamak gemar sekali bercanda
begitu….
Jane mendorong Dahlia mendahuluiku.
Aku mengerjapkan mata mencari Al. Di samping kiri, Al juga sama terkulainya.
Sekujur tubuhnya terluka parah. Seakan telah dikuliti….oh ya ampun! Mamak! Apa
yang kaulakukan?
Beberapa pekan lalu, Mamak pulang
membawa tas baru. Lalu aku pun bertanya, “Kulit apalagi kali ini, Mak?”
Dengan sama berguraunya pada
gantungan mata itu, ia pun menjawab, “Pasienku!” kami pun terbahak bersama.
Seseorang yang tidak kukenal
mendorong Al menjauhiku.
“Apa kau ingat berapa banyak
pertanyaanmu yang kujawab dengan ‘Pasienku!’, Le?” suara Mamak membisik di
telingaku.
Aku mual sekali. Bumi seakan berputar
di bawah kakiku. Aku bahkan hampir lupa kapan Mamak tak menjawab dengan,
“Pasienku!”
~Canberra atau Cerita Aneh Berrantai adalah sebuah
permainan menyambung cerita yang biasa saya dan komunitas saya adakan, One Week
One Paper 3.
Malam
Minggu kemarin, 12 Desember 2015, kami pun bermain lagi. Kali ini yang terlibat
adalah:
(Sesuai Urutan Menulis)
Suhail Syaiful,
Kenti Lestari,
Wayan Ayu,
Amin N. Kh,
Nica,
dan Hafidh Wahyu Purnomo sebagai penulis alinea pancingan.~
(Sesuai Urutan Menulis)
Suhail Syaiful,
Kenti Lestari,
Wayan Ayu,
Amin N. Kh,
Nica,
dan Hafidh Wahyu Purnomo sebagai penulis alinea pancingan.~
~Rumah OWOP#3, 12 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar