Minggu, 20 Desember 2015

Anak Mamak!

Anak Mamak!

Oleh : OWOP#3

#CanberraEuy!
#NewEra

“Hei, sudah dengar kabar terbaru?” tanya Rasyid tiba-tiba sambil meninju ringan lenganku.
“Ada apa? Baru saja aku masuk kelas, mana tahu ada berita.”
“Elli anak PMR. Dia tewas!”
“Eh, kau serius? Kapan kejadiannya? Bagaimana ceritanya?” cecarku.
“Tidak ada yang tahu. Jasadnya ditemukan di tengah lapangan basket oleh penjaga sekolah pagi ini. Perutnya ditikam belati,” balas Rasyid.
“Memangnya tidak ada yang melihat kejadiannya atau apa gitu?” tanyaku lagi.
“Kata temen sekelasnya sih, malam sebelumnya Elli ada rapat malam. Sampai pukul delapan malam pun dia masih ngobrol di grup WA satu kelasnya.”
“Rapat apa memang?”
“Katanya sih rapat PMR. Tapi pas ketua PMR-nya ditanyain, dianya malah gak tau kalau ada rapat. Aneh, kan?”
Aku hanya menghela napas dalam.
“Eh, berarti ini jadi korban keempat, ya?” bisik Rasyid.
Sekali lagi, aku hanya menghela napas.
***

Aku Keizel, siswa kelas dua di sebuah SMA ternama di kota yang asri dan cukup padat. Sebenarnya kehidupan SMAku biasa saja, sampai sebulan yang lalu, ketua OSIS kami menerima surat ancaman mengenai pembunuhan berantai di SMA kami. Awalnya kami kira hal tersebut hanya bercanda. Tapi nyatanya, sekarang sudah korban keempat. Sebagai wakil ketua OSIS, mau tak mau aku punya tanggung jawab besar dalam tragedi ini.
Seminggu kemudian, ada suatu kejadian yang tak biasanya di Kelas 10. Yaitu salah satu bangku dan meja berada di luar kelas. Satpam yang bertugas jaga malam dan OB yang biasa membersihkan kelas pun tidak merasa memindahkan meja dan kursi tersebut. Dan ketika aku tahu, meja dan kursi itu yang biasa aku duduki di kelasku. Tapi pagi ini bisa berpindah di depan Kelas 10.
Aku cukup bingung dengan berbagai peristiwa ini. Empat siswa yang tewas dengan cara berbeda-beda secara beruntun masing-masing di hari Jumat, surat ancaman itu, kursi dan meja yang berada di luar. Bahkan bukan aku saja, seisi sekolah dibuat pusing dan takut karena itu semua. Hingga akhirnya, beberapa siswi mulai ketakutan jika menjelang hari Jumat, hari di mana sekolah secara sekaligus menjadwalkan kegiatan ekstrakurikuler hingga malam.
Jane, ketua OSIS kami juga memiliki kekhawatiran yang sama, namun aku rasa ia cukup tangguh. Sikapnya yang kalem berwibawa, ditemani kawan karibnya, Merlin si sekretaris OSIS kami yang suka teka-teki dan pengagum Detective Conan, mereka berusaha memecahkan persoalan ini. Aku? Jelas saja mesti bergabung, tak ada yang cukup berani selain kami, maka kami bertiga membuat geng bernama,
“3 Ikan Buntal”
Terinspirasi dari geng dalam salah satu serial Anak Mamak karya Tere Liye, tentu saja beliau penulis kegemaran Jane. Aku hanya mengiyakan ide geng dan namanya itu. Sebenarnya aku geli, ikan buntal? Yang benar saja.
Katanya, dengan nama itu, berharap kami bisa menggigit si pelaku atas semua kejadian aneh ini.
Kami, 3 Ikan Buntal pun, mulai beraksi. Awal penyelidikan kami mulai dari surat berantai yang pernah dikirimkan ke salah satu korban. Aku mencari satu demi satu surat yang pernah diterima para korban. Sejujurnya ada rasa takut yang kurasa. Tapi, aku tak bisa jika hanya diam termangu. Toh ini untuk masa depan sekolahku juga, bukan?
Satu pesan telah kuperoleh, dan isinya bisa membuat tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana bisa surat berantai berisi undangan nonton sirkus. Alamak, bagaimana bisa mereka menerima ajakan dari surat ini tanpa rasa curiga sedikitpun? Rasanya semuanya di luar dugaan. Kukira surat ini berisi ancaman, atau sejenisnya. Ternyata…
Suratnya memang berisi ancaman. Surat ini mengancam kami, jika tidak datang tepat waktu ke Pasar Malam yang ramai diadakan setiap Malam Jumat pekan kedua dan keempat di lapangan dekat Alun-Alun Kota, akan menerima sebuah ‘ganjaran’.
Yang kuheran, mengapa sampai keempat korban meninggal tersebut memberanikan diri untuk datang sendiri ke sana. Padahal, jam yang diberitahukanpun tidaklah wajar. Masa siswa disuruh datang tepat pukul 12 malam, malam sebelum Pasar Malam itu dibuka.
Usut punya usut, sebelum kematian keempat siswa itu, sehari sebelum mereka meninggal, bangku dan kursi yang biasa mereka gunakan, mendadak berpindah tempat. Aku lalu teringat meja dan bangku yang biasa kugunakan di kelas, lalu berpindah tempat.
Mendadak, aku langsung mual. Aku yakin sekali jika bercermin saat ini, pasti wajahku pucah pasi. Angin pun terasa kian dingin meniup leherku yang sudah basah oleh keringat.
Aku segera melipat surat itu, dan memasukkannya ke kantong.
“Buuuk!!”
Aku tersadar. Leherku sakit sekali. Seperti baru ada truk menabrak tepat di leher. Ruangannya gelap. Lembab. Hanya ada cahaya dari ventilasi. Tanganku terikat digantung. Kakiku sedikit menyentuh lantai yang basah, tapi lengket. Telingaku seperti menangkap suara manusia. Tapi sangat pelan.
“Siapa itu? Dimana aku?” Ucapku lemas
“Ke-kei-keizel… Kamu kah itu?”
Suara yang sama-sama saling mengenal, bertemu dalam satu ruangan yang asing. Dan aku sangat mengenal suara itu. Suara yang telah lama hilang dari sekolah.
Suara itu semakin jelas terdengar. Bulu kudukku berdiri. Merinding. Kini terdengar langkah kaki terseok. Semakin dekat. Rasa takut semakin mencekam. Keringat semakin tebal membasahi. Sesekali kuusap peluh di wajahku.
Aku mencoba untuk berlari, keluar dari ruangan ini. Namun kakiku seperti ada yang menahan. Sementara suara itu semakin mendekat.
“Mak! Tolongin aye, Mak! Aye belum mau mati, Mak.”
Tiba-tiba aku teringat ibuku. Ya, tadi sebelum aku melaksanakan misi pencarian ini, aku belum pamitan padanya. Karena terburu-buru, jadi aku langsung saja pergi sehabis makan malam.
Biasanya kalau aku pergi tanpa pamit begini, Mamak bakal mencariku sampai ketemu. Mamak takut kalau terjadi apa-apa denganku.
“Opo le?”
Terdengar suara di luar. Dan suara itu tak asing di telingaku. Langkah kaki semakin mendekat. Dan langkah kaki itu sepertinya aku kenal.
“Ah, gak mungkin itu Mamak. Malam-malam begini ngapain Mamak di sini?”
Semakin dekat. Rasa takut semakin mencekam. Aku merasakan ada kehangatan di bagian bawah tubuhku. Ku coba meraba celanaku. Basah!
“Le… Kemari Le!”
Entah bagaimana, rasa curigaku seakan begitu kuat. Maka, seiring dengan langkah kaki yang kian dekat, aku mencari tempat persembunyian di ruangan ini.
“Kei, ke sini!” suara yang dulu kerap memarahiku, Jane, dan Merlin jika kami malas sekali mengerjakan tugas Kimia tentang Tabel Periodik. Al. Aku mengikuti arah suara Al. Ia berada di bawah meja yang ditutup kain.
Anyir. Ruangan ini begitu anyir. Basah di celanaku ini, sedetik lalu sempat kusangka aku mengompol. Tapi ini bukan bau pesing. Bau cairan lengket ini membawaku pada peristiwa beberapa bulan lalu saat aku ditonjok oleh….Al. Al saat itu marah. Dia kira, aku berkencan dengan Jane. Madirabbit!
“Apa yang kaulakukan di sini, Al?” bisikku sehalus dan sepelan mungkin.
“Ssstttt….kau tidak akan mau tahu, Kei!” jawabnya dengan suara yang setingkat dengan suaraku tadi.
Cahaya memasuki ruangan, seiring suara berderit pintu dibuka.
“Le….di mana kau?” suara Mamak. Aku menganga. Apa yang ia lakukan di sini.
Suara serta kecipak langkah kakinya pada lantai…..berdarah ini berhasil menyihirku menjadi patung. Mamaku ini siapanya Medusa sih?
“Baiklah, Le, jika kau belum mau muncul, tidak apa. Ini kubawakan makan malam untuk kalian bertiga Sampai bertemu di Hari Persembahan, Anak-anakku…” dan begitulah cahaya pergi, pintu kembali berderit dan menutup.
“Al?” suara seorang perempuan dari ujung lain ruangan. Aku kenal suara itu. Suara yang kerap berteriak “Siap, Grak!” Dahlia. Ketua Ekstrakulikuler Paskibra. Ia dikabarkan hilang beberapa pekan lalu.
“Yes, Dah?” jawab Al kemudian.
“Apa yan kalian berdua lakukan di sini?” aku bertanya kembali.
“Apa kaubertemu Elli di luar sana, Kei?” balas Dahlia dari kejauhan dengan pertanyaan lain.
“Tidak, Dah. Maksudku…ya. Tapi tidak dalam keadaan bernyawa. Penjaga sekolah menemukan jasadnya di lapangan basket.”
“Bagian mana yang ditikam, Kei?” kali ini Al, yang berada di sebelahku, melontarkan pertanyaan yang berhasil membuatku terbelalak, lagi.
“Per..ut..bagaimana kautahu?”
“Sudah kukatakan, Al! Hahaha. Aku menang. Elli bertubuh ideal, ususnya pasti sehat,” sahut Dahlia lagi dengan ringan.
“Ya, tapi, aku bertaruh untuk ginjalnya. Kaupikir, jika perutnya yang ditikam, hanya perkara usus?”
Aku mengernyit. Suara mereka yang sahut menyahut memudar. Usus, ginjal, tikaman. Suara Mamakku. Hari Persembahan.
“Jane?” suaraku menyela mereka. “Ada apa dengan Jane?” Nama itu menyangkut pada obrolan mereka.
“Oh sebentar. Jane adalah ketua, dan kau adalah wakilnya. Lalu, apa yang kaulakukan di sini, Kei? Demi Tuhan!” Dahlia setengah berteriak.
“Aku tak tahu apa-apa, Dah….”
“Jane, Kei, entah bagaimana bisa rutin ada di bangunan ini.”
“Bagaimana kautahu, Al? Ruangan ini saja gelap gulita.”
Dahlia dan Al tertawa bersamaan. “Telinga kami tak bisa dibohongi, Keizel. Bagaimana mungkin kau tidak mengenali suara ketua OSISmu sendiri, sementara ia adalah yang paling sering mengumumkan ini itu di sekolah? Kau lupa betapa jeniusnya aku?” Al terkekeh di ujung pidatonya.
“Dan angkuh, Al,” kali ini Dahlia yang terkekeh. Aku pun ikut terkekeh tanda setuju.
“Oh dan bagaimana dengan ketiga orang lainnya, Kei? Banu….si kapten basket itu? Lalu siapa lagi, Al? Aku lupa. Yang dulu sangat ketakutan sampai mengompol.”
“Indra, Dah. Dia menaksirmu mati-matian bukan? Malangnya, harus bertemu dengan pujaan hati dalam keadaan menyedihkan ini,” ujar Al, lalu tertawa.
Aku dapat merasakan Dahlia mengernyit kesal di ujung sana. “Satu lagi…..si Mayoret itu…hmmm….”
“Pita…” jawabku dengan suara tercekat.
“Nah dia. Kau bertemu mereka?”
“Tidak setelah mereka ditemukan tak bernyawa di lapangan basket dengan tikaman di tubuh mereka.”
“Good jokes, Kei. Ironis. Banu ditemukan di arena di mana ia menjadi raja,” Al berkata dengan suara lirih di sampingku.
“Jika ketiga orang itu ditikam, maka mengapa kalian yang menghilang dari sekolah jauh sebelum mereka, masih berada di sini?” tanyaku menoleh pada Al, meski kutahu, aku tak akan mungkin melihatnya.
“Kau akan tahu, Kei,” jawab Dahlia dan Al bersamaan.
“Baiklah, Anak-anakku, tiba waktunya…..Hari Persembahan,” suara Mamak lagi. Aku benci setengah mati mendengar suaranya dalam keadaan seperti ini.
Kami pun diangkat. Parfum beraroma vanili kesukaan Jane menyapa penciumanku. Sialan! Ada apa ini? Mengapa aku mendadak membisu? Apa yang terjadi malam tadi? Tuhan…..ada apa?
Aku melihat tubuh Dahlia dan Al yang juga diangkat ke atas kursi roda. Aku pun. Cahaya ini, bagaimanapun terangnya, tetap terasa menyesakkan.
Sepertinya Jane bertugas mendorong kursi roda Dahlia. Tangannya terkulai lemas di samping. Ia menoleh padaku. Aku kaget minta ampun! Mata kirinya tak kutemuan. Hilang.
Aku ingat! Aku ingat, Tuhan! Beberapa bulan lalu, gantungan kunci mobil Mamak berupa mata dikeraskan. Saat kutanya, “Mata siapa pula ini, Mak?”
Mamak menjawab sembari terkekeh, “Pasienku,” aku pun ikut tertawa. Karena kutahu, Mamak gemar sekali bercanda begitu….
Jane mendorong Dahlia mendahuluiku. Aku mengerjapkan mata mencari Al. Di samping kiri, Al juga sama terkulainya. Sekujur tubuhnya terluka parah. Seakan telah dikuliti….oh ya ampun! Mamak! Apa yang kaulakukan?
Beberapa pekan lalu, Mamak pulang membawa tas baru. Lalu aku pun bertanya, “Kulit apalagi kali ini, Mak?”
Dengan sama berguraunya pada gantungan mata itu, ia pun menjawab, “Pasienku!” kami pun terbahak bersama.
Seseorang yang tidak kukenal mendorong Al menjauhiku.
“Apa kau ingat berapa banyak pertanyaanmu yang kujawab dengan ‘Pasienku!’, Le?” suara Mamak membisik di telingaku.
Aku mual sekali. Bumi seakan berputar di bawah kakiku. Aku bahkan hampir lupa kapan Mamak tak menjawab dengan, “Pasienku!”



~Canberra atau Cerita Aneh Berrantai adalah sebuah permainan menyambung cerita yang biasa saya dan komunitas saya adakan, One Week One Paper 3.
Malam Minggu kemarin, 12 Desember 2015, kami pun bermain lagi. Kali ini yang terlibat adalah:
(Sesuai Urutan Menulis)
Suhail Syaiful,
Kenti Lestari,
Wayan Ayu,
Amin N. Kh,
Nica,
dan Hafidh Wahyu Purnomo sebagai penulis alinea pancingan.~


~Rumah OWOP#3, 12 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar