Minggu, 20 Desember 2015

Sudahlah!


Sudahlah!
Oleh : Amin Nur Kholis
Mendung menghias senja. Rintik hujan sedikit membasahi. Tarikan gas semakin melaju. Menyusuri jalan yang biasa dilalui. Jalan yang menyisa ribuan kenangan. Tentang mereka. Hah, Mereka? Siapa mereka? Kucoba menerka siapa mereka? tak dapat ku raba bayangnya. Buram. Semakin laju putaran roda. Rintik mulai lelah. Tiba ku di satu titik. Pusat kenangan yang kini tinggal cerita. Kulihat kerumunan mereka. Tokoh dalam kenangan yang pernah merajut kisah. Denganku! Hah, denganku? Pernahkah? Ya, mereka yang sedari tadi kuraba, akan kelabunya. Kini nampak jelas di mataku. Deru canda juga gelak tawa, menghias kerumunan. Kehangatanpun nampak terlukis. ''Hei, kenapa kamu tak mengindahkan panggilannya? Kenapa kau hanya sunggingkan senyum pada mereka? Ikhlaskah kau taburkan senyum untuk mereka?'' bisikan yang entah dari mana datangnya, mengiang di telinga. Tanpa kabar ia menyapa. Hanya diam yang dapat kuberi. Tak kuhiraukan kerumunan itu, kutancap gas lebih laju. Senyum masih tersungging. Sekedar untuk menghibur. Bisikan itu terus menghantui. Sepanjang lorong senja, ia tak bosan membisik kata, ''Sudahlah!'' Aku tak mengerti, apa maksudnya. Berkali-kali bisikan itu mampir di telinga. Aku tak pernah menghiraukannya. Kali ini aku geram, apa sebenarnya maksudnya ia membisikan kata itu. ''Hei, kamu, apa maksudmu mengatakan sudahlah! Semudah itukah melupakan memori? Tentang kisah pelangi yang kadang kelabu menyapa.'' entah kepada siapa pertanyaan itu ku ajukan. Tak ada siapa-siapa di sini. Hanya aku dan gerimis berhias senja. ''Kamu bertanya apa maksudku?'' bisikan itu menjawab. ''Iya,'' jawabku. Masih tak ada siapapun. Hanya aku dan suara itu. ''Tak perlu kujelaskan padamu, sesungguhnya kau sudah paham apa maksudku!'' jawabnya pelan. Tertunduk wajah, menatap bumi yang ku pijak. Satu persatu butiran bening gugur. ''Sudahlah, bukankah kau bilang sudah mengikhlaskan semuanya? Bukankah kau selalu bilang, Tak kan lagi kau mengusik mereka.'' dekapnya hangat. Seolah dia tahu, dekapan hangat yang kuperlukan saat ini. Semakin tertunduk wajah ini, semakin banyak guguran air mata di pipi. Memaksaku tuk menjenguk Kisah lalu. Dia tetap mendekap, membisik. ''Sudahlah!'' Kucoba cari makna, dan kuraba, kapan aku mengucap kata itu. Ah, Kini aku ingat, kapan aku melafalkan kata itu. Sepanjang hari, sepanjang nafas menghela. Melafalkan tuk mendamaikan sekeping jiwa. Menepis segala rasa yang hinggap. Ketika berjumpa dengan mereka. Kerumunan yang kini tak lagi dapat ku menyusup. Menyelinap tuk sekedar memasang telinga. Mendengar setiap kisah yang mereka ceritakan. ''Sudahlah! Ikhlaskan cerita itu berlalu. Tak usah sesak menghantuimu, bila kembali kau jumpai kerumunan mereka. Tak hanya mereka manusia di dunia ini. Cintailah mereka tulus, tak usah harap balasan. Sayangilah mereka ikhlas, tak usah harap balasan. Dekap mereka dalam diam. Biarkan cerita melukis kisah baru.'' bisikan terakhir darinya. Ia lenyap bersama perginya senja. Damai menyapa bersama gelap malam yang menyapa. ~Penajam, 16 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar