Sabtu, 28 Mei 2016

Menikmati Senja

Menikmati Senja
~Malam Narasi OWOP#3~

Lala tengah bersiap menuju taman dengan setumpuk buku yang di jinjingnya. Bergegas gadis mungil yang gemar membaca ini menghampiri kakaknya, Dado yang sedang asyik menonton TV.
"Kak, ke taman yuk!" ajak Lala dengan sedikit memaksa.
Dado tak menghiraukan, Ia terus asyik dengan acara TV yang sedang di tontonnya. Dikibaskan tangan Lala yang berusaha menyeret Dado untuk ikut bersamanya.
"Kak, ayo! Mumpung masih sore, Kak. Pemandangan di taman pasti indah, Kak. Bukankah, Kakak suka senja?" Lala tak menyerah mengajak kakaknya itu untuk ikut bersamanya. Diseretnya kakaknya yang tubuhnya lebih besar darinya.

Minggu, 15 Mei 2016

Lagi

Lagi
~Malam Narasi OWOP#3~

'Astaghfirullah, udah Jam. 09.00, pagi ini kan aku ada janji sama Rini. Ah, pasti Rini bakal ngomel lagi nih!' Kutatap alarm di ponselku.
Entah kenapa ia terlambat berdering. Seharusnya Pukul. 08.00 tadi dia sudah berhasil membangunkanku. Tapi kali ini, dia membuatku kesal.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, segera aku meluncur ke kamar mandi. Menyegarkan badan dari lelah sisa semalam yang masih menggelayuti.
***

Sabtu, 14 Mei 2016

Hujan dan Pelangi

Hujan dan Pelangi
~I Tag You From Velin To Amin~

Hujan mulai menaburi, membasahi setiap yang ia temui. Seketika, ia mengantar lamunanku, menuju masa yang telah lalu.
''Hei, kemarilah!''
Sesosok suara memanggilku, entah dari mana ia berasal. Tak ada seorang pun yang kulihat. Hanya suara itu yang terdengar.
''Hei, kemarilah!'' seru suara itu kembali.
Kembali, kutatap hujan yang semakin menderas. Tak kuhiraukan suara yang sedari tadi mengusik.
Dari balik jendela kamar, kulihat dengan jelas betapa riangnya hujan yang berjatuhan, membasahi bumi yang mulai gersang.
Angin mengiringi rinainya, mencipta dingin yang semakin menyayat kulit. Gurat masa lalu, semakin membayang. Tentang mereka! Sekelibat kutundukan kepala tanpa aba-aba.
''Hei, sedang apa kamu?'' tiba-tiba suara itu kembali membisik. Kini, dengan nada lembut. Semakin dekat.

Minggu, 01 Mei 2016

Rumah yang Terlupakan

Rumah yang Terlupakan
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Yang lalu biarlah berlalu, yang sudah terjadi ikhlaskan. Karena akan diganti yang terbaik. Serahkan seluruh bebanmu, pasrahkan lewat do’a kepada-Nya, biar Allah yang selesaikan segala sulit dengan sempurna.” #ODOJ

Sore itu, menjelang Maghrib, ibuku mengajakku pergi ke Maasjid untuk shalat berjama’ah. Namun, Aku tetap sibuk dengan gadgetku, asyik SMSan dengan Ani. Aku menolak ajakan ibu, karena Aku sudah janjian dengan Ani untuk menemaninya pergi ke toko buku. Sejak kepergian ayah, aku nggak pernah lagi ke Masjid. Aku benci Masjid. Tempat itu telah merenggut nyawa ayah. Aku selalu melawan ibu. Tak pernah menuruti perintahnya, kecuali jika ibu memberikan imbalan ketika menyuruhku.

“Alan! ayo Nak, kita ke Masjid. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Nanti Kita telat.” Ajak ibu kepadaku.

“Ibu, Alan sudah ada janji dengan Ani. Sore ini, Alan mau menemaninya ke toko buku Bu!” Bantahku kepada Ibu.

“Nak! Pergi dengan Ani kan bisa nanti setelah maghrib. Pamali loh pergi saat maghrib begini. Ingat pesan ayah! Kamu harus tetap pergi ke masjid walaupun ayah nggak ada. Masih ingat kan kamu nak?” Kini, ibu mengajakku dengan sedikit memaksa. Namun usaha ibu tetap tidak berhasil. Aku tetap memilih pergi dengan Ani, karena ani sudah menungguku di rumahnya.