Sabtu, 14 Mei 2016

Hujan dan Pelangi

Hujan dan Pelangi
~I Tag You From Velin To Amin~

Hujan mulai menaburi, membasahi setiap yang ia temui. Seketika, ia mengantar lamunanku, menuju masa yang telah lalu.
''Hei, kemarilah!''
Sesosok suara memanggilku, entah dari mana ia berasal. Tak ada seorang pun yang kulihat. Hanya suara itu yang terdengar.
''Hei, kemarilah!'' seru suara itu kembali.
Kembali, kutatap hujan yang semakin menderas. Tak kuhiraukan suara yang sedari tadi mengusik.
Dari balik jendela kamar, kulihat dengan jelas betapa riangnya hujan yang berjatuhan, membasahi bumi yang mulai gersang.
Angin mengiringi rinainya, mencipta dingin yang semakin menyayat kulit. Gurat masa lalu, semakin membayang. Tentang mereka! Sekelibat kutundukan kepala tanpa aba-aba.
''Hei, sedang apa kamu?'' tiba-tiba suara itu kembali membisik. Kini, dengan nada lembut. Semakin dekat.
Kudongakkan kepala. Kembali kucari di setiap sudut kamarku, berharap kutemui sosok suara yang sedari tadi mengusik. Setelah puas mata ini bergerilya, menelusiri setiap sudut kamar, tak ada sesuatu yang kutemui. Hanya dinding putih yang berhiaskan kenangan dalam kebisuan.
''Hei, untuk apa kamu menatap hujan, lalu membawa lamunanmu kepada masa lalu?'' suara itu kembali berbisik. Kini semakin dekat, seolah suara ini tepat di gendang telingaku, membisik.
''Sudahlah, lupakan saja semuanya! Masa lalumu, takkan pernah kembali. Ia takkan mampu kau panggil, sekeras apapun kau menyerunya.'' aku tetap bergeming, kubuang tatapan darinya, mencoba tak menghiraukannya.
Hujan terus memaksaku untuk tetap menyusuri masa laluku. Tentang mereka yang kini tak lagi bersamaku. Mereka yang tak lagi mewarnai hari-hariku selayaknya pelangi yang pernah menawarkan keindahan, dak kini pergi bersama terik.
''Arghh!!!'' ronta batinku.
''Hujan, mengapa kau selalu membawaku kepada masa lalu tentang mereka? Setiap detik, aku berusaha melepas mereka, tapi setiap kali kau datang, setiap detik yang kuusahakan, sia-sia.'' tertunduk kepalaku, berpangku pada lutut yang sedari tadi menanti.
''Apa kataku, mengenang masa lalu, tak akan membuatmu bahagia. Mengenangnya, hanya menyiksamu. Sudahlah, lupakan saja. Biarkan pelangi pergi, membawa segenggam kenangan yang pernah terlukis. Bukankah masih ada malam berhias bintang?'' suara itu menenangkanku.
''Siapa kau? Sedari tadi hanya menampakkan suaramu. Sini, Kau tampakkan wujudmu di hadapanku!'' kudongakkan kepala, kembali kususuri sudut kamar ini, masih sama, hanya dinding putih yang menghias.
Hujan mulai usai, gurat pelangi mulai terlukis. Kini, pesona keindahan ia tawarkan. Gurat ceria, ia suguhkan. Namun, genangan sisa hujan lebih menggiyurkan. Sisa keceriaan dan kesejukan, tertuang di sana. Mengalihkan perhatianku, pada pelangi yang terus tertawa bersama gurat warna keindahannya. Suara itu pun berlalu bersama usainya rinai hujan.

~Amin Nur Kholis~

#Penajam, 13 Januari 2016

1 komentar:

  1. Haiii ...
    Gila, ini puitis banget!
    Gue sampai merinding gini bacanya. Feelnya berasa banget! Sumpah!

    Keren!

    BalasHapus