~Kenangan Wanita Payung~
Setahun sudah aku sendiri menikmati hujan di atas balkon yang pernah menyisa cerita indah yang tak sempat kunikmati. Aku tak lagi melihat wanita payung itu melintas di depan rumahku bersama hujan. Seteguk kopi pun tak lagi kusesap, meskipun Ibu selalu menyuguhkan secangkir kopi setiap pagi untukku, aku tetap tak ingin menikmati aroma pahit yang masih teringat jelas di benakku.
Ingatan tentang pelayan yang telah merobek hatiku, ingatan tentang wanita payung yang entah di mana, membuatku tak peduli lagi dengan kehangatan yang selalu di suguhkan dalam setiap teguk dalam secangkir kopi.
Rabu, 27 April 2016
Bila
~Bila~
Bila jalan yang tengah kutapaki
Tak menuai Ridho dari-Mu sang penuntun langkah kaki
Tunujukilah terang meski hanya menerangi sebagian lorong gelap ini
Bila jarak yang tengah terjulur
Tak menuai Ridho dari-Mu sang pemilik hati
Runtuhkanlah tiang tertingi yang tengah menyangga puing-puing sekat menjulang
Bila tabir yang menghampar
Tak menuai Ridho dari-Mu sang pemilik hidup
Singkapkanlah lembaran tabir itu hingga berkas cahaya yang hendak membiaskan sinarnya tak lagi terhalang pekat dalam gulita
Amin Nur Kholis
Penajam, 25 April 2016
Minggu, 24 April 2016
Sejumput Luka
Sejumput Luka
______ Bila rasa tak saling sapa Hati tak saling bercerita Akal tak saling meredam Dimana? Muara bersama akan tercipta Pada dua raga yang tersekat pelita Hanya, segores luka, sejumput derita Menghambur dalam cerita Mewarnai setiap deret peristiwa dalam episode yang tercipta Amin Nur Kholis Penajam, 16 April 2016
______ Bila rasa tak saling sapa Hati tak saling bercerita Akal tak saling meredam Dimana? Muara bersama akan tercipta Pada dua raga yang tersekat pelita Hanya, segores luka, sejumput derita Menghambur dalam cerita Mewarnai setiap deret peristiwa dalam episode yang tercipta Amin Nur Kholis Penajam, 16 April 2016
Tentang Seberkas Sinar
Tentang Seberkas Sinar
_____
Perlahan, pekat gulita membungkus temaram, cahaya rembulan redup dalam hening Tabur bintang berlari Sembunyi di balik pekat sang awan Hamparan gulita hanya menyisakan setitik sinar Menerangi akhir sepotong cerita Membias dalam hati sekadar untuk meredam gemuruh yang tak kunjung pergi Amin Nur Kholis Penajam, 15 April 2016
Perlahan, pekat gulita membungkus temaram, cahaya rembulan redup dalam hening Tabur bintang berlari Sembunyi di balik pekat sang awan Hamparan gulita hanya menyisakan setitik sinar Menerangi akhir sepotong cerita Membias dalam hati sekadar untuk meredam gemuruh yang tak kunjung pergi Amin Nur Kholis Penajam, 15 April 2016
Sabtu, 09 April 2016
Di tengah Pekat Gulita
Ini adalah kelanjutan dari cerita Gang Bayangan :
[Di tengah Pekat Gulita] Keheningan malam mengantarkan dingin dari belaian sang bayu. Aku hanya bisa terdiam, mendengarkan dengan seksama apa yang Yusril ceritakan tentang Ibunya, tentang peristiwa pengusiran Ibunya dua tahun lalu, tentang bagaimana kehidupan Yusril setelah itu. Yusril berubah drastis, wajah ceria yang selalu menghiasi hari-harinya, kini mejelma menjadi semburat mendung di wajahnya. Tetapi Yusril terus berusaha mengusir mendung yang urung pergi dari hidupnya, Ibunya pun kini mejadi sosok yang dingin, beliau tak ingin berjumpa dengan siapapun, hari-harinya dihabiskan dengan mengasingkan diri. ''Yus, yang sabar ya, aku tahu peristiwa dua tahun lalu menyisakan luka yang amat dalam dalam hidupmu. Tetapi kamu jangan terus terkurung dalam masa lalu itu. Kamu harus bangkit, Yus, kamu harus bisa nunjukin kepada semua orang bahwa apa yang mereka tuduhkan kepada keluargamu itu salah.'' Wajah Yusril semakin tertunduk, butiran bening kembali menetes menggenangi wajahnya. Kini yusril menyembunyikan wajahnya di balik lututnya.
Langganan:
Postingan (Atom)