Ini adalah kelanjutan dari cerita Gang Bayangan :
[Di tengah Pekat Gulita] Keheningan malam mengantarkan dingin dari belaian sang bayu. Aku hanya bisa terdiam, mendengarkan dengan seksama apa yang Yusril ceritakan tentang Ibunya, tentang peristiwa pengusiran Ibunya dua tahun lalu, tentang bagaimana kehidupan Yusril setelah itu. Yusril berubah drastis, wajah ceria yang selalu menghiasi hari-harinya, kini mejelma menjadi semburat mendung di wajahnya. Tetapi Yusril terus berusaha mengusir mendung yang urung pergi dari hidupnya, Ibunya pun kini mejadi sosok yang dingin, beliau tak ingin berjumpa dengan siapapun, hari-harinya dihabiskan dengan mengasingkan diri. ''Yus, yang sabar ya, aku tahu peristiwa dua tahun lalu menyisakan luka yang amat dalam dalam hidupmu. Tetapi kamu jangan terus terkurung dalam masa lalu itu. Kamu harus bangkit, Yus, kamu harus bisa nunjukin kepada semua orang bahwa apa yang mereka tuduhkan kepada keluargamu itu salah.'' Wajah Yusril semakin tertunduk, butiran bening kembali menetes menggenangi wajahnya. Kini yusril menyembunyikan wajahnya di balik lututnya.
''Kamu pasti bisa, aku yakin, Yus. Ingat masih ada Allah yang akan selalu menguatkan setiap hamba-Nya.'' Kubisikan kata-kata terakhir di telinga Yusril sebelum aku beranjak pergi meninggalkannya sendiri dalam hening. Kembali kususuri lorong gelap yang semakin pekat. Desir angin semakin ramai membelai, selimut dingin pun semakin tebal memeluk seonggok tubuh ini. Gemintang tak menampakkan diri, cahaya rembulan pun malu-malu, ia bersembunyi di balik awan pekat. Sepanjang jalan membentang, sejauh kaki melangkah, pikiranku tak sedetik pun lepas dari Yusril. Hatiku terus berbisik, ''Rabbi, kuatkanlah Yusril, kembalikanlah ceria di wajahnya, taburilah hidupnya dengan bahagia tanpa tepi.'' ''Mandala!'' terdengar sosok suara memanggilku. Batinku pun berbisik, ''Siapa yang memanggilku?!'' Kupercepat langkahku, sesekali berlari kecil dengan mengusung napas yang tersengal. ''Man!'' suara itu kembali membisik di telinga. Segera kuhentikan langkah kaki, kuperhatikan setiap sudut gelap lorong ini, namun tak kutemui sumber suara itu. ''Siapa di sana?'' Sepasang mataku tak berhenti menjelajahi pekatnya gulita, remang remang lampu jalan tak membantuku menemukan wujud suara itu. ''Mandala!'' ''Hei! siapa di sana?'' #Amin Nur Kholis #SBT_IWIP Penajam, 08 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar