Rabu, 27 April 2016

Kenangan Wanita Payung

~Kenangan Wanita Payung~ Setahun sudah aku sendiri menikmati hujan di atas balkon yang pernah menyisa cerita indah yang tak sempat kunikmati. Aku tak lagi melihat wanita payung itu melintas di depan rumahku bersama hujan. Seteguk kopi pun tak lagi kusesap, meskipun Ibu selalu menyuguhkan secangkir kopi setiap pagi untukku, aku tetap tak ingin menikmati aroma pahit yang masih teringat jelas di benakku. Ingatan tentang pelayan yang telah merobek hatiku, ingatan tentang wanita payung yang entah di mana, membuatku tak peduli lagi dengan kehangatan yang selalu di suguhkan dalam setiap teguk dalam secangkir kopi.
''Nak, sampai kapan kamu terus begini?!'' ibu mengelus rambutku, menemaniku memandangi rinai hujan yang tak kunjung reda. Rinai hujan yang mengoyak hati bersama ingatan akan wanita itu. 'Sampai aku menemukan wanita lain yang yang mampu mengusik hatiku lagi, mungkin, Bu.' bisikku lirih. Pelukan Ibu mendarat di tubuhku, seolah ia mendengar bisikan lirih hatiku. Buliran air mata Ibu beradu dengan percikan air hujan yang menyiprat di wajahku. Aku merasakan kehangatan yang sedari tadi terusir oleh dingin air hujan. Pelukan Ibu menenangkanku, melerai pergulatan batin yang tengah berperan. Kugenggam tangan Ibu, kucium dengan lembut. ''Bu, aku sayang Ibu. Jadilah Ibu terbaik yang pernah kumiliki.'' Hujan belum juga reda, secangkir kopi panas buatan Ibu, tak lagi mengepulkan asapnya. Angin mengibaskan rintik hujan hingga menerpa tubuhku juga Ibu. Sesekali kami mengusapnya karena basah. Kini, kupandangi hujan bersama Ibu, berharap ada wanita payung lain yang melintas, dan ia menawarkan obat untuk menyembuhkan luka yang belum mengering. Amin Nur Kholis Penajam, 26 April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar