Minggu, 15 Mei 2016

Lagi

Lagi
~Malam Narasi OWOP#3~

'Astaghfirullah, udah Jam. 09.00, pagi ini kan aku ada janji sama Rini. Ah, pasti Rini bakal ngomel lagi nih!' Kutatap alarm di ponselku.
Entah kenapa ia terlambat berdering. Seharusnya Pukul. 08.00 tadi dia sudah berhasil membangunkanku. Tapi kali ini, dia membuatku kesal.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, segera aku meluncur ke kamar mandi. Menyegarkan badan dari lelah sisa semalam yang masih menggelayuti.
***
Kemarin, Dini adikku mengajakku jalan-jalan. Karena hari ini dia libur sekolah, Dini mengajakku keliling kota Balikpapan, ke Taman, Mall, dan terakhir singgah di warung makan, setelah puas menelusiri ingar bingar kota.
Seusai makan, Dini mengajakku pulang, wajahnya lesu, menggambarkan jelas lelah yang ia rasa.
Alhamdulillah, lega rasanya, akhirnya Dini sadar juga kalau sedari tadi aku ingin pulang.Hatiku tersenyum riang, napasku tertarik lega.
Dengan motor bebek warisan Ayah, aku membonceng Dini menyusuri gemerlap malam, hiasan lampu jalan yang menyala temaram, embusan angin yang mengerutkan badan dan lalu lalang kendaraan yang masih gemar hilir mudik, meski malam menjelang larut.
Dini memelukku erat, disandarkan tubuhnya ke pundakku.
''Din, jangan tidur, entar kamu jatuh loh!'' seruku membangunkan.
''Dini capek, Kak.'' suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Ia urung menjauhkan kepalanya dari punggungku. Kedua tangannnya melingkar di perutku.
Kupacu motor pelan, menikmati suasana malam kota Balikpapan dengan segala panoramanya. Satu persatu gang telah selesai ku susuri, kini kami sudah tiba di gang terakhir dan itu artinya rumah kami tak jauh lagi.
''Din, bangun! Bentar lagi sampai rumah.'' tak ada jawaban, Dini membisu.
Waktu menunjukkan pukul 00.00, bergegas aku masuk ke kamar untuk merebahkan badan, setelah memarkir motor di garasi. Tiba-tiba aku teringat, besok ada janji dengan Rini. Sedari tadi Rini sudah mengingatkanku melalui SMS/WA/BBM. Rini mewanti-wanti agar aku tak datang terlambat besok. Setelah mengantarkan Dini ke kamarnya, giliranku menemui kamar yang sudah menantiku sedari tadi.
****
Setelah rapi, dengan memakai gamis hitam lengkap dengan jilbab kesayanganku, bergegas kutininggalkan rumah. Kupacu motor laju, aku hanya punya waktu 30 menit untuk bertemu Rini, sebelum dia benar-benar pergi.
Kembali kususuri jalanan Balikpapan. Jalanan yang semalam juga telah kulewati, namun kini tak lagi temaram. Lampu jalanan tak ada lagi yang bernyawa, semua membisu hanya deru laju kendaraan yang terdengar memenuhi telinga.
Lalu lalang kendaraan semakin ramai, lebih ramai dari semalam. Kupacu motor lebih laju, namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan.
Kuhentikan motor segera, tenrnyata hari ini ada operasi gabungan dari kepolisian. Setiap penjuru perempatan dan jalan utama, telah bersiap personil kepolisian yang akan menciduk siapa saja yang melanggar peraturan lalu lintas.
''Brmmmmm....''
Semakin laju kupacu motorku, agar aku terlepas dari cidukan polisi. Namun, saat aku tiba di perempatan, di sana sudah berjajar puluhan motor yang kena tilang. Trotoar jalan penuh dengan orang-orang yang berbaris rapi, menanti motornya dikembalikan. Dan aku??!! Aku ikut menjadi bagian dari mereka, berbaris di trotoar. Polisi menilangku, karena aku lupa tidak membawa SIM, akhirnya motorku disita.
Aku duduk termangu, menatap jam tangan yang sedari tadi melingkar di tanganku, tanpa rasa jemu. Dan aku terlambat, Rini sudah pergi, tanpa sempat aku menemui. Entah sampai kapan ia pergi, yang jelas untuk waktu yang sangat lama, kami tidak akan bertemu. Rini sudah pergi. Hanya sebuah SMS terakhir darinya yang dapat kujumpai, berulang kali kubaca, berharap waktu akan berputar balik, tapi tetap saja SMS itu bunyinya sama.
''Assalamu'alaikum, Nela, aku tahu kamu pasti bakal telat lagi. Itu sebabnya aku dari kemarin mewanti-wanti kamu, mengingatkanmu agar kamu tidak terlambat menemuiku. Tapi, apa? Kamu terlambat, lagi.
Nela, aku cuma mau bilang, selamat tinggal, Sahabatku. Maaf, aku enggak sempat menemuimu sebelum aku pergi. Nela, aku akan selalu merindukanmu, meskipun kamu jauh, aku akan selalu membawamu di hatiku.
Nela, satu pesanku buat kamu. Jangan terlambat lagi! Ok! (:
Wassalamu'alaikum. Rini, Sahabatmu.''
Tak terasa buliran bening bercucuran, mengaliri setiap garis di pipi. Mataku tertuju pada Pak polisi yang tadi merampas motorku, sembari kupasang tatapan sinis, tak peduli ia menyadarinya atau tidak. Yang jelas aku marah pada diriku sendiri, “Kenapa aku selalu terlambat?”

~Amin Nur Kholis~
#Penajam, 27 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar