Lagi
~Malam Narasi
OWOP#3~
'Astaghfirullah,
udah Jam. 09.00, pagi
ini kan aku ada janji sama Rini. Ah, pasti Rini bakal ngomel lagi nih!' Kutatap
alarm di ponselku.
Entah kenapa ia terlambat berdering.
Seharusnya Pukul. 08.00 tadi dia sudah berhasil membangunkanku. Tapi kali ini,
dia membuatku kesal.
Tanpa
menunggu waktu lebih lama lagi, segera aku meluncur ke kamar mandi. Menyegarkan badan dari
lelah sisa semalam yang masih menggelayuti.
***
Seusai makan, Dini mengajakku pulang, wajahnya lesu,
menggambarkan jelas lelah yang ia rasa.
‘Alhamdulillah,
lega rasanya, akhirnya Dini sadar juga kalau sedari tadi aku ingin pulang.’ Hatiku tersenyum riang, napasku tertarik lega.
Dengan
motor bebek warisan Ayah, aku membonceng Dini menyusuri gemerlap malam, hiasan
lampu jalan yang menyala temaram,
embusan angin yang mengerutkan badan dan lalu lalang kendaraan yang masih gemar
hilir mudik, meski malam menjelang larut.
Dini
memelukku erat, disandarkan tubuhnya ke pundakku.
''Din, jangan tidur, entar kamu jatuh
loh!'' seruku membangunkan.
''Dini capek, Kak.'' suaranya lirih,
nyaris tak terdengar. Ia urung menjauhkan kepalanya dari punggungku. Kedua
tangannnya melingkar di perutku.
Kupacu
motor pelan, menikmati suasana malam kota Balikpapan dengan segala
panoramanya. Satu
persatu gang telah selesai ku susuri, kini kami sudah tiba di gang terakhir dan itu artinya rumah kami tak jauh lagi.
''Din, bangun! Bentar lagi sampai
rumah.'' tak ada jawaban, Dini membisu.
Waktu
menunjukkan pukul 00.00, bergegas aku masuk ke kamar untuk merebahkan badan,
setelah memarkir motor di garasi. Tiba-tiba aku
teringat, besok ada janji dengan Rini. Sedari tadi Rini sudah mengingatkanku
melalui SMS/WA/BBM. Rini mewanti-wanti agar aku tak datang terlambat besok. Setelah
mengantarkan Dini ke kamarnya, giliranku menemui kamar yang sudah menantiku
sedari tadi.
****
Setelah
rapi, dengan memakai gamis hitam lengkap dengan jilbab kesayanganku, bergegas kutininggalkan rumah. Kupacu motor laju,
aku hanya punya waktu 30 menit untuk bertemu Rini, sebelum dia benar-benar pergi.
Kembali
kususuri jalanan Balikpapan. Jalanan yang semalam juga telah kulewati, namun kini
tak lagi temaram. Lampu jalanan tak ada lagi yang bernyawa, semua membisu hanya
deru laju kendaraan yang terdengar memenuhi telinga.
Lalu
lalang kendaraan semakin ramai, lebih ramai dari semalam. Kupacu motor lebih
laju, namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan.
Kuhentikan motor segera, tenrnyata hari ini ada operasi gabungan dari kepolisian. Setiap penjuru perempatan dan jalan
utama, telah bersiap personil kepolisian yang akan menciduk siapa saja yang
melanggar peraturan lalu lintas.
''Brmmmmm....''
Semakin
laju kupacu motorku, agar aku terlepas dari cidukan polisi. Namun, saat
aku tiba di perempatan,
di sana sudah berjajar puluhan motor yang kena tilang. Trotoar jalan penuh dengan orang-orang
yang berbaris rapi, menanti motornya dikembalikan. Dan aku??!! Aku ikut menjadi bagian dari mereka, berbaris di trotoar. Polisi menilangku, karena aku lupa
tidak membawa SIM, akhirnya
motorku disita.
Aku duduk
termangu, menatap jam tangan yang sedari tadi melingkar di tanganku, tanpa rasa jemu. Dan aku
terlambat, Rini sudah pergi, tanpa sempat aku menemui. Entah sampai kapan ia pergi, yang jelas untuk waktu yang sangat lama,
kami tidak akan bertemu. Rini sudah pergi. Hanya sebuah SMS terakhir darinya
yang dapat kujumpai, berulang kali kubaca, berharap waktu akan berputar
balik, tapi tetap saja SMS itu bunyinya sama.
''Assalamu'alaikum,
Nela, aku tahu kamu pasti bakal telat lagi. Itu sebabnya aku dari kemarin
mewanti-wanti kamu, mengingatkanmu agar kamu tidak terlambat menemuiku. Tapi,
apa? Kamu terlambat, lagi.
Nela,
aku cuma mau bilang, selamat tinggal, Sahabatku. Maaf, aku enggak sempat
menemuimu sebelum aku pergi. Nela, aku akan selalu merindukanmu, meskipun kamu
jauh, aku akan selalu membawamu di hatiku.
Nela,
satu pesanku
buat kamu. Jangan
terlambat lagi! Ok! (:
Wassalamu'alaikum. Rini, Sahabatmu.''
Tak
terasa buliran bening bercucuran, mengaliri setiap garis di pipi. Mataku
tertuju pada Pak polisi
yang tadi merampas motorku,
sembari kupasang tatapan sinis, tak peduli ia
menyadarinya atau tidak. Yang jelas aku marah pada diriku sendiri, “Kenapa aku selalu terlambat?”
~Amin Nur Kholis~
#Penajam, 27 Januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar