Hujan
dan Pelangi
~I Tag You From Velin To Amin~
Hujan
mulai menaburi, membasahi setiap yang ia temui. Seketika, ia mengantar
lamunanku, menuju masa yang telah lalu.
''Hei,
kemarilah!''
Sesosok
suara memanggilku, entah dari mana ia berasal. Tak ada seorang pun yang kulihat. Hanya suara itu yang
terdengar.
''Hei,
kemarilah!'' seru suara itu kembali.
Kembali,
kutatap hujan yang semakin menderas. Tak kuhiraukan suara yang sedari tadi mengusik.
Dari
balik jendela kamar, kulihat
dengan jelas betapa riangnya hujan yang berjatuhan,
membasahi bumi yang mulai gersang.
Angin
mengiringi rinainya,
mencipta dingin yang semakin menyayat kulit. Gurat masa lalu, semakin
membayang. Tentang mereka! Sekelibat kutundukan kepala tanpa aba-aba.
''Hei,
sedang apa kamu?'' tiba-tiba suara itu kembali membisik.
Kini, dengan nada lembut. Semakin dekat.
''Hei,
untuk apa kamu menatap hujan, lalu membawa lamunanmu kepada masa lalu?'' suara itu kembali berbisik. Kini semakin
dekat, seolah suara ini tepat di gendang telingaku, membisik.
''Sudahlah,
lupakan saja semuanya! Masa lalumu, takkan pernah kembali. Ia takkan mampu kau
panggil, sekeras apapun kau menyerunya.'' aku tetap bergeming, kubuang
tatapan darinya, mencoba tak menghiraukannya.
Hujan
terus memaksaku untuk tetap menyusuri masa laluku. Tentang mereka yang kini tak
lagi bersamaku. Mereka yang tak lagi mewarnai hari-hariku selayaknya pelangi yang
pernah menawarkan keindahan, dak kini pergi bersama terik.
''Arghh!!!'' ronta batinku.
''Hujan, mengapa kau selalu membawaku kepada masa lalu
tentang mereka? Setiap detik, aku berusaha melepas mereka, tapi setiap kali kau datang, setiap detik
yang kuusahakan, sia-sia.'' tertunduk kepalaku, berpangku pada lutut yang
sedari tadi menanti.
''Apa
kataku, mengenang masa lalu, tak akan membuatmu bahagia. Mengenangnya, hanya
menyiksamu. Sudahlah, lupakan saja. Biarkan pelangi pergi, membawa segenggam
kenangan yang pernah terlukis. Bukankah masih ada malam berhias bintang?'' suara itu menenangkanku.
''Siapa kau? Sedari tadi hanya menampakkan suaramu. Sini, Kau
tampakkan wujudmu di hadapanku!''
kudongakkan kepala, kembali kususuri sudut kamar ini, masih sama, hanya dinding putih yang menghias.
Hujan mulai usai, gurat pelangi mulai terlukis.
Kini, pesona keindahan ia tawarkan. Gurat ceria, ia suguhkan. Namun, genangan
sisa hujan lebih menggiyurkan. Sisa keceriaan dan kesejukan, tertuang di sana.
Mengalihkan perhatianku, pada pelangi yang terus tertawa bersama gurat warna
keindahannya. Suara itu pun berlalu bersama usainya rinai hujan.
~Amin Nur Kholis~
#Penajam, 13 Januari 2016
Haiii ...
BalasHapusGila, ini puitis banget!
Gue sampai merinding gini bacanya. Feelnya berasa banget! Sumpah!
Keren!