#CANBERRA EUY!
Soto Berdarah
Oleh : OWOP#3
"Pak, kuah sotonya banyakkin."
"Siap, neng."
Malam-malam begini menyeruput soto di warung pinggir jalan memang nikmat tuhan yang tak boleh kamu dustakan.
Sayangnya, seruputan terakhir memaksaku untuk diam-diam menyelinap ke balik tenda.
Di dalam tenda, wangi rempah seketika menyapa indera penciumanku. Dan seakan otomatis membuka kran air liurku. Slrp. Lidahku menyapu seisi mulut. Glek. Aku celingukan mencari mangkuk.
Nah itu dia. Tapi oops! Ada yang berbulu di samping tumpukan mangkuk.
"Aneh, benda apa itu?" gumamku dalam hati, sembari melangkahkan kaki mendekati benda itu.
Baru saja kakiku melangkah. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
Deg!
Rasanya aliran darahku mendesir. Mengalir melewati nadi-nadi. Jantungku berdegup kencang seakan terpompa dengan cepat.
"Cari apa, Neng?"Fiiuuhh ... Kirain siapa. Suara penjual soto itu membuatku lega. Paling tidak aku tak lagi berpikiran macam-macam. "Eh, enggak Pak ..." Terpaksa aku kembali ke mangkuk soto yang sempat aku tinggalkan tadi. Meraihnya, dan.. Pyaaarr! Jantungku seakan berhenti berdetak. Mangkuk soto tak lagi berupa soto. Namun tumpukan ceker segar penuh darah. Bukan hanya ceker, tapi juga terselip beberapa jari. EH??? "JARI MANUSIAAA!!!". Aku buru-buru melihat bapak penjual soto dengan cemas. Ternyata benar, si bapak sedang memegang pisau yang berlumuran darah. Tertawa menyeringai menatapku. "Mau nambah neng ?" Terbelalak. Ini bukan soto langganan yang biasa aku datangi. Tanpa bisa menahan lagi, kuambil langkah kaki seribu. Rasanya takut sekali untuk menengok ke belakang barang sebentar. Kaki-kakiku lemas luar biasa. Aku sampai lupa sakuku kosong. Haha, imajinasiku benar-benar hebat. Menaruh lalat di mangkuk sudah bukan caraku lagi. AH! Malam apa ini, mengapa begitu mencekam? Mengapa juga aku mengalami kejadian ini? Aku menengok jam di pergelangan tanganku. Masih pukul 20:00 WIB. Tapi, kenapa bisa ada tukang soto seperti itu? Entahlah, otakku tak mampu berpikir jernih. Kalut, hingga membuat langkahku carut marut. Aku pun memutuskan untuk duduk sejenak di trotoar. Napasku masih tersengal. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sudah sejauh apakah aku tadi berlari? Aku mengernyit. Lalat yang tadi kuletakkan di mangkuk, kini berdengung di dalam kantong baju. Saat kubuka sedikit kantongnya, tetiba ada suara, "Hehehehe....." Aku membelalak mata dan kembali membekap kantong kemeja. Kemudian kusapu rambut dengan tangan kanan. Di ujung jalan, ada sinar yang berjalan mendekat. Oh jangan sekarang! Triiiit. Suara motor berdecit. Terlihat seorang pria dengan jaket kulitnya. Helm full-face SNI warna hijau, dan motor ninja hijau. "Neng, gojeknya, neng? Lagi promo nih malem-malem gini sepuluh ribu aja!" Ujarnya sembari mengedipkam sebelah mata. Aku meringis. Apa-apaan, sih, nih orang? Segera kaki kulangkahkan. Tiba di trotoar, seseorang melewatiku! Deg! Berbaju putih panjang dengan rambut hitam tergerai. Wajahnya menunduk. Ia memegang sebuah nampan bertaplak di atas tangannya. Aku merinding. Sial! Lagi-lagi ilusi mata. Kugeleng-gelengkan kepalaku pelan, aku mulai kehilangan fokus. "Antar saya ke Jalan Mewangi ya, Bang." "Tadi katanya enggak mau." Si abang mengedip nakal. Aku hanya bisa memutar bola mata, sebal. Semilir angin mengacak-acak rambutku, hawa dingin angin malam membuatku mengencangkan syal milikku. Aku makin berkutat dengan imajinasiku. Entahlah. Ini terlalu rumit aku pikir. "Neng," si abang ojek membuyarkan lamunanku. "Mau apa ke Mewangi, Neng? Kita ke KUA aja deh. Mau enggak, Neng?" Aku melotot. Tak paham dengan maksud si abang. Kondisi seperti ini masih saja dia bercanda. Biarlah. Aku tak mau menanggapinya. "Neng. Kenapa diam? Aku ini bagian dari masa lalu Neng lho. Neng enggak mau kembali merajut kisah kita?" Ampun deh. Cuma mau makan soto di akhir minggu saja kok cobaan silih berganti begini. Kutengok ke belakang tanpa menghiraukan si abang. Aku tak peduli lagi. Waktu terasa berjalan lambat sekali. Dan sinar emas tetiba menyinariku. Memanggil-manggil. Argh. Hanya mimpi. Fiuh.. Kukucek-kucek mata, dan ekor mataku menangkap sesuatu di atas meja sebelah kiriku. Apa itu? Deg! Sebuah mangkuk dengan.... Kukucek-kucek mataku lagi, tapi, Deg! Tanganku? Aaaaaaaaahhhhhhh... Nampak seseorang menyeringai di sampingku. Memegang tanganku mesra. Kemudian menyodorkan sesuatu. "Neng, udah bangun? Nih, Mas udah bikinin soto hangat khusus buat kamu ..." Whaaaatt??? Aku melongo. Tukang ojek tadi... Ah! Lagi-lagi mimpi di dalam mimpi. Aku ini seorang Oneironaut yang hanya ingin makan soto -END- ~Rumah.OWOP#3 15 Januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar