Selasa, 10 November 2015
[Malam Narasi OWOP#3]
Suara Hati!
Oleh : Amin Nur Kholis
"Tok tok tok."
Ketukan pintu itu berulang-ulang terdengan olehku. Namun setiap kali aku menghampiri pintu itu. Tak ku temui siapapun di sana.
Malam ini begitu dingin. Hembusan angin begitu menusuk qolbu. Hanya kerikan jangkrik yang terdengar dan ketukan pintu yang berulang-ulang.
Aku kembali ke tempat dudukku. Aku muak. Aku bosan dengan semua ini. Tentang hatiku yang selalu menyakiti orang lain. Aku lelah dengan diriku.
" Hei! Bukakan pintu untukku. Cepat!"
Kini terdengar suara sesorang dari balik pintu kamarku. Bersamaan dengan ketukan pintu yang sama.
"Siapa di sana?"
"Bukakan pintu. Cepat!"
Suara itu terdengar sangat keras. Rasa takut menggelayut di hatiku. Namun suara itu sepertinya tak asing di telingaku.
"Siapa di sana?" Tanyaku kembali.
"Hei! Apakah kau tak mendengarku? Cepat kau buka pintu ini. Dasar manusia bodoh!"
Apah? Manusia bodoh. Beraninya dia mengatakan aku bodoh.
"Hei, siapa kamu? Beraninya kamu mengatai aku bodoh."
Aku beranjak dari dudukku. Mendekati pintu kamarku. Aku penasaran. Siapa sebenarnya orang di balik pintu itu.
"Ceklek." Ku buka Kunci pintu kamarku.
Betapa kagetnya aku ketika kubuka pintu dan aku melihat sosok yang sama persis dengan diriku.
"Hei, siapa kamu?" Tanyaku kepada sosok yang berdiri di depanku.
"Tak kenalkah kau siapa aku ini? Ini aku. Bayangan dirimu. Aku ini hatimu. Hati yang selalu kau lempari dengan kotoran. Hati yang selalu kau penuhi dengan kebencian." Ia menunjuk diriku dengau raut wajah marah.
"Tidak! Aku tak mengenalmu. Kau bukan bayanganku. Mana mungin bayangan bisa bicara. Kau pembohong. Pergi kau!"
Kututup pintu kamarku dan ku kunci agar dia tak lagi menggangguku. Aku kembali duduk dan kutelungkupkan kaki untuk menyembunyikan kepalaku.
"Hei, kenapa kau mengusirku? Kau tahu, kau tak dapat mengusirku. Karena Aku adalah hatimu. Aku adalah dirimu. Jadi kau tak kan pernah bisa mengusirku."
Aku tersentak ketika suara itu kembali hadir. Kini dia di dekatku. Ku lempar dia dengan bantal yang ada di dekatku. Namun ia tak jua pergi.
"Darimana kau masuk? Bukankah aku sudah mengunci pintu itu." Aku semakin bingung. Aku heran mengapa dia bisa tiba-tiba di dekatku. Darimana dia masuk?
"Bukankah aku sudah mengatakan. Aku ini hatimu. Bayangan dirimu. Jadi kemanapun kau pergi. Aku akan menyertaimu. Kau tak bisa lari dariku." Jawabnya.
"Argh! Kau pasti bohong. Pergi kau dari sini. Atau aku bunuh kau? Pergi!" Aku lihat ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu yang dapat kupakai untuk membunuhnya. Namun tak kutemukan apapun.
Akhirnya aku memilih pergi. Aku tinggalkan dia sendiri di kamarku.
"Braaaak!"
Kututup pintu sekuat tenaga. Lalu aku berlari ke teras rumah. Aku harap di sana aman. Tak ada lagi yang mengikutiku. Namun aku salah. Ketika baru saja aku duduk di kursi teras rumah, dia sudah lebih dulu duduk di sana. Aku menyerah. Aku lelah. Akhirnya aku beranikan untuk berbicara baik-baik dengan dia. Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku.
"Ok! Aku menyerah. Sekali lagi aku tanya. Siapa kamu? Apa yang kau inginkan dariku? Mengapa kau menggangguku?" Kutatap matanya tajam. Dengan sedikit emosi.
"Bukankah aku sudah mengatakan, siapa aku sebenarnya. Aku adalah dirimu. Aku adalah hatimu. Aku ingin kau berubah. Aku ingin kau bersihkan hatimu, jangan lagi kau menaruh dendam dan memelihara kebencian kepada siapapun." Jawabnya dengan lembut sekarang.
"Apa maksudmu? Aku nggak pernah membenci siapapun, apalagi menaruh dendam. Atas dasar apa kamu menuduhku seperti itu?" Aku kesal.
"Benar kau tak membenci dan dendam kepada siapapun?" Tanyanya kepadaku.
"Benar!" Jawabku datar.
"Lalu, perlakuanmu kepada Andi temanmu sekaligus saudaramu itu apa? Juga kepada teman-temanmu yang dulu pernah dekat denganmu? Kau selalu memalingkan muka dari mereka. Kau acuh kepada mereka. Wajahmu sisins setiap berjumpa dengan mereka. Mereka selalu berusaha berbuat baik kepadamu, tapi kamu selalu mengabaikannya. Terutama Andi. Dia itu saudaramu, tak sepantasnya kau begitu. Jika dia punya salah kepadamu. Maafkanlah. Bukankah manusia tak luput dari salah? Jika kau yang bersalah. Mintalah maaf kepada dia. Aku tak ingin selalu kau gunakan untuk membenci mereka." Jawabnya panjang lebar.
"Kata siapa aku seperti itu?" Aku mengelak.
"Sudahlah. Buang rasa egomu. Bukalah hatimu. Bukankah dulu kalian teman baik? Hanya karena kesalah pahaman, mengapa kau merusak hubungan kalian? Tak pantas kau seperti itu. Perbaikilah hubunganmu dengan mereka. Bukankah selama ini mereka berbuat baik kepadamu? Hanya saja kamu yang selalu menutup hati dengan mereka. Sadarlah! Bukalah hatimu!"
Sosok itu tiba-tiba menghilang. Aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan. Aku bingung. Aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan. Semua yang dia katakan memang benar. Hatiku telah penuh dengan rasa benci. Dendam dan segala penyakit hati lainnya. Aku tak lagi mampu melihat kebaikan di sekitarku. Aku selalu melihat keburukan di sekitarku. Aku sudah beberapa kali mencoba menata hati. Membuka hati seperti dulu. Tapi selalu gagal. Sampai hati ini penuh dengan quota kebencian dan prasangka buruk. Aku tak tahu lagi bagimana caranya berbuat baik kepada orang lain.
***
#Malam Narasi OWOP#3
~Majapahit,08112015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar