Ceceran Hati
Oleh : Amin Nur Kholis
Sudah terlalu lama kepingan hati ini berhamburan. Hingga untuk sedikit merasakan ketenangan dan kedamaianpun tak kunjung bisa. Selalu saja serpihan hati ini menatap duri yang menghadang di depan sebagai sosok monster yang mengerikan. Tak bisa melihat dari sisi lain. Mungkin karena serpihan hati itu hanya secuil dan sendirian, hingga tak mampu melihat sisi lain dari setiap rintangan. "Hai hati. Mengapa kau terus-terusan seperti itu? Tak capek kah kau ini?" Hati tetap tak bergeming. Kepekaannya tak lagi hadir di sana. Pudar oleh rasa benci, dendam, juga iri. Sebenarnya hati inipun tak mengerti. Apakah diamnya mulut ini melukiskan ketidak pedulian? Apakah berpalingnya wajah ini menggambarkan kebencian? "Aku tak tahu," kata hati,
"Aku sudah mati." Lanjutnya. Argh! Aku tak peduli. Apakah hati itu mati. Tenggelam bahkan hangus terbakarpun, Aku tak peduli. Lelah sudah otak ini berfikir. Lelah tangan ini mengumpulkan kepingan hati yang berhamburan itu. Karena anginpun juga tak peduli. Ia selalu datang ketika kepingan hati itu mulai menyatu. ~Majapahit,09 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar