Selasa, 27 Oktober 2015

Asap dan Senja

Asap dan Senja
Oleh : Amin Nur Kholis

'' Ayah, ayah! kenapa sih asapnya nggak hilang - hilang? nggak seperti kalau ibu masak, selesai ibu masak ya asapnya ikut pergi juga.'' celetuk anakku kepadaku.
Kami, aku dan anakku Angga, sedang duduk di teras rumah, memandangi keindahan sore hari. Namun, Kini keindahannya tak seperti biasanya. Dulu ketika warna senja kemerahan, dan matahari mulai tenggelam tuk pulang ke peraduannya begitu elok tuk di pandang. Namun, kini yang nampak di depan mata kami, segerombolan Asap pekat yang menutupi pancaran sinar mentari. Warna merah senja, kini berubah menjadi gelap. Keelokan Matahari tenggelampun tak nampak. Tak ada lagi senja seindah kemarin.
" Ayah! Kemari yah, cepat yah."

Terdengar suara istriku memanggil. Nadanya tedengar panik. Segera aku dan angga masuk ke rumah menghampiri istriku. Ku tuntun angga masuk ke rumah.
Ketika aku di hadapan isteriku. Ku lihat Ia sedang memeluk si kecil Rini. Wajah Rini pucat pasi. Matanya tertutup dan tubuhnya kaku. Terdengar isakan dari isteriku dengan butiran bening yang meleleh membasahi kerudung cokelatnya.
"Ummi, kenapa Rini mi? Kenapa ummi menangis?"
Ku ayunkan kaki, melangkah menghampiri isteriku dengan menuntun Angga.
" Ayah, Rini yah." keluh isteriku.
'' Kenapa Rini mi? apa yang terjadi mi?''
''Ayah, tadi sewaktu ummi ke dapur membuatkan susu untuk Rini, tiba - tiba umi mendengar Rini menangis. Tangisannya keras sekali yah, lalu ummi bergegas kembali menemui Rini. Ketika ummi kembali, Rini sudah berhenti menangis, matanya terbenam, dan wajahnya pucat, tubuhnya pun nggak bergerak.'' Jelas isteriku.
''Lalu, ummi coba bangunkan rini, ummi gerak - gerakan tubuh rini, namun rini tetap diam.'' Lanjut isteriku dan isteriku tak kuasa menahan tangis.
Bercucuranlah air matanya. Ku dekap isteriku dan kedua anakku. Tak terasa air matakupun meleleh. Aku dapat merasakan apa yang di rasakan isteriku. Angga yang duduk di pangkuanku, memanggil - manggil adiknya dan menggoyang - goyangkan tubuh Rini.
'' Dedek Rini, bangun dek! ayo bangun! kita main yuk! dedek kok diam aja? Bangun dek! Bangun!'' Tangan angga terus menggerakan tubuh rini, ia sangat berharap rini terbangun.
“Ayah! Dek Rini kenapa? Kok dari tadi tidur terus? Angga panggil – panggil, dia nggak mau menyahut?”
"Innalillahi wainnailaihiroji'un, Ummi, Rini sudah nggak ada, Allah sudah merindukannya ummi, untuk itu Allah mengambilnya agar ia bahagia di sana. Kita ikhlaskan Rini ya mi!" Isakan tangis isteriku semakin membuncah. kerudung cokelatnya kini seperti sehelai kain yang baru saja di cuci, basah oleh air mata. Aku terus berusaha menenangkan isteriku dan mencoba menjelaskan kepada Angga.
" Ummi, ini takdir Allah, kita harus mengikhlaskan Rini. Sudah ya mi, jangan menangis lagi, nggak malu kah sama Angga? Tuh, angga saja nggak nangis." Ku coba menghibur hati isteriku, agar dia tidak larut dalam kesedihan. Walau aku tahu itu sangat berat untuknya.
“Angga, Dek Rini sekarang sudah pergi menemui Allah. Dia sudah bahagia di sana. Angga do’akan dek Rini ya, agar dek Rini mendapat tempat terbaik di sisi Allah.” Ku elus rambut Angga, ku cium keningnya.
Rini masih sangat kecil, ia baru berusia 6 bulan. Namun, ia harus pergi secepat itu. Sejak kabut asap menyelimuti Desa kami, kondisi kesehatan warga terganggu, termasuk putri kami Rini. Ia terkena ISPA sejak seminggu lalu. Kami mengetahuinya setelah kami memeriksakannya ke dokter. Kondisinya semakin memburuk, karena asap semakin menebal. Kondisi rini yang masih sangat kecil, sehingga rentan terkena berbagai gangguan kesehatan. Apalagi saat ini, tak hanya anak kecil, kami pun orang dewasa sangat terganggu dengan asap ini.
Semua orang jika hendak bepergian, harus memakai masker untuk sedikit menghindari kabut asap yang menghadang.
***
Kami sangat bahagia dengan kehadiran puteri kami yang ke-2 ini. Karena dari awal kita menikah, isteriku ingin sekali anak pertamanya perempuan. Namun, takdir berkata lain, Angga lah anak pertama kami dan Rini, anak yang di nanti – nanti oleh kami, harus pergi. Allah lebih menyayanginya.
Rini hanyalah titipan untuk kami, jadi kami harus ikhlas ketika pemiliknya mengambil titipan itu kembali.
"Ya Allah, kami ikhlas jika Engkau mengambil rini dari kami, karena ia milik-Mu. Ya Allah, tempatkan Rini di tempat terbaik di sisi-Mu. Ya Allah, sampai kapan kabut asap ini menyelimuti kota kami dan kota-kota yang lain? Jika ini Adzab dari-Mu, Ampuni kami ya Allah, kami banyak bermaksiat kepada-Mu, kami dzalim kepada-Mu, hingga kau turunkan ujian kabut asap ini untuk kami."
Hanya selaksa do'a yang dapat kami panjatkan, berharap kabut asap ini segera berlalu. Kami rindu, rindu udara segar. Kami ingin kembali merasakan, bagaimana bernafas lega. Kami rindu akan indahnya Senja sebelum gelap menyapa.
***

[Malam Narasi OWOP#3]
#Di Bawah Senja-Penajam, 25 Oktober 2015 (:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar