Asap dan Senja
Oleh : Amin Nur Kholis
'' Ayah,
ayah! kenapa sih asapnya nggak hilang - hilang? nggak seperti kalau ibu masak,
selesai ibu masak ya asapnya ikut pergi juga.'' celetuk anakku kepadaku.
Kami, aku dan anakku Angga, sedang duduk
di teras rumah, memandangi keindahan sore hari. Namun, Kini keindahannya tak
seperti biasanya. Dulu ketika warna senja kemerahan, dan matahari mulai tenggelam
tuk pulang ke peraduannya begitu elok tuk di pandang. Namun, kini yang nampak
di depan mata kami, segerombolan Asap pekat yang menutupi pancaran sinar
mentari. Warna merah senja, kini berubah menjadi gelap. Keelokan Matahari
tenggelampun tak nampak. Tak ada lagi senja seindah kemarin.
" Ayah! Kemari yah, cepat yah."
Terdengar suara istriku memanggil. Nadanya tedengar
panik. Segera aku dan angga masuk ke rumah menghampiri istriku. Ku tuntun angga
masuk ke rumah.
Ketika aku di hadapan isteriku. Ku lihat
Ia sedang memeluk si kecil Rini. Wajah Rini pucat pasi. Matanya tertutup dan
tubuhnya kaku. Terdengar isakan dari isteriku dengan butiran bening yang
meleleh membasahi kerudung cokelatnya.
"Ummi, kenapa Rini mi? Kenapa ummi
menangis?"
Ku ayunkan kaki, melangkah menghampiri isteriku dengan
menuntun Angga.
" Ayah, Rini yah." keluh isteriku.
'' Kenapa Rini mi? apa yang terjadi mi?''
''Ayah, tadi sewaktu ummi ke dapur membuatkan susu
untuk Rini, tiba - tiba umi mendengar Rini menangis. Tangisannya keras sekali
yah, lalu ummi bergegas kembali menemui Rini. Ketika ummi kembali, Rini sudah
berhenti menangis, matanya terbenam, dan wajahnya pucat, tubuhnya pun nggak bergerak.''
Jelas isteriku.
''Lalu, ummi coba bangunkan rini, ummi gerak - gerakan
tubuh rini, namun rini tetap diam.'' Lanjut isteriku dan isteriku tak kuasa
menahan tangis.
Bercucuranlah air matanya. Ku dekap
isteriku dan kedua anakku. Tak terasa air matakupun meleleh. Aku dapat
merasakan apa yang di rasakan isteriku. Angga yang duduk di pangkuanku,
memanggil - manggil adiknya dan menggoyang - goyangkan tubuh Rini.
'' Dedek Rini, bangun dek! ayo bangun!
kita main yuk! dedek kok diam aja? Bangun dek! Bangun!'' Tangan angga terus
menggerakan tubuh rini, ia sangat berharap rini terbangun.
“Ayah! Dek Rini kenapa? Kok dari tadi
tidur terus? Angga panggil – panggil, dia nggak mau menyahut?”
"Innalillahi wainnailaihiroji'un,
Ummi, Rini sudah nggak ada, Allah sudah merindukannya ummi, untuk itu Allah
mengambilnya agar ia bahagia di sana. Kita ikhlaskan Rini ya mi!" Isakan
tangis isteriku semakin membuncah. kerudung cokelatnya kini seperti sehelai
kain yang baru saja di cuci, basah oleh air mata. Aku terus berusaha
menenangkan isteriku dan mencoba menjelaskan kepada Angga.
" Ummi, ini takdir Allah, kita
harus mengikhlaskan Rini. Sudah ya mi, jangan menangis lagi, nggak malu kah
sama Angga? Tuh, angga saja nggak nangis." Ku coba menghibur hati
isteriku, agar dia tidak larut dalam kesedihan. Walau aku tahu itu sangat berat
untuknya.
“Angga, Dek Rini sekarang sudah pergi
menemui Allah. Dia sudah bahagia di sana. Angga do’akan dek Rini ya, agar dek
Rini mendapat tempat terbaik di sisi Allah.” Ku elus rambut Angga, ku cium
keningnya.
Rini masih sangat kecil, ia baru berusia
6 bulan. Namun, ia harus pergi secepat itu. Sejak kabut asap menyelimuti Desa
kami, kondisi kesehatan warga terganggu, termasuk putri kami Rini. Ia terkena
ISPA sejak seminggu lalu. Kami mengetahuinya setelah kami memeriksakannya ke
dokter. Kondisinya semakin memburuk, karena asap semakin menebal. Kondisi rini
yang masih sangat kecil, sehingga rentan terkena berbagai gangguan kesehatan.
Apalagi saat ini, tak hanya anak kecil, kami pun orang dewasa sangat terganggu
dengan asap ini.
Semua orang jika hendak bepergian, harus
memakai masker untuk sedikit menghindari kabut asap yang menghadang.
***
Kami sangat bahagia dengan kehadiran
puteri kami yang ke-2 ini. Karena dari awal kita menikah, isteriku ingin sekali
anak pertamanya perempuan. Namun, takdir berkata lain, Angga lah anak pertama
kami dan Rini, anak yang di nanti – nanti oleh kami, harus pergi. Allah lebih
menyayanginya.
Rini hanyalah titipan untuk kami, jadi
kami harus ikhlas ketika pemiliknya mengambil titipan itu kembali.
"Ya Allah, kami ikhlas jika Engkau
mengambil rini dari kami, karena ia milik-Mu. Ya Allah, tempatkan Rini di
tempat terbaik di sisi-Mu. Ya Allah, sampai kapan kabut asap ini menyelimuti
kota kami dan kota-kota yang lain? Jika ini Adzab dari-Mu, Ampuni kami ya
Allah, kami banyak bermaksiat kepada-Mu, kami dzalim kepada-Mu, hingga kau
turunkan ujian kabut asap ini untuk kami."
Hanya selaksa do'a yang dapat kami
panjatkan, berharap kabut asap ini segera berlalu. Kami rindu, rindu udara
segar. Kami ingin kembali merasakan, bagaimana bernafas lega. Kami rindu akan
indahnya Senja sebelum gelap menyapa.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar