Sabtu, 17 Oktober 2015

Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!

Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Jangan ayah! aku sangat mencintai kak Alan.”
Ayah sangat marah ketika mengetahui aku menjalin hubungan dengan kak Alan, selama ini aku sembunyi – sembunyi menjalin hubungan ini. Ayah melarang kami anak – anaknya untuk Pacaran, ayah menyuruh kami untuk fokus belajar. Aku memang bandel, tidak seperti kakakku Danang, dia nggak pernah Pacaran, dia selalu mendapat prestasi di sekolahnya, sehingga kak Danang mendapat beasiswa kuliah di Jogja, dan sekarang dia sudah menikah dengan orang Jogja, teman kuliahnya
disana. Adikku Rini yang masih duduk di bangku SMP juga nggak pernah pacaran, Kak Danang dan Rini menuruti perintah ayah. Aku masih duduk di bangku SMA kelas 3, aku pacaran dengan kak Alan sejak kelas satu SMA. Kak Alan menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu saat Masa Orintasi Siswa ( MOS ), kami satu kelompok saat itu. Awalnya aku nggak tahu kalau kak Alan mengagumiku, aku mengetahuinya dari Nada temanku setelah Nada menceritakan semua tentang kak Alan. Nada adalah temanku sejak SD, kami sudah seperti saudara, Nada selalu ada di saat aku membutuhkannya.
***
“ Pergi kamu! ada hubungan apa kamu dengan anak saya? Berani – beraninya jalan berdua dengan anak saya. “ ayah mengusir kak Alan ketika aku pulang Sekolah berdua dengan kak Alan, waktu itu aku telat pulang karena ada tugas dari sekolah, dan harus diselesaikan saat itu juga, sehingga aku pulang menjelang maghrib, dan aku tidak mengabari ayah terlebih dahulu. Kak Alan pun pergi, setelah berpamitan dengan ayah. Lalu kami masuk ke rumah dan ayah menyuruhku duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
 “ Nella, dengarkan ayah! pokoknya ayah mahu kamu putus dengan Alan, ayah membiayai kamu sekolah, bukan utnuk main – main, lihat itu kakak dan adikmu, mereka tidak neko - neko, mereka tahu tugas dan tanggung jawab mereka. Ayah nggak mahu lihat kamu pacaran dengan siapapun.”
Saat itu aku ingin memberontak, sakit sekali rasanya, ayah nggak ngerti dengan perasaanku, ayah jahat! ayah nggak sayang sama Nella, itu yang ada dalam benakku saat itu. Kak Alan kan baik, dia nggak pernah macam – macam, selama kami pacaran, kak Alan selalu mengingatkanku untuk Ibadah, dan ketika kami jalan berdua, kami selalu singgah di masjid ketika masuk waktu shalat untuk shalat bersama. Kak Alan nggak pernah macam – macam.
” Ayah, kenapa sih ayah nggak suka dengan kak Alan? Nella sangat mencintainya ayah, selama ini kak alan baik sekali sama nella, dia nggak seperti anak laki – laki lain.” Aku mencoba menjelakan perasaanku kepada ayah, namun ayah tak mahu mengerti, ayah tetap kekeh dengan pendiriannya, tidak membolehkan aku pacaran. Lalu aku pergi ke kamar, tanpa memperdulikan ayah. Aku berlari sambil menyeka air mataku.
“ Ayah Jahat!!!!!”
***
“ Nella, di cariin tuh sama kak Alan.” Aku yang sedang melamun, tiba – tida dikagetkan oleh suara lembut nada, memberitahukanku bahwa kak Alan mencariku. Aku malu bertemu kak Alan, aku takut kak Alan marah setelah peristiwa kemarin. Aku tahu, kak Alan pasti sakit hati dan marah sama ayah. “ Aduh aku bingung, temuin kak Alan atau nggak yah?” Gumamku dalam hati.
“ Nada, ada apa kak alan mencariku? Aku malu Nad dengan kak alan setelah kejadian kemarin.” Nada menggeleng – gelengkan kepala menandakan dia nggak tahu maksud kak alan mencariku. Ah, aku harus menemui kak Alan, apapun yang terjadi, aku harus menerima resikonya.
“ Udah Nell, temuin saja dulu kak Alan, siapa tahu dia ada perlu lain, bukan membahas soal kemarin.” Nada menyuruhku untuk menemui  kak Alan, dia mengusap pundakku mencoba menghiburku.
“ Nella, bagaimana kabarmu? Ayah sehat kan?”
What? Kak Alan menanyakan kabar Ayah? Dia juga menanyakan kabarku? Lega rasanya, berarti kak Alan nggak marah dengan Ayah. Kami melanjutkan obrolan kami, aku meminta maaf kepada kak Alan soal kejadian kemarin, “Kak aku meminta maaf soal kejadian kemarin. Aku merasa bersalah sama kak alan, gara – gara aku, kak Alan di marahin sama ayah, Maafinn Nella yah kak.”
“ Nella, kakak nggak marah dengan Nella, apalagi dengan ayah, kakak tahu kok maksud ayah itu baik Nell, kita aja yang nggak menegrti beliau.”
Kami lalu duduk di teras depan kelas, dan aku menanyakan kenapa kak alan memanggilku tadi. “ Oh iya kak, katanya kak Alan nyari Nella, ada apa kak?”
“ Nggak ada apa – apa nell, kakak hanya ingin memastikan kamu baik – baik saja.”
Setelah panjang lebar kami mengobrol, kami lalu pergi ke kelas masing – masing, karena bel pelajaran berikutnya telah berbunyi.
“ Kak, nella ke kelas dulu yah, oh iya, terimakasih yah kak, kakak nggak marah dengan nella dan juga ayah, sampai ketemu nanti sore,”
***
“ Kak nella, temanin Rini ke toko buku yuk, rini ada tugas nih dari sekolah, disuruh mencari buku oleh Bu guru.” Rini mengajakku pergi ke toko buku, sementara aku sudah terlebih dahulu janjian dengan kak Alan untuk pergi sore ini. Kalau aku menolak ajakan Rini, ayah pasti marah kalau sampai beliau tahu. Tapi kalau aku pergi dengan Rini, bagaimana dengan Kak alan? Pasti dia kecewa. Aduh gimana ini dong, aku harus memilih siapa? Adikku atau pacarku?
“ Rini, rini bisa pergi sendiri nggak?  Kakak sibuk banget nih, kakak juga banyak tugas dari sekolah, dan harus segera diselesaikan.” Aku membujuk Rini dengan berbohong agar dia mahu pergi sendiri, nggak mungkin aku meminta Kak Danang untuk mengantar Rini, kak Danang kan di Jogja. Karena dia menikah dengan Orang jogja, dan dia juga bekerja di Rumah Sakit di jogja, jadi mahu nggak mahu dia harus tinggal disana dengan istrinya.
“ Nella, kamu sudah  dimana? Jadi kan kita jalan sore ini? “ Handphoneku berdering, dan ku lihat ada SMS masuk dari kak Alan. Aduh, kak Alan sudah menunggu lagi, bagaimana ini, Rini belum mahu ku bujuk pula untuk pergi sendiri.
“ Rini! rini pergi sendiri saja yah ke toko bukunya, Oh iya, rini pergi dengan kak Nada aja ya? Nanti kak Nella suruh ka Nada kesini menjemput Rini!”  Akhirnya, rini mau juga aku bujuk untuk pergi dengan Nada, terimakasih Nada, kau penyelamatku kali ini.
“ Iya deh kak, aku pergi dengan kak Nada,” dengan nada cemberut rini meng iyakan permintaanku. Lalu dia pergi ke kamarnya untuk bersiap – siap. Dan aku juga bersiap – siap untuk pergi dengan kak Alan.
***
Aku pulang ke rumah, dengan membawa kekecewaan, aku sedih. Aku mengurung diri di kamar. Aku melamun di kamar, nggak terasa air mataku meleleh. Aku teringat kata – kata kak Alan sore tadi.
“ Nella, sebelumnya aku meminta maaf ya, aku nggak bermaksud untuk menyakitimu, aku juga sebenarnya nggak mau ngelakuin ini.”
Saat itu aku nggak tahu apa maksud dari ucapan kak Alan, menyakiti? Minta maaf? Apa maksudnya kak Alan mengucapkan seperti itu? Kak alan nggak pernah nyakitin aku, tapi kenapa dia minta maaf?
“ Nella, lebih baik kita sendiri – sendiri dulu ya untuk saat ini, kita fokus belajar dulu. “ seperti diterjang badai dan tersambar petir di siang hari, hatiku seperti tertusuk pedang yang sangat tajam.
Kak Alan melanjutkan pembicaraannya.
”Aku tahu, ini menyakitkan untuk kita, tapi ini yang terbaik saat ini nell, setelah aku berfikir, aku nggak mau kamu menentang ayahmu, dan aku nggak mahu kamu dimarahin ayah gara – gara kamu pacaran, dan itu karena aku.”
Apasih kak alan ini, nggak jelas ngomongnya. Gerutuku!
 Dulu katanya kak alan sayang sama Nella, kakak nggak mau pisah dengan nella, tapi kenapa sekarang kakak ingin pergi dari nella? Kakak sama seperti ayah, nggak ngerti perasaan Nella.
“ Kak, kakak lupa yah dengan janji kakak, kalau kakak akan selalu mencintai Nella? Kakak akan menemani nela sampai maut memisahkan kita. Kakak lupa itu semua?”
Kak! Tak terasa air mataku jatuh.
“ Iya Nell, kaka tahu, tapi kaka fikir ini yang terbaik untuk kita, lagian sebentar lagi kita Ujian kelulusan sekolah, jadi kita harus fokus belajar, agar kita lulus dengan baik,  kakak harap nella mengerti. Kakak juga nggak mahu jauh dari nella, tapi untuk saat ini, ini yang terbaik nel.” aku menangis sejadi – jadinya saat itu, dan aku menyesal, kenapa saat itu aku menolak ajakan Rini untuk menemaninya pergi ke toko buku? Kalau saja aku pergi dengan Rini saat itu, aku nggak bakal putus dengan kak Alan.
Arghhhhhhh!!! dunia ini kejam. Semua ini gara – gara ayah, aku benci ayah.
“ Tok ,,,, tok,,,, tok,,,, Assalamu’alaikum.“
lamunanku seketika buyar, setelah aku mendengar suara dari balik pintu kamarku, dan suara itu nggak asing di telingaku. Aku bangkit dan menuju pintu, ketika aku membuka pintu, aku kaget, “ Wa’alaikumsalam, eh kak Danang, kapan datang kak? Kok pulang nggak ngabarinn nella dulu sih?”
 mataku masih sembab, dan air mataku masih menetes sedikit, arghh!! kak Danang nggak boleh melihat air mataku. Aku mengusap air mataku untuk menyembunyikan kesedihanku dan aku memeluk kak Danang.
“ Kakak sudah dari tadi sampai di rumah, kamunya aja yang nggak mau keluar kamar, kamu nggak kangen yah sama kakak? “ aduh, gara – gara inget kak alan, aku sampai nggak sadar kalau kak danang sudah di rumah dari tadi, sebenarnya Rini sudah memanggilku dari tadi ketika kak Danang sampai di rumah, tapi karena aku sedang melamun, aku nggak menyadari dan nggak mendengar Rini memanggilku.
“ Apaan sih kakak ini, aku kangen banget tahu sama kak danang, apalagi sama Ari dan Eko, kakak bersama mereka kan pulangnya?”
Aku menengok ke kanan ke kiri, mencari – cari jagoan kecil kak Danag. Dan mataku tak menemukan sosok jagoan kecil itu. Karena memang kak Danang nggak membawa mereka pulang.
“ Nggak nell, kakak ke sini sendirian, Eko dan Ari sedang di rumah kakeknya di Jogja, sudah lama mereka nggak melihat kakeknya di sana.”
***
Enam bulan sudah aku dan kak Alan nggak pernah bertemu. Setelah aku lulus SMA, aku tak pernah bertemu lagi dengan kak Alan. Sejak saat itu juga aku nggak pernah berhubungan dengan kak Alan. Aku mendengar  kabr dari teman – teman, kak alan Kuliah di Samarinda, tapi aku sudah nggak peduli dengan dia.
Sekarang aku kuliah di UNMUL Samarinda Semester 1 Jurusan Ekonomi, setelah sempat berhenti satu tahun kemarin, Karena saat itu aku nggak mahu kuliah, aku masih marah dengan ayah, karena aku ngga di bolehkan pacaran.
Nada temanku sudah menikah, dia di jodohkan oleh orang tuanya dengan pengusaha kaya dari jawa, dan Nada sekarang ikut suaminya di Jawa. Aku sangat kehilangan Nada.
“ Nada, jangan lupakan aku yah, walaupun kamu sudah menikah, aku berharap, kita akan tetap bersahabat.” Ucapan perpisahan terakhir ketika Nada akan pergi ke Jawa.
“ Iya nell, aku nggak akan melupakanmu, kamu bukan hanya temanku, tapi kamu sudha seperti saudaraku, do’akan aku ya, semoga aku bisa menjadi istri yang berbakti pada suami.”
“ Nella, ini nella kan? Apa kabar nella” seorang laki – laki menyapaku saat aku sedang berjalan menuju perpustakaan kampus, sosok laki – laki di depanku ini nggak asing bagiku.
“ Iya, aku Nella, eh, ini kak Alan kan?  Alhamdulillah baik kak, kakak juga Apa kabar ka? Nggak nyangka yah kak, kita bertemu lagi di sini.”
Ya. dia Kak Alan mantan Pacarku. ternyata kami kuliah di universitas yang sama, namun kak Alan sudah smester 3, kak alan langsung melanjutkan kuliah setelah lulus SMA dulu, aku sekarang jadi adik tingkatnya di kampus karena aku sempat berhenti kuliah saat itu. Kami mengobrol sambil melanjutkan perjalanan ke perpustakaan, karena cukup lama kami berpisah kami melepas rindu, kak Alan mengajakku ke kantin.
“ Nella, kita ke kantin yuk!” kak alan mengajakku ke kantin, kebetulan saat itu jam makan siang, tapi aku harus ke perpustakaan dulu.
“ Boleh kak, tapi nanti yah kak, aku mau ke parpustakaan dulu.”
“ Oke deh nell, kalau begitu, ayo kita ke parpustakaan bareng.”
 Setelah mengobrol sambil berjalan, aku kaget hal yang pernah ku sangka, kak Alan selama ini belum pernah pacaran lagi, setelah putus dariku dulu, dia hidup menjomblo. Sedangkan aku sudah berkali kali putus nyambung dengan pacarku, tapi sekarang aku juga menjomblo.
****
Setahun sudah kami bertemu di kampus, kami sering bertemu, kadang sekedar untuk mengobrol ringan, sejak saat itu, kami semakin dekat, dan benih – benih cinta kini bersemi kembali. Aku semakin mengagumi kak Alan,
“Mungkin nggak yah kak Alan masih mencintaiku?” Aku bertanya kepada diriku sendiri.
Tapi aku masih takut dengan Ayah, karena ayah masih nggak mengizinkan ku untuk pacaran, walaupun aku sudah kuliah, “ Kamu harus fokus belajar dulu nak, kelak jika ada seseorang yang mencintai kamu, suruh dia datang ke ayah, jangan biarkan lelaki manapun memacari kamu nak, kamu harus bisa menjaga diri. Percayalah nak, Jodoh sudah Allah Atur, jadi nggak perlu pake pacar – pacaran.” nasihat ayah kepadaku, yang membuatku kadang berfikir ulang untuk berpacaran dan menyukai laki – laki. Namun, jiwaku masih belum menerima nasihat ayah. Kalau ayah memintaku untuk menikah aku belum siap, aku ingin menikmati masa mudaku seperti teman - teman.
Aku nggak perduli dengan nasihat ayah. Karena saat ini aku menemukan kembali cinta yang selama ini hilang, yaitu kak Alan. Aku harus bisa bersama lagi dengan kak Alan pokoknya!
“ Nella, kamu sudah punya pacar belum? Aku kira kamu sudah menikah seperti Nada, karena setelah kita lulus, kamu yang nggak pernah menghubungiku.” Ya, aku memang nggak pernah menghubungi kak Alan, karena saat itu yang ada dalam fikiranku, kak alan itu  jahat, dia tega mengakhiri hubungan yang sudah cukup lama kita jalin begitu saja. Dan dia memutuskanku karena Ayah, Aku benci dengan kak Alan saat itu.
***
“ Kak Nella, ayah meminta kakak Pulang, ayah sakit kak, ayah memanggil kak Nella terus kak.” Rini menelephoneku dengan nada haru.
Suaranya terisak, dan ini untuk kesekian kalinya aku di hadapkan dengan dua persoalan yang dimana aku harus memilih salah satu. Aku sudah terlanjur janji kepada kak Alan, kalau kita akan jalan malam ini.  Saat ini Aku sudah menjalin hubungan dengan kak Alan sejak 6 bulan lalu. Tetapi di sisi lain, ayah sedang sakit dan memintaku untuk pulang. Saat itu perasaanku nggak enak, entah mengapa tiba – tiba aku merindukan ayah, aku ingin sekali bertemu ayah, namun aku tak menghiraukan perasaanku saat itu. Keegoisanku, mengalahkan naluriku. Akhirnya aku mengulangi kesalahan lagi, aku lebih memilih kak Alan daripada Ayah, aku membuat alasan kalau ada acara di kampus yang nggak bisa di tinggal.
“ Maaf ya Rin, kakak nggak bisa pulang sekarang, ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal, sampaikan maaf  kakak untuk ayah ya Rin, dan sampaikan kaka sayang sama Ayah.” rini langsung menutup telephone setelah mengucap salam, dan terdengar suaranya sedikit agak kesal, karena aku lebih memilih orang lain daripada ayahnya sendiri.
“ Nella, ayuk kita jalan sekarang, “ kak Alan sudah di depan kost ku, dan aku sudah menunggu dia sejak tadi. Kami jalan berdua ke sebuah pasar  malam di samarinda, kami bersenang – senang disana, setelah itu kami ketepian sungai Mahakam untuk menikmati indahnya pemandangan Malam. “ Nella, aku boleh mengatakan sesuatu nggak? Sudah lama aku ingin mengatakan ini, sejak pertama kali kita ketemu kemarin, aku ingin sekali mengungkapkan ini, tapi aku takut kamu marah.” Deghhh… apa yah yang mau kak Alan katakana? Apa dia mau mengatakan hal yang menyakitiku lagi? entahlah. Aku hanya bisa menunggu kak Alan mengutarakan maksudnya.
“ Nella, dulu aku pernah mencintaimu, menjalin hubungan denganmu, dan aku pernah juga menyakitimu, aku minta maaf, dan sekarang, aku ingin kemabali mencintaimu, aku ingin kita seperti dulu lagi, maukah kamu jadi pacarku lagi?” horeeeee….apa aku nggak salah dengar? Atau aku perlu ke THT untuk memastikan pendengaranku nggak terganggu? Teriakku dalam hati. Bahagianya saat itu, seperti mendapat durian runtuh, dan berhasil menemukan jarum yang hilang di tumpukan jerami. “ Kak Alan, sebelumnya aku minta maaf, karena sejak kejadian dulu, aku sempat marah kepada kak alan, dan aku benci sama kakak, aku butuh waktu kak untuk menjawab pertanyaan kakak, sebenarnya aku juga mau menerima kakak jadi pacarku lagi, tapi aku masih trauma kak.” Aku berpura – pura kak Alan, sebenarnya aku ingin sekali jujur kepadanya.
“ Kak, kenapa kakak memintaku menjadi pacar kakak? Bukankah dulu kakak ninggalin aku karena ayah nggak setuju?” tanyaku kepada kak alan,
karena aku masih takut kalau peristiwa itu akan terulang, walaupun sebenarnya aku masih mengharapkan kak Alan. “ Dik, kakak sudah siap dengan segala resiko, kakak akan hadapi ayah, kakak akan berusaha meyakinkan ayah, kalau kakak sangat mencintai dik Nella,” hatiku berbunga mendengar kak alan berbicara seperti itu, dan aku berharap kak alan konsisten dengan kata – katanya. Setelah itu, kami pulang ke kost kami, kak Alan mengantarku. Ini adalah hari terindah dala, hidupku.
***
“ Nella, bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik – baik saja, Kamu sudah pulang ke rumah belum menengok ayah? Menengok pusaranya?” Tanya kak Danang kepadaku.
Deghhhh…. Pusara? Apa maksudnya kak danang berbicara seperti itu? Ayah? ada apa dengan ayah? Terakhir aku di telephone rini, ayah sedang sakit dan memintaku untuk pulang. Aku fikir ayah sudah sembuh. Setelah itu aku nggak ada komunikasi dengan keluargaku, karena aku sibuk dengan kak Alan.
“ Kak, maafin Nella, nella sibuk di kampus, jadi nella belum sempat pulang, waktu rini menelephone kemarin,  nella  benar – benar nggak bisa pulang,” aku berbohong lagi. sekarang kepada kak Danang. “ jadi kamu nggak tahu apa yang terjadi dengan ayah? Anak macam apa kamu? Ayahnya sendiri kamu nggak tahu kabar beritanya, sudahlah, tak ada gunanya kakak marah sama kamu, tapi kakak berharap kamu berubah, tidak egois, nggak melupakan keluarga, sekarang ayah sudah nggak ada, ayah sudah meninggal, beliau terkena serangan jantung, ketika rini meneleophone kamu kemarin, ayah sedang kritis di Rumah Sakit, dan beliau terus memanggil namamu, beliau ingin bertemu dengan kamu, tetapi kamu malah mementingkan orang lain di sana.”
Innalillahi wainna ilaihiroji’uun,, kak danang pasti bercanda, karena dia orangnya humoris, tapi untuk masalah serius seperti ini, dia nggak pernah main – main. Apa benar ayah meninggal? Kalau benar  ayah sudah meninggal, aku yang paling bersalah, aku menyesal, aku lebih memilih Alan daripada ayahku sendiri. Aku lebih mementingkan kepentinganku daripada ayahku.
“Ya Allah…… Maafkan Nella.”  air mataaku meleleh, aku teringat ayah, aku menyesal!!! andai waktu dapat di putar kemmbali.
“ Serius kak? Kakak nggak bohong kan kak? “ dengan nada datar kak danang menjawab
 “Iya benar, lebih baik sekarang kamu pulang,” air mataku terjatuh saat itu, aku menyesal, dan disaat seperti ini, kak Alan nggak ada di sampingku, dia sibuk dengan urusannya sendiri, begitu juga kak Danang, dia kelihatan sangat marah kepadaku.
“ Kak, bisa ke sini kah? Nella butuh kakak,” aku menelephone kak Alan untuk datang ke kost, aku ingin meminjam bahunya, aku ingin mengadu kepada kak Alan atas apa yang terjadi padaku dan ayah.
“ Maaf nell, kakak sedang sibuk, kakak sedang mengerjakann tugas dan besok pagi harus di kumpul, maaf ya Nell,” arghhhhhh,,, kak alan nggak sayang lagi sama nella, kak alan nggak ngertiin nella, nella butuh kak Alan kak. Aku sangat bingung, kemana aku harus mengadu?
***
“ Nella, kamu ikut aku yuk,” ajak aya teman baruku di kampus, aku kenal dengan dia belum lama, kamipun nggak sengaja dipertemukan, saat itu aku sedang duduk di beranda Masjid, ketika aku memikirkan ayah, aku menyesal karena tak di samping ayah saat ayah pergi, dan aku belum sempat meminta maaf kepada ayah.
Aya sekarang menjadi teman baikku, aku menemukan pengganti Nada di sini. Aya anaknya pinter, Sholehah, dan dia sangat baik kepadaku. Sejak kepergian ayah, aku sangat menyesal, dan aku sering menyendiri, aku selalu teringat ayah, kak alan pun bingung dengan sikapku.
“ Nella, Kamu kenapa? Akhir – akhir ini kamu sering murung?” Tanya kak alan suatu hari.
“ Nggak apa – apa kok kak, aku hanya ingin sendiri saat ini.”
Alhamdulillah aku bertemu dengan aya, aya banyak membantuku untuk menghapus rasa sedih dan sesal ini, aya selalu memberikanku semangat untuk hidup, dan soal alan, aya menasihatiku, agar aku segera menikah dengan alan, jika aku benar benar mencintai kak Alan, agar tidak terjadi fitnah.
Gaya pacaranku dengan alan bisa dibilang melampaui batas, aku sering menginap di kost kak alan, walaupun kami nggak ngapa – ngapain, tapi banyak orang yang bilang aku inilah itulah. Whatever aku nggak perduli apa kata orang saat itu, yang aku tahu aku happy dengan kak alan. Namun, setelah aku mengenal aya aku banyak belajar dari dia, dan aku berniat untuk mengakhiri hubunganku dengan kak Alan.
“ Nella, kita jalan yuk? “ ajak kak Alan kepadaku.
Kak alan mengajakku jalan ke suatu tempat dimana kami sering jalan berdua kesana, di tepi sungai Mahakam. Aku menanti – nanti saat itu, saat aku berdua dengan kak alan, karena ada sesuatu yang ingin aku katakan, aku ingin putus dari kak alan, aku sekarang sadar, kalau apa yang kami lakukan itu salah, Allah nggak suka dengan perbuatan kami, agama kami melarang yang namanya Pacaran. Aku sekarang aku baru tahu kenapa ayah dari dulu melarang kami untuk pacaran. Aku menyesal dulu nggak mendengarkan ayah. Tapi nasi sudah menjadi bubur,  Ayah saat ini sudah tiada, tak ada lagi yang menasihatiku, memarahiku saat aku bandel. Sekarang aku sedang berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi, aya adalah teman baikku yang pernah ku temui, karena dia menuntunku untuk kembali ke jalan yang benar.
***
“ Nell, nggak terasa ya kita sudah satu tahun Pacaran, aku sayang kamu nella.”
Tutur kaka Alan kepadaku. Aku hanya mengangguk dan memberikan senyuman kecil atas apa yang dikatakan kak alan.
“ kalau kita menikah nanti? Kamu mau bulan madu kemana?” aku tak menjawab pertanyaan kak alan, aku nggak mahu berangan – angan atas apa yang belum pasti terjadi. Kini saatnya aku yang berbicara, “ Kak, aku ingin bicara sesuatu dengan kakak, aku harap setelah ini kakak nggak marah sama nella,” alan mencubit hidunngku, seperti biasa ketika dia gemes padaku, dia selalu mencubit hidungku,” alasan apa aku marah sama kamu? “ tutur kak Alan
“ Kak, kakak tahu ngga ayat al-Qur’an yang artinya : " Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji, dan jalan yg buruk "  kak, kata temanku Aya, pacaran itu pintu gerbang menuju perzinahan loh kak, berarti selama ini kita sudah berzina kak, aku nggak mau kak, nggak mahu zina, karena Adzabnya sangat pedih,” kak alan hanya terdiam membisu, serius menyimak apa yang kukatakan.
“ Kak, aku mau kaka nikahin nella, aku ingin hubungan kita di ridhoi Allah, kalau Allah Ridho semuanya akan indah kak. Kalau kakak benar mencintai Nella, kakak datang ke rumah, menemui kak Danang sebagai wali Nella, untuk menikahi Nella.”
Kak alan mengernyitkan dahinya, lalu dia menjawab,
“ Nella, kamu serius? Kita kan masih kuliah, lagian kakak belum punya penghasilan, nanti kakak mau ngasih kamu dan anak kita makan apa?  Sekarang kita jalani saja dulu hubungan ini yah, urusan Menikah, itu bisa nanti, kakak sayang sama kamu nell.” kak Alan membujukku.
“ Ok. Kak kalau kakak nggak mau nikahin nella secepatnya, mulai hari ini kita putus aja kak, nella nggak mahu terus – terusan bermaksiat kepada Allah. Dan aku nggak mahu kakak kena adzab Allah, lebih baik kita sekarang sudahi hubungan ini. Kak, kalau kita jodoh, insyaAllah kita akan bertemu lagi kak, namun bukan dengan cara yang seperti ini. Kalau kakak sayang dan mencintai Nella, hanya ada dua pilihan kak, Nikahin Nella segera atau tinggalkan Nella sekarang.”
“ Assalamu’alaikum kak, Nella pamit duluan kak.”
Setelah itu aku berpamitan kepada kak alan, aku pulang dengan Aya. Sebelumnya aku sudah janjian dengan aya untuk menjemputku tidak jauh dari tempatku bertemu dengan kak Alan. Aku meninggalkan kak alan sendirian di sana. Karena jika terlalu lama aku berbicara dengan kak Alan, niatku untuk putus akan berubah. Kak alan masi bingung dan di seolah nggak percaya dengan apa yang ku katakan.
***  
Setelah putus dari kak Alan, aku lebih dekat dengan Aya, dia selalu membimbingku untuk menjadi lebih baik. dan saat ini aku nggak mahu mengulangi kesalahan seperti dulu lagi. aku serahkan semuanya kepada Allah, Pacaran nggak menjamin ia akan menjadi jodoh kita. Aku sekarang setia dalam kesendirian, aku ingin mencintai Allah terlebih dahulu, aku ingin mencintai keluargaku, sampai nanti Allah mengirimkan jodoh Pilihan-Nya untukku.
“ Ya Allah, jagalah hati ini, tetapkanlah hati ini untuk selalu mengingat-Mu dan selalu mencintai-Mu. Kuserahkan seluruh hidupku dan Urusanku pada-Mu.”
***
“ Assalamu’alaikum, Kak, nella besok pulang, kebetulan libur semester suah tiba, kak danang bisa ke rumah kah? Sekalian ajak Mba Eva dan anak – anak  ya, Nella kangen dengan mereka kak,” aku mengirim SMS untuk kak Danang, mengabarkan bahwa aku besok akan pulang ke Penajam,
“ Wa’alaikumsalam dek, insyaAllah kakak usahakan pulang ke rumah, mungkin 2 hari lagi kakak baru bisa pulang,” Alhamdulillah, lega sekali mendengarnya, kak danang mau pulang untukku, itu berarti kak danang sudah tidak marah denganku lagi.
“ Rini, bagaimana sekolahmu? Jangan malas belajar ya, jangan seperti kakak, bandel,” ku usap rambut rini saat aku menonton TV denganya. Aku mengajaknya mengobrol, karena sudah lama kami nggak ngobrol seperti ini, Rini sekarang sudah semakin besar, dia sekarang duduk di bangku SMA kelas 1. Aku akan menjaga Rini untuk ayah, aku juga akan menyayanginnya sepenuh hatiku.
“ Iya kak, insyaAllah Rini akan rajin belajar, Alhamdulillah kakak sekarang sudah berubah, Rini sayang sama kakak, rini harap kakak selamanya seperti ini, ayah pasti bahagia kak,” kupeluk Rini dengan hangat, tak terasa bulir – bulir air mata terjatuh membasahi kerudung Merahku.
“ Rini, kakak juga sayang Rini, juga kak Danang, maafin kak Nella ya Rin, dulu kakak nggak pernah perduli dengan keluarga, kakak egois, dan ayah meninggal karena kakak, semoga ayah sudah memafkan kak nella ya Rin.” tiba -  tiba aku teringat ayah, dan aku nggak bisa menahan air mataku. Kupeluk rini semakin erat, untuk melepaskan rinduku kepada ayah.
“ Ayah, maafkan Nella, nella sayang ayah, semoga ayah bahagia di sana, nella janji akan nurut kepada kak danang, dan Nella akan menjaga Rini dengan baik,” suasana semakin larut, ingatan akan sosok ayah semakin menggelayut. Air mataku pun tak berhenti mengalir. Aku dan Rini larut dalam suasana Haru. Kami berpelukan semakin erat.
***
“ Assalamu’alaikum,” Rini, tolong lihat siapa yang datang, hari ini Minggu, Rini libur sekolah, aku mengajaknya untuk masak, untuk makan siang  dan menyambut kak danang. “ Iya kak,” rini beranjak dari dapur, untuk melihat siapa yang datang, aku kembali melanjutkan pekerjaanku memasak. Aku mendengar suara kak danang, jangan – jangan itu kak danang, karena kak Danang bilang, dia akan datang hari ini.
“ Rini, siapa yang datang?” tanyaku kepada Rini.
“ Ke sini aja kak, Rini juga nggak tahu siapa yang datang,” Rini sengaja membuatku penasaran.
Aku langsung mematikan kompor, ku letakkan pisau yang sedari tadi di tanganku, aku menuju depan menghampiri Rini, “Alhamdulillah kak danang akhirnya datang.” Gumamku dalam hati. Aku rindu sekali  dengan kak Danang.  Tanpa berbicara aku langsung menghampiri kak Danang.
“ Ku peluk kak danang dengan erat,  kulepaskan semua rinduku kepadanya selama ini.” Aku merasakan pelukan ayah dalam pelukan kak Danang.
“Kak, maafkan Nella ya, selama ini nella nakal, nggak nurut dengan ayah juga kak Danang. Oh iya kak, jagoan kecil kak Danang mana? Mba Eva juga? Kok nggak kelihatan?” aku tengak tengok ke sekitar kak danang, kok nggak ku temukan istri dan anak kak danang,
“ Oh iya Nell, mba Eva titip salam buat kamu dan Rini, dan mba Eva minta maaf karena nggak bisa ikut, kakeknya anak – anak sedang sakit, jadi Mba Eva harus merawat kakek.” Aku sedikit kecewa, karena kak danang nggak membawa keluarga kecilnya. Tapi ya sudahlah, lain kali kan bisa bertemu lagi.
Aku memperssilahkan kak danang masuk, dan aku kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaanku. Setelah makanan siap, kami makan bertiga tanpa ayah. Kami rindu saat – saat bersama ayah.
“ Kak, coba ayah ada di sini ya, pasti suasana tambah hangat.” Mataku berkaca – kaca, karena sudah lama sekali kami tidak makan bersama seperti ini. Apalagi saat ini, kami tanpa ayah.
“ Nella, sudahlah, ayah sudah tenang di sana, ayah sudah bahagia, dengan melihat kita utuh bertiga seperti ini, ayah pasti senang nell. Kita do’akan saja ayah ya, semoga Allah menempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.”
***
“ Kak danang, nella mahu bicara sesuatu dengan kakak, Nella harap kakak bisa membantu nella,” aku mengajak kak danang untuk duduk di Teras rumah, sembari menikmati indahnya sore,
“ Iya dik, kamu mahu minta tolong apa? insyaAllah kakak bantu, selagi kakak bisa,” kak danang duduk di sampingku, terasa kehangatan seorang kakak saat itu, aku juga merasakan sosok ayah pada diri kak Danang.
“ Begini kak, menikah kan menyempurnakan agama kita, dengan menikah kita akan mendapat ketenangan, dan Allah meridhoinya, juga Rasul menganjurkan bagi yang sudah mampu, untuk segera menikah, dan dalam sebuah hadits dikatakan : Nikah Adalah sebagian dari ) sunnahku, barangsiapa tidak suka terhadap Sunnahku, maka tidak termasuk golonganku ( HR.   Bukhori ).” kak Danang terdiam dan menyimak apa yang ku ucapkan dengan seksama, “ kak, InsyaAllah Nella sudah siap untuk menikah, Nella sadar, mengekspresikan Cinta bukan dengan pacaran, pacaran hanya membuat Allah murka, karena Allah melarangnya. Jadi, Nella minta bantuan kak Danang untuk mencarikan calon suami untuk Nella,
Kak Danang mendekapku, memeluk adiknya yang sedang meminta sesuatu, seperti saat kecil dulu, ketika aku meminta sesuatu, kak danang selalu memelukku dan kak danang bahagia, ia akan memelukku dengan penuh kasih sayang, “ Alhamdulillah, Nella, insyaAllah nanti kakak bantu mencarikan calon suami yang shaleh untukmu, mudah – mudahan niat kamu bernilai pahala di sisi Allah. Karena dalam hadits juga disebutkan : Tidak ditemukan jalan lain bagi dua orang yang saling mencintai selain Menikah ( HR. Ibnu Majah ). Jadi jika kita mencintai seseorang dan kita sudah mampu, maka Menikahlah, datangi walinya, bukan dengan mengajaknya Pacaran yang justru membuat Allah murka.” Alhamdulillah, kak danang menyetujuiku dan akan membantuku untuk mencarikan calon suami untukku. Aku memeluk kak danang, dan erat sekali, seolah itu pelukan terakhir sebelum aku menikah nanti.
“ Terimakasih banyak ya kak, semoga kebaikan kakak Allah balas dengan yang lebih baik, dan do’akan Nella ya kak, agar nella tetap istiqomah berjalan dalam Ridho-Nya,” lalu  kami masuk ke rumah, kami tinggalkan senja kala itu, kami melihat sang mentari yang mulai tenggelam seolah tersenyum pada kami, dan ia merasakan bahagia seperti apa yang kami rasakan. Hembusan anginpun membelai dengan lembut mala mini. Syukron ya Robbi, Engkau telah mengembalikanku kepada keluargaku.


***  Penajam, 24 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar