Kulepas Dirimu Dari Hatiku!!!
Oleh
: Amin Nur Kholis
Ayah sangat marah
ketika mengetahui aku menjalin hubungan dengan kak Alan, selama ini aku
sembunyi – sembunyi menjalin hubungan ini. Ayah melarang kami anak – anaknya
untuk Pacaran, ayah menyuruh kami untuk fokus belajar. Aku memang bandel, tidak
seperti kakakku Danang, dia nggak pernah Pacaran, dia selalu mendapat prestasi
di sekolahnya, sehingga kak Danang mendapat beasiswa kuliah di Jogja, dan sekarang
dia sudah menikah dengan orang Jogja, teman kuliahnya
disana. Adikku Rini yang
masih duduk di bangku SMP juga nggak pernah pacaran, Kak Danang dan Rini
menuruti perintah ayah. Aku masih duduk di bangku SMA kelas 3, aku pacaran
dengan kak Alan sejak kelas satu SMA. Kak Alan menyukaiku sejak pertama kali kita
bertemu saat Masa Orintasi Siswa ( MOS ), kami satu kelompok saat itu. Awalnya
aku nggak tahu kalau kak Alan mengagumiku, aku mengetahuinya dari Nada temanku
setelah Nada menceritakan semua tentang kak Alan. Nada adalah temanku sejak SD,
kami sudah seperti saudara, Nada selalu ada di saat aku membutuhkannya.
***
“ Pergi kamu! ada
hubungan apa kamu dengan anak saya? Berani – beraninya jalan berdua dengan anak
saya. “ ayah mengusir kak Alan ketika aku pulang Sekolah berdua dengan kak
Alan, waktu itu aku telat pulang karena ada tugas dari sekolah, dan harus
diselesaikan saat itu juga, sehingga aku pulang menjelang maghrib, dan aku
tidak mengabari ayah terlebih dahulu. Kak Alan pun pergi, setelah berpamitan
dengan ayah. Lalu kami masuk ke rumah dan ayah menyuruhku duduk di sofa yang
berada di ruang tamu.
“ Nella, dengarkan ayah! pokoknya ayah mahu
kamu putus dengan Alan, ayah membiayai kamu sekolah, bukan utnuk main – main,
lihat itu kakak dan adikmu, mereka tidak neko - neko, mereka tahu tugas dan
tanggung jawab mereka. Ayah nggak mahu lihat kamu pacaran dengan siapapun.”
Saat itu aku ingin
memberontak, sakit sekali rasanya, ayah nggak ngerti dengan perasaanku, ayah
jahat! ayah nggak sayang sama Nella, itu yang ada dalam benakku saat itu. Kak
Alan kan baik, dia nggak pernah macam – macam, selama kami pacaran, kak Alan selalu
mengingatkanku untuk Ibadah, dan ketika kami jalan berdua, kami selalu singgah
di masjid ketika masuk waktu shalat untuk shalat bersama. Kak Alan nggak pernah
macam – macam.
” Ayah, kenapa sih
ayah nggak suka dengan kak Alan? Nella sangat mencintainya ayah, selama ini kak
alan baik sekali sama nella, dia nggak seperti anak laki – laki lain.” Aku
mencoba menjelakan perasaanku kepada ayah, namun ayah tak mahu mengerti, ayah
tetap kekeh dengan pendiriannya, tidak membolehkan aku pacaran. Lalu aku pergi
ke kamar, tanpa memperdulikan ayah. Aku berlari sambil menyeka air mataku.
“ Ayah Jahat!!!!!”
***
“ Nella, di cariin
tuh sama kak Alan.” Aku yang sedang melamun, tiba – tida dikagetkan oleh suara
lembut nada, memberitahukanku bahwa kak Alan mencariku. Aku malu bertemu kak
Alan, aku takut kak Alan marah setelah peristiwa kemarin. Aku tahu, kak Alan
pasti sakit hati dan marah sama ayah. “ Aduh aku bingung, temuin kak Alan atau
nggak yah?” Gumamku dalam hati.
“ Nada, ada apa kak
alan mencariku? Aku malu Nad dengan kak alan setelah kejadian kemarin.” Nada
menggeleng – gelengkan kepala menandakan dia nggak tahu maksud kak alan mencariku.
Ah, aku harus menemui kak Alan, apapun yang terjadi, aku harus menerima
resikonya.
“ Udah Nell, temuin
saja dulu kak Alan, siapa tahu dia ada perlu lain, bukan membahas soal
kemarin.” Nada menyuruhku untuk menemui
kak Alan, dia mengusap pundakku mencoba menghiburku.
“ Nella, bagaimana
kabarmu? Ayah sehat kan?”
What? Kak Alan
menanyakan kabar Ayah? Dia juga menanyakan kabarku? Lega rasanya, berarti kak
Alan nggak marah dengan Ayah. Kami melanjutkan obrolan kami, aku meminta maaf
kepada kak Alan soal kejadian kemarin, “Kak aku meminta maaf soal kejadian
kemarin. Aku merasa bersalah sama kak alan, gara – gara aku, kak Alan di
marahin sama ayah, Maafinn Nella yah kak.”
“ Nella, kakak nggak
marah dengan Nella, apalagi dengan ayah, kakak tahu kok maksud ayah itu baik Nell,
kita aja yang nggak menegrti beliau.”
Kami lalu duduk di
teras depan kelas, dan aku menanyakan kenapa kak alan memanggilku tadi. “ Oh
iya kak, katanya kak Alan nyari Nella, ada apa kak?”
“ Nggak ada apa – apa
nell, kakak hanya ingin memastikan kamu baik – baik saja.”
Setelah panjang lebar
kami mengobrol, kami lalu pergi ke kelas masing – masing, karena bel pelajaran
berikutnya telah berbunyi.
“ Kak, nella ke kelas
dulu yah, oh iya, terimakasih yah kak, kakak nggak marah dengan nella dan juga
ayah, sampai ketemu nanti sore,”
***
“ Kak nella, temanin
Rini ke toko buku yuk, rini ada tugas nih dari sekolah, disuruh mencari buku
oleh Bu guru.” Rini mengajakku pergi ke toko buku, sementara aku sudah terlebih
dahulu janjian dengan kak Alan untuk pergi sore ini. Kalau aku menolak ajakan
Rini, ayah pasti marah kalau sampai beliau tahu. Tapi kalau aku pergi dengan
Rini, bagaimana dengan Kak alan? Pasti dia kecewa. Aduh gimana ini dong, aku
harus memilih siapa? Adikku atau pacarku?
“ Rini, rini bisa
pergi sendiri nggak? Kakak sibuk banget
nih, kakak juga banyak tugas dari sekolah, dan harus segera diselesaikan.” Aku
membujuk Rini dengan berbohong agar dia mahu pergi sendiri, nggak mungkin aku
meminta Kak Danang untuk mengantar Rini, kak Danang kan di Jogja. Karena dia menikah
dengan Orang jogja, dan dia juga bekerja di Rumah Sakit di jogja, jadi mahu
nggak mahu dia harus tinggal disana dengan istrinya.
“ Nella, kamu
sudah dimana? Jadi kan kita jalan sore
ini? “ Handphoneku berdering, dan ku lihat ada SMS masuk dari kak Alan. Aduh,
kak Alan sudah menunggu lagi, bagaimana ini, Rini belum mahu ku bujuk pula
untuk pergi sendiri.
“ Rini! rini pergi
sendiri saja yah ke toko bukunya, Oh iya, rini pergi dengan kak Nada aja ya?
Nanti kak Nella suruh ka Nada kesini menjemput Rini!” Akhirnya, rini mau juga aku bujuk untuk pergi
dengan Nada, terimakasih Nada, kau penyelamatku kali ini.
“ Iya deh kak, aku
pergi dengan kak Nada,” dengan nada cemberut rini meng iyakan permintaanku.
Lalu dia pergi ke kamarnya untuk bersiap – siap. Dan aku juga bersiap – siap
untuk pergi dengan kak Alan.
***
Aku pulang ke rumah,
dengan membawa kekecewaan, aku sedih. Aku mengurung diri di kamar. Aku melamun
di kamar, nggak terasa air mataku meleleh. Aku teringat kata – kata kak Alan
sore tadi.
“ Nella, sebelumnya
aku meminta maaf ya, aku nggak bermaksud untuk menyakitimu, aku juga sebenarnya
nggak mau ngelakuin ini.”
Saat itu aku nggak
tahu apa maksud dari ucapan kak Alan, menyakiti? Minta maaf? Apa maksudnya kak
Alan mengucapkan seperti itu? Kak alan nggak pernah nyakitin aku, tapi kenapa
dia minta maaf?
“ Nella, lebih baik
kita sendiri – sendiri dulu ya untuk saat ini, kita fokus belajar dulu. “
seperti diterjang badai dan tersambar petir di siang hari, hatiku seperti
tertusuk pedang yang sangat tajam.
Kak Alan melanjutkan
pembicaraannya.
”Aku tahu, ini
menyakitkan untuk kita, tapi ini yang terbaik saat ini nell, setelah aku
berfikir, aku nggak mau kamu menentang ayahmu, dan aku nggak mahu kamu
dimarahin ayah gara – gara kamu pacaran, dan itu karena aku.”
Apasih kak alan ini,
nggak jelas ngomongnya. Gerutuku!
Dulu katanya kak alan sayang sama Nella, kakak
nggak mau pisah dengan nella, tapi kenapa sekarang kakak ingin pergi dari
nella? Kakak sama seperti ayah, nggak ngerti perasaan Nella.
“ Kak, kakak lupa yah
dengan janji kakak, kalau kakak akan selalu mencintai Nella? Kakak akan
menemani nela sampai maut memisahkan kita. Kakak lupa itu semua?”
Kak! Tak terasa air
mataku jatuh.
“ Iya Nell, kaka
tahu, tapi kaka fikir ini yang terbaik untuk kita, lagian sebentar lagi kita
Ujian kelulusan sekolah, jadi kita harus fokus belajar, agar kita lulus dengan
baik, kakak harap nella mengerti. Kakak
juga nggak mahu jauh dari nella, tapi untuk saat ini, ini yang terbaik nel.” aku
menangis sejadi – jadinya saat itu, dan aku menyesal, kenapa saat itu aku
menolak ajakan Rini untuk menemaninya pergi ke toko buku? Kalau saja aku pergi
dengan Rini saat itu, aku nggak bakal putus dengan kak Alan.
Arghhhhhhh!!! dunia
ini kejam. Semua ini gara – gara ayah, aku benci ayah.
“ Tok ,,,, tok,,,,
tok,,,, Assalamu’alaikum.“
lamunanku seketika
buyar, setelah aku mendengar suara dari balik pintu kamarku, dan suara itu
nggak asing di telingaku. Aku bangkit dan menuju pintu, ketika aku membuka
pintu, aku kaget, “ Wa’alaikumsalam, eh kak Danang, kapan datang kak? Kok
pulang nggak ngabarinn nella dulu sih?”
mataku masih sembab, dan air mataku masih
menetes sedikit, arghh!! kak Danang nggak boleh melihat air mataku. Aku
mengusap air mataku untuk menyembunyikan kesedihanku dan aku memeluk kak
Danang.
“ Kakak sudah dari
tadi sampai di rumah, kamunya aja yang nggak mau keluar kamar, kamu nggak
kangen yah sama kakak? “ aduh, gara – gara inget kak alan, aku sampai nggak
sadar kalau kak danang sudah di rumah dari tadi, sebenarnya Rini sudah
memanggilku dari tadi ketika kak Danang sampai di rumah, tapi karena aku sedang
melamun, aku nggak menyadari dan nggak mendengar Rini memanggilku.
“ Apaan sih kakak
ini, aku kangen banget tahu sama kak danang, apalagi sama Ari dan Eko, kakak
bersama mereka kan pulangnya?”
Aku menengok ke kanan
ke kiri, mencari – cari jagoan kecil kak Danag. Dan mataku tak menemukan sosok
jagoan kecil itu. Karena memang kak Danang nggak membawa mereka pulang.
“ Nggak nell, kakak
ke sini sendirian, Eko dan Ari sedang di rumah kakeknya di Jogja, sudah lama
mereka nggak melihat kakeknya di sana.”
***
Enam bulan sudah aku
dan kak Alan nggak pernah bertemu. Setelah aku lulus SMA, aku tak pernah
bertemu lagi dengan kak Alan. Sejak saat itu juga aku nggak pernah berhubungan
dengan kak Alan. Aku mendengar kabr dari
teman – teman, kak alan Kuliah di Samarinda, tapi aku sudah nggak peduli dengan
dia.
Sekarang aku kuliah
di UNMUL Samarinda Semester 1 Jurusan Ekonomi, setelah sempat berhenti satu
tahun kemarin, Karena saat itu aku nggak mahu kuliah, aku masih marah dengan
ayah, karena aku ngga di bolehkan pacaran.
Nada temanku sudah
menikah, dia di jodohkan oleh orang tuanya dengan pengusaha kaya dari jawa, dan
Nada sekarang ikut suaminya di Jawa. Aku sangat kehilangan Nada.
“ Nada, jangan
lupakan aku yah, walaupun kamu sudah menikah, aku berharap, kita akan tetap
bersahabat.” Ucapan perpisahan terakhir ketika Nada akan pergi ke Jawa.
“ Iya nell, aku nggak
akan melupakanmu, kamu bukan hanya temanku, tapi kamu sudha seperti saudaraku,
do’akan aku ya, semoga aku bisa menjadi istri yang berbakti pada suami.”
“ Nella, ini nella
kan? Apa kabar nella” seorang laki – laki menyapaku saat aku sedang berjalan
menuju perpustakaan kampus, sosok laki – laki di depanku ini nggak asing
bagiku.
“ Iya, aku Nella, eh,
ini kak Alan kan? Alhamdulillah baik
kak, kakak juga Apa kabar ka? Nggak nyangka yah kak, kita bertemu lagi di
sini.”
Ya. dia Kak Alan
mantan Pacarku. ternyata kami kuliah di universitas yang sama, namun kak Alan
sudah smester 3, kak alan langsung melanjutkan kuliah setelah lulus SMA dulu,
aku sekarang jadi adik tingkatnya di kampus karena aku sempat berhenti kuliah
saat itu. Kami mengobrol sambil melanjutkan perjalanan ke perpustakaan, karena
cukup lama kami berpisah kami melepas rindu, kak Alan mengajakku ke kantin.
“ Nella, kita ke
kantin yuk!” kak alan mengajakku ke kantin, kebetulan saat itu jam makan siang,
tapi aku harus ke perpustakaan dulu.
“ Boleh kak, tapi
nanti yah kak, aku mau ke parpustakaan dulu.”
“ Oke deh nell, kalau
begitu, ayo kita ke parpustakaan bareng.”
Setelah mengobrol sambil berjalan, aku kaget hal
yang pernah ku sangka, kak Alan selama ini belum pernah pacaran lagi, setelah
putus dariku dulu, dia hidup menjomblo. Sedangkan aku sudah berkali kali putus
nyambung dengan pacarku, tapi sekarang aku juga menjomblo.
****
Setahun sudah kami
bertemu di kampus, kami sering bertemu, kadang sekedar untuk mengobrol ringan, sejak
saat itu, kami semakin dekat, dan benih – benih cinta kini bersemi kembali. Aku
semakin mengagumi kak Alan,
“Mungkin nggak yah
kak Alan masih mencintaiku?” Aku bertanya kepada diriku sendiri.
Tapi aku masih takut
dengan Ayah, karena ayah masih nggak mengizinkan ku untuk pacaran, walaupun aku
sudah kuliah, “ Kamu harus fokus belajar dulu nak, kelak jika ada seseorang
yang mencintai kamu, suruh dia datang ke ayah, jangan biarkan lelaki manapun
memacari kamu nak, kamu harus bisa menjaga diri. Percayalah nak, Jodoh sudah
Allah Atur, jadi nggak perlu pake pacar – pacaran.” nasihat ayah kepadaku, yang
membuatku kadang berfikir ulang untuk berpacaran dan menyukai laki – laki.
Namun, jiwaku masih belum menerima nasihat ayah. Kalau ayah memintaku untuk
menikah aku belum siap, aku ingin menikmati masa mudaku seperti teman - teman.
Aku nggak perduli
dengan nasihat ayah. Karena saat ini aku menemukan kembali cinta yang selama
ini hilang, yaitu kak Alan. Aku harus bisa bersama lagi dengan kak Alan
pokoknya!
“ Nella, kamu sudah
punya pacar belum? Aku kira kamu sudah menikah seperti Nada, karena setelah
kita lulus, kamu yang nggak pernah menghubungiku.” Ya, aku memang nggak pernah
menghubungi kak Alan, karena saat itu yang ada dalam fikiranku, kak alan
itu jahat, dia tega mengakhiri hubungan
yang sudah cukup lama kita jalin begitu saja. Dan dia memutuskanku karena Ayah,
Aku benci dengan kak Alan saat itu.
***
“ Kak Nella, ayah
meminta kakak Pulang, ayah sakit kak, ayah memanggil kak Nella terus kak.” Rini
menelephoneku dengan nada haru.
Suaranya terisak, dan
ini untuk kesekian kalinya aku di hadapkan dengan dua persoalan yang dimana aku
harus memilih salah satu. Aku sudah terlanjur janji kepada kak Alan, kalau kita
akan jalan malam ini. Saat ini Aku sudah
menjalin hubungan dengan kak Alan sejak 6 bulan lalu. Tetapi di sisi lain, ayah
sedang sakit dan memintaku untuk pulang. Saat itu perasaanku nggak enak, entah
mengapa tiba – tiba aku merindukan ayah, aku ingin sekali bertemu ayah, namun aku
tak menghiraukan perasaanku saat itu. Keegoisanku, mengalahkan naluriku. Akhirnya
aku mengulangi kesalahan lagi, aku lebih memilih kak Alan daripada Ayah, aku
membuat alasan kalau ada acara di kampus yang nggak bisa di tinggal.
“ Maaf ya Rin, kakak
nggak bisa pulang sekarang, ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal, sampaikan
maaf kakak untuk ayah ya Rin, dan
sampaikan kaka sayang sama Ayah.” rini langsung menutup telephone setelah
mengucap salam, dan terdengar suaranya sedikit agak kesal, karena aku lebih
memilih orang lain daripada ayahnya sendiri.
“ Nella, ayuk kita
jalan sekarang, “ kak Alan sudah di depan kost ku, dan aku sudah menunggu dia
sejak tadi. Kami jalan berdua ke sebuah pasar
malam di samarinda, kami bersenang – senang disana, setelah itu kami
ketepian sungai Mahakam untuk menikmati indahnya pemandangan Malam. “ Nella,
aku boleh mengatakan sesuatu nggak? Sudah lama aku ingin mengatakan ini, sejak
pertama kali kita ketemu kemarin, aku ingin sekali mengungkapkan ini, tapi aku
takut kamu marah.” Deghhh… apa yah yang mau kak Alan katakana? Apa dia mau mengatakan
hal yang menyakitiku lagi? entahlah. Aku hanya bisa menunggu kak Alan
mengutarakan maksudnya.
“ Nella, dulu aku
pernah mencintaimu, menjalin hubungan denganmu, dan aku pernah juga
menyakitimu, aku minta maaf, dan sekarang, aku ingin kemabali mencintaimu, aku
ingin kita seperti dulu lagi, maukah kamu jadi pacarku lagi?” horeeeee….apa aku
nggak salah dengar? Atau aku perlu ke THT untuk memastikan pendengaranku nggak
terganggu? Teriakku dalam hati. Bahagianya saat itu, seperti mendapat durian
runtuh, dan berhasil menemukan jarum yang hilang di tumpukan jerami. “ Kak Alan,
sebelumnya aku minta maaf, karena sejak kejadian dulu, aku sempat marah kepada
kak alan, dan aku benci sama kakak, aku butuh waktu kak untuk menjawab
pertanyaan kakak, sebenarnya aku juga mau menerima kakak jadi pacarku lagi,
tapi aku masih trauma kak.” Aku berpura – pura kak Alan, sebenarnya aku ingin
sekali jujur kepadanya.
“ Kak, kenapa kakak
memintaku menjadi pacar kakak? Bukankah dulu kakak ninggalin aku karena ayah
nggak setuju?” tanyaku kepada kak alan,
karena aku masih
takut kalau peristiwa itu akan terulang, walaupun sebenarnya aku masih
mengharapkan kak Alan. “ Dik, kakak sudah siap dengan segala resiko, kakak akan
hadapi ayah, kakak akan berusaha meyakinkan ayah, kalau kakak sangat mencintai
dik Nella,” hatiku berbunga mendengar kak alan berbicara seperti itu, dan aku
berharap kak alan konsisten dengan kata – katanya. Setelah itu, kami pulang ke
kost kami, kak Alan mengantarku. Ini adalah hari terindah dala, hidupku.
***
“ Nella, bagaimana
kabarmu? Semoga kamu baik – baik saja, Kamu sudah pulang ke rumah belum menengok
ayah? Menengok pusaranya?” Tanya kak Danang kepadaku.
Deghhhh…. Pusara? Apa
maksudnya kak danang berbicara seperti itu? Ayah? ada apa dengan ayah? Terakhir
aku di telephone rini, ayah sedang sakit dan memintaku untuk pulang. Aku fikir
ayah sudah sembuh. Setelah itu aku nggak ada komunikasi dengan keluargaku,
karena aku sibuk dengan kak Alan.
“ Kak, maafin Nella,
nella sibuk di kampus, jadi nella belum sempat pulang, waktu rini menelephone
kemarin, nella benar – benar nggak bisa pulang,” aku berbohong
lagi. sekarang kepada kak Danang. “ jadi kamu nggak tahu apa yang terjadi
dengan ayah? Anak macam apa kamu? Ayahnya sendiri kamu nggak tahu kabar
beritanya, sudahlah, tak ada gunanya kakak marah sama kamu, tapi kakak berharap
kamu berubah, tidak egois, nggak melupakan keluarga, sekarang ayah sudah nggak
ada, ayah sudah meninggal, beliau terkena serangan jantung, ketika rini
meneleophone kamu kemarin, ayah sedang kritis di Rumah Sakit, dan beliau terus
memanggil namamu, beliau ingin bertemu dengan kamu, tetapi kamu malah
mementingkan orang lain di sana.”
Innalillahi wainna
ilaihiroji’uun,, kak danang pasti bercanda, karena dia orangnya humoris, tapi
untuk masalah serius seperti ini, dia nggak pernah main – main. Apa benar ayah
meninggal? Kalau benar ayah sudah
meninggal, aku yang paling bersalah, aku menyesal, aku lebih memilih Alan
daripada ayahku sendiri. Aku lebih mementingkan kepentinganku daripada ayahku.
“Ya Allah…… Maafkan
Nella.” air mataaku meleleh, aku
teringat ayah, aku menyesal!!! andai waktu dapat di putar kemmbali.
“ Serius kak? Kakak
nggak bohong kan kak? “ dengan nada datar kak danang menjawab
“Iya benar, lebih baik sekarang kamu pulang,” air
mataku terjatuh saat itu, aku menyesal, dan disaat seperti ini, kak Alan nggak
ada di sampingku, dia sibuk dengan urusannya sendiri, begitu juga kak Danang,
dia kelihatan sangat marah kepadaku.
“ Kak, bisa ke sini
kah? Nella butuh kakak,” aku menelephone kak Alan untuk datang ke kost, aku
ingin meminjam bahunya, aku ingin mengadu kepada kak Alan atas apa yang terjadi
padaku dan ayah.
“ Maaf nell, kakak
sedang sibuk, kakak sedang mengerjakann tugas dan besok pagi harus di kumpul,
maaf ya Nell,” arghhhhhh,,, kak alan nggak sayang lagi sama nella, kak alan
nggak ngertiin nella, nella butuh kak Alan kak. Aku sangat bingung, kemana aku
harus mengadu?
***
“ Nella, kamu ikut
aku yuk,” ajak aya teman baruku di kampus, aku kenal dengan dia belum lama,
kamipun nggak sengaja dipertemukan, saat itu aku sedang duduk di beranda
Masjid, ketika aku memikirkan ayah, aku menyesal karena tak di samping ayah
saat ayah pergi, dan aku belum sempat meminta maaf kepada ayah.
Aya sekarang menjadi
teman baikku, aku menemukan pengganti Nada di sini. Aya anaknya pinter,
Sholehah, dan dia sangat baik kepadaku. Sejak kepergian ayah, aku sangat
menyesal, dan aku sering menyendiri, aku selalu teringat ayah, kak alan pun
bingung dengan sikapku.
“ Nella, Kamu kenapa?
Akhir – akhir ini kamu sering murung?” Tanya kak alan suatu hari.
“ Nggak apa – apa kok
kak, aku hanya ingin sendiri saat ini.”
Alhamdulillah aku
bertemu dengan aya, aya banyak membantuku untuk menghapus rasa sedih dan sesal
ini, aya selalu memberikanku semangat untuk hidup, dan soal alan, aya
menasihatiku, agar aku segera menikah dengan alan, jika aku benar benar
mencintai kak Alan, agar tidak terjadi fitnah.
Gaya pacaranku dengan
alan bisa dibilang melampaui batas, aku sering menginap di kost kak alan,
walaupun kami nggak ngapa – ngapain, tapi banyak orang yang bilang aku inilah
itulah. Whatever aku nggak perduli apa kata orang saat itu, yang aku tahu aku
happy dengan kak alan. Namun, setelah aku mengenal aya aku banyak belajar dari
dia, dan aku berniat untuk mengakhiri hubunganku dengan kak Alan.
“ Nella, kita jalan
yuk? “ ajak kak Alan kepadaku.
Kak alan mengajakku
jalan ke suatu tempat dimana kami sering jalan berdua kesana, di tepi sungai
Mahakam. Aku menanti – nanti saat itu, saat aku berdua dengan kak alan, karena
ada sesuatu yang ingin aku katakan, aku ingin putus dari kak alan, aku sekarang
sadar, kalau apa yang kami lakukan itu salah, Allah nggak suka dengan perbuatan
kami, agama kami melarang yang namanya Pacaran. Aku sekarang aku baru tahu
kenapa ayah dari dulu melarang kami untuk pacaran. Aku menyesal dulu nggak
mendengarkan ayah. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Ayah saat ini sudah tiada, tak ada lagi yang
menasihatiku, memarahiku saat aku bandel. Sekarang aku sedang berusaha menjadi
manusia yang lebih baik lagi, aya adalah teman baikku yang pernah ku temui,
karena dia menuntunku untuk kembali ke jalan yang benar.
***
“ Nell, nggak terasa
ya kita sudah satu tahun Pacaran, aku sayang kamu nella.”
Tutur kaka Alan
kepadaku. Aku hanya mengangguk dan memberikan senyuman kecil atas apa yang
dikatakan kak alan.
“ kalau kita menikah
nanti? Kamu mau bulan madu kemana?” aku tak menjawab pertanyaan kak alan, aku
nggak mahu berangan – angan atas apa yang belum pasti terjadi. Kini saatnya aku
yang berbicara, “ Kak, aku ingin bicara sesuatu dengan kakak, aku harap setelah
ini kakak nggak marah sama nella,” alan mencubit hidunngku, seperti biasa
ketika dia gemes padaku, dia selalu mencubit hidungku,” alasan apa aku marah
sama kamu? “ tutur kak Alan
“ Kak, kakak tahu ngga
ayat al-Qur’an yang artinya : " Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya
zina adalah perbuatan keji, dan jalan yg buruk " kak, kata temanku Aya,
pacaran itu pintu gerbang menuju perzinahan loh kak, berarti selama ini kita
sudah berzina kak, aku nggak mau kak, nggak mahu zina, karena Adzabnya sangat
pedih,” kak alan hanya terdiam membisu, serius menyimak apa yang kukatakan.
“ Kak, aku mau kaka nikahin nella, aku ingin hubungan kita
di ridhoi Allah, kalau Allah Ridho semuanya akan indah kak. Kalau kakak benar
mencintai Nella, kakak datang ke rumah, menemui kak Danang sebagai wali Nella,
untuk menikahi Nella.”
Kak alan mengernyitkan dahinya, lalu dia menjawab,
“ Nella, kamu serius? Kita kan masih kuliah, lagian kakak
belum punya penghasilan, nanti kakak mau ngasih kamu dan anak kita makan
apa? Sekarang kita jalani saja dulu
hubungan ini yah, urusan Menikah, itu bisa nanti, kakak sayang sama kamu nell.”
kak Alan membujukku.
“ Ok. Kak kalau kakak nggak mau nikahin nella secepatnya,
mulai hari ini kita putus aja kak, nella nggak mahu terus – terusan bermaksiat
kepada Allah. Dan aku nggak mahu kakak kena adzab Allah, lebih baik kita
sekarang sudahi hubungan ini. Kak, kalau kita jodoh, insyaAllah kita akan
bertemu lagi kak, namun bukan dengan cara yang seperti ini. Kalau kakak sayang
dan mencintai Nella, hanya ada dua pilihan kak, Nikahin Nella segera atau
tinggalkan Nella sekarang.”
“ Assalamu’alaikum kak, Nella pamit duluan kak.”
Setelah itu aku berpamitan kepada kak alan, aku pulang
dengan Aya. Sebelumnya aku sudah janjian dengan aya untuk menjemputku tidak
jauh dari tempatku bertemu dengan kak Alan. Aku meninggalkan kak alan sendirian
di sana. Karena jika terlalu lama aku berbicara dengan kak Alan, niatku untuk
putus akan berubah. Kak alan masi bingung dan di seolah nggak percaya dengan
apa yang ku katakan.
***
Setelah putus dari kak Alan, aku lebih dekat dengan Aya,
dia selalu membimbingku untuk menjadi lebih baik. dan saat ini aku nggak mahu
mengulangi kesalahan seperti dulu lagi. aku serahkan semuanya kepada Allah,
Pacaran nggak menjamin ia akan menjadi jodoh kita. Aku sekarang setia dalam
kesendirian, aku ingin mencintai Allah terlebih dahulu, aku ingin mencintai
keluargaku, sampai nanti Allah mengirimkan jodoh Pilihan-Nya untukku.
“ Ya Allah, jagalah hati ini, tetapkanlah hati ini untuk
selalu mengingat-Mu dan selalu mencintai-Mu. Kuserahkan seluruh hidupku dan
Urusanku pada-Mu.”
***
“ Assalamu’alaikum, Kak, nella besok pulang, kebetulan
libur semester suah tiba, kak danang bisa ke rumah kah? Sekalian ajak Mba Eva
dan anak – anak ya, Nella kangen dengan
mereka kak,” aku mengirim SMS untuk kak Danang, mengabarkan bahwa aku besok
akan pulang ke Penajam,
“ Wa’alaikumsalam dek, insyaAllah kakak usahakan pulang ke
rumah, mungkin 2 hari lagi kakak baru bisa pulang,” Alhamdulillah, lega sekali
mendengarnya, kak danang mau pulang untukku, itu berarti kak danang sudah tidak
marah denganku lagi.
“ Rini, bagaimana sekolahmu? Jangan malas belajar ya,
jangan seperti kakak, bandel,” ku usap rambut rini saat aku menonton TV
denganya. Aku mengajaknya mengobrol, karena sudah lama kami nggak ngobrol
seperti ini, Rini sekarang sudah semakin besar, dia sekarang duduk di bangku
SMA kelas 1. Aku akan menjaga Rini untuk ayah, aku juga akan menyayanginnya
sepenuh hatiku.
“ Iya kak, insyaAllah Rini akan rajin belajar,
Alhamdulillah kakak sekarang sudah berubah, Rini sayang sama kakak, rini harap
kakak selamanya seperti ini, ayah pasti bahagia kak,” kupeluk Rini dengan
hangat, tak terasa bulir – bulir air mata terjatuh membasahi kerudung Merahku.
“ Rini, kakak juga sayang Rini, juga kak Danang, maafin kak
Nella ya Rin, dulu kakak nggak pernah perduli dengan keluarga, kakak egois, dan
ayah meninggal karena kakak, semoga ayah sudah memafkan kak nella ya Rin.” tiba
- tiba aku teringat ayah, dan aku nggak
bisa menahan air mataku. Kupeluk rini semakin erat, untuk melepaskan rinduku
kepada ayah.
“ Ayah, maafkan Nella, nella sayang ayah, semoga ayah
bahagia di sana, nella janji akan nurut kepada kak danang, dan Nella akan
menjaga Rini dengan baik,” suasana semakin larut, ingatan akan sosok ayah
semakin menggelayut. Air mataku pun tak berhenti mengalir. Aku dan Rini larut
dalam suasana Haru. Kami berpelukan semakin erat.
***
“ Assalamu’alaikum,” Rini, tolong lihat siapa yang datang,
hari ini Minggu, Rini libur sekolah, aku mengajaknya untuk masak, untuk makan
siang dan menyambut kak danang. “ Iya
kak,” rini beranjak dari dapur, untuk melihat siapa yang datang, aku kembali
melanjutkan pekerjaanku memasak. Aku mendengar suara kak danang, jangan –
jangan itu kak danang, karena kak Danang bilang, dia akan datang hari ini.
“ Rini, siapa yang datang?” tanyaku kepada Rini.
“ Ke sini aja kak, Rini juga nggak tahu siapa yang datang,”
Rini sengaja membuatku penasaran.
Aku langsung mematikan kompor, ku letakkan pisau yang
sedari tadi di tanganku, aku menuju depan menghampiri Rini, “Alhamdulillah kak
danang akhirnya datang.” Gumamku dalam hati. Aku rindu sekali dengan kak Danang. Tanpa berbicara aku langsung menghampiri kak
Danang.
“ Ku peluk kak danang dengan erat, kulepaskan semua rinduku kepadanya selama
ini.” Aku merasakan pelukan ayah dalam pelukan kak Danang.
“Kak, maafkan Nella ya, selama ini nella nakal, nggak nurut
dengan ayah juga kak Danang. Oh iya kak, jagoan kecil kak Danang mana? Mba Eva
juga? Kok nggak kelihatan?” aku tengak tengok ke sekitar kak danang, kok nggak
ku temukan istri dan anak kak danang,
“ Oh iya Nell, mba Eva titip salam buat kamu dan Rini, dan
mba Eva minta maaf karena nggak bisa ikut, kakeknya anak – anak sedang sakit,
jadi Mba Eva harus merawat kakek.” Aku sedikit kecewa, karena kak danang nggak
membawa keluarga kecilnya. Tapi ya sudahlah, lain kali kan bisa bertemu lagi.
Aku memperssilahkan kak danang masuk, dan aku kembali ke
dapur untuk melanjutkan pekerjaanku. Setelah makanan siap, kami makan bertiga
tanpa ayah. Kami rindu saat – saat bersama ayah.
“ Kak, coba ayah ada di sini ya, pasti suasana tambah
hangat.” Mataku berkaca – kaca, karena sudah lama sekali kami tidak makan
bersama seperti ini. Apalagi saat ini, kami tanpa ayah.
“ Nella, sudahlah, ayah sudah tenang di sana, ayah sudah
bahagia, dengan melihat kita utuh bertiga seperti ini, ayah pasti senang nell.
Kita do’akan saja ayah ya, semoga Allah menempatkan di tempat terbaik di
sisi-Nya.”
***
“ Kak danang, nella mahu bicara sesuatu dengan kakak, Nella
harap kakak bisa membantu nella,” aku mengajak kak danang untuk duduk di Teras
rumah, sembari menikmati indahnya sore,
“ Iya dik, kamu mahu minta tolong apa? insyaAllah kakak
bantu, selagi kakak bisa,” kak danang duduk di sampingku, terasa kehangatan
seorang kakak saat itu, aku juga merasakan sosok ayah pada diri kak Danang.
“ Begini kak, menikah kan menyempurnakan agama kita, dengan
menikah kita akan mendapat ketenangan, dan Allah meridhoinya, juga Rasul
menganjurkan bagi yang sudah mampu, untuk segera menikah, dan dalam sebuah
hadits dikatakan : Nikah Adalah sebagian
dari ) sunnahku, barangsiapa tidak suka terhadap Sunnahku, maka tidak termasuk
golonganku ( HR. Bukhori ).” kak
Danang terdiam dan menyimak apa yang ku ucapkan dengan seksama, “ kak,
InsyaAllah Nella sudah siap untuk menikah, Nella sadar, mengekspresikan Cinta
bukan dengan pacaran, pacaran hanya membuat Allah murka, karena Allah
melarangnya. Jadi, Nella minta bantuan kak Danang untuk mencarikan calon suami
untuk Nella,
Kak Danang mendekapku, memeluk adiknya yang sedang meminta
sesuatu, seperti saat kecil dulu, ketika aku meminta sesuatu, kak danang selalu
memelukku dan kak danang bahagia, ia akan memelukku dengan penuh kasih sayang, “
Alhamdulillah, Nella, insyaAllah nanti kakak bantu mencarikan calon suami yang
shaleh untukmu, mudah – mudahan niat kamu bernilai pahala di sisi Allah. Karena
dalam hadits juga disebutkan : Tidak
ditemukan jalan lain bagi dua orang yang saling mencintai selain Menikah ( HR.
Ibnu Majah ). Jadi jika kita mencintai seseorang dan kita sudah mampu, maka
Menikahlah, datangi walinya, bukan dengan mengajaknya Pacaran yang justru
membuat Allah murka.” Alhamdulillah, kak danang menyetujuiku dan akan
membantuku untuk mencarikan calon suami untukku. Aku memeluk kak danang, dan
erat sekali, seolah itu pelukan terakhir sebelum aku menikah nanti.
“ Terimakasih banyak ya kak, semoga kebaikan kakak Allah
balas dengan yang lebih baik, dan do’akan Nella ya kak, agar nella tetap
istiqomah berjalan dalam Ridho-Nya,” lalu
kami masuk ke rumah, kami tinggalkan senja kala itu, kami melihat sang
mentari yang mulai tenggelam seolah tersenyum pada kami, dan ia merasakan
bahagia seperti apa yang kami rasakan. Hembusan anginpun membelai dengan lembut
mala mini. Syukron ya Robbi, Engkau telah mengembalikanku kepada keluargaku.
*** Penajam, 24 September 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar