Senandung
Cinta Untuk Kak Danang
Oleh
: Amin Nur Kholis
“
Andi, tunggu!” teriak Anton kepadaku, sambil berlalri menghampiriku. “ Kenapa
kamu lari – lari seperti itu sob? Habis dikejar hantu yah?” ledekku kepada
sobat baikku ini, aku dan anton sudah bersama sejak SMP, kami selalu bersama,
belajar, bermain dan melakukan semuanya kami lakukan bersama. Dia sudah seperti
saudaraku sendiri, anton juga sering bermalam di rumahku, karena aku sendirian
di rumah, aku hanya tinggal bersama ibu dan bapak. Kakaku kuliah di jogja jadi
dia nge kos disana. Aku selalu kesepian semenjak kakaku danang nggak ada di
rumah. Aku selalu bertanya sama ibu, “ Ibu, kenapa sih kakak harus sekolah di
jogja? Kenapa nggak di sini saja, di Kalimantan kan banyak universitas yang bagus
juga.” Namun aku selalu tidak mendapatkan jawaban
sesuai apa yang ku inginkan,
ibu selalu menjawab, “ Andi, sebenarnya ibu juga berat melepas kakakmu untuk
sekolah di luar kota, tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana watak kakakmu itu?
Kalau sudah mempunyai keinginan, nggak bisa di tolak, apalagi dilarang.” Kak
Danang kuliah di Jogja karena mendapat Beasiswa dari pemerintah, dan itu juga
cita – cita kak Danang dari dulu. “ Ikut aku sob, cepat!” anton menarikku
sampai aku hampir terjatuh.
Anton
menarikku sangat kuat, sambil berjalan cepat dia mengatakan :“ Andi, aku harap
kamu bersabar setelah melihat ini, aku nggak mau kamu sedih atau kecewa.” Nafasku
sampai ngos ngosan, Aku semakin penasaran dengan anton, kemana sebenarnya anton
akan membawaku. Sesampainya di tempat yang di maksud Anton, dia memberitahukan
apa yang dia lihat : “ Andi, lihatlah
disana!” seperti tersambar petir di siang hari, seperti tertusuk pisau yang
sangat tajam, aku melihat Ani pacarku sedang bermesaraan dengan pria lain, aku
nggak menyangka Ani tega melakukan ini kepadaku. Entah apa yang ingin aku
lakukan aku bingung, aku kecewa, aku marah, tetapi aku ingat kata – kata anton
bahwa aku ngggak boleh sedih dan kecewa. Aku pasrah atas semua yang terjadi
hari ini. Lalu kami pergi meninggalkan pemandangan di depanku itu, aku nggak
menyangka dan hampir nggak percaya dengan apa yang kulihat.
***
“
Ibu, bagaimana kabar kak danang? Lama sekali dia nggak kasih kabar ke rumah?”
sembari membantu ibu memasak, aku menanyakan perihal kakaku kepadanya, aku
kangen banget sama kak danang, aku kangen belajar bareng dia. Kangen omelannya
dan kejahilannya. “ Kak, pulanglah sebentar, andi kangen sama kakak,” gumamku
dalam hati. “ Ayah, mari kita makan, makanannya sudah siap.” Ayah yang sedari
tadi sedang asyik nonton TV bergegas menuju ruang makan untuk makan bersama
seperti biasa. “ Andi ayo pimpin Do’a sebelum kita makan!”Ayah menyuruhku memimpin Do’a, setelah berdo’a, kami menyantap makanan yang
sudah dimasak oleh ibu, setelah itu kami mengobrol ringan.
“
Bu, andi ke kamar dulu ya,,,” setelah membereskan meja makan, Aku masuk ke
kamar untuk menyelesaikan tugas sekolah yang besok harus dikumpul, aku lupa
menyelesaikannya kemarin. Saat aku dikamar dan sendiri, aku selalu ingat
kakaku, kadang aku menangis, aku rindu kakaku, apalagi disaat seperti ini,
setelah aku putus dengan Ani, aku ingin curhat sama kak danang, tapi sayang dia
nggak ada disini. Kakaku selalu melarangku pacaran, dia selalu bilang, “ Dek,
belajar dulu yang betul, bapak dan ibu menyekolahkan kita bukan untuk main –
main, kita harus mennghargai perjuangan mereka.” Kak danang tahu bagaimana
pergaulan remaja saat ini, sekolah hanya untuk main – main, tanpa mereka
menyadari betapa besar perjuangan orang tua mereka. Karena itu kak danang
selalu mewanti – wantiku untuk serius belajar. Tetapi aku anaknya bandel, semua
nasihat kak danang, seolah seperti angin lalu unntukku.
***
Aku
duduk di tepi sungai, seraya memandangi indahnya pemandangan di sore hari,
langit yang merah, dan matahari yang akan segera kembali ke peraduannya. Aku
selalu berfikir dan termenung saat aku duduk di tepi sungai ini, pemandangan
seindah ini, siapakah yang membuatnya? Pertanyaan itu selalu membuatku gelisah,
seolah aku harus mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku, tetapi aku nggak
tahu, bagaimana aku mendapatkan jawaban itu semua.
Aku
tak se Alim kak danang, dia rajin shalat, mengaji dan selalu aktif dalam kajian
– kajian islam. Aku sering di ajak kak danang untuk mengikuti kajian, tapi aku
selalu menolak dengan berbagai alasan. Pernah suatu hari kak danang mengajakku
ke salah satu acara pengajian, tidak terlalu jauh tempatnya, 1 jam perjalanan
dari rumah. “ Andi, ayo ikut kakak!” kak danang sudah rapih dan siap untuk
berangkat, sementara aku masih bermalas – malasan di kamar, karena hari ini
hari minggu. “ Nggak ah kak, aku mau istirahat, kan hari ini minggu, memangnya
mau kemana sih?” “ Ayolah dek, kali ini saja, kamu pasti happy nanti disana.”
Bujuk kak danang agar aku ikut dengannya, tapi, aku tetap menolak. “ Maaf deh kak,
lain kali saja ya, lagian baju koko andi sudah kecil semua, sudah nggak muat.”
Aku berkilah dengan alasan yang asal ceplos. Aku rindu dengan kak Danang, sejak
dia nggak ada di rumah, nggak ada lagi yang mengajakku ke kajian yang sering
dia ikuti.
***
“
Andi, melamun aja, mikirin apa sih? Serius amat.” Anton membuatku kaget, hampir
jantunngku lepas. “ Nggak ada apa apa kok sob, tenang saja, aku baik – baik
saja.” Aku dan anton berjalan menuju lapangan belakang sekolah, setiap jam
istirahat sekolah, aku dan anton sering pergi ke lapangan belakang sekolah
tempat dimana dulu aku melihat Ani mantan pacarku kepergok sedang berduaan di sana. Aku teringat
peristiwa itu dan tiba – tiba air mataku meleleh. “ Sob, kenapa ya, Ani sampai
seperti itu? Dia tega menghianati aku?” aku mengadudak perasaanku kepada Anton,
namun dia hanya terdiam mendengar curhatku, dia hanya mengatakan, “ Sudahlah
sob, ikhlaskan dia, masih banyak cewek lain di dunia ini, lagian kak danang
juga nggak mengizinkan kamu pacaran kan? Lihat nih aku, jomblo setia, tapi
tetap happy, jomblo itu enak sob, malam minggu nggak ada yang minta di apelin,
nggak ada yang minta di anterin kemana – mana, kita lebih banyak waktu untuk
orang tua kita, ” anton membanggakan diri dengan status jomblonya, ya dia
adalah anak yang ceria, seolah hidupnya tanpa masalah, dia selalu tersenyum dan
selalu menghiburku. Dia memang sahabatku yang paling baik.
“
teng … teng … teng … “ suara bel masuk berbunyi, kami bergegas meninggalkan
lapangan belakang sekolah untuk menuju kelas. Hari ini aku nggak konsentrasi
dengan pelajaran sekolah, hatiku gelisah, entah apa yang ada dalam hati dan
fikiranku. Seolah dunia ini sempit. Sepulang sekolah aku langsung ambil air
wudhu untuk shalat dhuhur, “ Ya Allah, mengapa aku seperti ini? Jiwaku gelisah,
apakah karena aku jauh dari-Mu? Aku terlalu jauh meninggalkanmu? Aku kecewa dan
aku sedih karena Ani menghianatiku, dan itu sangat memukulku, aku sayang sama
ani ya Allah, tapi apakah ini cara-Mu agar aku mendengarkan nasihat kak danang?
Dan aku lebih mencintai-Mu?” keluhku dalam Do’a.
“
Assalamu’alaikum, ibu, bagaimana kabarnya? Semoga ibu dan keluarga sehat,”
terdengar suara yang tak asing lagi di telingaku, ya, itu suara kak danang, aku
langsung keluar kamar mendekati sumber suara itu, ibu sedang menerima telephone
dari kak danang. Aku bahagia sekali, mendengar kabar dari dia, aku sudah rindu
sekali dengan kak danang.
“ Ibu, maafin danang
yah, danang sibuk sekali di kampus, sampe nggak sempat mengabari keluarga di
rumah, andi sehat kan bu? Oh iya, Insya Allah besok danang pulang bu.”
“ Alhamdulillah nak,
Ibu, ayah dan Andi sehat, iya ibu mengerti kok nak, yang penting kamu jangan
sampai lupa Ibadah ya nak, jangan lupa shalat , mengaji dan mendo’akan kami di
sini, andi pasti senang sekali mendengar kamu akan pulang.” Belum sempat aku
meminta telephone dari ibu untuk berbicara dengan kak danang, telephone itu
sudah di tutup, “ Iya bu, insyaAllah danang nggak lupa, Ibu do’ain danang juga
ya, semoga danang tetap dalam lindungan Allah. Wassalamu’alaikum.”
Aku
selalu menanti kepulangan kak danang, sudah satu tahun dia nggak pulang dari
jogja, aku sangat merindukannya. Hari ini adalah hari yang dijanjikan oleh kak
danang, bahwa dia akan pulang ke rumah, kami menunggu dia di rumah, ibu sudah
memasakkan msakan kesukaan kak danang, sayur tempe dan gorengan tempe mendoan.
Aku nggak berhenti mondar mandir di teras menanti kehadiran kak danang. Dua jam
sudah aku di teras, tapi, tanda – tanda kepulangan kak danang belum juga
terlihat. Perasaan kami jadi nggak tenang, kami khawatir terjadi apa – apa
dengan kak danang. “ Bu, bagaimana? Ada kabar dari kak danang belum?” ibu masih
asyik di dapur menyiapkan makanan untuk kak danang. Tiba – tiba suara telephone
berdering, “ Kring … kring … kring …. “ “ Andi, tolong angkat telephonenya nak,
ibu masih sibuk nih!” aku langsung masuk ke dalam rumah untuk mengangkat
telephone. “ Selamat siang, benar ini dengan kediaman Bapak Hasan?” suara itu
terdengar menakutkan, perasaanku jadi nggak karuan, tiba – tiba aku kefikiran kak
danang. “ iya betul pak, ini rumah bapak Hasan, ada apa ya pak? “ perasaanku
semakin nggak tenang, aku khawatir terjadi sesuatu dengan kak Danang, “ Maaf
pak, kami dari kepolisian, ingin mengabarkan bahwa telah terjadi kecelakaan di
Jl. Sudirman Balikpapan, dan kami menemukan salah satu korban dengan nama di
kartu Identitas atas nama : Danang Adi syaputra.” Deg… terasa tersambar petir
di siang hari, aku nggak percaya kak danang mengalami kejadian seperti ini, “ Ya Allah, selamatklanlah kak danang, jagalah
dia ya Allah,” pintaku dalam hati. setelah polisi memberitahukan dimana kak
Danang saat ini, aku menutup telephone tersebut, “ Terimakasih pak atas
informasinya, kami akan segera ke sana.“ Aku langsung berlari ke dapur
menghampiri ibu, dan menceritakan apa yang aku dengar tadi di telephone. “ Bu,
kak danang bu, tadi ada dari kepolisain mengabarkan bahwa kak danang mengalami
kecelakaan, dan sekarang semua korban kecelakaan berada di RS. Restu Ibu
Balikpapan.” Air mata ibu meleleh, suaranya terisak, aku nggak tega melihat ibu
seperti itu, aku mencoba menghibur ibu, untuk sekedar menenangkannya. Tak lama
bapak pulang, setelah ku SMS beliau mengabarkan apa yang terjadi. Kami bergegas
menuju Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan ibu tak berhenti menangis.” Andi,
kakakmu nak, bagaimana keadaannya? Ibu nggak mau kalau sampai kehilangan
danang.” Ku peluk ibu dan ku usap
bahunya, kukecup kening ibu, “ Ibu, do’akan saja kak danang, semoga dia baik –
baik saja, semoga nggak terjadi apa – apa dengan kak danang.”
Sesampainya
di Rumah Sakit, ayah langsung menuju meja Receptionist “ Maaf Suster, pasien
yang bernama Danang Adi Syaputra di kamar No. Berapa?” petugas RS membuka
file-file mencari pasien yang bernama Danang Adi Syaputra, sambil menunggu
bapak menanyakan tentang kak danang, aku dan ibu duduk di ruang tunggu di depan
receptionist Rumah Sakit. “ Bapak, pasien atas nama danang adi saputra berada
di kamar Mawar No. 5.” Setelah kami meendapat informasi tentang kak Danang,
kami langsung menuju kamar dimana kak danang dirawat, “ Oke. Terimakasih
suster.” Dengan nada gembira karena bapak sudah menemukan informasi tentang kak
danang di rawat, bapak menghapiri aku dan Ibu, Alhamdulillah ibu sekarang sudah
mulai tenang, bibir ibu tak berhenti bergerak sedari tadi untuk mendo’akan kak
danang. Kak danang memang anak kesayangan ibu, sejak kecil ibu selalu
mengistimewakan kak danang, kadang aku merasa iri dan cemburu. Kak danang
memang lebih pintar dan lebih segalanya dari aku. Dia lebih menurut dan nggak
bandel seperti aku, tapi aku sayang sama kak danang, dia selalu menghiburku di
saat aku sedih, di saat aku butuh, dia selalu ada. Tetapi walaupun ibu lebih
menyayangi kak danang, beliau nggak melupakanku, ya walaupun cara beliau
menyayangi kami berbeda, tetapi ibu menyayangi kami semua.
Sesampainya
disana, ibu kembali menangis, melihat kondisi kak danang, wajah yang penuh
dengan perban, tangan yang di ikat ke dada, aku nggak tega melihat kak danang
seperti itu, tapi ini semua ujian dari Allah, kami harus bersabar, dan Alhamdulillah
kak danang nggak terluka parah, hanya pergelangan tangannya yang patah. Tapi
kata dokter dia hanya butuh istirahat dan nggak boleh banyak bergerak terlebih
dahulu. “ Danang, kamu nggak apa – apa kan nak? Mana yang sakit? Biar ibu yang
menggantikan rasa sakitmu nak,” ibu menangis dengan memeluk kak Danang, “ Iya
bu, danang baik – baik saja, ibu lihat kan danang nggak apa – apa, hanya luka
sedikit bu, ibu tenang saja ya.” Hibur kak danang kepada ibu, namun kulihat kak
danang meneteskan air matanya.
Seminggu
sudah setelah kak danang kecelakaan, dan di rawat di rumah sakit, alhamdulillah
hari ini kak danang sudah di bolehkan pulang. Senang sekali rasanya bersua
kembali dengan kakak tercintaku. Sudah lama aku merinbndukan kehadirannya. Dan
kini mimpi itu menjadi nyata walau dengan kondisi yang seperti ini. Kak danang
dalam kondisi sakit, tapi aku bahagia bisa kembali bersua dengan kak danang. “
Kak, kakak nggak kangen yah sama andi?” keluhku kepada kak danang, karena dia
jarangg sekali menghubungi kami, “ kakak sayang sama semuanya dek, bapak, ibu,
dan kamu yang bandel ini” “ lalu kenapa kakak nggak pernah menghubungi kami?
Sekedar untuk memberi kabar? Kami kangen tahu sama kakak,” dengan nada sedikit
meledek, aku mengadukan perasaanku, ya selama dia nggak di rumah, suasana rumah
sepi, nggak ada yang cerewet lagi, nggak ada yang memarahiku saat aku telat
bangun untuk shalat. Nggak ada lagi yang ngomel kalau aku nggak mau ikut ngaji.
“ Andi, bagaimana sekolahmu? Awas ya kalau kamu main – main dengan sekolahmu.” Kenapa sih kak danang menanyakan hal seperti itu? Coba tanyain “ mana cewekmu,
cantik nggak, baik nggak?” begitu kek, ini yang ditanyain sekolah melulu. Gumamku
dalam hati setelah mendengar pertanyaan dari kak danang dan aku agak kesal. “
Iya kak, sekolah andi lancar kok, tenang yah kak, andi nggak akan menyia –
nyiakan perjuangan orang tua kok.” Aku membela diri dari kak danang,“ Syukurlah
kalau begitu, semoga kamu benar – benar serius dengan ucapanmu.” Seolah kak
danang tahu kalau aku sering bermain daripada belajar, dan dia seolah tahu
kalau aku nggak serius sekolah. Aku membalasnya dengan senyuman terindah agar
kak danang nggak curiga atau marah,
***
Setahun
sudah aku putus dengan ani, setahun pula aku hidup menjomblo. Sekarang aku dan
anton sama – sama jomblo setia. “ Andi, mana cewek barumu? Sudah setahun nih
kamu nggak nggandeng cewek,” tiba – tiba
anton muncul di belakangku, saat aku sedang sayik duduk sendirian di tepi
sungai, hmmm, anton anton, kenapa sih dia
mengunngkit ungkit soal cewek, apa dia nggak tahu kalau aku belum bisa move on
dari Ani? “ Eits, kata siapa aku nggak pernah nggandeng cewek? Kemarin aku
baru pergi dengan cewek,” dahi antor mengernyit, seolah tak percaya aku jalan
dengan cewek, karena kalau aku punya cewek, pasti dia yang paling tahu duluan,
“ Kenapa kamu pasang muka seperti itu sob? Jelek tahu,” ku ledek anton agar dia
jengkel, “ Nggak kok sob, aku hanya heran saja, kamu punya pacar kok aku nggak
tahu, jangan jangan kamu sudah nggak menganggapku teman lagi yah?” anton pergi
meninggalkanku, sepertinya dia marah, tapi kalau nggak begitu bukan anton
namanya, paling dia acting, agar aku cerita tentang cewek yang ku gandeng
kemarin. “ Anton, tungguin dong, mau kemana kamu? Tega yah kamu ninggalin
sobatmu ini sendirian disini?” aku berlari mengejar anton dan berusaha untuk
membuat dia nggak ngambek lagi. tapi dia berjalan sangat cepat, sampai aku
kwalahan mengejarnya.
***
Sore
itu aku berjalan berdua dengan anton, kami hendak ke sungai tempat biasa kami
bersantai. Di tengah perjalanan kami melihat sekumpulan anak kecil dengan formasi melingkar dan di tengah
– tengah mereka ada seorang perempuan dengan jilbab lebar sedang member pelajaran
kepada anak – anak itu. Entah mengapa ketika itu aku penasran siapa perempuan
itu? Aku merasa nggak asing dengan perempuan itu. Semenjak itu, Aku jadi sering
ke tepi sungai, bahkan betah berlama – lama disana. Berharap aku dapat bertemu
lagi dengan perempuan itu, tapi sayang, sudah seminggu ini dia nggak ada
disini. Aku jadi semakin penasaran dengan perempuan itu, aku bertanya kepada
semua orang di sekitar sungai itu, dan aku mendapat sebuah jawaban yang bagiku
itu adalah jawaban yang ku inginkan. “ Permisi Bu, maaf mau nanya, perempuan
yang biasa mengajar anak – anak disini siapa ya bu?” dengan semangat aku
bertanya kepada ibu – ibu di sana. “ Oh, itu dek, itu nak Ani, dia memang
sering kesini untuk mengajar anak – anak mengaji, kami sebagai orang tuanya
senang karena anak kami ada yang mengajari ngaji, selama ini mereka nggak pernah
ngaji, setiap sore mereka hanya bermain.”
“Ani?
Apakah dia ani mantan pacarku? Ah nggak mungkin dia Ani mantanku.” Aku masih
penasaran dengan identitas perempuan itu, aku ingin memastikan kalau dia itu
memang ani atau bukan. Hari ini aku kembali ke sekitaran sungai dimana aku
sering menghabiskan waktu disana, dan akhirnya perempuan itu ada disana, dia
sedang mengajari anak – anak mengaji, aku mendekatinya dan aku mendengar suara
merdunya ketika melantunkan ayat suci al – Qur’an. “ Indahnya suara lantunan
ayat suci itu.” Bisikku dalam hati. Setelah acara mereka selesai dan ketika
perempuan itu hendak pergi, aku mendekatinya, dan mencoba menyapanya, “
Assalamu’alaikum mba, “ sontak aku kaget setelah dia menoleh kepadaku, aku
nggak percaya dengan apa yang kulihat. Ternyata dia memang Ani mantan pacarku,
dia sekarang berubah, lebih feminim dan lebih sopan, apa gerangan yang membuat
dia seperti ini? Bermacam pertanyaan muncul di otakku. Aku masih nggak percaya
dengan apa yang kulihat. Ani sekarang berbeda ia tak seagresif dulu, ia lebih
sopan dan lebih menghargai orang lain, ketika ia berbicara dengankupun dia
menundukkan pandangannya. “ Wa’alaikumsalam, maaf, Mas andi yah? Sudah lama kita nggak bertemu, Bagaimana
kabarnya mas? Anton juga bagaimana kabar dia? Apa dia sudah punya pacar?” gaya
bicaranya sekarang lebih lembut, lebih enak di dengar, ah andai ani masih jadi
pacarku. “ Alhamdulillah ani, aku dan Anton sehat, dan dia masih seperti dulu,
jomblo setia.” Waktu sudah semakin sore, ani pun berpamitan untuk segera
pulang, akupun segera pulang ke rumah, inngin rasanya segera ku ceritakan apa
yang ku alami kepada anton dan kak danang.
***
“ Anton, setelah lulus nanti, kamu
mau kuliah dimana?” seperti biasa ketika anton di ajukan sebuah pertanyaann ia mengeluarkan
jurus andalannya, garuk – garuk kepala pura – pura nggak faham. Aku berharap
anton nggak kuliah di luar kota, aku nggak mau sendiri lagi, kak danang
sebentar lagi pulang ke jogja karena keadaannya sudah mulai membaik, dan kata
dokter, kak danang sudah boleh beraktifitas seperrti biasa. Ah, sedih rasanya
membayangkan kak danang akan pergi lagi ke jogja, aku akan sendiri lagi,
kesepian, nggak ada lagi yang mengomeli aku. “ Hei, hayo melamunin apa? Aku
yang ditanya kok kamu yang melamun?” hampir saja copot jantungku, anton memang
paling suka mengagetkan orang. “Anton, aku mahu cerita,” anton menatatapku seirus, mungkin dia masih
penasaran dengan perempuan yang waktu itu ku bilang aku menggandengnya,” Mau
cerita apa sih? Serius amat, soal perempuan yang kemarin kamu gandeng saja,
kamu belum cerita, siapa sih sob, perempuan itu? Pacar barumu yah?” ternyata
benar kan, anton masih penasaran, “ Bukann sob, ini bukan soal itu, dan soal
perempuan yang aku gandeng kemarin, kamu pasti sudah tahu lah, “ anton makin
penasaran, dia memaksaku untuk memberitahu, siapa perempuan itu, dia mengancam
nggak mau lagi mendengar curhatanku kalau aku nggak menceriakan siapa perempuan
itu, “ aduh kamu ini yah sob, paling bisa merayu, dengan ancaman jitu kamu,”
aku pukul dia pelan, dank u tepuk bahunya, ku coba merayu dia agar dia nggak
ngambek lagi, mukanya jelek sekali saat itu, “ senyum dong sob, kamu itu jelek
kalau sedang ngambek begitu, oke deh, aku kasih tahu siapa perempuan itu, tapi
kamu jangan syok yah,!” anton masih ngambek, malah sekarang dia menjauh
duduknya dariku,” udah cepat ceritakan, atau aku tinggal pergi nih,” aku
mendekati anton, sepertinya dia benar – benar ngambek karena penasaran,” Anton
sahabatku, perempuan yang kemarin agu gandeng, bukan pacarku, tapi, dia adalah
orang yang special dalam hidupku, aku kemarin menggandeng ibuku ke pasar, sudah
lama aku nggak ikut ibu ke pasar, jadi kemarin aku ikut beliau ke pasar,” anton
tambah ngambek, sekarang pasang muka cemberut, dia mencubitku, dan rasanya
sakit sekali, “ aduh, jahatnya kamu sob, awas kamu,” aku mengancam untuk balas
dendam,” “ lagian kamu ndi, bikin aku kesal saja, aku penasaran tahu siapa
perempuan itu? Kalau itu pacar kamu, kok aneh, kamu nggak ngasih tahu aku kalau
kamu punya pacar baru,” aku mendekati anton dan mencoba menghibur dirinya yang
sedang ngambek. “ Anton, sudahlah, berhenti ngambeknya, malu tuh sama rumput,
dia di injak – injak nggak pernah ngambek, apalagi marah,” akhirnya anton
kembali pasang senyuman indahnya, dan aku melanjutkan apa yang ingin ku
ceritakan tadi.
“
Anton, kamu percaya nggak dengan apa yang ku lihat dan kutemui?” anton kembali
penasaran, dan dia mendesakku untuk segera menceritakan apa yang kutemui, dia
kali ini mengancam kalau aku membuatnya penasaran lagi, dia nggak mau berteman
lagi denganku,” Iya sob, kali ini aku serius dan nggak akan bikin kamu ngambek
karena penasaran.” Aku menjelaskan apa yang aku alami kemarin, dengan siapa aku
bertemu, dan seperti apa perempuan yang kutemui kemarin. “ Anton, aku kemarin ketemu
perempuan yang waktu itu kita lihat sedang mengajar anak – anak ngaji,” anton
menyela pembicaraanku, “ terus apa hubungannya perempuan itu dengan aku?” “
Kamu tahu nggak ton? Perempuan itu ternyata Ani, mantan pacarku, sekarang dia
sudah berubah seperti apa yang kamu lihat kemarin.” Anton kaget dan nggak
percaya dengan apa yang kuceritakan. Namun akhirnya dia faham dan mengerti,
setelah aku jelaskan. Dan aku mengungkapkan keinginanku untuk menjadikan Ani
pacarku lagi, dan aku mahu berubah.
***
Bulan depan pengumuman kelulusan kelas 3, aku
berharap mendapatkan nilai yang baik, agar aku bisa membanggakan orang tua dan
nggak mengecewakan kak danang. Di sela sela menunggu kelulusan dan kak danang
belum pergi ke jogja, aku belajar kepada kak danang perihal agama, aku ingin
menjadi manusia yang lebih baik, sesuai apa yang ku utarakan kepada Anton, aku
ingin seperti ani, dia yang dulu brutal, dan banyak nggak disukai orang karena
kenakalannya, sekarang dia berubah drastis, semua orang menyayanginya, dan aku
bersyukur bisa bertemu dengan dia dengan kondisi yang seperti ini, suasana yang
berbeda dan dalam kondisi yang lebih baik. “ kak, ajarin aku agama donk, andi
mau ngaji, andi mau jadi anak yang baik, agar bisa seperti kaka, disayang ibu,
bapak, dan temen – temen, dan aku ingin punya pacar seperti Ani,” uuppppssss….
Keceplosan, kak danang pasti marah, karena dengar aku mahu pacaran, kak danang
seolah tak percaya dengan apa yang ku tuturkan, tapi dia sangat mengerti aku,
dan dia bersedia membantuku. Dan dia menanyakan soal pernyataanku yang
terakhir, “ Kamu mau pacaran? Sama siapa? “ aku kikuk dibuat kak danang, aku
malu, dan aku tahu, kak danang pasti nggak ngizinin, “ Kak, boleh curhat
nggak?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan, dengan nada memelas, aku memohon
kepada kak danang untuk mahu mendengarkan ceritaku. “ silahkan dek, kamu mau
cerita apa? Soal Pacar yang tadi yah ya?” aduh kok kak danang mengarah kesitu
terus sih, aku garuk kepalaku yang sebenarnya nggak gatal.” Ih, kak danang
apaan sih, siapa juga yang pacaran, “ aku mencoba membela diri,” Ya sudah, kamu
sudah besar dek, kamu sudah tahu mana yang baik mana yang nggak, kaka hanya
berpesan, kamu nggak salah jalan, dan Pacaran itu nggak ada dalam ajaran agama
kita, dalam Al – Qur’an disebutkan sebuah ayat yang artinya " Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya
zina adalah perbuatan keji, dan jalan yg buruk ", dengan kamu pacaran, berarti kamu melakukan Zina, ketika
kamu menyentuh pacarmu, kamu sudah zina tangan, ketika kamu memandang pacarmu,
kamu Zina mata, dan ketika kamu mengingatnya dan mengkhayalkannya, kamu zina
hati, Pacaran itu pintu gerbang memasuki Zina, lebih baik, kamu sekarang fokus
belajar, jangan khawatir soal Jodoh, Allah sudah mengaturnya untuk kita, tugas
kita memperbaiki diri dan memantaskan diri agar kita pantas menjemput Jodoh
yang telah Allah Pilihkan, tapi kamu harus ingat, Niatkan memperbaiki diri
Untuk Allah.” Aku malu saat itu, aku wajahku tertunduk, aku teringat bagaimana
aku pacaran dulu, lebih parah dibandingkan dengan apa yang dikatakan kak
danang. “ Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini, hamba-Mu telah melanggar syari’at-Mu,
izinkan hamba kembali pada-Mu ya Robb, hamba ingin mencintai-Mu sepenuh hati,”
aku menangis dan memeluk kak Danang, ada kehangatan disana, kehangatan yang
sudah lama aku tak mendapatkannya. Kak danang mengelus pundakku, aku merasakan
kasih sayangnya tulus untukku. “ Kak danang, terimakasih ya kak, kakak sudah
mengingatkanku, mulai saat ini, aku nggak mahu pacaran lagi.
***
Hari
ini kak danang harus pergi ke jogja, aku sangat sedih dan kehilangan, dan aku bersyukur, sekarang aku bukan andi yang dulu,
aku merasa menjadi manusia sesungguhnya, ya walaupun masih dalam proses
belajar, dan harus lebih banyak belajar lagi. aku sangat berterimakasih kepada
kak danang, dan juga Ani mantan pacarku, karena ani, aku merasa malu, malu pada
diriku sendiri. Sekarang aku nggak mau pacaran setelah kak danang menceritakan
bagaimana efek negative dari pacaran itu, “ dampak
– dampak apa yang ditumbulkan dari hubungan pacaran itu kamu tahu dek? Satu
yang pasti, pacaran itu bukan
jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang
berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas
pelanggaran syariat ! tak jarang kita melihat orang yang pacaran berakhir
tragis, melahirkan anak di Luar Nikah, bahkan sampai pembunuhan karena rasa
cemburu dan keinginan – keinginan yang di minta oleh pasangan tidak di turuti,
dengan alasan untuk membuktikan Cintanya, si wanita merelakan kehormatannya
kepada si laki – laki yang menjadi pacarnya,” . Yang paling berkesan di hatiku adalah sebuah ayat
yang kak danang petuahkan kepadaku saat itu, sebuah ayat yang artinya " Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya
zina adalah perbuatan keji, dan jalan yg buruk ". dan sebuah Hadits Rasulullah, “ Tidak
ditemukan jalan lain bagi dua orang yang saling mencintai, kecuali Menikah.” soo
lebih baik mencegah daripada mengobati, kan? Aku nggak mau
jatuh Cinta sebelum cinta itu Halal untukku . terimakasih kak danang, kakak
adalah kakak terbaik untuk andi.
***
“Andi…..”
suara Anton mengagetkanku, aku yang sedang asyik duduk di tepi sungai
memandangi senja yang begitu indah, pudar sudah keindahan itu oleh teriakan
anton sahabatku. “ Ada apa sob? Kamu nggak berubah yah dari dulu, sukanya
ngagetin orang,” memasang muka sebel dan sedikit kesal, karena anton sudah
merusak lamunanku. “ Andi, sudah dengar kabar belum? “ dengan nada penasaran
aku bertanya soal kabar itu, “ Kabar apa ton? Cepet kasih tahu aku, ini tentang
Ani yah?” entah mengapa sejak bertemu ani waktu itu, aku selalu memikirkannya,
aku ingin kembali dekat dengan dia, dan aku ingin hidup bersama dia. Dan aku
ingin menjadi pendamping Hidupnya, Tapi itu hanya mimpi, aku bukan type laki –
laki yang di inginkan Ani, aku nggak pantas untuk wanita sholehah seperti dia.
“ Sok tahu kamu sob, tapi iya sih ini kabar tentang ani, tapi kamu jangan syok
yah mendengar ini, oke bro….!” aku semakin penasaran ada apa dengan Ani. “ Ani
kenapa sob? Dia kecelakaan? Atau kenapa?” anton semakin membuatku penasaran,
karena dia tak kunjung menceritakan kabar tentang Ani. “ Begini sob, tadi
sewaktu aku pulang kerja, Ibu menyodorkanku sebuah kertas undangan, dan setelah
aku baca, itu undangan dari Ani sob, dia akan menikah bulan depan, dia menikah
dengan teman kuliahnya,” serasa petir menyambar saat itu, hatiku sepeti
terhunus pedang, dan aku kembali di ingatkan tentang kejadian saat masih
sekolah dulu, ketika aku memergoki Ani sedang berduaan dengan laki – laki lain
sampai akhirnya kita putus. Tetapi sekarang aku lebih ikhlas, ani akan segera
menikah, dan kondisi kami sekarang sudah lebih baik dari yang dulu. Setelah
mendengar kabar dari anton, aku langsung pulang, segera aku ambil air wudhu
untuk shalat, dan dalam keheningan aku berdo’a kepada Allah “ Ya Allah, mungkin
Ani memang bukan jodoh yang Engkau tuliskan untukku, aku yakin engkau sudah
mempersiapkan pendamping hidup untukku yang terbaik di Hadapan-Mu, ibadahku,
hidupku, dan matiku, ku serahkan semuanya pada-Mu, Ya Allah, sang pemilik hati,
jagalah hati ini agar selalu mengingatmu, agar hati ini selalu terpaut pada-Mu,
amiin.”
***
Kak
danang sekarang sudah menikah, dan dia memiliki dua jagoan kecil. Rumah kami
sekarang menjadi ramai dengan celotehan mereka. Setelah menikah, kak Danang
kembali ke Rumah, dan untuk sementara dia tinggal di rumah sampai dia
mendapatkan Rumah baru. Aku sekarang bekerja di SD dimana dulu aku sekolah disana,
sebagai tenaga bantu, di bagian Tata usaha. Sementara anton sahabatku, sudah
menikah lebih dulu, dua bulan lalu anton menikah dengan teman satu kerjaan. Dan
sekarang istri anton sedang mengandung. Tak lama lagi Anton sahabatku akan
menjadi seorang Ayah! Sedangkan Aku? Masih setia dengan Kejombloanku Karena-Nya
dan akan terus begitu hingga kelak Allah menitipkaknu seorang wanita yang
bersamanya akan kutiti jalan ke syurga-Nya. “ Ya Allah, jagalah mereka orang –
orang yang kusayangi. Ikatlah tali ukhuwah kami hingga ke Syurga-Mu, Amiin.”
***
Penajam,
22 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar