Minggu, 27 September 2015

Teguran Dari-Mu

Teguran Dari-Mu
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Ibu, jangan bu, ampun…. Ampun…. “
terdengar teriakan dari sudut rumah yang baru saja kulewati
“ah, mungkin ibunya sedang memarahi anaknya karena anaknya nakal” fikirku kala itu
Aku tetap melajutkan perjalanan menyusuri lorong gelap mala mini
Letih, lelah karena baru saja mengerjakan tugas kantor yang sangat banyak
Sehingga membuatku tak memperdulikan setiap apa yang ku lihat dan terjadi di sekitar
“ Ayah, aku mahu beli mainan seperrti teman – teman,”
Pinta seorang anak kepada ayahnya
Keadaannya sangat memprihatinkan

Mereka hanya tinggal di sebuah gubuk reot berdinding kardus bekas
“ Iya nak, nanti ayah belikan ya, “
Hibur sang ayah kepada anaknya agar anaknya bahagia
namun air matanya menetes memikirkan darimana mendapatkan uang
untuk membelikan mainan untuk anaknya, dia bergumam
“ Ya Allah, bagaimana aku bisa membelikan mainan untuk anak hamba?
Untuk makan saja kadang kami tak makan selama tiga hari”
Kembali aku tak menghiraukan apa yang kulihat
Rasa letih dan lelah semakin menggerogotiku
Aku melanjutkan perjalanan
“ Ibu, ayah kemana? Kok aku nggak pernah melihat ayah? “
Suara mungil seorang anak yang menanyakan keberadaan ayahnya
Ia adalah anak dari korban pemerkosaan, yang entah ayahnya dimana
Aku sering mendengar cerita tentang mereka dari tetangga
“ Nak, ayahmu sekarang sedang bekerja mencari uang untuk kita,
Nanti kalau ayah sudah punya uang banyak, ayah pasti pulang,”
Kembali ku melihat seorang Ibu menghibur anaknya agar anaknya tak menangis
Malam semakin larut, akupun mempercepat langkahku
“ Om, bagi uangnya Om, untuk makan om, sudah 2 hari nggak makan Om,
Kasihan adik saya Om, dia kelaparan, ”
Anak itu bersama adiknya yang kakinya nggak ada, tangan hanya Satu
Dan ia di gendong oleh anak tersebut
“ hei kamu, kamu nggak tahu yah, aku baru pulang bekerja, aku masih lelah,
Aku bekerja banting tulang untuk mendapat uang, kamu malah enak – enakan
Meminta – minta, kalau mau duit, kerja, pergi sana!!!”
“ Kalau nggak mahu ngasih, jangan marah – marah Om, kami nggak maksa om,
Mudah – mudahan Allah selalu melindungi om,”
Sebal, kesal, jengkel, menambah rasa letihku
Aku ingin segera sampai di rumah untuk segera merebahkan badan
“ Anak jaman sekarang, enak saja meminta – minta, dasar anak malas…”
Sambil melanjutkan perjalanan aku ngedumel dan….
“ Ciiiiiiiiiiiiittttttt…….. braaakkkkkk…..”
Pandanganku gelap, dan aku merasakan ada sesuatu yang menabrakku
Aku melihat dengan mata sayup kerumunan orang di sampingku
“ Ada apa mereka mengerumuniku? “
Setelah itu, aku tak tahu apa – apa, aku tak sadarkan diri
Orang – orang membawaku ke Rumah sakit terdekat
Ketika aku tersadar, badanku penuh dengan perban
Kakiku tak bisa di gerakkan
Kedua tanganku pun nggak bis abergerak
Aku merasa lemas, tak mampu menggerakkan badanku sama sekali
“ ya Allah apa yang terjadi denganku? “
Tiba – tiba aku teringat anak kecil yang tadi meminta – minta padaku
Dan aku menangis, mungkin ini teguran dari Allah,
Aku tadi nggak menghiraukan anak itu
Aku nggak merasakan kasihan sedikitpun kepada adak itu
Dengan keadaan adiknya yang seperti itu
Akupun tak tersentuh hatinya
“ Ya Allah, maafkan hamba, jika hamba telah berlaku salah terhadap anak itu,”
Saat ini aku pasrah dan menyerahkan semua kepada Allah
Aku harus sanggup melalui ini semua.


Penajam, 25 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar