Teguran
Dari-Mu
Oleh
: Amin Nur Kholis
“ Ibu, jangan bu,
ampun…. Ampun…. “
terdengar teriakan
dari sudut rumah yang baru saja kulewati
“ah, mungkin ibunya
sedang memarahi anaknya karena anaknya nakal” fikirku kala itu
Aku tetap melajutkan
perjalanan menyusuri lorong gelap mala mini
Letih, lelah karena
baru saja mengerjakan tugas kantor yang sangat banyak
Sehingga membuatku
tak memperdulikan setiap apa yang ku lihat dan terjadi di sekitar
“ Ayah, aku mahu beli
mainan seperrti teman – teman,”
Pinta seorang anak
kepada ayahnya
Keadaannya sangat
memprihatinkan
Mereka hanya tinggal
di sebuah gubuk reot berdinding kardus bekas
“ Iya nak, nanti ayah
belikan ya, “
Hibur sang ayah
kepada anaknya agar anaknya bahagia
namun air matanya
menetes memikirkan darimana mendapatkan uang
untuk membelikan
mainan untuk anaknya, dia bergumam
“ Ya Allah, bagaimana
aku bisa membelikan mainan untuk anak hamba?
Untuk makan saja
kadang kami tak makan selama tiga hari”
Kembali aku tak
menghiraukan apa yang kulihat
Rasa letih dan lelah
semakin menggerogotiku
Aku melanjutkan
perjalanan
“ Ibu, ayah kemana?
Kok aku nggak pernah melihat ayah? “
Suara mungil seorang
anak yang menanyakan keberadaan ayahnya
Ia adalah anak dari
korban pemerkosaan, yang entah ayahnya dimana
Aku sering mendengar
cerita tentang mereka dari tetangga
“ Nak, ayahmu
sekarang sedang bekerja mencari uang untuk kita,
Nanti kalau ayah
sudah punya uang banyak, ayah pasti pulang,”
Kembali ku melihat
seorang Ibu menghibur anaknya agar anaknya tak menangis
Malam semakin larut,
akupun mempercepat langkahku
“ Om, bagi uangnya
Om, untuk makan om, sudah 2 hari nggak makan Om,
Kasihan adik saya Om,
dia kelaparan, ”
Anak itu bersama
adiknya yang kakinya nggak ada, tangan hanya Satu
Dan ia di gendong
oleh anak tersebut
“ hei kamu, kamu
nggak tahu yah, aku baru pulang bekerja, aku masih lelah,
Aku bekerja banting
tulang untuk mendapat uang, kamu malah enak – enakan
Meminta – minta,
kalau mau duit, kerja, pergi sana!!!”
“ Kalau nggak mahu
ngasih, jangan marah – marah Om, kami nggak maksa om,
Mudah – mudahan Allah
selalu melindungi om,”
Sebal, kesal,
jengkel, menambah rasa letihku
Aku ingin segera
sampai di rumah untuk segera merebahkan badan
“ Anak jaman
sekarang, enak saja meminta – minta, dasar anak malas…”
Sambil melanjutkan
perjalanan aku ngedumel dan….
“
Ciiiiiiiiiiiiittttttt…….. braaakkkkkk…..”
Pandanganku gelap,
dan aku merasakan ada sesuatu yang menabrakku
Aku melihat dengan
mata sayup kerumunan orang di sampingku
“ Ada apa mereka
mengerumuniku? “
Setelah itu, aku tak
tahu apa – apa, aku tak sadarkan diri
Orang – orang
membawaku ke Rumah sakit terdekat
Ketika aku tersadar,
badanku penuh dengan perban
Kakiku tak bisa di
gerakkan
Kedua tanganku pun
nggak bis abergerak
Aku merasa lemas, tak
mampu menggerakkan badanku sama sekali
“ ya Allah apa yang
terjadi denganku? “
Tiba – tiba aku
teringat anak kecil yang tadi meminta – minta padaku
Dan aku menangis,
mungkin ini teguran dari Allah,
Aku tadi nggak
menghiraukan anak itu
Aku nggak merasakan
kasihan sedikitpun kepada adak itu
Dengan keadaan
adiknya yang seperti itu
Akupun tak tersentuh
hatinya
“ Ya Allah, maafkan
hamba, jika hamba telah berlaku salah terhadap anak itu,”
Saat ini aku pasrah
dan menyerahkan semua kepada Allah
Aku harus sanggup
melalui ini semua.
Penajam, 25 September
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar