Bungkam di Tengah Riuh
Hujan baru saja berhenti mengguyur
hamparan bumi, daun-daun masih basah, suasana dingin pun masih belum ingin
beranjak.
Di sebuah ruangan berukuran kira-kira 4x5 meter,
masih berkumpul empat sekawan. Doni, Didi, Toro dan Pak Joni.
Doni dan Didi menempati kursi panjang
lengkap dengan meja yang ukurannya tak jauh berbeda dengan kursi yang mereka
berdua singgahi. Kursi dan meja yang kerap membawa kehangatan dalam sua yang
tak lagi dirasai oleh salah satu dari mereka. Sementara Toro dan Pak Joni
menempati kursi yang terpisah.
Obrolan demi obrolan memecah sunyi juga
mengusir rasa dingin sisa-sisa hujan. Mulai dari obrolan ringan, sampai pada
aset atau bisnis yang tengah dijalani oleh kedua teman di antara mereka.
Dan sebuah pertanyaan muncul di sela-sela
obrolan yang tengah berlangsung.
"Don, tadi ada Pak Jajang nemuin Mas
Didit?" Tanya Didi seraya sibuk dengan lembaran-lembaran yang sedari tadi
berserakan di atas meja.
Sejenak suasana hening. Desir angin pun
begitu terasa memeluk tubuh yang tengah menghalau gigil.
"Nggak ketemu, Mas Didit tadi!"
Toro mencoba menjawab pertanyaan yang sejak beberapa saat lalu terjawab oleh
hening.
Namun seperti biasa, untaian kata yang
kerap terlontar dari bibir Toro, selalu terbalas dengan pengabaian. Ya,
hubungan Toro dengan salah satu dari ketiga temannya memang tak seharmonis
dulu. Semua berawal dari hal sepele beberapa tahun lalu. Sejak saat itu,
kerenggangan atas kedekatan yang dulu pernah terjalin semakin hari semakin
memisahkan.
Toro melanjutkan kebungkaman yang telah
terganggu oleh jawaban yang ia lontarkan namun tak diharapkan. Diraihnya ponsel
pintar hitamnya yang selama ini menemaninya di kala ia menghindar dari
keriuhan. Meskipun ia tahu dengan sikapnya yang seperti itu justru semakin
menjauhkannya dari teman-temannya. Tapi dia tak pernah mempedulikan hal itu.
Bagi Toro bungkam adalah pilihan terbaik saat ini ketika setiap tutur yang ia
lontarkan tak menuai tanggapan. (:
~Amin
Nur Kholis
~Penajam,
07 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar