Minggu, 26 Juni 2016

Di Belantara, Aku Kehilangan

~Di Belantara, Aku Kehilangan~
[ Malam Narasi OWOP ]

Kulangkahkan kaki menelusuri belantara ini. Lelah, jengah, kerap menyambangi, namun tak menyurutkan langkahku. Bebatuan terjal, rerumputan tinggi menjulang, pepohonan rindang menjadi temanku saat ini. Entah sudah berapa lama aku bertahan dalam situasi ini.
Keempat temanku sudah lebih dulu tumbang, mereka pergi dengan alasan yang sama, LELAH. Ya, mereka lelah menemaniku menemui tujuanku yang aku sendiri pun tak tahu, tujuan apa yang hendak kuraih dari perjalanan ini, yang kutahu hanyalah, aku harus tetap melangkah, menelusuri belantara ini dengan satu kekuatan, keyakinan akan kekuatan ILLAHI.
Dodo, temanku telah lebih dahulu meninggalkanku. Ketika itu konflik terjadi di antara kami -aku dan Dodo- saat itu kami berada di sebuah persimpangan, kami pun bingung hendak memilik jalan yang mana?! Kami lupa membawa kompas yang sangat berguna untuk kami jika dalam kondisi tersesat.
''Ke kanan, Ton!'' ucap Dodo yakin.
Dodo yakin dengan feelingnya, bahwa kami harus memilih simpangan yang kanan, tetapi, aku dan ketiga temanku berkeyakinan bahwa kami harus memilih jalan yang kiri.
Kami tetap pada keyakinan masing-masing.
''Kamu memang nggak pernah menerima pendapatku ya, Ton. Setiap apa yang kukatakan, kamu pasti membantah.'' ucap Dodo kesal.
''Bukan begitu, Do, tapi di antara kita berempat, cuma kamu yang memilih belok ke kanan. Sementara kami bertiga yakin, simpangan kiri lah jalan yang tepat.'' jawabku pelan.
''Ya udah kalau kalian tetap kekeh dengan pilihan kalian, biar aku sendiri yang memilih jalan ini.'' Dodo berlalu meninggalkan kami.
Dodo tetap kekeh dengan pilihannya, dia pergi meninggalkan kami berempat. Aku hanya bisa menerima kemarahannya, kekecewaannya. Dodo benar, aku memang tak pernah menerima setiap pendapat apa yang dia lontarkan padaku. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku selalu menolak pendapatnya. Akalku menerima, tetapi hatiku selalu ingin berontak.
''Udah lah, Ton. Biarin aja dia pergi. Toh nanti sembuh sendiri kan? Nanti kalau sudah lupa, dia pasti baik lagi kok.'' Didi menguatkanku.
Langit tak menampakkan birunya, hanya gumpalan awan pekat yang menghiasi. Gemuruh guntur saling bersahutan, kami melanjutkan perjalanan di bawah naungan pekatnya langit.
Setelah berjalan lebih jauh, langkah kami terhenti. Didi menyergah kami dengan keluhannya.
''Ton, istirahat dulu yuk! Capek nih.'' pinta Didi yang tengah menempa lelah.
Lagi lagi aku tak menghiraukannya. Aku tetap ingin berjalan karena memang lelah belum menyergapku dan aku merasa masih sanggup untuk berjalan lebih jauh lagi.
''Ntar aja deh, Di. Kita jalan aja dulu sambil mencari tempat berteduh, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.'' jawabku dengan lebih pelan.
Didi mengibas-ngibaskan topi gunungnya untuk mengusir lelah. Keringatnya mengucur padahal tak ada terik mentari yang menghampiri.
''To, gimana menurutmu? Kita istirahat dulu atau lanjutkan perjalanan?'' tanyaku pada Toto yang tengah berdiri mematung. Tak ada sedikitpun lelah kulihat darinya. Wajahnya masih sumringah seperti saat kami belum memasuki belantara ini.
''Terserah kamu aja, Ton. Mau istirahat ayo, mau lanjut ya ayo.'' jawabnya tanpa ekspresi.
Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan perjalanan, Didi tetap kekeh ingin beristirahat.
''Oke, Ton. Silakan kamu lanjutkan perjalananmu, aku mau istirahat saja dan mungkin aku akan balik arah pulang. Aku capek dengan kamu yang egois.'' Didi beranjak hendak mencari tempat istirahat yang lebih nyaman.
''Bener kata Dodo, kamu emang nggak pernah mendengarkan pendapat teman. Kamu nggak pernah mengerti kondisi temanmu.'' lanjutnya sambil berlalu.
Aku hanya mampu terdiam, otakku berputar, akalku memikirkan apa yang dikatakan Didi. Pertama, aku telah mengecewakan Dodo hingga sekarang dia entah di mana, tersesatkah atau sudah lebih dulu sampai di rumah. Kedua, aku tak menghiraukan Didi, tak mengerti rasa lelahnya, hingga dia pun memilih pergi.
Rintik hujan mulai mengguyuri, gemuruh guntur semakin menggelegar. Siluet cahaya kilat sesekali membuatku merasa takut.
''To, Ron, yuk kita lanjutkan perjalanan kita!''
Sepasang mataku tak melihat kedua temanku itu. Padahal mereka tadi ada di depanku.
''To, Ron, kalian di mana?'' tanyaku pada mereka yang entah di mana.
Gerimis terus mengguyur menguyupi tubuhku hingga mencipta gigil yang teramat sangat. Kucari sebuah jaket di dalam tas ranselku, tapi yang ada hanya sehelai kaos pendek yang rencananya akan kujadikan sebagai pakaian ganti.
''Oh iya, aku lupa naruh jaket tadi pas mau berangkat.''
Aku pasrah pada hujan yang tak henti mengguyurku. Gigil yang menyelimut tubuhku pun tak ingin beranjak pergi, memaksaku membawanya di setiap langkah kakiku.
Kulanjutkan perjalanan tanpa teman-temanku, hanya guyuran hujan dan gemuruh guntur juga siluet kilat yang menuntunku, bersama selimut gigil yang mendekap erat tubuhku.
Jauh kaki melangkah, sebuah tempat berteduh yang kucari pun tak kunjung kutemui. Gigil tubuhku semakin menjadi, langkahku kini tak lagi dapat jauh menapaki jalanan terjal, dengan tergopoh kuayunkan kaki setapak demi setapak meski entah aku akan bertahan sampai di mana.
''Tuhan, kuatkan hamba-Mu ini.'' lirihku di tengah gigil.
Setapak demi setapak jalan telah kulalui, entah sudah berapa jauh aku melangkah. Sepasang mata pun tertuju pada sebuah lorong di seberang sungai berbatu. Akar-akar mengelilingi lorong itu.
''Terima kasih, Tuhan. Kau telah menuntunku ke sini, hingga dapat kutemui sebuah goa di ujung sana.''
Kembali kulangkahkan kaki di tengah hujan yang tak kunjung reda, bersama gigil yang masih mendekap.
''Aduh, gimana caranya melewati sungai ini? Arusnya deras sekali.'' mataku melirik ke sana ke mari, mencari-cari barangkali ada sesuatu yang bisa kupakai untuk melewati sungai di hadapanku.
Perhatianku tertuju pada sebuah sampan bekas, yang sepertinya telah lama tak digunakan. Akhirnya kugunakan sampan itu untuk menerjang derasnya arus sungai setelah kuperbaiki, karena beberapa papannya ada yang telah rusak.
Susah payah menerjang arus sungai yang semakin deras, terkadang ranting-ranting yang hanyut terbawa arus menghempasku. Cipratan air pun tak lelah menerpa.
''Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Terima kasih, Tuhan.'' Ucapku penuh rasa syukur.
Kulanjutkan kayuhan kaki menuju goa itu, berharap aku bisa meneduhkan tubuhku di sana.
Semakin dekat kutuju goa itu, semakin jauh dia dari pandanganku. Goa itu berjalan mundur jika aku mencoba menghampirinya. Ia pun berhenti bila aku juga berhenti berusaha mendekatinya.
Kuhentikan sejenak perjuanganku menggapai goa itu. Di tengah lelahku, betapa terkejutnya saat kulihat sosok laki-laki yang tengah berdiri di mulut goa. Kedua lelaki seumuranku berdiri di sana dan wajah mereka tak asing bagiku.
Kucoba kembali mendekati goa itu, perlahan. Sosok kedua lelaki itu pun tampak semakin jelas di pandanganku. Ya, kedua lelaki itu Toto dan Roni, sahabatku. Mereka tengah tersenyum di sana, tangannya melambai memintaku untuk menemui mereka, tapi aku tetap saja tak sanggup menemui mereka. Semakin jauh kumelangkah mendekati goa itu, semakin jauh pula goa itu menghindariku.
Hingga hujan berhenti mengguyur, lukisan pelangi kembali menghiasi langit, aku hanya bisa memandangi goa itu, menyaksikan kedua sahabatku berdiri di mulut goa sambil menyuguhkan senyum untukku.
''To, Ron, kenapa kalian ninggalin aku sendiri di sini?'' keluhku lirih.
Kini hanya ada aku sendiri di sini, menelusuri belantara yang entah di mana ujung pangkalnya. Kuserahkan diriku pada sinar mentari untuk mengeringkan tubuhku, mengusir gigil yang tak kunjung pergi, dengan terik yang menghampar memenuhi cakrawala.

#Amin Nur Kholis
#Penajam,23 Juni 2016

#Malam Narasi

1 komentar:

  1. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Great, love this .
    taruhan judi poker online terpercaya

    BalasHapus