~Di Belantara, Aku Kehilangan~
[ Malam Narasi OWOP ]
Kulangkahkan
kaki menelusuri belantara ini. Lelah, jengah, kerap menyambangi, namun tak
menyurutkan langkahku. Bebatuan terjal, rerumputan tinggi menjulang, pepohonan
rindang menjadi temanku saat ini. Entah sudah berapa lama aku bertahan dalam
situasi ini.
Keempat
temanku sudah lebih dulu tumbang, mereka pergi dengan alasan yang sama, LELAH.
Ya, mereka lelah menemaniku menemui tujuanku yang aku sendiri pun tak tahu,
tujuan apa yang hendak kuraih dari perjalanan ini, yang kutahu hanyalah, aku
harus tetap melangkah, menelusuri belantara ini dengan satu kekuatan, keyakinan
akan kekuatan ILLAHI.
Dodo,
temanku telah lebih dahulu meninggalkanku. Ketika itu konflik terjadi di antara
kami -aku dan Dodo- saat itu kami berada di sebuah persimpangan, kami pun
bingung hendak memilik jalan yang mana?! Kami lupa membawa kompas yang sangat
berguna untuk kami jika dalam kondisi tersesat.
''Ke
kanan, Ton!'' ucap Dodo yakin.
Dodo
yakin dengan feelingnya, bahwa kami harus memilih simpangan yang kanan, tetapi,
aku dan ketiga temanku berkeyakinan bahwa kami harus memilih jalan yang kiri.
Kami tetap pada keyakinan
masing-masing.
''Kamu
memang nggak pernah menerima pendapatku ya, Ton. Setiap apa yang kukatakan,
kamu pasti membantah.'' ucap Dodo kesal.
''Bukan
begitu, Do, tapi di antara kita berempat, cuma kamu yang memilih belok ke
kanan. Sementara kami bertiga yakin, simpangan kiri lah jalan yang tepat.''
jawabku pelan.
Dodo
tetap kekeh dengan pilihannya, dia pergi meninggalkan kami berempat. Aku hanya
bisa menerima kemarahannya, kekecewaannya. Dodo benar, aku memang tak pernah
menerima setiap pendapat apa yang dia lontarkan padaku. Aku sendiri tak tahu,
kenapa aku selalu menolak pendapatnya. Akalku menerima, tetapi hatiku selalu
ingin berontak.
''Udah
lah, Ton. Biarin aja dia pergi. Toh nanti sembuh sendiri kan? Nanti kalau sudah
lupa, dia pasti baik lagi kok.'' Didi menguatkanku.
Langit
tak menampakkan birunya, hanya gumpalan awan pekat yang menghiasi. Gemuruh
guntur saling bersahutan, kami melanjutkan perjalanan di bawah naungan pekatnya
langit.
Setelah
berjalan lebih jauh, langkah kami terhenti. Didi menyergah kami dengan
keluhannya.
''Ton,
istirahat dulu yuk! Capek nih.'' pinta Didi yang tengah menempa lelah.
Lagi
lagi aku tak menghiraukannya. Aku tetap ingin berjalan karena memang lelah
belum menyergapku dan aku merasa masih sanggup untuk berjalan lebih jauh lagi.
''Ntar
aja deh, Di. Kita jalan aja dulu sambil mencari tempat berteduh, sepertinya
sebentar lagi akan turun hujan.'' jawabku dengan lebih pelan.
Didi
mengibas-ngibaskan topi gunungnya untuk mengusir lelah. Keringatnya mengucur
padahal tak ada terik mentari yang menghampiri.
''To,
gimana menurutmu? Kita istirahat dulu atau lanjutkan perjalanan?'' tanyaku pada
Toto yang tengah berdiri mematung. Tak ada sedikitpun lelah kulihat darinya.
Wajahnya masih sumringah seperti saat kami belum memasuki belantara ini.
''Terserah
kamu aja, Ton. Mau istirahat ayo, mau lanjut ya ayo.'' jawabnya tanpa ekspresi.
Akhirnya
aku memilih untuk melanjutkan perjalanan, Didi tetap kekeh ingin beristirahat.
''Oke,
Ton. Silakan kamu lanjutkan perjalananmu, aku mau istirahat saja dan mungkin
aku akan balik arah pulang. Aku capek dengan kamu yang egois.'' Didi beranjak
hendak mencari tempat istirahat yang lebih nyaman.
''Bener
kata Dodo, kamu emang nggak pernah mendengarkan pendapat teman. Kamu nggak
pernah mengerti kondisi temanmu.'' lanjutnya sambil berlalu.
Aku
hanya mampu terdiam, otakku berputar, akalku memikirkan apa yang dikatakan
Didi. Pertama, aku telah mengecewakan Dodo hingga sekarang dia entah di mana,
tersesatkah atau sudah lebih dulu sampai di rumah. Kedua, aku tak menghiraukan
Didi, tak mengerti rasa lelahnya, hingga dia pun memilih pergi.
Rintik
hujan mulai mengguyuri, gemuruh guntur semakin menggelegar. Siluet cahaya kilat
sesekali membuatku merasa takut.
''To,
Ron, yuk kita lanjutkan perjalanan kita!''
Sepasang
mataku tak melihat kedua temanku itu. Padahal mereka tadi ada di depanku.
''To,
Ron, kalian di mana?'' tanyaku pada mereka yang entah di mana.
Gerimis
terus mengguyur menguyupi tubuhku hingga mencipta gigil yang teramat sangat.
Kucari sebuah jaket di dalam tas ranselku, tapi yang ada hanya sehelai kaos
pendek yang rencananya akan kujadikan sebagai pakaian ganti.
''Oh
iya, aku lupa naruh jaket tadi pas mau berangkat.''
Aku pasrah pada hujan yang
tak henti mengguyurku. Gigil yang menyelimut tubuhku pun tak ingin beranjak
pergi, memaksaku membawanya di setiap langkah kakiku.
Kulanjutkan
perjalanan tanpa teman-temanku, hanya guyuran hujan dan gemuruh guntur juga
siluet kilat yang menuntunku, bersama selimut gigil yang mendekap erat tubuhku.
Jauh
kaki melangkah, sebuah tempat berteduh yang kucari pun tak kunjung kutemui.
Gigil tubuhku semakin menjadi, langkahku kini tak lagi dapat jauh menapaki
jalanan terjal, dengan tergopoh kuayunkan kaki setapak demi setapak meski entah
aku akan bertahan sampai di mana.
''Tuhan,
kuatkan hamba-Mu ini.'' lirihku di tengah gigil.
Setapak
demi setapak jalan telah kulalui, entah sudah berapa jauh aku melangkah.
Sepasang mata pun tertuju pada sebuah lorong di seberang sungai berbatu.
Akar-akar mengelilingi lorong itu.
''Terima
kasih, Tuhan. Kau telah menuntunku ke sini, hingga dapat kutemui sebuah goa di
ujung sana.''
Kembali
kulangkahkan kaki di tengah hujan yang tak kunjung reda, bersama gigil yang
masih mendekap.
''Aduh, gimana caranya
melewati sungai ini? Arusnya deras sekali.'' mataku melirik ke sana ke mari,
mencari-cari barangkali ada sesuatu yang bisa kupakai untuk melewati sungai di
hadapanku.
Perhatianku
tertuju pada sebuah sampan bekas, yang sepertinya telah lama tak digunakan.
Akhirnya kugunakan sampan itu untuk menerjang derasnya arus sungai setelah
kuperbaiki, karena beberapa papannya ada yang telah rusak.
Susah
payah menerjang arus sungai yang semakin deras, terkadang ranting-ranting yang
hanyut terbawa arus menghempasku. Cipratan air pun tak lelah menerpa.
''Alhamdulillah,
akhirnya sampai juga. Terima kasih, Tuhan.'' Ucapku penuh rasa syukur.
Kulanjutkan
kayuhan kaki menuju goa itu, berharap aku bisa meneduhkan tubuhku di sana.
Semakin
dekat kutuju goa itu, semakin jauh dia dari pandanganku. Goa itu berjalan
mundur jika aku mencoba menghampirinya. Ia pun berhenti bila aku juga berhenti
berusaha mendekatinya.
Kuhentikan
sejenak perjuanganku menggapai goa itu. Di tengah lelahku, betapa terkejutnya
saat kulihat sosok laki-laki yang tengah berdiri di mulut goa. Kedua lelaki
seumuranku berdiri di sana dan wajah mereka tak asing bagiku.
Kucoba
kembali mendekati goa itu, perlahan. Sosok kedua lelaki itu pun tampak semakin
jelas di pandanganku. Ya, kedua lelaki itu Toto dan Roni, sahabatku. Mereka
tengah tersenyum di sana, tangannya melambai memintaku untuk menemui mereka,
tapi aku tetap saja tak sanggup menemui mereka. Semakin jauh kumelangkah
mendekati goa itu, semakin jauh pula goa itu menghindariku.
Hingga
hujan berhenti mengguyur, lukisan pelangi kembali menghiasi langit, aku hanya
bisa memandangi goa itu, menyaksikan kedua sahabatku berdiri di mulut goa
sambil menyuguhkan senyum untukku.
''To,
Ron, kenapa kalian ninggalin aku sendiri di sini?'' keluhku lirih.
Kini
hanya ada aku sendiri di sini, menelusuri belantara yang entah di mana ujung
pangkalnya. Kuserahkan diriku pada sinar mentari untuk mengeringkan tubuhku,
mengusir gigil yang tak kunjung pergi, dengan terik yang menghampar memenuhi
cakrawala.
#Amin Nur Kholis
#Penajam,23 Juni 2016
#Malam Narasi
Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
BalasHapusThe blog is genuinely impressive in all aspects.
Great, love this .
taruhan judi poker online terpercaya