Haruskah
Aku " Pacaran " ?
Oleh : Amin Nur Kholis
Oleh : Amin Nur Kholis
Cinta, satu kata yang membuat bahagia,
membuat dunia terasa indah, kata mereka yang sedang dimabuk Cinta. Tanpa cinta
hidup terasa hampa, bagai sayur tanpa garam, kata sebuah syair lirik lagu.
Namun, cinta seperti apakah itu? Cinta seperti apakah yang membuat bahagia,
membuat hidup kita lebih berwarna? Apakah cinta yang kita miliki, Allah
meridhoinya? Cinta, satu kata yang begitu rumit. Satu kata yang sulit untuk di
terjemahkan. Cinta, Apakah itu? Siapakah dia? Aku belum pernah berjumpa
dengannya apalagi berjumpa, mengenalnyapun tidak. Saat ini aku belum ingin
mengenalnya apalagi berjumpa dengannya. Aku takut, kalau ia akan merubah
hidupku. Aku melihat orang yang jatuh cinta, mereka terlena, tertipu dengan
keindahannya, tersihir akan mantra yang di ucapkan. Mereka yang sedang dilanda
virus Cinta dan di jalin dalam hubungan yang statusnya samar bahkan tidak
terlihat, yang mereka sebut dengan istilah " Pacaran ". Mereka
bilang, cinta mereka suci, tanpa ada usur nafsu sedikitpun. Cinta mereka
berlandaskan cinta Karena Allah, tanpa memandang fisik atau apapun, mereka
mengikuti kata hati mereka yang ingin segera melabuhkan perasaan itu segera. Tetapi
aku melihatnya tidak demikian. Sering aku di tanya " Apakah kamu mencintai
seseorang? " Bahkan tak jarang orang yang bertanya blak blakan " Mana
Pacarmu ?" Pertanyaan itu seringkali dilontarkan padaku dan aku hanya bisa
membalas pertanyaan itu dengan senyum manis.
Lingkungan tempat tinggalku memang seperti
itu, mungkin tak hanya di lingkunganku, di seluruh pojok dunia mungkin
demikian. Hubungan yang sebenarnya tak ada tuntunannya bahkan bisa
dikategorikan " Haram " karena hubungan seperti itu mendekatkan kita
kepada Zina, padahal sudah jelas dalam ayat yang artinya " Dan janganlah
kalian mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji, dan jalan yg
buruk " mendekati saja tidak boleh apalagi sampai melakukannya. Aku
menjalani hari-hari seperti biasa, dan tentu dengan berbagai cerita yang ada,
juga dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kehidupanku memang berbeda dengan
orang lain, mereka punya segudang cerita dan pengalaman hidup yang tak ku
miliki. Pergaulan mereka lebih luas tak seperti aku yang kata orang " Anak
Rumahan " tapi so what, terserah orang mau bilang apa tentang diriku, toh
bukan mereka yang memberi hidup padaku. Mungkin karena kurang pergaulan, sampai
aku tak pernah mengenal yang namanya " Pacaran " tidak seperti
kebanyakan muda mudi seusiaku bahkan di bawahku.
Ya kadang aku sering bertanya “Haruskah aku
pacaran?” Sering kudapati cinta menjadi alasan bagi mereka yang " Pacaran
" karena mereka takut dan belum siap untuk menjalani hubungan yang lebih
serius yaitu Menikah. Tapi tak jarang pula kudapati berita di televisi tentang
penculikan wanita oleh pacarnya, anak sekolah hamil di luar nikah, seorang
wanita diperkosa oleh pacarnya. Ah, sungguh tragis! Suatu ketika dalam
perjalanan pulang seusai bekerja, aku berpapasan dengan tetangga yang kebetulan
rumahnya dekat dengan tempatku bekerja, nah pertanyaan yang seringkali di
lontarkan padaku pun terucap " Mana pacarmu? Masa kalah sama dia?"
sambil berlalu melanjutkan perjalanan aku membalas pertanyaan itu dengan senyuman.
Aku selalu di banding-bandingkan dengan adi, dia
temanku di SMA, kami sudah berteman dari kecil. Kuakui ia memang terkenal
sebagai anak yang luas pergaulannya, kontradiktif sekali denganku. Kita berbeda
dalam segala hal, mulai dari kepribadian, pergaulan,
dan skill yang kami miliki. Ya memang adi orangnya lebih friendly, semua orang
suka pada dia. Terutama dalam soal Cinta. Apa harus aku pacaran? Demi menaikkan
gengsi agar tak kalah dengan Adi? Lama ku termenung, mencoba mencari alasan
kuat mengapa aku harus pacaran? Hingga akhirnya kutemukan jawaban dari-Nya.
Orang boleh bilang aku kuper nggak pernah pacaran. Tak kupungkiri, aku memang
tak pernah mengenal apa itu cinta pada lawan jenis. Satu yang pasti, pacaran
itu bukan jalan yang
diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran
cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran
syariat ! tak jarang kita melihat orang yang pacaran berakhir tragis,
melahirkan anak di Luar Nikah, bahkan sampai pembunuhan karena rasa cemburu dan
keinginan – keinginan yang di minta oleh pasangan tidak di turuti, dengan
alasan untuk membuktikan Cintanya, si wanita merelakan kehormatannya kepada si
laki – laki yang menjadi pacarnya, soo lebih baik mencegah daripada mengobati, kan? Aku nggak mau
jatuh Cinta sebelum cinta itu Halal untukku . Aku tak peduli bisik-bisik orang.
Aku cukup bahagia dengan cinta dari sahabat, orang tua dan segelintir orang
yang menyayangiku. Aku tak mengharapkan cinta dari lawan jenis sebelum Allah
mengizinkanku memetik cinta itu dalam ikatan yang Halal. Bagiku jodoh itu sudah
Allah tentukan, siapa kelak yang akan menjadi pendamping hidup kita. Tak perlu
kita mencari-cari dengan cara kita yang tentu tak di Ridhoi. Jemputlah jodoh
dengan memperbaiki diri untuk memantaskan diri kita menerima Jodoh terbaik yang
Allah tentukan untuk kita. So, haruskah aku pacaran? Big no lah yaw. Kurasa
untuk sekarang hanya orang tuaku yang ingin aku cintai, dan terus belajar
mencintai sang pemilik cinta itu sendiri Allah Subhanahuwata'ala dan
Rasullullah.
#Penajam, 28 Agustus 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar