Kamis, 27 Agustus 2015

Keluargaku Pahlawanku

Keluargaku Pahlawanku
Oleh : Amin Nur Kholis

Kisah itu berawal dari kesulitan ekonomi keluarga kami. Kedua orang tuaku harus menghidupiku bersama kedua saudaraku, Hasan, kakaku dan Dini, adikku. Orang tuaku hanya pekerja biasa di kampung, ibu hanya seorang ibu rumah tangga, dan bapak bekerja serabutan. Kalau ada yang menyuruhnya bekerja ya bapak bekerja, kalu tidak ada ya bapak menganggur. Waktu terus berjalan dan kehidupan yang sederhana ini kami jalani dengan Ikhlas, ini sudah jalan dari Allah. Sampai tiba waktu dimana kami sudah mulai besar, aku dan kakakku duduk di bangku MI ( Madrasah Ibtidaiyyah ) Dini waktu itu masih belum sekolah. Keadaan ekonomi keluarga kami yang sulit, namun Alhamdulillah kami tidak pernah kekurangan, untuk kebutuhan sehari – hari kami, masih terpenuhi walaupun dengan kesederhanaan. Namun di tengah keadaan keluarga kami yang demikian, orang tua kami bingung, bagaimana anak-anaknya bisa tetap sekolah, “ Nak, kalian harus tetap sekolah, jangan seperti Bapak dan Ibu yang hanya tamat SD, “ kata – kata itu yang selalu membuat kami anak-anaknya sedih. Orang tua kami berusaha bagaimana caranya agar kebutuhan hidup kami terpenuhi, menyekolahkan kami, memberi makan dan pakain untuk kami, bahkan mereka rela mengorbankan kebahagiaannya untuk kami. Mereka tak mengenal lelah demi anak-anaknya.

Disaat kondisi seperti itu, dan orang tua kami dalam kondisi bingung, bagaimana caranya agar anak-anaknya bisa tetap sekolah, kebutuhan hidup terpenuhi, sampai akhirnya bapak memutuskan untuk merantau, sebelumnya bapak pun sudah sering merantau ke Jakarta sebagai kuli bangunan dan pekerjaan lain yang beliau mampu. Ketika bapak di rantau, aku, kakakku, Hasan dan Dini tinggal hanya bersama Ibu. Bapak memutuskan merantau ke Malaysia sebagai buruh di perusahaan kelapa sawit. Bapak merantau ketika Aku kelas dua Madrasah Ibtidaiyah ( Sekolah setingkat SD ), Bapak merantau selama 2 tahun dan selama beliau di tanah rantau, kami selalu merindukan beliau. Saat itu belum ada Handphone, jika bapak hendak memberi kabar ke rumah, bapak menggunakan Telephone Wartel atau melalui surat. Setiap kali bapak memberi kabar, aku selalu sedih, khususnya Ibu. Kami rindu bapak, kami ingin bapak pulang, tapi ibu selalu menasihati kami dan beliau sangat tegar, Kami tidak pernah melihat Ibu menangis. Kalaupun Ibu menangis, Ibu tidak pernah menangis di hadapan kami, tetapi kami tahu kalau Ibu rindu dengan bapak. Ibu selalu bilang, “ Nak, do’akan Bapak ya, semoga Bapak sehat disana, agar Bapak bisa pulang ke rumah lagi dengan selamat “, “ iya bu, InsyaAllah kami selalu mendo’akan Bapak, kami sayang Ibu dan Bapak “, Kami memeluk Ibu dan menangis di dekapannya.
Waktu terus berjalan, Pagi itu aku dan kakaku, Hasan pergi sekolah dengan semangat, adikku dirumah bersama Ibu, kadang Ibu membawa Dini ke rumah Nenek dan di momong ( di asuh ) oleh bibiku ( Adik perempuan Ibu ). Bibiku juga yang sering merawatku ketika aku masih kecil, tapi aku lupa – lupa ingat tentang itu, soalnya saat itu aku masih sangat kecil, tetapi Ibu selalu bercerita, “ Alan, kamu harus sayang sama Bibimu, Kamu tidak boleh lupa sama Bibimu “, Aku hanya bisa meng “ iya “ kan, karena aku belum mengerti apa – apa waktu itu.
Dua tahun sudah bapak di Malaysia, tak lama lagi beliau akan pulang. Bahagianya kami, terutama adikku Dini, karena dia masih sangat kecil waktu ditinggal Bapak, tapi  aku yang paling dekat dengan bapak, aku selalu menangis kalau Beliau pergi, walaupun itu hanya sekedar pergi sebentar. Kami mendengar kabar, bapak akan pulang, lalu kami menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan beliau, Ibu memasak masakan kesukaan bapak, dan kami anak-anaknya mendapat tugas membersihkan rumah. “ Nak, Bapak sebentar lagi pulang, kalian minta oleh – oleh apa sama Bapak? “, Ibu bertanya sambil bercanda dengan kami, ada  guratan bahagia di wajah ibu. “ Aku minta jajan ke Bapak bu “, tuturku ke Ibu, wajar usiaku masih kecil saat itu, jadi yang diminta tidak muluk-muluk, yaitu minta jajan yang banyak. Sore itu kami menununggu di rumah untuk menyambut kedatangan bapak, namun bapak tak kunjung datang juga. Sampai tiba waktu maghrib kami mendengar ada yang mengetuk pintu, “ Assalamu’alaikum,“ “ wa’alaikumsalam,“ ibu bangkit dari duduknya menuju depan untuk membukakan pintu. “ Bapak,,,, Alhamdulillah, Bapak sudah pulang, kami sudah lama menunggu bapak, mari pak masuk.“ sambil menyalami Bapak dan mencium tangan bapak. Kami  pun berlari menyusul Ibu ke depan, “ Bapak, Alan dan kak Hasan kangen, Bapak mengapa lama sekali perginya, Dini selalu memanggil Bapak ketika hendak tidur,“ Aku dan kak Hasan memeluk Bapak dan menciumi tangan bapak bergantian, kami masuk ke rumah dan bapak sembari menggendong dini. “ iya Nak, maafkan Bapak ya, Bapak juga kangen kalian, nah sekarang kan Bapak sudah pulang, ini Bapak bawakan oleh – oleh untuk kalian ,“ kami duduk lesehan beralaskan tikar. Kami melepas rindu bersama Bapak, beliau menceritakan pengalaman hidupnya selama berada di Malaysia.
Setelah Bapak pulang ke rumah, keluarga kami utuh kembali, dan keadaan kami kembali seperti dulu, Bapak kembali bekerja serabutan di kampung untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Saat ini, Dini sudah masuk sekolah, dia sekolah di sekolah yang sama dengan aku dan kak Hasan. Kak Hasan sekarang sudah masuk MTs. Aku kelas 5 MI, dan Dini sudah kelas 2. Kami menjalani hari – hari kembali seperti dulu, Bapak yang kerjanya tak menentu, Ibu yang hanya Ibu rumah tangga ( kadang bantu – bantu di rumah wa ) wa ku memiliki usaha keripik singkong, dan Alhamdulillah usahanya lancar walaupun pasang surut, tapi terus berjalan. Orang tuaku dulu juga sempat usaha kripik, tapi ntidak lama, sampai akhirnya Bapak kerja serabutan dan merrantau kesana kemari.
Biaya hidup dan pendidikan semakin meningkat, dengan kondisi keuangan keluarga yang seperti ini, kembali membuat orang tua kami bingung, Orang Tua harus putar otak. Sampai akhirnya keputusan itu diambil, kak Hasan harus berhenti sekolah, agar Aku dan Dini tetap Sekolah. Ibu sangat sedih, tidak bisa membahagiakan anaknya, terutama kak Hasan, karena kak Hasan berbeda dengan kami, Aku dan Dini. Ibu sangat sayang kepada kak Hasan, tanpa melupakan kasih sayang kepada kami, aku dan dini tentunya. Kami tiddak tahu mengapa Ibu sangat menyayangi kak Hasan, saat itu Aku dan Dini masih kecil, belum tahu apa – apa, namun Kami tidak pernah kehilangan sedikitpun kasih sayang dari orang tua kami. Akhirnya demi untuk melanjutkan hidup, dan menyekolahkan Aku dan Dini, Ibu memutuskan merantau ke luar negeri, mengikuti jejak Bapak dulu, pergi merantau, tetapi bukan ke Malaysia seperti bapak, Ibu merantau ke Kuwait. Segala keperluan Ibu mulai di persiapkan, Ibu tidak langsung berangkat ke Kuwait, tetapi Ibu harus ke Jakarta terlebih dahulu, ke asrama TKW untuk sekolah. Akhirnya sore itu tiba, mobil yang menjemput Ibu sudah datang, keluarga sudah berkumpul semua di rumah untuk melepaskan Ibu pergi, saat itu Dini sudah mulai besar, sudah tahu kalau Ibu akan pergi jauh, Dini yang paling sedih saat ditinggal Ibu, karena Dini yang paling dekat dengan Ibu, “ Ibu jangan pergi, nanti Dini sama siapa di rumah?”, sambil memeluk ibu, dini menangis. “ Dini nggak sendirian, ada bapak, kah alan dan kak hasan yang menemani Dini, Ibu pergi tidak lama Din, Dini jangan menangis ya,” ibu menangis memeluk Dini, tetapi ibu mencoba tegar, untuk meninggalkan kami, kamipun ikut terharu. “ Ibu, janji ya nggak lama perginya, Dini sayang Ibu “.
Ibu berpamitan kepada Bapak,  aku dan kak hasan, nenek dan keluarga yang ada di rumah ketika itu. Ibu berpesan, “ Alan, Hasan, jaga Adikmu yah, Ibu pergi untuk kalian, kalian jangan nakal kepada Bapak, kalian harus nurut sama Bapak.“ “ Iya Bu, Kami janji, Ibu hati – hati ya di sana, jangan lupa berdo’a untuk kami ya Bu, dan jangan lupa memberi kabar kepada kami,“ Aku memeluk ibu untuk terakhir kalinya sebelum Ibu pergi. Ibu masuk ke mobil dan kami menatap Ibu, ketika mobil itu di starter aku menangis lagi, dan setelah mobil itu jalan, aku hanya bisa melambaikan tangan kepada Ibu, melihat bayang- bayang Ibu dari balik kaca mobil yang gelap, dan Dini? Dia menangis keras sekali, dia memanggil – manggil ibu, “ Ibu,,,,,,,, Ibu,,,,,,Ibu jangan pergi, Dini mau ikut Ibu,,,,”. “ ya Allah, jagalah ibu disana, berilah kesehatan untuk ibu, kami sayang ibu,“ pintaku dalam hati.
Satu Tahun sudah Ibu di Luar Negeri, beberapa bulan terakhir ini, kami tak mendengar kabar dari Ibu lagi, kami hendak menghubungi Ibu, tetapi kami tak tahu Kontak Ibu disana, karena setiap ibu menghubungi Kami, beliau menggunakan Handphone Majikannya. Kami khawatir, was – was, akhirnya kami mencari informasi ke Agen yang membawa Ibu, tapi hasilnya Nihil. Kami bingung kemana lagi harus mencari informasi tentang Ibu. Setiap hari kami berdo’a, memohon agar ibu selalu dalam lindungan Allah, semoga tidak terjadi Apa-apa dengan Ibu. Saat itu ketika aku terbangun di Malam hari, aku mendengar isak tangis dari kamar Bapak, lalu aku bangun dan melihat apa yang terjadi, “ Ya Allah, lindungilah Istri hamba, jagalah ia, kami merindukan dia ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu, kemana kami harus mencari istri hamba,“ melihat bapak seperti itu Aku kasihan kepada Beliau, bapak sudah berusaha kesana kemari untuk mencari informasi tentang Ibu, tapi belum ada hasilnya.
Lima bulan sudah kami menunggu kabar dari Ibu,  namun masih sama seperti kemarin – kemarin, belum ada informasi apapun dari Ibu. Kami semakin khawatir kalau terjadi apa – apa dengan Ibu. Tapi kami tetap berfikir positif tentang keadaan Ibu, mungkin Ibu sibuk atau memang Ibu tidak mahu memberi  kabar kepada kami agar Ibu tidak terlalu merasa Rindu kepada Kami. Pagi itu Aku berangkat sekolah bersama Dini, kami berjalan menuju jalan raya untuk menunggu Angkutan Umum yang datang, Dini turun lebih dulu karena sekolahnya lebih dekat daripada sekolahku, “ jangan sedih terus ya kak, kita harus yakin, Ibu sehat – sehat disana, Dini masuk dulu ya kak, Assalamu’alaikum kak,” mendengar dini berkata seperti itu, hatiku semakin pilu, kenangan bersama Ibu, rasa Rindu bertemu dengan Ibu semakin merasuk di jiwa, hingga air matapun tak terbendung lagi, “ Ya Allah, kemana lagi kami harus mencari Ibu, kasihan Bapak dan Dini,” sepanjang perjalanan aku memandangi sekitar, mobil yang lalu lalang, dan kebisingan yang ada membuatku sedikit melupakan kesedihanku, Melihat di luar sana orang – orang bahagia, tersenyum dan tertawa saat berbincang bersama.
Hari sudah sore, Aku dan Dini  duduk di teras Rumah menunggu Bapak pulang Bekerja, saat ini, bapak bekerja sebagai buruh bangunan, Dini memasakkan makanan kesukaan Bapak. Tepat Pukul. 17.00 WIB, Bapak datang, kami langsung menyambut Beliau, menyambut tangannya dan menciumnya, “ Assalamu’alaikum Pak, bagaimana pekerjaannya tadi? mari masuk Pak, Dini sudah memasak makanan kesukaan Bapak,“ kami masuk ke dalam rumah, Bapak langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dini menyiapkan makanan untuk Bapak. Alhamdulillah Bapak suka masakan Dini, dan beliau makan dengan Lahap.
Adzan maghrib berkumandang, kami bergegas mengambil air wudhu kemudian shalat berjama’ah, Bapak sebagai Imam shalaat kami. Seusai Shalat, Bapak memimpin Do’a, “ Ya Rabbi, ampunilah Dosa – dosa kami, berikanlah kesehatan kepada kami, dan lindungilah kami dari segala mara bahaya, Ya Rabbi, lindungilah juga Istri hamba, jika Engkau masih memberi kesempatan kepada Kami untuk berjumpa dengannya, pertemukanlah kami kembali, kami rindu kepada dia Ya Rabbi, Amiin, ”. “ Bapak, kemana lagi kita harus mencari Ibu? Kita sudah kesana kemari mencari Ibu, tetapi belum juga ada hasilnya, apakah kita harus merelakan Ibu? “, “ Astaghfirullah Nak, kita tidak boleh pesimis, kita harus yakin bahwa Allah menjaga Ibu, Ibu pasti baik – baik di sana “, bapak menenangkanku sambil mengusap kepalaku, ada kedamaian di sana, sentuhan hangat seorang Ayah. “ Dini mana Lan ? “ Tanya ayah sambil tengak – tengok ke kanan ke kiri, “ Dini di kamar Pak, dia sedang belajar “.
Dua bulan lagi genap dua tahun Ibu di luar negeri, tanpa ada kabar, kami menjalani hari seperti biasa, Bapak bekerja, Aku dan Dini sekolah seperti Biasa. Sebentar lagi Aku Ujian kelulusan, dan Dini Ujian kenaikan Kelas. Aku selalu bertanya, “ Ya Allah, dimana Ibu? Aku Rindu Ibu, apakah Aku sudah tidak bisa bertemu Ibu lagi? dan ketika Aku lulus nanti, apakah Ibu tak melihatnya? Melihat hasil jerih payahnya bekerja di luar negeri? “. Hari itupun tiba, hari ini hari pertama aku Ujian, semalaman aku tidak bisa tidur, memikirkan Ujian, juga memikirkan keadaan Ibu. Aku pergi ke sekolah dengan semangat yang berkurang, fikiran tidak fokus untuk Ujian. “ Bismillahirrohmanirrohiim, ya Allah semoga ketika kelulusan nanti, Ibu sudah Pulang, Aku ingin mempersembahkan ini untuk Ibu,”. Sebelum mengerjakan soal Ujian Aku berdo’a memohon kepada Allah, agar Allah mengizinkan Ibu untuk bertemu kami lagi.
Ujian pun selesai, tinggal menunggu hasil Ujian nanti. Semoga Aku mendapat hasil yang baik, dan tidak mengecewakan orang tuaku. Seminggu berlalu, ketika kami, Bapak, Dini dan Aku sedang duduk di ruang tengah, terdengar suara Handphone bapak berdering, lalu Bapak mengangkat telephone itu, “ Assalamu’alaikum, maaf, siapa ini? mencari siapa? “ terdengar suara seorang perempuan di seberang sana, lalu dia menjawab pertanyaan Bapak, “ Wa’alaikumsalam, Pak, ini Ibu pak, bagaimana kabar di Rumah? ” Bapak menangis dan sejenak membisu, seolah tak percaya kalau yang menelephone itu Ibu, “Bapak, siapa yang menelephone? mengapa bapak menangis?”  “Ini Ibu Lan, Ibu yang selama ini kita tunggu- tunggu kehadirannya,” bapak menjelaskan kepadaku dengan melanjutkan percakapannya dengan Ibu.
Ya Rabbi, ini mimpi atau kenyataan? Aku masih belum percaya, terimakasih ya Rabb, akhirnya Engkau mendengar do’a – doa kami. Bapak menceritakan kepadaku tentang Ibu, sekarang Ibu sudah di Jakarta, ibu di sana sejak satu bulan yang lalu, Ibu dibawa pulang oleh orang Indonesia yang bekerja di sana, namanya Ibu ana, dia seorang pengusaha di Kuwait, kebetulan dia hendak pulang ke Indonesia, dan dia mengajak Ibu pulang. Ibu lari dari majikannya, disana Ibu diperlakukan tidak manusiawi, majikannya tidak seperti yang diceritakan oleh Agen yang membawanya menjadi TKW. Setelah Ibu lari dari majikannya, dia bertemu dengan Ibu ana, dan dia bekerja kepada Bu Ana. Tiga hari lagi Ibu pulang ke rumah, kami sangat bersyukur atas semua ini, atas nikmat Allah yang begitu besar, kepulangan Ibu adalah kado terindah untuk kami. Hari ini pengumuman hasil Ujian, Alhamdulillah hasilnya memuaskan, aku dapat memberikan hadiah ini untuk Ibu dan Bapak. Kami kembali berkumpul bersama, kak Hasan sudah pulang dari perantauan, sebentar lagi Menikah, Dini sebentar lagi menyusul Ujian kenaikan kelas. Terimakasih ya Rabbi, atas nikmat dan karunia-Mu ini.

Memandangi potret Ibu, Ayah, Kak Hasan, Dini dan aku yang berdiri di hadapan Ka’bah. Perjuangan Ayah dan Ibu mungkin tak akan terbayarkan dengan perjalanan ke Tanah Suci sekalipun, namun setidaknya perjuanganku akan selalu terbayar dengan senyum mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar