Keluargaku Pahlawanku
Oleh : Amin Nur Kholis
Kisah
itu berawal dari kesulitan ekonomi keluarga kami. Kedua orang tuaku harus
menghidupiku bersama kedua saudaraku, Hasan, kakaku dan Dini, adikku. Orang
tuaku hanya pekerja biasa di kampung, ibu hanya seorang ibu rumah tangga, dan bapak
bekerja serabutan. Kalau ada yang menyuruhnya bekerja ya bapak bekerja, kalu
tidak ada ya bapak menganggur. Waktu terus berjalan dan kehidupan yang
sederhana ini kami jalani dengan Ikhlas, ini sudah jalan dari Allah. Sampai
tiba waktu dimana kami sudah mulai besar, aku dan kakakku duduk di bangku MI (
Madrasah Ibtidaiyyah ) Dini waktu itu masih belum sekolah. Keadaan ekonomi
keluarga kami yang sulit, namun Alhamdulillah kami tidak pernah kekurangan,
untuk kebutuhan sehari – hari kami, masih terpenuhi walaupun dengan
kesederhanaan. Namun di tengah keadaan keluarga kami yang demikian, orang tua
kami bingung, bagaimana anak-anaknya bisa tetap sekolah, “ Nak, kalian harus
tetap sekolah, jangan seperti Bapak dan Ibu yang hanya tamat SD, “ kata – kata
itu yang selalu membuat kami anak-anaknya sedih. Orang tua kami berusaha
bagaimana caranya agar kebutuhan hidup kami terpenuhi, menyekolahkan kami,
memberi makan dan pakain untuk kami, bahkan mereka rela mengorbankan
kebahagiaannya untuk kami. Mereka tak mengenal lelah demi anak-anaknya.
Disaat
kondisi seperti itu, dan orang tua kami dalam kondisi bingung, bagaimana
caranya agar anak-anaknya bisa tetap sekolah, kebutuhan hidup terpenuhi, sampai
akhirnya bapak memutuskan untuk merantau, sebelumnya bapak pun sudah sering
merantau ke Jakarta sebagai kuli bangunan dan pekerjaan lain yang beliau mampu.
Ketika bapak di rantau, aku, kakakku, Hasan dan Dini tinggal hanya bersama Ibu.
Bapak memutuskan merantau ke Malaysia sebagai buruh di perusahaan kelapa sawit.
Bapak merantau ketika Aku kelas dua Madrasah Ibtidaiyah ( Sekolah setingkat SD
), Bapak merantau selama 2 tahun dan selama beliau di tanah rantau, kami selalu
merindukan beliau. Saat itu belum ada Handphone, jika bapak hendak memberi
kabar ke rumah, bapak menggunakan Telephone Wartel atau melalui surat. Setiap
kali bapak memberi kabar, aku selalu sedih, khususnya Ibu. Kami rindu bapak,
kami ingin bapak pulang, tapi ibu selalu menasihati kami dan beliau sangat
tegar, Kami tidak pernah melihat Ibu menangis. Kalaupun Ibu menangis, Ibu tidak
pernah menangis di hadapan kami, tetapi kami tahu kalau Ibu rindu dengan bapak.
Ibu selalu bilang, “ Nak, do’akan Bapak ya, semoga Bapak sehat disana, agar
Bapak bisa pulang ke rumah lagi dengan selamat “, “ iya bu, InsyaAllah kami
selalu mendo’akan Bapak, kami sayang Ibu dan Bapak “, Kami memeluk Ibu dan
menangis di dekapannya.
Waktu
terus berjalan, Pagi itu aku dan kakaku, Hasan pergi sekolah dengan semangat, adikku
dirumah bersama Ibu, kadang Ibu membawa Dini ke rumah Nenek dan di momong ( di asuh
) oleh bibiku ( Adik perempuan Ibu ). Bibiku juga yang sering merawatku ketika
aku masih kecil, tapi aku lupa – lupa ingat tentang itu, soalnya saat itu aku
masih sangat kecil, tetapi Ibu selalu bercerita, “ Alan, kamu harus sayang sama
Bibimu, Kamu tidak boleh lupa sama Bibimu “, Aku hanya bisa meng “ iya “ kan,
karena aku belum mengerti apa – apa waktu itu.
Dua
tahun sudah bapak di Malaysia, tak lama lagi beliau akan pulang. Bahagianya
kami, terutama adikku Dini, karena dia masih sangat kecil waktu ditinggal Bapak,
tapi aku yang paling dekat dengan bapak,
aku selalu menangis kalau Beliau pergi, walaupun itu hanya sekedar pergi
sebentar. Kami mendengar kabar, bapak akan pulang, lalu kami menyiapkan semuanya
untuk menyambut kedatangan beliau, Ibu memasak masakan kesukaan bapak, dan kami
anak-anaknya mendapat tugas membersihkan rumah. “ Nak, Bapak sebentar lagi
pulang, kalian minta oleh – oleh apa sama Bapak? “, Ibu bertanya sambil
bercanda dengan kami, ada guratan
bahagia di wajah ibu. “ Aku minta jajan ke Bapak bu “, tuturku ke Ibu, wajar
usiaku masih kecil saat itu, jadi yang diminta tidak muluk-muluk, yaitu minta
jajan yang banyak. Sore itu kami menununggu di rumah untuk menyambut kedatangan
bapak, namun bapak tak kunjung datang juga. Sampai tiba waktu maghrib kami
mendengar ada yang mengetuk pintu, “ Assalamu’alaikum,“ “ wa’alaikumsalam,“ ibu
bangkit dari duduknya menuju depan untuk membukakan pintu. “ Bapak,,,, Alhamdulillah,
Bapak sudah pulang, kami sudah lama menunggu bapak, mari pak masuk.“ sambil menyalami
Bapak dan mencium tangan bapak. Kami pun
berlari menyusul Ibu ke depan, “ Bapak, Alan dan kak Hasan kangen, Bapak
mengapa lama sekali perginya, Dini selalu memanggil Bapak ketika hendak tidur,“
Aku dan kak Hasan memeluk Bapak dan menciumi tangan bapak bergantian, kami
masuk ke rumah dan bapak sembari menggendong dini. “ iya Nak, maafkan Bapak ya,
Bapak juga kangen kalian, nah sekarang kan Bapak sudah pulang, ini Bapak bawakan
oleh – oleh untuk kalian ,“ kami duduk lesehan beralaskan tikar. Kami melepas
rindu bersama Bapak, beliau menceritakan pengalaman hidupnya selama berada di
Malaysia.
Setelah
Bapak pulang ke rumah, keluarga kami utuh kembali, dan keadaan kami kembali
seperti dulu, Bapak kembali bekerja serabutan di kampung untuk memenuhi
kebutuhan hidup kami. Saat ini, Dini sudah masuk sekolah, dia sekolah di
sekolah yang sama dengan aku dan kak Hasan. Kak Hasan sekarang sudah masuk MTs.
Aku kelas 5 MI, dan Dini sudah kelas 2. Kami menjalani hari – hari kembali
seperti dulu, Bapak yang kerjanya tak menentu, Ibu yang hanya Ibu rumah tangga
( kadang bantu – bantu di rumah wa ) wa ku memiliki usaha keripik singkong, dan
Alhamdulillah usahanya lancar walaupun pasang surut, tapi terus berjalan. Orang
tuaku dulu juga sempat usaha kripik, tapi ntidak lama, sampai akhirnya Bapak
kerja serabutan dan merrantau kesana kemari.
Biaya
hidup dan pendidikan semakin meningkat, dengan kondisi keuangan keluarga yang
seperti ini, kembali membuat orang tua kami bingung, Orang Tua harus putar
otak. Sampai akhirnya keputusan itu diambil, kak Hasan harus berhenti sekolah,
agar Aku dan Dini tetap Sekolah. Ibu sangat sedih, tidak bisa membahagiakan
anaknya, terutama kak Hasan, karena kak Hasan berbeda dengan kami, Aku dan
Dini. Ibu sangat sayang kepada kak Hasan, tanpa melupakan kasih sayang kepada
kami, aku dan dini tentunya. Kami tiddak tahu mengapa Ibu sangat menyayangi kak
Hasan, saat itu Aku dan Dini masih kecil, belum tahu apa – apa, namun Kami
tidak pernah kehilangan sedikitpun kasih sayang dari orang tua kami. Akhirnya
demi untuk melanjutkan hidup, dan menyekolahkan Aku dan Dini, Ibu memutuskan
merantau ke luar negeri, mengikuti jejak Bapak dulu, pergi merantau, tetapi
bukan ke Malaysia seperti bapak, Ibu merantau ke Kuwait. Segala keperluan Ibu
mulai di persiapkan, Ibu tidak langsung berangkat ke Kuwait, tetapi Ibu harus
ke Jakarta terlebih dahulu, ke asrama TKW untuk sekolah. Akhirnya sore itu
tiba, mobil yang menjemput Ibu sudah datang, keluarga sudah berkumpul semua di
rumah untuk melepaskan Ibu pergi, saat itu Dini sudah mulai besar, sudah tahu
kalau Ibu akan pergi jauh, Dini yang paling sedih saat ditinggal Ibu, karena
Dini yang paling dekat dengan Ibu, “ Ibu jangan pergi, nanti Dini sama siapa di
rumah?”, sambil memeluk ibu, dini menangis. “ Dini nggak sendirian, ada bapak,
kah alan dan kak hasan yang menemani Dini, Ibu pergi tidak lama Din, Dini
jangan menangis ya,” ibu menangis memeluk Dini, tetapi ibu mencoba tegar, untuk
meninggalkan kami, kamipun ikut terharu. “ Ibu, janji ya nggak lama perginya,
Dini sayang Ibu “.
Ibu
berpamitan kepada Bapak, aku dan kak
hasan, nenek dan keluarga yang ada di rumah ketika itu. Ibu berpesan, “ Alan, Hasan,
jaga Adikmu yah, Ibu pergi untuk kalian, kalian jangan nakal kepada Bapak,
kalian harus nurut sama Bapak.“ “ Iya Bu, Kami janji, Ibu hati – hati ya di sana,
jangan lupa berdo’a untuk kami ya Bu, dan jangan lupa memberi kabar kepada
kami,“ Aku memeluk ibu untuk terakhir kalinya sebelum Ibu pergi. Ibu masuk ke
mobil dan kami menatap Ibu, ketika mobil itu di starter aku menangis lagi, dan
setelah mobil itu jalan, aku hanya bisa melambaikan tangan kepada Ibu, melihat
bayang- bayang Ibu dari balik kaca mobil yang gelap, dan Dini? Dia menangis
keras sekali, dia memanggil – manggil ibu, “ Ibu,,,,,,,, Ibu,,,,,,Ibu jangan
pergi, Dini mau ikut Ibu,,,,”. “ ya Allah, jagalah ibu disana, berilah kesehatan
untuk ibu, kami sayang ibu,“ pintaku dalam hati.
Satu
Tahun sudah Ibu di Luar Negeri, beberapa bulan terakhir ini, kami tak mendengar
kabar dari Ibu lagi, kami hendak menghubungi Ibu, tetapi kami tak tahu Kontak
Ibu disana, karena setiap ibu menghubungi Kami, beliau menggunakan Handphone
Majikannya. Kami khawatir, was – was, akhirnya kami mencari informasi ke Agen
yang membawa Ibu, tapi hasilnya Nihil. Kami bingung kemana lagi harus mencari
informasi tentang Ibu. Setiap hari kami berdo’a, memohon agar ibu selalu dalam
lindungan Allah, semoga tidak terjadi Apa-apa dengan Ibu. Saat itu ketika aku
terbangun di Malam hari, aku mendengar isak tangis dari kamar Bapak, lalu aku
bangun dan melihat apa yang terjadi, “ Ya Allah, lindungilah Istri hamba,
jagalah ia, kami merindukan dia ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu, kemana kami
harus mencari istri hamba,“ melihat bapak seperti itu Aku kasihan kepada
Beliau, bapak sudah berusaha kesana kemari untuk mencari informasi tentang Ibu,
tapi belum ada hasilnya.
Lima
bulan sudah kami menunggu kabar dari Ibu,
namun masih sama seperti kemarin – kemarin, belum ada informasi apapun
dari Ibu. Kami semakin khawatir kalau terjadi apa – apa dengan Ibu. Tapi kami
tetap berfikir positif tentang keadaan Ibu, mungkin Ibu sibuk atau memang Ibu
tidak mahu memberi kabar kepada kami
agar Ibu tidak terlalu merasa Rindu kepada Kami. Pagi itu Aku berangkat sekolah
bersama Dini, kami berjalan menuju jalan raya untuk menunggu Angkutan Umum yang
datang, Dini turun lebih dulu karena sekolahnya lebih dekat daripada sekolahku,
“ jangan sedih terus ya kak, kita harus yakin, Ibu sehat – sehat disana, Dini
masuk dulu ya kak, Assalamu’alaikum kak,” mendengar dini berkata seperti itu,
hatiku semakin pilu, kenangan bersama Ibu, rasa Rindu bertemu dengan Ibu
semakin merasuk di jiwa, hingga air matapun tak terbendung lagi, “ Ya Allah,
kemana lagi kami harus mencari Ibu, kasihan Bapak dan Dini,” sepanjang
perjalanan aku memandangi sekitar, mobil yang lalu lalang, dan kebisingan yang
ada membuatku sedikit melupakan kesedihanku, Melihat di luar sana orang – orang
bahagia, tersenyum dan tertawa saat berbincang bersama.
Hari
sudah sore, Aku dan Dini duduk di teras
Rumah menunggu Bapak pulang Bekerja, saat ini, bapak bekerja sebagai buruh
bangunan, Dini memasakkan makanan kesukaan Bapak. Tepat Pukul. 17.00 WIB, Bapak
datang, kami langsung menyambut Beliau, menyambut tangannya dan menciumnya, “
Assalamu’alaikum Pak, bagaimana pekerjaannya tadi? mari masuk Pak, Dini sudah
memasak makanan kesukaan Bapak,“ kami masuk ke dalam rumah, Bapak langsung
menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dini menyiapkan makanan untuk
Bapak. Alhamdulillah Bapak suka masakan Dini, dan beliau makan dengan Lahap.
Adzan
maghrib berkumandang, kami bergegas mengambil air wudhu kemudian shalat
berjama’ah, Bapak sebagai Imam shalaat kami. Seusai Shalat, Bapak memimpin
Do’a, “ Ya Rabbi, ampunilah Dosa – dosa kami, berikanlah kesehatan kepada kami,
dan lindungilah kami dari segala mara bahaya, Ya Rabbi, lindungilah juga Istri
hamba, jika Engkau masih memberi kesempatan kepada Kami untuk berjumpa dengannya,
pertemukanlah kami kembali, kami rindu kepada dia Ya Rabbi, Amiin, ”. “ Bapak,
kemana lagi kita harus mencari Ibu? Kita sudah kesana kemari mencari Ibu, tetapi
belum juga ada hasilnya, apakah kita harus merelakan Ibu? “, “ Astaghfirullah
Nak, kita tidak boleh pesimis, kita harus yakin bahwa Allah menjaga Ibu, Ibu
pasti baik – baik di sana “, bapak menenangkanku sambil mengusap kepalaku, ada
kedamaian di sana, sentuhan hangat seorang Ayah. “ Dini mana Lan ? “ Tanya ayah
sambil tengak – tengok ke kanan ke kiri, “ Dini di kamar Pak, dia sedang
belajar “.
Dua
bulan lagi genap dua tahun Ibu di luar negeri, tanpa ada kabar, kami menjalani
hari seperti biasa, Bapak bekerja, Aku dan Dini sekolah seperti Biasa. Sebentar
lagi Aku Ujian kelulusan, dan Dini Ujian kenaikan Kelas. Aku selalu bertanya, “
Ya Allah, dimana Ibu? Aku Rindu Ibu, apakah Aku sudah tidak bisa bertemu Ibu
lagi? dan ketika Aku lulus nanti, apakah Ibu tak melihatnya? Melihat hasil
jerih payahnya bekerja di luar negeri? “. Hari itupun tiba, hari ini hari
pertama aku Ujian, semalaman aku tidak bisa tidur, memikirkan Ujian, juga
memikirkan keadaan Ibu. Aku pergi ke sekolah dengan semangat yang berkurang,
fikiran tidak fokus untuk Ujian. “ Bismillahirrohmanirrohiim, ya Allah semoga
ketika kelulusan nanti, Ibu sudah Pulang, Aku ingin mempersembahkan ini untuk
Ibu,”. Sebelum mengerjakan soal Ujian Aku berdo’a memohon kepada Allah, agar
Allah mengizinkan Ibu untuk bertemu kami lagi.
Ujian
pun selesai, tinggal menunggu hasil Ujian nanti. Semoga Aku mendapat hasil yang
baik, dan tidak mengecewakan orang tuaku. Seminggu berlalu, ketika kami, Bapak,
Dini dan Aku sedang duduk di ruang tengah, terdengar suara Handphone bapak
berdering, lalu Bapak mengangkat telephone itu, “ Assalamu’alaikum, maaf, siapa
ini? mencari siapa? “ terdengar suara seorang perempuan di seberang sana, lalu
dia menjawab pertanyaan Bapak, “ Wa’alaikumsalam, Pak, ini Ibu pak, bagaimana
kabar di Rumah? ” Bapak menangis dan sejenak membisu, seolah tak percaya kalau
yang menelephone itu Ibu, “Bapak, siapa yang menelephone? mengapa bapak
menangis?” “Ini Ibu Lan, Ibu yang selama
ini kita tunggu- tunggu kehadirannya,” bapak menjelaskan kepadaku dengan
melanjutkan percakapannya dengan Ibu.
Ya
Rabbi, ini mimpi atau kenyataan? Aku masih belum percaya, terimakasih ya Rabb,
akhirnya Engkau mendengar do’a – doa kami. Bapak menceritakan kepadaku tentang
Ibu, sekarang Ibu sudah di Jakarta, ibu di sana sejak satu bulan yang lalu, Ibu
dibawa pulang oleh orang Indonesia yang bekerja di sana, namanya Ibu ana, dia
seorang pengusaha di Kuwait, kebetulan dia hendak pulang ke Indonesia, dan dia
mengajak Ibu pulang. Ibu lari dari majikannya, disana Ibu diperlakukan tidak
manusiawi, majikannya tidak seperti yang diceritakan oleh Agen yang membawanya
menjadi TKW. Setelah Ibu lari dari majikannya, dia bertemu dengan Ibu ana, dan
dia bekerja kepada Bu Ana. Tiga hari lagi Ibu pulang ke rumah, kami sangat
bersyukur atas semua ini, atas nikmat Allah yang begitu besar, kepulangan Ibu
adalah kado terindah untuk kami. Hari ini pengumuman hasil Ujian, Alhamdulillah
hasilnya memuaskan, aku dapat memberikan hadiah ini untuk Ibu dan Bapak. Kami
kembali berkumpul bersama, kak Hasan sudah pulang dari perantauan, sebentar
lagi Menikah, Dini sebentar lagi menyusul Ujian kenaikan kelas. Terimakasih ya
Rabbi, atas nikmat dan karunia-Mu ini.
Memandangi
potret Ibu, Ayah, Kak Hasan, Dini dan aku yang berdiri di hadapan Ka’bah.
Perjuangan Ayah dan Ibu mungkin tak akan terbayarkan dengan perjalanan ke Tanah
Suci sekalipun, namun setidaknya perjuanganku akan selalu terbayar dengan
senyum mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar