Rumah yang Terlupakan
Oleh : Amin Nur
Kholis
“ Yang lalu biarlah berlalu, yang
sudah terjadi ikhlaskan. Karena akan diganti yang terbaik. Serahkan seluruh
bebanmu, pasrahkan lewat do’a kepada-Nya, biar Allah yang selesaikan segala
sulit dengan sempurna.” #ODOJ
Sore
itu, menjelang Maghrib, ibuku mengajakku pergi ke Maasjid untuk shalat
berjama’ah. Namun, Aku tetap sibuk dengan gadgetku, asyik SMSan dengan Ani. Aku
menolak ajakan ibu, karena Aku sudah janjian dengan Ani untuk menemaninya pergi
ke toko buku. Sejak kepergian ayah, aku nggak pernah lagi ke Masjid. Aku benci
Masjid. Tempat itu telah merenggut nyawa ayah. Aku selalu melawan ibu. Tak
pernah menuruti perintahnya, kecuali jika ibu memberikan imbalan ketika
menyuruhku.
“Alan!
ayo Nak, kita ke Masjid. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Nanti Kita telat.”
Ajak ibu kepadaku.
“Ibu,
Alan sudah ada janji dengan Ani. Sore ini, Alan mau menemaninya ke toko buku
Bu!” Bantahku kepada Ibu.
“Nak!
Pergi dengan Ani kan bisa nanti setelah maghrib. Pamali loh pergi saat maghrib begini.
Ingat pesan ayah! Kamu harus tetap pergi ke masjid walaupun ayah nggak ada.
Masih ingat kan kamu nak?” Kini, ibu mengajakku dengan sedikit memaksa. Namun
usaha ibu tetap tidak berhasil. Aku tetap memilih pergi dengan Ani, karena ani
sudah menungguku di rumahnya.
“Ibu!
Maaf, Alan harus pergi, daah ibu.” Aku tinggalkan ibu begitu saja tanpa
mengucap salam. Tak lagi kulakukan rutinitas yang Ayah ajarkan dulu. Shalatpun
kalau sedang mau, itupun di paksa.
Satu
jam waktu yang ku tempuh untuk menuju rumah Ani. Aku pergi dengan Motor
kenangan dari ayah. Sesampainya di rumah Ani, kami langsung pergi ke toko buku,
setelah sebelumnya berpamitan dengan orang tua Ani.
“Pak,
Bu, kami pamit dulu ya.” Aku dan ani pergi ke toko buku menggunakan motorku. Malam
itu suasana sunyi, udara sangat dingin. Kami pun tak berlama–lama pergi,
setelah ani menemukan buku yang dicarinnya, kami langsung pulang.
***
Aku
tinggalkan semua yang di ajarkan ayah kepadaku sejak kecil. Ayah selalu
mengajariku mengaji, mengajakku shalat di Masjid, bersilaturami kepada tetangga
dan kerabat. Namun, setelah ayah pergi, semua itu ku tinggalkan. Aku marah sama
Allah, kenapa ayah di panggil begitu cepat? kenapa Allah memanggil ayah saat
aku membutuhkannya.
Tiga
tahun sudah ayah pergi. Aku masih belum bisa melupakan peristiwa itu. Ketika
itu aku masih duduk di kelas 6 SD. Ayah meninggal sehari sebelum aku menerima
pengumuman kelulusan SD. Ayah sudah berjanji akan menemaniku ke sekolah besok.
Namun sore itu, saat hendak shalat di Masjid, saat itu masjid sedang di
renovasi. Ketika aku dan ayah hendak masuk ke masjid, tiba – tiba sebuah tiang
besi yang berada di depanku roboh. “Astaghfirullahal’adzim, Alan… awas!!!” ayah
mendorongku ke samping agar aku tak terkena tiang itu.
“Braaaaak!!!”
Terdengar suara tiang itu membentur tubuh ayah.
Ayah
terjatuh, tubuhnya bersimpah darah. Aku menangis sejadi – jadinya di sana. Aku
langsung berlari menghampiri ayah, menerobos sekumpulan orang yang mengerumuni
ayah.
“Ayah…..!!!!
jangan pergi yah. Ayah bangun! Kalau ayah pergi, besok Alan ke sekolah dengan
siapa? Ayah, bangun yah! bangun!!!” Air mataku bercucuran. Ku peluk ayah. Ayah
menyuruhku mendekatkan telingaku kepadanya.
“Alan, Ayah minta maaf
jika selama ini ayah belum menjadi ayah yang baik untumu dan keluarga. Tolong
sampaikan kepada Ibu, ayah minta maaf, ayah harus pergi.”
Suara ayah tercekat, suaranya lirih, ia menahan sakit yang amat mencekam. Aku
tak tega melihat ayah.
“Alan, satu pesan ayah.
Kamu harus jadi anak yang shaleh. Jaga ibu, hormati dan sayangi ibumu. Kamu
juga harus rajin mengaji, mengunjungi Rumah Allah. Jangan tinggalkan shalat
berjama’ah nak! laailahaillallahu.” Kalimat terakhir yang
terucap dari ayah. Tubuhnya kaku, matanya terbenam, wajahnya pucat. Namun
senyumnya menegmbang, seolah ayah melihat kebahagiaan di depannya.
“Ayah…….
Jangan tinggalin Alan. Ayah harus bangun.” Ku goyangkan tubuh ayah, berharap ia
terbangun. Namun usahaku gagal. Ayah sudah pergi. Terdengar suara saling
bersahutan dari sekelilingku mengucap, “Innalillahiwainnailaihiroji’un.”
Ustadz
Hasan menghampiriku, ia menenangkanku. “Nak Alan, ikhlaskan Ayah, biarkan
beliau pergi dengan tenang. Do’akan beliau setiap waktu, agar di lapangkan
jalannya. Sudah nak! Jangan menangis lagi, Ayahmu sudah tenang di sana.” Ustadz
Hasan memelukku. Seolah ia tahu, Aku butuh pelukan dari seseorang yang dapat
mendamaikan hatiku. Pelukannya seperti pelukan ayah. Hangat, damai dan sejuk.
***
“Nak
Alan, ayo ke masjid nak!” Ajak ustadz Hasan ketika beliau hendak ke Masjid.
Ketika itu aku sedang asyik menikmati keindahan senja di teras rumah. Kebetulan
rumah Ustadz Hasan melewati rumahku. Jadi setiap Ustadz Hasan pergi ke Masjid,
ia melewati rumahku. Aku dan Ayah dulu sering pergi ke masjid bersama Ustadz Hasan.
Namun setelah ayah pergi, aku nggak pernah sama sekali memasuki Masjid.
“Iya
Pak Ustadz, silahkan duluan, nanti Alan menyusul.” Jawabku dengan malas. Ustadz
Hasan pun pergi, setelah mengucap salam. “Kalau begitu, saya ke masjid dulu ya
nak! Assalamu’alaikum.”
Ketika
itu entah kenapa hatiku risau. Aku merasa tak enak hati menolak ajakan Ustadz
Hasan. Tiba – tiba aku merasa rindu dengan Masjid. Rindu teman – teman mengajiku,
sudah lama aku meninggalkan mereka. Aku teringat dengan Ali. Temanku yang
selalu mengajariku jika aku tak bisa membaca ayat Al-Qur’an. Ali anak yang
cerdas, Ustadz Hasan pun menyukai Ali. Ketika Ustadz Hasan berhalangan mengajar
ngaji, Ali sering dimintai untuk menggantikannya. Selama aku tidak pernah ke
masjid, Ali pun sering mengingatkanku, agar aku kembali mengaji dan pergi ke
Masjid.
“Alan,
sudah lama nih kamu nggak ke Masjid. Nggak pernah mengaji lagi! Kami rindu
dengan kamu lan. Ayo lan, kita ke masjid.” Ajak ali suatu hari kepadaku. Namun,
aku selalu menolak setiap ada orang yang mengajakku ke Masjid.
“Maaf
li, hari ini aku ada janji dengan Pacarku. Jadi nggak ada waktu ke masjid.” Jawabku
atas ajakan Ali.
Ali
nggak pernah marah ketika aku menolak ajakannya. Ali malah mendo’akanku agar
aku segera tersadar bahwa apa yang aku lakukan salah. Tak seharusnya aku
membenci masjid. Tak seharusnya aku meninggalkan semua kebaikan yang di ajarkan
oleh ayah walaupun ayah sudah pergi. Aku nggak boleh marah dengan Allah.
“Alan,
semoga kelak kau mau kembali mengaji dan shalat bersama kami di Masjid.” Ucap alan kepadaku suatu hari.
Aku
teringat pesan terakhir ayah. Aku teringat ibu. Selama ini aku telah berbuat
jahat kepada beliau. Aku bergegas masuk ke Rumah. Aku menghampiri ibu yang saat
itu sedang terbaring di kamar. Sudah dua hari ini ibu sakit. Namun aku tak
memperdulikannya. Aku membiarkan ibu merawat dirinya sendiri, mengerjakan
pekerjaan rumah, memasakkan makanan untuk kami. Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan
kepada ibu? Aku bukan anak yang baik. Aku bukan anak yang berbakti kepada orang
tua. Maafkan hamba ya Allah.
Kupeluk
ibu, kucium keningnya. Aku ucapkan sayang kepada ibu untuk pertama kali,
setelah kepergian ayah. Aku berjanji kepada ibu, aku akan berubah. Aku akan
menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.
“Ibu,
maafkan Alan. Alan banyak salah selama ini kepada ibu. Alan telah menelantarkan
ibu.” Ibu memelukku dengan hangat. Air matanya meleleh, tangisnya meledak.
Akupun tak kuasa menahan haru. Aku menangis di pelukan ibu.
Sejak
saat itu, aku bertekad untuk berubah. Aku ingin memperbaiki sikapku kepada ibu.
Aku ingin kembali mengaji dan shalat di Masjid. Aku meminta bantuan kepada
Ustadz Hasan untuk membimbingku. Aku juga meminta temanku Ali untuk menemaniku
meniti jalan kabaikan.
“Pak
Ustadz, mohon bimbing Alan ya Pak! Alan ingin menjadi anak yang berbakti kepada
orang tua. Alan ingin meniti jalan Allah dengan sungguh – sungguh.” Pintaku
kepada Ustadz Hasan ketika aku pergi ke masjid untuk pertama kali.
“Alhamdulillah.
Nak Alan, InsyaAllah Bapak akan membantu Nak Alan. Oh iya Nak Alan, kamu juga
bisa belajar bersama Ali. Iya kan Ali?” Jawab Ustadz Hasan dengan lembut.
“InsyaAllah Ustadz. Ali akan membantu Alan. Karena ali menyayangi Alan seperti
ali menyayangi saudara ali.” Alan memelukku. Aku merasakan kehangatan yang
selama ini hilang.
***
Alhamdulillah.
Allah mempermudah jalanku. Dengan bimbinngan Ustadz Hasan dan Ali. Kini aku
merasa menjadi manusia seutuhnya. Masjid kini menjadi Rumah yang selalu
kuridukan. Aku lebih menghargai Ibu. Aku ingin selalu berbakti kepada Ibu.
“Ya
Allah. Istiqomahkan hati hamba. Tuntunlah hamba untuk selalu mengingat-Mu.
Hamba yang tak lagi melalaikan perintah-Mu. Ikatlah tali persaudaraan aku dan
Ali hingga ke surga-Mu. Ya Allah. Jagalah Ibu, panjangkanlah usianya, agar aku
mampu membahagiakannya. Jadikanlah hamba anak yang berbakti kepada Orang Tua.
Ya Allah. Ampunilah dosa Orang tua hamba. Lapangkanlah jalan ayah menuju-Mu.
Tempatkanlah ia di surga-Mu. Amiin.”
***
#Penajam_Kaltim, 28
Oktober 2015
Semoga hati kita dekat dengan Allah dan masjid
BalasHapusamiin.... terima kasih yah sudah meninggalkan jejak di blog saya.
BalasHapus