Minggu, 01 Mei 2016

Rumah yang Terlupakan

Rumah yang Terlupakan
Oleh : Amin Nur Kholis

“ Yang lalu biarlah berlalu, yang sudah terjadi ikhlaskan. Karena akan diganti yang terbaik. Serahkan seluruh bebanmu, pasrahkan lewat do’a kepada-Nya, biar Allah yang selesaikan segala sulit dengan sempurna.” #ODOJ

Sore itu, menjelang Maghrib, ibuku mengajakku pergi ke Maasjid untuk shalat berjama’ah. Namun, Aku tetap sibuk dengan gadgetku, asyik SMSan dengan Ani. Aku menolak ajakan ibu, karena Aku sudah janjian dengan Ani untuk menemaninya pergi ke toko buku. Sejak kepergian ayah, aku nggak pernah lagi ke Masjid. Aku benci Masjid. Tempat itu telah merenggut nyawa ayah. Aku selalu melawan ibu. Tak pernah menuruti perintahnya, kecuali jika ibu memberikan imbalan ketika menyuruhku.

“Alan! ayo Nak, kita ke Masjid. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Nanti Kita telat.” Ajak ibu kepadaku.

“Ibu, Alan sudah ada janji dengan Ani. Sore ini, Alan mau menemaninya ke toko buku Bu!” Bantahku kepada Ibu.

“Nak! Pergi dengan Ani kan bisa nanti setelah maghrib. Pamali loh pergi saat maghrib begini. Ingat pesan ayah! Kamu harus tetap pergi ke masjid walaupun ayah nggak ada. Masih ingat kan kamu nak?” Kini, ibu mengajakku dengan sedikit memaksa. Namun usaha ibu tetap tidak berhasil. Aku tetap memilih pergi dengan Ani, karena ani sudah menungguku di rumahnya.

“Ibu! Maaf, Alan harus pergi, daah ibu.” Aku tinggalkan ibu begitu saja tanpa mengucap salam. Tak lagi kulakukan rutinitas yang Ayah ajarkan dulu. Shalatpun kalau sedang mau, itupun di paksa.

Satu jam waktu yang ku tempuh untuk menuju rumah Ani. Aku pergi dengan Motor kenangan dari ayah. Sesampainya di rumah Ani, kami langsung pergi ke toko buku, setelah sebelumnya berpamitan dengan orang tua Ani.

“Pak, Bu, kami pamit dulu ya.” Aku dan ani pergi ke toko buku menggunakan motorku. Malam itu suasana sunyi, udara sangat dingin. Kami pun tak berlama–lama pergi, setelah ani menemukan buku yang dicarinnya, kami langsung pulang.

***

Aku tinggalkan semua yang di ajarkan ayah kepadaku sejak kecil. Ayah selalu mengajariku mengaji, mengajakku shalat di Masjid, bersilaturami kepada tetangga dan kerabat. Namun, setelah ayah pergi, semua itu ku tinggalkan. Aku marah sama Allah, kenapa ayah di panggil begitu cepat? kenapa Allah memanggil ayah saat aku membutuhkannya.

Tiga tahun sudah ayah pergi. Aku masih belum bisa melupakan peristiwa itu. Ketika itu aku masih duduk di kelas 6 SD. Ayah meninggal sehari sebelum aku menerima pengumuman kelulusan SD. Ayah sudah berjanji akan menemaniku ke sekolah besok. Namun sore itu, saat hendak shalat di Masjid, saat itu masjid sedang di renovasi. Ketika aku dan ayah hendak masuk ke masjid, tiba – tiba sebuah tiang besi yang berada di depanku roboh. “Astaghfirullahal’adzim, Alan… awas!!!” ayah mendorongku ke samping agar aku tak terkena tiang itu.

“Braaaaak!!!” Terdengar suara tiang itu membentur tubuh ayah.

Ayah terjatuh, tubuhnya bersimpah darah. Aku menangis sejadi – jadinya di sana. Aku langsung berlari menghampiri ayah, menerobos sekumpulan orang yang mengerumuni ayah.

“Ayah…..!!!! jangan pergi yah. Ayah bangun! Kalau ayah pergi, besok Alan ke sekolah dengan siapa? Ayah, bangun yah! bangun!!!” Air mataku bercucuran. Ku peluk ayah. Ayah menyuruhku mendekatkan telingaku kepadanya.

“Alan, Ayah minta maaf jika selama ini ayah belum menjadi ayah yang baik untumu dan keluarga. Tolong sampaikan kepada Ibu, ayah minta maaf, ayah harus pergi.” Suara ayah tercekat, suaranya lirih, ia menahan sakit yang amat mencekam. Aku tak tega melihat ayah.

“Alan, satu pesan ayah. Kamu harus jadi anak yang shaleh. Jaga ibu, hormati dan sayangi ibumu. Kamu juga harus rajin mengaji, mengunjungi Rumah Allah. Jangan tinggalkan shalat berjama’ah nak! laailahaillallahu.” Kalimat terakhir yang terucap dari ayah. Tubuhnya kaku, matanya terbenam, wajahnya pucat. Namun senyumnya menegmbang, seolah ayah melihat kebahagiaan di depannya.

“Ayah……. Jangan tinggalin Alan. Ayah harus bangun.” Ku goyangkan tubuh ayah, berharap ia terbangun. Namun usahaku gagal. Ayah sudah pergi. Terdengar suara saling bersahutan dari sekelilingku mengucap, “Innalillahiwainnailaihiroji’un.”

Ustadz Hasan menghampiriku, ia menenangkanku. “Nak Alan, ikhlaskan Ayah, biarkan beliau pergi dengan tenang. Do’akan beliau setiap waktu, agar di lapangkan jalannya. Sudah nak! Jangan menangis lagi, Ayahmu sudah tenang di sana.” Ustadz Hasan memelukku. Seolah ia tahu, Aku butuh pelukan dari seseorang yang dapat mendamaikan hatiku. Pelukannya seperti pelukan ayah. Hangat, damai dan sejuk.

***

“Nak Alan, ayo ke masjid nak!” Ajak ustadz Hasan ketika beliau hendak ke Masjid. Ketika itu aku sedang asyik menikmati keindahan senja di teras rumah. Kebetulan rumah Ustadz Hasan melewati rumahku. Jadi setiap Ustadz Hasan pergi ke Masjid, ia melewati rumahku. Aku dan Ayah dulu sering pergi ke masjid bersama Ustadz Hasan. Namun setelah ayah pergi, aku nggak pernah sama sekali memasuki Masjid.

“Iya Pak Ustadz, silahkan duluan, nanti Alan menyusul.” Jawabku dengan malas. Ustadz Hasan pun pergi, setelah mengucap salam. “Kalau begitu, saya ke masjid dulu ya nak! Assalamu’alaikum.”

Ketika itu entah kenapa hatiku risau. Aku merasa tak enak hati menolak ajakan Ustadz Hasan. Tiba – tiba aku merasa rindu dengan Masjid. Rindu teman – teman mengajiku, sudah lama aku meninggalkan mereka. Aku teringat dengan Ali. Temanku yang selalu mengajariku jika aku tak bisa membaca ayat Al-Qur’an. Ali anak yang cerdas, Ustadz Hasan pun menyukai Ali. Ketika Ustadz Hasan berhalangan mengajar ngaji, Ali sering dimintai untuk menggantikannya. Selama aku tidak pernah ke masjid, Ali pun sering mengingatkanku, agar aku kembali mengaji dan pergi ke Masjid.

“Alan, sudah lama nih kamu nggak ke Masjid. Nggak pernah mengaji lagi! Kami rindu dengan kamu lan. Ayo lan, kita ke masjid.” Ajak ali suatu hari kepadaku. Namun, aku selalu menolak setiap ada orang yang mengajakku ke Masjid.

“Maaf li, hari ini aku ada janji dengan Pacarku. Jadi nggak ada waktu ke masjid.” Jawabku atas ajakan Ali.

Ali nggak pernah marah ketika aku menolak ajakannya. Ali malah mendo’akanku agar aku segera tersadar bahwa apa yang aku lakukan salah. Tak seharusnya aku membenci masjid. Tak seharusnya aku meninggalkan semua kebaikan yang di ajarkan oleh ayah walaupun ayah sudah pergi. Aku nggak boleh marah dengan Allah.

“Alan, semoga kelak kau mau kembali mengaji dan shalat bersama kami di Masjid.”  Ucap alan kepadaku suatu hari.

Aku teringat pesan terakhir ayah. Aku teringat ibu. Selama ini aku telah berbuat jahat kepada beliau. Aku bergegas masuk ke Rumah. Aku menghampiri ibu yang saat itu sedang terbaring di kamar. Sudah dua hari ini ibu sakit. Namun aku tak memperdulikannya. Aku membiarkan ibu merawat dirinya sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah, memasakkan makanan untuk kami. Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan kepada ibu? Aku bukan anak yang baik. Aku bukan anak yang berbakti kepada orang tua. Maafkan hamba ya Allah.

Kupeluk ibu, kucium keningnya. Aku ucapkan sayang kepada ibu untuk pertama kali, setelah kepergian ayah. Aku berjanji kepada ibu, aku akan berubah. Aku akan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.

“Ibu, maafkan Alan. Alan banyak salah selama ini kepada ibu. Alan telah menelantarkan ibu.” Ibu memelukku dengan hangat. Air matanya meleleh, tangisnya meledak. Akupun tak kuasa menahan haru. Aku menangis di pelukan ibu.

Sejak saat itu, aku bertekad untuk berubah. Aku ingin memperbaiki sikapku kepada ibu. Aku ingin kembali mengaji dan shalat di Masjid. Aku meminta bantuan kepada Ustadz Hasan untuk membimbingku. Aku juga meminta temanku Ali untuk menemaniku meniti jalan kabaikan.

“Pak Ustadz, mohon bimbing Alan ya Pak! Alan ingin menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Alan ingin meniti jalan Allah dengan sungguh – sungguh.” Pintaku kepada Ustadz Hasan ketika aku pergi ke masjid untuk pertama kali.

“Alhamdulillah. Nak Alan, InsyaAllah Bapak akan membantu Nak Alan. Oh iya Nak Alan, kamu juga bisa belajar bersama Ali. Iya kan Ali?” Jawab Ustadz Hasan dengan lembut. “InsyaAllah Ustadz. Ali akan membantu Alan. Karena ali menyayangi Alan seperti ali menyayangi saudara ali.” Alan memelukku. Aku merasakan kehangatan yang selama ini hilang.

***

Alhamdulillah. Allah mempermudah jalanku. Dengan bimbinngan Ustadz Hasan dan Ali. Kini aku merasa menjadi manusia seutuhnya. Masjid kini menjadi Rumah yang selalu kuridukan. Aku lebih menghargai Ibu. Aku ingin selalu berbakti kepada Ibu.

“Ya Allah. Istiqomahkan hati hamba. Tuntunlah hamba untuk selalu mengingat-Mu. Hamba yang tak lagi melalaikan perintah-Mu. Ikatlah tali persaudaraan aku dan Ali hingga ke surga-Mu. Ya Allah. Jagalah Ibu, panjangkanlah usianya, agar aku mampu membahagiakannya. Jadikanlah hamba anak yang berbakti kepada Orang Tua. Ya Allah. Ampunilah dosa Orang tua hamba. Lapangkanlah jalan ayah menuju-Mu. Tempatkanlah ia di surga-Mu. Amiin.”

***

#Penajam_Kaltim, 28 Oktober 2015

2 komentar:

  1. Semoga hati kita dekat dengan Allah dan masjid

    BalasHapus
  2. amiin.... terima kasih yah sudah meninggalkan jejak di blog saya.

    BalasHapus